Tarawih Tanpa Manipulasi
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
- visibility 189
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jika kita pakai kerangka teori fraud triangle, tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi maka manipulasi ibadah sering lahir dari tekanan sosial. Lingkungan religius yang kompetitif bisa membuat orang merasa harus tampil saleh. Kesempatan terbuka karena niat tidak terlihat. Rasionalisasinya sederhana: “Biar jadi contoh.” Padahal contoh terbaik justru yang tidak merasa sedang memberi contoh.
Ramadhan seharusnya menjadi bulan penguatan sistem pengendalian internal diri. Tidak ada auditor eksternal yang memeriksa niat kita. Namun ada mekanisme pengawasan batin yang lebih ketat daripada standar apa pun. Dalam akuntansi sektor publik, transparansi dan akuntabilitas menjadi prinsip utama. Dalam tarawih, transparansi itu bernama kejujuran hati.
Fenomena menarik lainnya adalah kecepatan. Ada masjid yang tarawihnya seperti kereta ekspres—cepat, efisien, dan tepat waktu. Ada pula yang seperti kereta wisata, pelan, panjang, dan penuh kontemplasi. Keduanya sah secara fikih. Yang tidak sah adalah jika kita memanipulasi niat: memilih yang cepat agar bisa segera update status, atau memilih yang lama agar dianggap lebih alim.
Tarawih tanpa manipulasi juga berarti tidak menjadikan ibadah sebagai instrumen legitimasi sosial. Dalam praktik tata kelola, konflik kepentingan harus dihindari. Begitu pula dalam ibadah, jangan sampai tarawih menjadi investasi reputasi. Jika pahala diperlakukan seperti dividen, dan masjid seperti panggung laporan tahunan, maka yang terjadi bukan spiritual growth, melainkan reputational accounting.
Dalam perspektif akuntansi syariah, tujuan akhir bukan sekadar profit, tetapi falah, kesejahteraan dunia dan akhirat. Tarawih adalah bagian dari proses mencapai falah itu. Namun falah tidak lahir dari angka rakaat semata, melainkan dari transformasi karakter. Jika setelah 20 rakaat kita masih mudah memfitnah, mungkin ada kesalahan pencatatan dalam jurnal batin kita.
Humor ala Nahdliyin sering mengingatkan: “Setan diikat, tapi ego masih bebas berkeliaran.” Ini kritik lembut bahwa…
Penulis : Dosen/Ekonom Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar