Breaking News
light_mode
Trending Tags

Shalat Tarawih, Emile Durkheim dan Solidaritas Organik

  • account_circle Samsi Pomalingo
  • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
  • visibility 32
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Shalat Tarawih merupakan salah satu ibadah penting dalam tradisi Islam, khususnya selama bulan Ramadan. Ibadah ini dilakukan setelah shalat Isya dan merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Shalat Tarawih bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga merupakan sarana spiritual yang mendalam bagi umat Muslim.

Melalui ibadah ini, individu memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, dan merenungkan makna hidup. Dalam suasana Ramadan yang penuh berkah, Tarawih menjadi momen untuk memperkuat ikatan spiritual dan sosial di antara jamaah.

Shalat Tarawih selama Ramadan menjadi lebih dari sekadar kewajiban agama, pada moment itu kesempatan untuk memperkuat ikatan spiritual dan sosial. Dalam suasana yang penuh berkah ini, umat islam tidak hanya beribadah, tetapi juga membangun hubungan yang saling mendukung, menciptakan komunitas yang harmonis dan kuat. Melalui kebersamaan dalam ibadah, umat Islam merasakan manfaat yang mendalam, baik secara spiritual maupun sosial.

Melalui kebersamaan dalam pelaksanaan shalat, umat Islam merasakan manfaat yang mendalam baik secara spiritual maupun sosial. Ibadah ini memberikan kesempatan untuk merenungkan makna kehidupan dan memperdalam hubungan dengan Allah, sementara interaksi antar jamaah memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas. Dalam konteks ini, setiap individu berkontribusi pada pengalaman kolektif, menjadikan momen ibadah sebagai sarana untuk memperkuat ikatan sosial.

Shalat Tarawih tidak hanya menciptakan ruang untuk pertumbuhan spiritual, tetapi juga menjadi pilar bagi komunitas yang saling mendukung. Dalam kebersamaan ini, umat Islam dapat merasakan kedamaian dan kebahagiaan, menjadikan bulan Ramadan sebagai waktu yang penuh makna dan kehangatan.

Pertanyaannya, apa hubungannya shalat tarawih dengan Emile Durkheim (1858-1917). Saya termasuk orang yang senang membaca buku karya Durkheim, seorang sosiolog Perancis yang terkenal dengan teori-teorinya tentang solidaritas. Kalau kita pahami dengan baik, shalat Tarawih memiliki hubungan yang erat dengan pemikiran Durkheim, terutama dalam konteks teorinya tentang solidaritas sosial.

Durkheim, seorang sosiolog terkemuka, mengembangkan konsep solidaritas mekanis dan organik untuk menjelaskan bagaimana individu dalam masyarakat berinteraksi dan membangun ikatan sosial.

Teori solidaritas dapat memberikan perspektif yang menarik mengenai shalat Tarawih. Sebelum saya menjelaskan bagaimana shalat tarawih dikaji melalui teori solidaritas, saya akan menjelaskan secara singkat bagaimana Durkheim membedakan dua bentuk solidaritas dalam masyarakat, yakni solidaritas mekanis dan solidaritas organik.

Solidaritas mekanis terjadi dalam masyarakat yang homogen, di mana individu memiliki kesamaan nilai dan norma. Sebaliknya, solidaritas organik muncul dalam masyarakat yang lebih kompleks, di mana individu memiliki peran yang berbeda tetapi saling bergantung satu sama lain.

Kedua jenis solidaritas ini menggambarkan cara individu berinteraksi dalam masyarakat. Dalam solidaritas mekanis, kohesi sosial didasarkan pada kesamaan, sedangkan dalam solidaritas organik, kohesi sosial muncul dari perbedaan dan ketergantungan. Keduanya penting dalam memahami dinamika sosial dan bagaimana komunitas dapat berfungsi dengan baik dalam berbagai konteks.

Bagaimana memahami praktik shalat Tarawih dalam pandangan Durkheim. Ini bukan soal hukum, mana yang benar antara 11 atau 23 raka’at, melainkan bagaimana shalat tarawih dapat dilihat sebagai praktik yang memperkuat solidaritas sosial, terutama dalam konteks masyarakat Muslim yang beragam (aliran, madzhab, ormas dan lain-lain).

Ketika umat Islam berkumpul dalam satu masjid untuk melaksanakan shalat secara berjamaah, mereka tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga membangun komunitas yang kuat. Dalam suasana kebersamaan ini, individu merasakan dukungan dan kehadiran satu sama lain, yang pada gilirannya memperkuat rasa solidaritas di antara mereka.

Shalat Tarawih memiliki hubungan yang erat dengan pemikiran Durkheim, terutama dalam konteks teorinya tentang solidaritas sosial. Shalat Tarawih bagi Durkheim mencerminkan solidaritas organik. Dimana jamaah terdiri dari individu dengan latar belakang yang beragam, termasuk perbedaan usia, status sosial, dan pengalaman hidup. Meskipun mereka memiliki perbedaan, ketergantungan satu sama lain dalam pelaksanaan ibadah menciptakan interaksi yang saling melengkapi.

Shalat berjamaah, seperti Shalat Tarawih, memberikan kesempatan bagi individu untuk saling berinteraksi, berbagi pengalaman, dan mendukung satu sama lain dalam perjalanan spiritual. Ketika mereka berdiri berbaris dalam satu saf, perasaan persatuan dan kesatuan muncul, meskipun masing-masing individu berasal dan datang dari latar belakang aliran, mazhab maupun ormas yang berbeda.

Dalam shalat tarawih, setiap individu memiliki peran yang berbeda, seperti imam, makmum, atau pengurus takmirul masjid. Masing-masing peran ini penting untuk kelancaran ibadah dan menciptakan interdependensi antara individu yang berbeda. Imam, sebagai pemimpin shalat, bertanggung jawab untuk memimpin jamaah dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan tartil. Makmum, di sisi lain, mengikuti imam dan mendapatkan pahala melalui kebersamaan dalam ibadah. Pengurus takmirul masjid berperan dalam mempersiapkan tempat ibadah dan memastikan semua kebutuhan jamaah terpenuhi.

Keterlibatan setiap individu dalam shalat berjamaah seperti tarawih mencerminkan inti dari solidaritas organik. Walaupun perannya satu sama lain berbeda, setiap orang berkontribusi dengan cara yang unik untuk mencapai tujuan bersama, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Kerjasama ini memperkuat rasa saling memiliki dan membangun ikatan sosial di antara jamaah.

Dalam konteks ini, perbedaan peran justru menjadi kekuatan yang memperkaya pengalaman ibadah dan menciptakan komunitas yang harmonis. Intinya setiap peran ini menciptakan interdependensi, di mana keberhasilan shalat berjamaah bergantung pada kontribusi masing-masing individu. Ini mencerminkan inti yang oleh Durkheim disebut “organic solidarity.”

Shalat Tarawih yang dilakukan secara berjamaah menumbuhkan rasa saling memiliki dan saling mendukung. Ini adalah momen di mana orang-orang dari latar belakang yang berbeda berkumpul dengan tujuan yang sama, menciptakan ikatan sosial yang lebih kuat. Dalam konteks Durkheim, ini mencerminkan aspek solidaritas organik, dimana keragaman individu dapat bersatu dalam satu tujuan yang lebih besar yakni ibadah kepada Tuhan.

Kehadiran dalam shalat berjamaah membawa dampak positif pada kesehatan mental dan emosional. Rasa kebersamaan dan dukungan sosial dapat membantu individu merasa lebih terhubung dan mengurangi rasa kesepian. Selain itu, momen-momen seperti ini juga mendidik anggota jamaah untuk saling menghormati dan memahami perbedaan, yang pada gilirannya memperkuat ikatan sosial yang ada.

Kebersamaan dalam shalat ini menciptakan ikatan sosial yang lebih kuat. Ketika semua jamaah berdiri dalam barisan yang sama, mereka merasakan persatuan meskipun ada perbedaan di antara mereka. Proses ini sangat signifikan dalam membangun solidaritas organik, dimana meskipun individu memiliki peran dan identitas yang berbeda, mereka saling bergantung satu sama lain untuk menciptakan komunitas yang harmonis.

Dalam konteks pemikiran Durkheim, kegiatan Tarawih mencerminkan bagaimana keragaman individu dapat bersatu dalam satu tujuan yang lebih besar. Solidaritas organik mengedepankan pentingnya kolaborasi dan saling menghormati, yang sangat terlihat dalam kegiatan ibadah ini. Setiap individu berkontribusi pada kekuatan kolektif komunitas, dan melalui ibadah bersama, mereka memperkuat rasa kebersamaan dan saling pengertian.

Shalat Tarawih mengajak umat Islam untuk saling berbagi pengalaman spiritual. Dalam kebersamaan, mereka dapat saling memberi semangat, berbagi cerita, dan menguatkan iman satu sama lain. Hal ini menciptakan ruang di mana nilai-nilai kebersamaan dan saling menghargai tumbuh subur, mengingatkan kita bahwa setiap individu, meskipun berbeda, memiliki kontribusi penting dalam membangun komunitas yang harmonis. Karena shalat Tarawih bukan hanya sebuah ibadah ritual, tetapi juga sebuah praktik sosial yang memperkuat solidaritas dalam masyarakat Muslim.

Dalam semangat Ramadan, ibadah ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarindividu, meningkatkan rasa saling pengertian, dan membangun komunitas yang lebih kuat. Dalam konteks ini, pemikiran Durkheim tentang solidaritas memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai bagaimana praktik keagamaan dapat mempengaruhi dinamika sosial dan membentuk ikatan antarindividu dalam masyarakat.

Ritual ini mencerminkan pemikiran Émile Durkheim tentang solidaritas, yang menekankan pentingnya ritual dalam memperkuat ikatan sosial. Melalui Shalat Tarawih, individu yang berasal dari berbagai latar belakang dapat bertemu dan berkolaborasi dalam konteks ibadah.

Durkheim berargumen bahwa kebersamaan dalam ritual keagamaan mampu menciptakan rasa keterikatan yang kuat, yang pada gilirannya membangun komunitas yang lebih solid dan kohesif. Dalam hal ini, setiap individu berkontribusi pada pengalaman kolektif, memperkuat rasa identitas bersama. Shalat Tarawih tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai pengikat sosial.

Dalam konteks Ramadan, ibadah ini menunjukkan bagaimana praktik keagamaan dapat mempengaruhi dinamika sosial dan membentuk ikatan antar individu. Pemikiran Durkheim membantu kita memahami bahwa melalui kebersamaan dalam ibadah, umat Islam dapat merasakan manfaat yang mendalam, membangun komunitas yang harmonis dan kuat, serta menciptakan solidaritas di antara mereka.

Penulis : Dr.  Samsi Pomalingo, MA (Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Samsi Pomalingo
  • Editor: Samsi Pomalingo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Data Valid Landasan Kebijakan Program HIV/AIDS

    Data Valid Landasan Kebijakan Program HIV/AIDS

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa secara resmi membuka kegiatan Pertemuan Validasi Data Penemuan dan Pengobatan HIV/AIDS serta Penelusuran ODHIV Hilang Semester I Tahun 2025 yang digelar oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Gorontalo di Yulia Hotel Kota Gorontalo. Kadinkes Anang menegaskan bahwa pertemuan ini sangat strategis dalam mendukung roadmap nasional menuju Ending AIDS […]

  • Gorontalo Berhasil Dalam Program Tiga Juta Rumah

    Gorontalo Berhasil Dalam Program Tiga Juta Rumah

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR-PKP) Provinsi Gorontalo meraih peringkat kedelapan nasional dukungan pemerintah daerah pada program tiga juta rumah. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) pada Dinas PUPR-PKP Mohamad Iqbal Hasan saat ditemui diruang kerjanya, Senin (07/07/2025). “Di Kementerian ada program 3 juta rumah, kami di […]

  • Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Ratusan Pendamping Desa menggelar aksi demonstrasi di Kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) di Jakarta, pada Rabu, 16 April 2025. Dalam aksi tersebut mereka menolak Kebijakan Menteri Desa Yandri Susanto yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 1.040 pendamping desa eks caleg di Pemilu 2024. Koordinator Aksi Robby Maulana menyebut demonstrasi ini […]

  • Gadgets on the Go: Top Tech for Business Travelers

    Gadgets on the Go: Top Tech for Business Travelers

    • calendar_month Selasa, 21 Jan 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 252
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Didesak Massa, KemenHAM Janji Bentuk Tim Tindaklanjuti Penangkapan 11 Warga Maba Sangaji

    Didesak Massa, KemenHAM Janji Bentuk Tim Tindaklanjuti Penangkapan 11 Warga Maba Sangaji

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Aliansi Masyarakat Adat menggelar aksi unjuk rasa mendesak Kementerian HAM (KemenHAM) untuk bersikap tegas atas penangkapan 11 warga Maba Sangaji oleh Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara. Massa juga menuntut dihentikannya aktivitas PT Position yang dinilai merusak wilayah adat dan memicu konflik. Senin, 26 Mei 2025. Aksi dimulai dari titik kumpul menuju kantor KemenHAM wilayah kerja […]

  • Sang Imam Favorit di Musim Ramadhan

    Sang Imam Favorit di Musim Ramadhan

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Paci Haru tak muda lagi. Penglihatannya sudah mulai kabur (ma pula-pulawuwolo). Volume suaranya tak sekencang dulu (malo poyo’o). Meski usianya sudah sepuh, perannya di Masjid kampung itu setara dengan profesor emeritus di kampus terkenal. Paci Haru selalu berada di depan, memimpin jamaah masjid lintas generasi. Meski hanya alumni TPA Mokadamu, Dia dikukuhkan menjadi imam sejak […]

expand_less