Breaking News
light_mode
Trending Tags

Terhibur Sampai Tunduk: Industri Kebudayaan dan Gagalnya Negara Menjadi Fasilitator Keadilan

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
  • visibility 221
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Namun persoalannya tidak berhenti pada industri media atau kapitalisme digital semata. Ada masalah yang lebih besar yaitu negara gagal hadir sebagai fasilitator ruang publik yang sehat dan adil.

Negara seharusnya menjadi penyeimbang di tengah dominasi pasar. Ia mestinya melindungi ruang kebudayaan dari logika komersialisasi yang berlebihan, memastikan pendidikan tetap menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis, serta menjamin media bekerja untuk kepentingan publik, bukan semata kepentingan trafik dan modal. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: negara sering ikut larut dalam logika industri kebudayaan itu sendiri.

Alih-alih memperkuat literasi kritis masyarakat, negara lebih sibuk membangun citra dan mengelola persepsi publik. Politik berubah menjadi panggung visual. Kebijakan dikemas seperti konten. Kritik publik sering direspons dengan pencitraan digital, bukan penyelesaian struktural. Dalam situasi seperti ini, negara tidak lagi berdiri sebagai fasilitator keadilan sosial, melainkan ikut menjadi pemain dalam industri perhatian.

Kita bisa melihatnya dari bagaimana kebudayaan hari ini lebih sering diperlakukan sebagai komoditas ekonomi ketimbang ruang hidup masyarakat. Tradisi lokal dipromosikan melalui festival dan pariwisata, tetapi masyarakat yang menjaga tradisi itu sering tetap hidup dalam keterbatasan ekonomi. Desa adat dijadikan ikon budaya, sementara ruang hidupnya terdesak investasi dan pembangunan yang eksploitatif.

Negara tampak lebih tertarik menjual citra kebudayaan daripada melindungi kondisi sosial yang membuat kebudayaan itu tetap hidup.

Hal yang sama terjadi dalam pendidikan. Kampus perlahan diarahkan mengikuti kebutuhan industri dan pasar kerja. Jurusan-jurusan yang dianggap tidak “produktif” secara ekonomi mulai dipertanyakan keberadaannya. Padahal pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk warga yang mampu berpikir kritis terhadap realitas sosialnya.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Etika Lingkungan Diabaikan Karma Ekologi Menerjang

    Etika Lingkungan Diabaikan Karma Ekologi Menerjang

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Hatim Badu Pakuna, S.Ag., M.Ag.
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Setiap pekan, perjalanan pulang kampung terasa istimewa. Hanya sekitar 70 Km dari pusat kota Gorontalo, ke arah barat, persisnya di wilayah Tolangohula. Membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam dengan kecepatan rata-rata 40 km per jam. Jalanan berliku, dengan sensasi turunan dan tanjakan, melewati puluhan desa berkembang memberi kenikmatan tersendiri dalam berkendara. Suami yang memegang kendali, […]

  • Bupati Gorontalo Utara Buka Perkemahan Pramuka di Sumalata

    Bupati Gorontalo Utara Buka Perkemahan Pramuka di Sumalata

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Ketua Majelis Pembina Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, yang juga menjabat sebagai Bupati Gorontalo Utara, membuka secara resmi Perkemahan Tingkat Kwartir Ranting di Kecamatan Sumalata, Minggu (10/8/2025). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-64 Gerakan Pramuka. Dalam sambutannya, Thariq menyebut perkemahan menjadi wadah pendidikan, rekreasi, dan permainan. “Ketiga […]

  • Lailatul Qadar dalam Retorika Kekuasaan

    Lailatul Qadar dalam Retorika Kekuasaan

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Suko Wahyudi
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Lailatul Qadar, misalnya, dalam tradisi Islam bukan sekadar istilah teologis. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan—sebuah simbol tentang perjumpaan antara keterbatasan manusia dan kemurahan rahmat Tuhan. Malam itu mengandung pesan spiritual tentang kerendahan hati, refleksi diri, dan harapan akan pengampunan ilahi. Dengan makna sedalam itu, Lailatul Qadar bukan hanya bagian dari […]

  • PCNU Pohuwato Ingatkan PT Pani Gold Project, PWNU Gorontalo Siap Kawal dengan Kajian yang Matang

    PCNU Pohuwato Ingatkan PT Pani Gold Project, PWNU Gorontalo Siap Kawal dengan Kajian yang Matang

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 127
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gelombang sorotan terhadap aktivitas perusahaan tambang PT Pani Gold Project kembali menguat setelah berbagai kelompok masyarakat dan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di Kabupaten Pohuwato. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pohuwato ikut angkat suara. Melalui Sekretarisnya, Risman Ibrahim, PCNU menegaskan bahwa perusahaan tambang harus menyadari posisinya sebagai “tamu” di tanah Pohuwato dan wajib […]

  • Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Dr. Mismubarak, S.Hd., M.Ag., CLQ., MMG
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Misi utama katauhidan islam yang di ajarkan Nabi Muhammad adalah misi kemanusiaan yang luhur yaitu budi pekerti, moral dan akhlakul karimah. Dengan prinsip kitab suci, maka lahirlah konsep Islam Rahmatan Lil ‘Alamin (Qs. Al-Anbiyah 107). Melalui ayat ini, Tuhan menggambarkan kepribadian Muhammad untuk ditegaskan kepada setiap generasi bahwa Risalah kenabian adalah rahmat yang akan membawa […]

  • Mudzakarah Istiqlal Bahas Wacana Pembayaran Dam Haji di Tanah Air: Antara Dimensi Ta‘abbudi dan Maqashid Syariah

    Mudzakarah Istiqlal Bahas Wacana Pembayaran Dam Haji di Tanah Air: Antara Dimensi Ta‘abbudi dan Maqashid Syariah

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Menurutnya, ayat-ayat tentang hadyu dalam Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ritual penyembelihan semata, tetapi juga mengandung pesan distribusi kesejahteraan dan jaminan konsumsi bagi umat Islam yang membutuhkan. “Tujuan utama penyembelihan hewan hadyu bukan pada darah yang mengalir, melainkan pada kemanfaatannya bagi manusia,” jelasnya. Pandangan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan tafsir Syaikh Muhammad Thahir bin ‘Asyur dalam […]

expand_less