Relasi Sunni dan Syiah Dibedah: Diskusi Buku M. Quraish Shihab Hadirkan Perspektif Baru
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 77
- print Cetak

Suasana diskusi Tadarus Buku “Sunnah–Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” di Pondok Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah, menghadirkan narasumber seperti Gus Aniq Nawawi, Wahab Nasaru, dan Arrang Batara dengan peserta mahasiswa dan santri yang antusias mengikuti dialog interaktif.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Situasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran, sering memunculkan kembali narasi lama tentang pertentangan Sunni dan Syiah. Padahal persoalan tersebut tidak sesederhana konflik mazhab,” jelas Abdul Qadir.
Pengamat Timur Tengah Wahab Nasaru memaparkan bahwa konflik di kawasan tersebut tidak semata-mata bisa dipahami sebagai pertentangan sektarian Sunni–Syiah. Ia menekankan faktor politik global, kepentingan ekonomi, dan perebutan sumber daya strategis, khususnya minyak, sebagai latar utama konflik.
“Konflik tidak bisa hanya dilihat dari sisi mazhab. Ada kepentingan ekonomi dan politik global yang sangat besar di baliknya,” ujar Wahab. Ia juga menyinggung teori Clash of Civilizations Samuel P. Huntington, serta pemikiran Ali Shariati, untuk menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam memahami dinamika politik dan peradaban Islam.
Wahab menambahkan bahwa radikalisme atau ekstremisme tidak eksklusif terjadi pada satu kelompok agama. “Sikap ekstrem bisa muncul di komunitas Muslim, Yahudi, maupun Kristen,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi kesadaran masyarakat agar tidak mudah terpecah oleh narasi konflik global maupun lokal.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar