Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Terhibur Sampai Tunduk: Industri Kebudayaan dan Gagalnya Negara Menjadi Fasilitator Keadilan

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
  • visibility 325
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Namun persoalannya tidak berhenti pada industri media atau kapitalisme digital semata. Ada masalah yang lebih besar yaitu negara gagal hadir sebagai fasilitator ruang publik yang sehat dan adil.

Negara seharusnya menjadi penyeimbang di tengah dominasi pasar. Ia mestinya melindungi ruang kebudayaan dari logika komersialisasi yang berlebihan, memastikan pendidikan tetap menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis, serta menjamin media bekerja untuk kepentingan publik, bukan semata kepentingan trafik dan modal. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: negara sering ikut larut dalam logika industri kebudayaan itu sendiri.

Alih-alih memperkuat literasi kritis masyarakat, negara lebih sibuk membangun citra dan mengelola persepsi publik. Politik berubah menjadi panggung visual. Kebijakan dikemas seperti konten. Kritik publik sering direspons dengan pencitraan digital, bukan penyelesaian struktural. Dalam situasi seperti ini, negara tidak lagi berdiri sebagai fasilitator keadilan sosial, melainkan ikut menjadi pemain dalam industri perhatian.

Kita bisa melihatnya dari bagaimana kebudayaan hari ini lebih sering diperlakukan sebagai komoditas ekonomi ketimbang ruang hidup masyarakat. Tradisi lokal dipromosikan melalui festival dan pariwisata, tetapi masyarakat yang menjaga tradisi itu sering tetap hidup dalam keterbatasan ekonomi. Desa adat dijadikan ikon budaya, sementara ruang hidupnya terdesak investasi dan pembangunan yang eksploitatif.

Negara tampak lebih tertarik menjual citra kebudayaan daripada melindungi kondisi sosial yang membuat kebudayaan itu tetap hidup.

Hal yang sama terjadi dalam pendidikan. Kampus perlahan diarahkan mengikuti kebutuhan industri dan pasar kerja. Jurusan-jurusan yang dianggap tidak “produktif” secara ekonomi mulai dipertanyakan keberadaannya. Padahal pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk warga yang mampu berpikir kritis terhadap realitas sosialnya.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akuntan Bukan Penjaga Angka, tetapi Penjaga Risiko

    Akuntan Bukan Penjaga Angka, tetapi Penjaga Risiko

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Ketika mendengar kata akuntan, banyak orang masih membayangkan seseorang yang sibuk menghitung angka, menyusun laporan keuangan, atau memastikan setiap transaksi tercatat dengan benar. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak lagi cukup untuk menggambarkan peran akuntan di tengah dunia bisnis yang semakin kompleks. Hari ini, akuntan bukan sekadar penjaga angka. Akuntan adalah penjaga risiko. Angka […]

  • Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Turmuji Jafar
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Oleh: Turmuji Jafar (Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto)   Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Terhitung sejak tanggal 25-30 November 2025, terus mendapatkan bantuan dari berbagai pihak untuk kemanusiaan dan juga pemulihan. Banjir yang terjadi di Aceh dan Sumatera bukan semata-mata karena faktor musim hujan dengan […]

  • Sukses Digelar,HARLAH KE 74 dan LDK PD IP DDI Maros Bentuk Kader Muda DDI Berakhlak dan Berdaya Pimpin

    Sukses Digelar,HARLAH KE 74 dan LDK PD IP DDI Maros Bentuk Kader Muda DDI Berakhlak dan Berdaya Pimpin

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Kegiatan yang diikuti 35 peserta se-Kabupaten Maros ini mengusung tema “Ikhlas dalam pengabdian,Mulia dalam karakter,Progresif dalam gerakan”, Berbeda dari LDK umum, LDK ini memadukan materi kepemimpinan dengan penguatan keimanan. Selama 5 hari , peserta digembleng lewat materi-materi penguatan ideologi,dakwah digital,Retorika,problem solving,Materi umum serta materi-materi lainnya sebagai penunjang Kualitas Peserta serta kuantitas organisasi sebagai basis gerakan […]

  • Di Balik Konflik PBNU, Ada Perbedaan Karakter dan Paradigma

    Di Balik Konflik PBNU, Ada Perbedaan Karakter dan Paradigma

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 326
    • 0Komentar

    Karakter kepemimpinan semacam itu, kata dia, berbeda dengan sebagian elite NU generasi sebelumnya yang lebih terbiasa dengan pola kepemimpinan sentralistik dan komunikasi yang intens. Perbedaan cara memandang organisasi inilah yang perlahan memunculkan ketegangan. “Perbedaan perspektif, cara pandang, dan karakter itu memang sudah terasa,” ujarnya. Savic bahkan mengaku sejak awal sudah melihat adanya potensi konflik akibat […]

  • IGIC 2026 Dimulai, Menag Dorong Imam Masjid Berperan dalam Diplomasi Keagamaan Global

    IGIC 2026 Dimulai, Menag Dorong Imam Masjid Berperan dalam Diplomasi Keagamaan Global

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (PP IPIM), Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa imam masjid memiliki peran strategis sebagai agen transformasi masyarakat, bukan sekadar memimpin salat. Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) dan MTQ Imam Masjid Provinsi […]

  • Bursa Efek Gorontalo Ajak Masyarakat Waspada Investasi Ilegal dalam Pekan Ekonomi Syariah PWNU

    Bursa Efek Gorontalo Ajak Masyarakat Waspada Investasi Ilegal dalam Pekan Ekonomi Syariah PWNU

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Bursa Efek Gorontalo hadir sebagai narasumber dalam Seminar Pasar Modal Syariah bertajuk “Investasi Itu Mudah dan Waspada Investasi Ilegal” yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo, Rabu (29/10/2025), di Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo. Perwakilan Bursa Efek, Dodi Prasetya, menyampaikan apresiasi atas inisiatif PWNU Gorontalo yang dianggap sebagai salah […]

expand_less