Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 711
- print Cetak

KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA atau Gus Aniq/ Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Menurut Gus Aniq, jika sejak awal kurban tersebut dinyatakan sebagai kurban negara atau atas nama rakyat Indonesia, maka persoalannya bisa berbeda.
Namun ketika dana publik digunakan untuk kurban atas nama pribadi, maka teks tersebut justru tidak relevan dijadikan dasar pembelaan.
“Di sinilah problemnya. Teks Al-Fiqhul Manhaji malah memberi isyarat bahwa kurban atas nama pribadi dengan dana publik tidak bisa dibenarkan,” tegasnya.
Mantan Ketua Tanfidziyah dan Rais Syuriyah PCINU Maroko itu juga mengingatkan agar para pejabat, tokoh agama, maupun pihak yang ingin membela pemerintah lebih teliti dalam membaca teks-teks keagamaan.
“Jangan asal comot teks sehingga yang terjadi adalah pemerkosaan terhadap teks. Silakan membela, tetapi argumennya harus terukur dan tidak dipaksakan,” ujar pengurus LBM PBNU ini
Ia menilai penggunaan dalil yang tidak tepat justru dapat memperkeruh polemik di tengah masyarakat dan menimbulkan kesan bahwa teks agama diperalat demi kepentingan politik sesaat.
Polemik kurban presiden menggunakan dana APBN sendiri belakangan menjadi perbincangan luas di media sosial.
Sebagian masyarakat menilai hal itu wajar sebagai bagian dari tradisi kenegaraan, sementara sebagian lain mempertanyakan aspek etik dan landasan hukumnya.
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar