Relasi Sunni dan Syiah Dibedah: Diskusi Buku M. Quraish Shihab Hadirkan Perspektif Baru
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 76
- print Cetak

Suasana diskusi Tadarus Buku “Sunnah–Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” di Pondok Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah, menghadirkan narasumber seperti Gus Aniq Nawawi, Wahab Nasaru, dan Arrang Batara dengan peserta mahasiswa dan santri yang antusias mengikuti dialog interaktif.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Arrang Batara menyoroti aspek historis perbedaan Sunni dan Syiah, termasuk Peristiwa Ghadir Khumm dan Saqifah Bani Sa’idah yang menjadi rujukan penting dalam memahami perbedaan kepemimpinan pasca Nabi Muhammad. Ia menjelaskan bahwa perbedaan tafsir kata maula dalam hadis Ghadir Khumm menjadi salah satu titik lahirnya perbedaan pandangan antara kedua mazhab.
Arrang juga memaparkan sejarah perkembangan mazhab Syiah di Iran dan pengaruhnya terhadap pemikiran Islam di Indonesia pasca Revolusi Iran 1979, termasuk penerjemahan karya Ali Shariati, Murtadha Muthahhari, dan Ruhollah Khomeini. Ia menekankan pentingnya memahami Iran dalam konteks sejarah, ideologi, dan strategi politik yang kompleks, bukan sekadar permukaan konflik mazhab.
Dalam penjelasannya, Arrang menyoroti sistem pemerintahan Iran yang mengintegrasikan prinsip republik dan nilai Islam melalui konsep Wilayat al-Faqih, serta peran Dewan Ahli dalam memilih pemimpin tertinggi negara, Rahbar, saat ini dijabat Ali Khamenei.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar