Trump dan Matinya Amerika
- account_circle Muhammad Suryadi R
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 26
- print Cetak

Muhammad Suryadi R/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kakek berusia 79 tahun itu datang dengan slogan yang terdengar seperti mantra kebangkitan: Make America Great Again. Di podium-podium, dari panggung ke panggung, ia kerap tampil dengan gaya komedian yang angkuh. Ia adalah Donald Trump. Ia sesumbar menjanjikan restorasi kejayaan dan kebesarannya; Amerika akan kembali disegani. Dunia akan kembali tunduk. Pabrik-pabrik akan hidup. Perbatasan akan ditutup rapat. Musuh-musuh akan gemetar. Katanya.
Tetapi lihatlah, sejarah memiliki caranya sendiri menertawakan penguasa yang terlampau keji dan arogan. Amerika Serikat di tangan Trump justru memperlihatkan sesuatu yang telanjang bulat: Amerika tidak sedang bangkit, melainkan menggali liang kubur matinya kedigdayaan.
Matinya Amerika Serikat bukan tentang bangkrutnya Wall Street atau runtuhnya Pentagon. Frasa ini tentang matinya wibawa. Matinya otoritas moral. Matinya ilusi bahwa Amerika masih menjadi pusat gravitasi dunia yang tak tergantikan. Dan Donald Trump dengan segala keberanian dan gaya ekspansionisnya menjadi akselerator dari kematian itu.
Mahkamah Agung Melawan Donald Trump
Trump memulai perang dagang dengan modal kepercayaan diri sebagai seorang petarung. Tarif dinaikkan. Bea masuk dinaikkan. Dunia dipaksa bermain dalam aturan baru yang diteken sepihak. Ia menjual kebijakan itu sebagai patriotisme ekonomi internal dengan tujuan Amerika tak akan lagi dirugikan.
Tetapi di negeri yang dibangun di atas konstitusi, presiden bukanlah raja. Ketika kebijakan tarifnya digugat dan dibatasi oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat, dunia menyaksikan bagaimana Trump dilawan oleh konstitusinya sendiri dan tentu saja mempermalukan diri sendiri. Presiden paling keras dalam retorika kedaulatan justru ditampar oleh sistem hukumnya sendiri.
Insiden ini bukan sekadar soal prosedur legal, tetapi merupakan pesan geopolitik. Bahwa negara yang ingin mendikte perdagangan global ternyata tak sepenuhnya solid di dalam. Kebijakan yang diumumkan dengan gagah berani bisa dipatahkan melalui meja hijau. Lalu pasar global mencium aroma-aroma ketidakpastian. Bagi sekutu, ini jelas pesan ketidakjelasan. Bagi lawan, ini tentu celah lebar.
Trump sesungguhnya ingin menunjukkan bahwa Amerika Serikat bisa bertindak sepihak tanpa kompromi. Tetapi pembatasan oleh Mahkamah Agung menegaskan realitas bahwa bahkan di dalam negeri, konsensus atas arah Amerika telah roboh. Dan negara yang terbelah sulit menjadi kompas dunia.
Amerika Serikat selalu menggaungkan checks and balances. Tetapi di era Trump, hal itu terbaca sebagai konflik terbuka. Ia menjadi mekanisme yang menegaskan pesan penting bahwa sebuah negara adidaya yang sibuk berperang dengan dirinya sendiri akan sulit dipercaya sebagai penjaga stabilitas global.
Board of Peace dan Ilusi Perdamaian
Trump gemar menyebut dirinya pembuat kesepakatan. Ia bahkan mengatakan dirinya tidak pernah memulai perang. Ia juga mengklaim diri mampu menyelesaikan konflik yang tak terselesaikan. Berbagai gagasan dan forum perdamaian yang dibentuknya: Board of Peace ia bayangkan sebagai ruang negosiasi baru.
Tetapi perdamaian bukan sekadar panggung foto dan konferensi pers. Ia membutuhkan konsistensi, kesabaran, dan legitimasi. Di bawah Trump, diplomasi sering berubah menjadi alat transaksi. Sekutu lama ditekan untuk membayar lebih. Perjanjian multilateral dikonversi menjadi alat pressure. Retorika damai berdampingan dengan ancaman sanksi dan embargo.
