Melihat yang Tak Terlihat Ala Gus Dur: Catatan tentang Politik, Agama, dan Jaringan Kekuasaan
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 49
- print Cetak

Ilustrasi pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam membaca dinamika Revolusi Iran melalui pendekatan sosiologis yang menyoroti relasi kekuasaan, agama, dan masyarakat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam perspektif semacam ini kita berngakat dari cara pandamg bahwa negara tidak pernah sepenuhnya tunggal. Ia lebih menyerupai arena tempat berbagai kepentingan sosial saling berhadapan dan mencari titik keseimbangan. Kadang keseimbangan itu bertahan lama, kadang pula cepat berubah ketika kondisi sosial bergeser.
Dari cara membaca yang ditunjukkan Gus Dur, ada satu pelajaran yang cukup penting. Memahami masyarakat tidak bisa hanya bertumpu pada peristiwa yang terlihat jelas. Banyak proses sosial berjalan dalam ruang yang lebih sunyi: diskusi di komunitas kecil, jaringan solidaritas yang terbentuk perlahan, atau perubahan cara berpikir yang merambat dari satu kelompok ke kelompok lain.
Proses-proses seperti itu jarang muncul dalam berita besar. Tetapi justru di sanalah sering lahir perubahan yang kemudian menggerakkan sejarah.
Agaknya kita juga perlu Belajar dari cara Gus Dur melihat Iran bahwa memahami sebuah masyarakat bukan hanya dari apa yang tampak, tetapi juga dari relasi-relasi sosial yang bekerja diam-diam di belakangnya. Dari sana kita belajar bahwa politik tidak selalu bergerak di panggung besar. Sering kali ia tumbuh dari ruang-ruang kecil yang luput dari perhatian.
Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar