Masjid, Modal Kecil, dan Imajinasi Besar
- account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
- calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
- visibility 208
- print Cetak

Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dari kas masjid, ia menggulirkan modal kepada 17 kepala keluarga. Mereka berjualan takjil saat Ramadhan. Skemanya ringan—cukup mengembalikan sepuluh ribu rupiah per hari. Tidak ada tekanan. Tidak ada bunga. Hanya kepercayaan.
Dan sesuatu yang menarik terjadi.
Sebelum pertengahan Ramadhan, seluruh modal itu kembali. Seolah uang itu tidak hilang, hanya berputar. Lebih dari itu, menjelang Idulfitri, terkumpul infak tambahan sekitar lima ratus ribu rupiah. Dari mereka para penerima manfaat.
Di sini, angka menjadi tidak penting. Yang penting adalah gerak.
Uang kecil itu bergerak. Kepercayaan itu tumbuh. Masjid itu hidup.
Kita sering berbicara tentang ekonomi umat dengan istilah-istilah besar: industrialisasi, digitalisasi, investasi. Tetapi di hadapan cerita ini, semua istilah itu terasa jauh. Bahkan, sangat jauh.
Padahal, seperti yang pernah diingatkan Ibnu Khaldun, kekuatan sebuah peradaban tidak selalu bertumpu pada kekayaan, melainkan pada ‘ashabiyyah—rasa kebersamaan yang membuat orang saling menopang. Bukan sekadar hidup berdampingan, tetapi hidup saling menghidupkan.
Dan di masjid kecil itu, ‘ashabiyyah menemukan bentuknya yang konkret.
Barangkali inilah yang juga dimaksud oleh Ibnu Asyur ketika berbicara tentang maqashid al-shari’ah. Bahwa syariat tidak datang hanya untuk mengatur ibadah, tetapi untuk menjaga kehidupan—termasuk kehidupan ekonomi—agar tetap adil, hidup, dan bermartabat.
- Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Saat ini belum ada komentar