Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
  • visibility 134
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ia menjelaskan bahwa laporan reformasi itu memuat ribuan halaman hasil diskusi dengan berbagai pihak, mulai dari masyarakat sipil, akademisi, hingga internal kepolisian sendiri. Semua persoalan dibedah secara terbuka, termasuk problem struktural, instrumental, dan kultural yang selama ini dianggap menjadi akar persoalan institusi kepolisian.

Menurut Mahfud, persoalan paling berat justru berada pada aspek budaya kekuasaan atau kultur yang telah mengakar.

Ia menyebut kerusakan di tubuh kepolisian bukan lagi sekadar tindakan oknum, melainkan telah menjadi persoalan sistemik yang memerlukan keputusan politik dari tingkat tertinggi negara.

“Kalau struktural dan instrumental itu sebenarnya bisa diperbaiki. Tapi yang kultural ini yang berat. Karena menyangkut budaya kekuasaan, budaya saling melindungi, budaya yang membuat hukum bisa dibelokkan,” katanya.

Mahfud bahkan menyinggung fenomena yang ia sebut sebagai “silent code”, yakni praktik diam-diam saling melindungi antar aparat ketika muncul laporan pelanggaran yang melibatkan institusi tertentu.

Menurutnya, kondisi semacam itu membuat rakyat sering kali kalah ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Ia mengaku masih sering menerima laporan masyarakat terkait mafia tanah, manipulasi dokumen hukum, hingga kriminalisasi terhadap warga yang justru menjadi korban.

Dalam banyak kasus, kata dia, pelapor malah berakhir menjadi tersangka.

“Saya pernah menangani kasus orang yang punya perusahaan sah, tiba-tiba aset dan aktenya berpindah ke orang lain lewat mafia. Ketika dia melapor, malah dia yang ditahan. Yang punya asli malah jadi tersangka,” ungkapnya.

Mahfud mengatakan praktik semacam itu tidak mungkin berjalan tanpa adanya perlindungan dari kekuatan tertentu.

Karena itu, ia menilai pidato Presiden Prabowo yang secara terbuka menyinggung keterlibatan “baju loreng” dan “baju coklat” dalam melindungi mafia merupakan sesuatu yang tidak biasa.

Dalam pidatonya di DPR RI, Prabowo menyebut rakyat Indonesia selama ini dimiskinkan oleh mafia dan kepentingan asing yang dilindungi oleh aparat.

Pernyataan tersebut memicu perhatian luas publik karena dianggap sebagai kritik langsung terhadap praktik penyalahgunaan kekuasaan di dalam negara.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Reformasi Birokrasi ParCok sekedar Retorika dibalik Selubung Patologi Kekuasaan

    Reformasi Birokrasi ParCok sekedar Retorika dibalik Selubung Patologi Kekuasaan

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Dalam perspektif Louis Althusser, kondisi ini dapat dipahami melalui posisi ParCok sebagai bagian dari repressive state apparatus. Aparatus negara semacam ini bekerja bukan hanya melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui legitimasi simbolik yang menopang kekuasaan. Ketika kekuasaan berada dalam kondisi stabil, ParCok tampil sebagai penjaga ketertiban publik. Namun ketika kekuasaan menghadapi ancaman—baik dari kritik masyarakat, […]

  • RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Setelah melalui proses pembangunan sejak 2021, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Camba di Kabupaten Maros akhirnya resmi beroperasi penuh mulai 29 Desember 2025. Kehadiran fasilitas kesehatan ini menjadi salah satu realisasi janji politik Bupati Maros, Chaidir Syam, sekaligus menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di wilayah dataran tinggi. Peresmian operasional RSUD Camba disambut […]

  • Dari Laporan ke Tindakan: A. Abbas dan A. Rudi Buktikan Pelayanan Tanpa Basa-Basi

    Dari Laporan ke Tindakan: A. Abbas dan A. Rudi Buktikan Pelayanan Tanpa Basa-Basi

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Keluhan warga Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, terkait padamnya lampu penerangan jalan akhirnya terjawab. Pemerintah Kabupaten Maros melalui Dinas Perhubungan bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Maros, H.A. Maskur Abbas, SE,.M.Si., bersama Camat Maros Baru, A. Rudi, S.IP, M.M, menunjukkan respons sigap dengan langsung melakukan penggantian lima […]

  • Aliansi Tolak RUU TNI Gelar Aksi di Ternate Soroti Soal Ancaman Demokrasi

    Aliansi Tolak RUU TNI Gelar Aksi di Ternate Soroti Soal Ancaman Demokrasi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Sejumlah elemen organisasi yang tergabung dalam Aliansi Tolak RUU TNI, yakni LMID Pembebasan, Sekolah Critis MU, Sekber, KPR, FSPBI, AMP, LPM Aspirasi, Aksi Kamisan, dan FIB, menggelar aksi demonstrasi jalanan. Aksi ini menolak revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) yang dinilai mengancam demokrasi dan hak asasi manusia. Ternate, 20 Maret 2025. Aksi dimulai di […]

  • Prabowo Bukanlah Gerindra di Gorontalo: Catatan Kritis Pada HUT Gerindra Ke-17

    Prabowo Bukanlah Gerindra di Gorontalo: Catatan Kritis Pada HUT Gerindra Ke-17

    • calendar_month Selasa, 26 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo. Founder The Gorontalo Institute) Memperbincangkan Gerindra adalah juga memperbincangkan Jendral Prabowo Subianto, yang kini menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke – 8. Perjalanan Prabowo, termasuk Gerindra memang berlika-liku, jatuh bangun, dan “berdarah-darah”. Hingga karena konsistensi serta sikap yang […]

  • Lebaran, Jalan Tol, dan Kesepian yang Tak Pernah Kita Akui

    Lebaran, Jalan Tol, dan Kesepian yang Tak Pernah Kita Akui

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 409
    • 2Komentar

    Namun hubungan sosial tidak selalu bergerak mengikuti logika pembangunan fisik. Jalan bisa diperlebar, tetapi kedekatan antar manusia tidak otomatis ikut melebar. Justru dalam banyak kasus, percepatan hidup modern membuat interaksi sosial semakin tipis. Mudik, yang dahulu identik dengan tinggal berhari-hari di kampung, kini sering berubah menjadi kunjungan singkat. Orang datang, bersalaman, makan bersama, lalu segera […]

expand_less