Trump dan Matinya Amerika
- account_circle Muhammad Suryadi R
- calendar_month Senin, 23 Feb 2026
- visibility 201
- print Cetak

Muhammad Suryadi R/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kakek berusia 79 tahun itu datang dengan slogan yang terdengar seperti mantra kebangkitan: Make America Great Again. Di podium-podium, dari panggung ke panggung, ia kerap tampil dengan gaya komedian yang angkuh. Ia adalah Donald Trump. Ia sesumbar menjanjikan restorasi kejayaan dan kebesarannya; Amerika akan kembali disegani. Dunia akan kembali tunduk. Pabrik-pabrik akan hidup. Perbatasan akan ditutup rapat. Musuh-musuh akan gemetar. Katanya.
Tetapi lihatlah, sejarah memiliki caranya sendiri menertawakan penguasa yang terlampau keji dan arogan. Amerika Serikat di tangan Trump justru memperlihatkan sesuatu yang telanjang bulat: Amerika tidak sedang bangkit, melainkan menggali liang kubur matinya kedigdayaan.
Matinya Amerika Serikat bukan tentang bangkrutnya Wall Street atau runtuhnya Pentagon. Frasa ini tentang matinya wibawa. Matinya otoritas moral. Matinya ilusi bahwa Amerika masih menjadi pusat gravitasi dunia yang tak tergantikan. Dan Donald Trump dengan segala keberanian dan gaya ekspansionisnya menjadi akselerator dari kematian itu.
Mahkamah Agung Melawan Donald Trump
Trump memulai perang dagang dengan modal kepercayaan diri sebagai seorang petarung. Tarif dinaikkan. Bea masuk dinaikkan. Dunia dipaksa bermain dalam aturan baru yang diteken sepihak. Ia menjual kebijakan itu sebagai patriotisme ekonomi internal dengan tujuan Amerika tak akan lagi dirugikan.
- Penulis: Muhammad Suryadi R

Saat ini belum ada komentar