MBG: Maling Berkedok Gizi atau Benar-Benar Makan Bergizi Gratis?
- account_circle Muh Faizal HS
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 143
- print Cetak

Warga Kota Timur, Sintia Bumulo memperlihatkan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anaknya di sekolah, sebagai bentuk evaluasi terhadap kualitas dan kelayakan makanan yang dibagikan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dengan sistem yang transparan, masyarakat dapat memantau pelaksanaan program dengan objektif dan mengirangi resiko penyalahgunaan anggaran. Ketiga, program ini harus bersifat partisipatif yang melibatkan peran masyarakat yakni guru dan orang tua siswa itu sendiri, serta komunitas lokal yang dapat berperan sebagai pengawas sosial yang dapat memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, pertanyaan tentang apakah memang MBG merupakan maling berkedok gizi atau benar-benar makan bergizi gratis itu tergantung bagaimana kebijakan ini dijalankan. Program ini mempunyai potensi besar dalam peningkatan kualitas generasi muda Indonesia dengan sistem yang akuntabel, transparan dan berbasis kebutuhan masyarakat itu sendiri. Jika program ini dijalankan dengan baik, maka MBG menjadi salah satu proyek strategis untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan produktif kedepannya. Tetapi, jikalau pengawasan diabaikan dan tata kelola tidak diperbaiki, maka program ini bisa jadi kehilangan tujuan utamanya.
Penulis : Ketua Senat Mahasiswa IAI DDI Mangkoso
- Penulis: Muh Faizal HS

Saat ini belum ada komentar