Petuah yang Disangka Mantra
- account_circle Suaib Prawono
- calendar_month Senin, 30 Mar 2026
- visibility 187
- print Cetak

Ilustrasi suasana masyarakat Mandar yang sedang mendengarkan petuah leluhur di tengah lanskap alam pedesaan, menggambarkan keterhubungan manusia dengan alam, adat, dan kehidupan sosial.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pandangan serupa juga ditemukan pada masyarakat Kajang, yang memaknai tanah sebagai angrongta (Ibu). Bagi mereka, tanah adalah asal muasal manusia, sehingga harus dikelola dengan penuh kearifan. Cara pandang ini dikenal sebagai relational epistemology: melihat alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai sahabat atau teman hidup yang harus dihormati.
Esensi petuah leluhur Mandar di atas jelas mengisyaratkan bahwa mengabaikan alam sebagai bagian dari kehidupan adalah cara pandang yang keliru. Ketika manusia memutus hubungan dengan alam, konsekuensinya segera tampak: banjir yang meluluhlantakkan pemukiman, kebakaran hutan yang menghanguskan kehidupan, hingga tanah longsor yang merenggut nyawa.
Semua itu menjadi peringatan bahwa alam bukan sekadar latar, melainkan penopang utama keberlangsungan hidup. Olehnya itu, di tengah ancaman krisis pangan dan iklim, pesan ini terasa semakin relevan. Produksi pangan harus meningkat dua kali lipat hingga tahun 2050 untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang terus bertambah. Jika tidak, krisis pangan akan benar-benar terjadi dan mengancam kelangsungan hidup manusia.
Di dunia modern yang sering memisahkan manusia dari alam, petuah ini hadir sebagai pengingat: kita adalah bagian dari alam, dan alam adalah bagian dari kita. Mengabaikannya berarti mengaburkan jati diri, sementara merawatnya adalah menjaga keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Pada akhirnya, petuah yang disangka matra tersebut, bukan sekadar kata-kata klasik yang mistis. Ia adalah filosofi hidup yang menegaskan keterhubungan manusia dengan alam, masyarakat, dan dirinya sendiri.
Penulis : Korwil GUSDURian Sulampapua/ Wapimred nulondalodotcom
- Penulis: Suaib Prawono

Saat ini belum ada komentar