Breaking News
light_mode
Trending Tags

Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • visibility 54
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mahfud melihat pidato itu sebagai sinyal bahwa Presiden mulai membuka diri terhadap kritik masyarakat. Ia mengaku melihat adanya perubahan gaya kepemimpinan Prabowo dibanding sebelumnya.

“Dulu lebih satu arah. Sekarang mau mendengar, mau berdiskusi, bahkan mau dibantah,” katanya.

Ia juga menceritakan pengalamannya saat berdiskusi selama hampir tiga jam bersama Prabowo dalam agenda pembahasan reformasi Polri.

Menurut Mahfud, diskusi berlangsung terbuka dan penuh dialektika. Prabowo disebut aktif membandingkan argumen dan meminta pandangan berbeda dari para anggota tim reformasi.

Meski demikian, Mahfud menegaskan bahwa perubahan sikap saja tidak cukup. Yang paling penting adalah tindakan konkret untuk memulai reformasi dari atas.

“Kalau pemimpinnya tidak bergerak, ya tidak jalan ke bawah. Ikan itu busuk dari atas. Kalau atasnya korup, bawahnya ikut korup,” ujarnya.

Ia menilai Presiden memiliki kewenangan penuh untuk memulai reformasi besar, termasuk mengeluarkan kepolisian dari arena politik praktis dan memperbaiki sistem pengawasan internal.

Namun hingga kini, Mahfud mengaku belum melihat langkah cepat yang benar-benar menunjukkan reformasi mulai dijalankan.

Menurutnya, waktu pemerintahan juga tidak panjang. Ia mengingatkan bahwa memasuki tahun-tahun politik, fokus para pejabat biasanya mulai terpecah oleh agenda pemilu dan kepentingan partai.

Karena itu, Mahfud berharap momentum kritik publik yang semakin kuat belakangan ini bisa menjadi pendorong bagi pemerintah untuk segera bertindak.

Ia menilai rakyat saat ini sudah terlalu lelah melihat pidato-pidato besar tanpa perubahan nyata di lapangan.

“Pidato bagus itu penting. Tapi rakyat sekarang menunggu aksi. Kalau hanya berhenti di pidato, nanti hilang lagi,” katanya.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Anggaran Mengendap: Mengungkap Fenomena Idle Cash dalam APBN Indonesia

    Ketika Anggaran Mengendap: Mengungkap Fenomena Idle Cash dalam APBN Indonesia

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Dinda Rahma Filah
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Di sini, masalahnya bukan hanya soal angka, tapi juga transparansi. Informasi tentang penggunaan SAL tidak selalu mudah diakses atau dipahami secara langsung oleh masyarakat. Akibatnya, masyarakat hanya bisa menerima tanpa benar-benar tahu detailnya. Padahal, ini adalah uang negara, yang juga berarti uang rakyat. Selain itu, ada juga tantangan dari dalam sistem pemerintahan, terutama karena penyusunan […]

  • Vatikan Tolak Bergabung dalam Board of Peace, Berbeda Sikap dengan Indonesia

    Vatikan Tolak Bergabung dalam Board of Peace, Berbeda Sikap dengan Indonesia

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Vatikan secara resmi menolak tawaran untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) guna menjaga netralitas diplomatik Takhta Suci di tengah berbagai konflik global yang sedang berlangsung. Keputusan ini menandai perbedaan sikap yang cukup mencolok dengan Indonesia yang sebelumnya telah menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi aktif dalam inisiatif tersebut. Penolakan itu ditegaskan melalui pernyataan resmi […]

  • Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 604
    • 0Komentar

    Lebih lanjut, Aras mengaitkan fenomena ini dengan apa yang ia sebut sebagai krisis epistemik dalam birokrasi modern situasi ketika bahasa kekuasaan menggantikan bahasa akuntabilitas. “Jawaban ‘pokoknya ada’ adalah bentuk simplifikasi yang berbahaya. Ia mengaburkan proses, menutupi struktur, dan menghilangkan jejak akuntabilitas. Publik tidak hanya berhak tahu ‘ada’, tetapi juga ‘dari mana’, ‘bagaimana’, dan ‘untuk siapa’ […]

  • Pemkab Maros Segarkan Birokrasi, A. Abbas Maskur Resmi Nahkodai Dinas Perhubungan

    Pemkab Maros Segarkan Birokrasi, A. Abbas Maskur Resmi Nahkodai Dinas Perhubungan

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros– Pemerintah Kabupaten Maros kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun birokrasi yang bersih, profesional, dan berorientasi pada pelayanan publik. Melalui perombakan jabatan struktural, Pemkab Maros melakukan penyegaran organisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat kinerja pemerintahan daerah. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan berlangsung khidmat di Lapangan Pallantikang, Kabupaten Maros, Senin (5/1/2025), dan dihadiri oleh jajaran pejabat […]

  • Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Haairunnisah
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Lebih jauh, subsidi yang terlalu besar juga membuka ruang terjadinya moral hazard. Harga energi yang relatif murah mendorong konsumsi berlebih dan mengurangi insentif untuk berhemat. Dalam jangka panjang, pola ini tidak hanya membebani anggaran, tetapi juga menghambat upaya menuju penggunaan energi yang lebih efisien. Kritik publik terhadap pengelolaan APBN pun tidak bisa diabaikan. Isu pembengkakan […]

  • Jejak Yusril dalam Harmoni Islam dan Pancasila

    Jejak Yusril dalam Harmoni Islam dan Pancasila

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Dan dari sana, kita belajar satu hal penting: bahwa kebesaran seorang tokoh tidak selalu tampak dari seberapa keras ia bersuara, tetapi dari seberapa jauh ia mampu menjaga arah—dengan tenang, dengan sabar, dan dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan. Pada akhirnya, sosok Yusril Ihza Mahendra menunjukkan bahwa Islam dan Pancasila tidak perlu dipertentangkan, tetapi dapat dirajut dalam […]

expand_less