Bagaimana mungkin dunia percaya pada arsitektur perdamaian yang dibangun di atas fondasi oleh keputusan dan tekanan sepihak? Alih-alih menciptakan stabilitas, pendekatan itu justru memperdalam ketidakpercayaan. Sekutu dekatnya: Prancis, Italia, Inggris, Jerman justru menolak bergabung. Dunia mulai membaca Amerika bukan sebagai mediator, melainkan sebagai pihak yang punya agenda domestik sempit. Board of Peace justru kehilangan bobot moralnya karena berdiri di atas kebijakan yang inkonsisten.
Hasilnya tentu saja membuat Amerika Serikat tak lagi otomatis duduk di kursi kepala meja. Dalam banyak konflik, negara-negara lain justru mencari alternatif: jalur regional, koalisi baru, bahkan mencari kekuatan lain sebagai penyeimbang.
Di saat dunia tak lagi menunggu Washington untuk memulai atau mengakhiri konflik, di situlah sinyal ketidakpercayaan menjadi nyata.
Iran: Ambisi yang Tersandung
Konfrontasi dengan Iran menjadi salah satu panggung utama Trump untuk tampil unjuk kekuatan. Ia menarik Amerika Serikat keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action, dengan menyebutnya sebagai kesepakatan buruk, lalu menerapkan kebijakan tekanan maksimum.
Sanksi ekonomi diperketat. Isolasi finansial diperluas. Ancaman militer menggantung di udara. Logikanya sederhana, yakni tekan sampai musuh menyerah. Tetapi, Iran tak sesederhana slogan perang. Iran tidak runtuh. Rezimnya tidak tumbang. Pengaruh regionalnya tidak lenyap. Bahkan dalam beberapa aspek, tekanan eksternal justru memperkuat solidaritas internal dan memperdalam jejaring aliansinya.
Trump mungkin lupa bahwa pendahulu Iran adalah Persia, yang punya sejarah peperangan panjang. Mustahil meruntuhkannya hanya dengan ancaman bahkan embargo. Pada titik ini, Amerika Serikat menunjukkan kegagalan taktis. Trump sesungguhnya telah gagal secara simbolik.
Selama puluhan tahun, wibawa Amerika dibangun di atas asumsi bahwa ketika Washington serius menekan, hasilnya tinggal menunggu waktu. Tetapi di bawah Trump, asumsi itu hancur. Dunia menyaksikan bahwa tekanan maksimum tidak selalu melahirkan kemenangan maksimum. Dan ketika negara regional mampu menahan gempuran ekonomi dari adidaya terbesar, mitos ketaklukkan itu retak. Amerika mungkin saja masih kuat, tetapi tidak lagi tak terbantahkan. Dan Iran bertahan. Dunia melihatnya.
Washington Kehilangan Wibawa
Pasca Perang Dingin, Amerika menikmati momen unipolarnya. Ia menjadi pemimpin tunggal. Standar demokrasi, perdagangan, dan keamanan global banyak ditentukan di Washington. Tetapi, zaman berubah. Konstalasi berubah. Di era Trump, perubahan itu terasa lebih tajam.
Retorika America First terdengar seperti penarikan diri dari tanggung jawab global. Dunia menangkap pesan bahwa kepentingan kolektif bisa dikorbankan demi keuntungan jangka pendek domestik. Persepsi terhadap Washington memudar bahkan kian hancur. Sementara, China melangkah tenang memperluas pengaruh ekonominya. Eropa berbicara tentang aliansi strategis baru. Negara-negara berkembang makin percaya diri memainkan manuver politik bebas dan tidak terlalu takut pada tekanan Amerika.
Kini, yang berubah bukan hanya peta kekuatan, tetapi psikologi global. Amerika tak lagi dipandang sebagai kekuatan netral. Ia terlihat sebagai pemain yang emosional, labil, dan over proteksionis. Di dalam negeri, polarisasi politik yang tajam menjadi konsumsi media dunia. Demonstrasi, sengketa pemilu, perpecahan sosial dan semuanya memperlihatkan bahwa demokrasi Amerika pun kian rapuh.
Bagaimana mungkin negara yang terjebak dalam konflik internal akut masih ingin mengajari dunia tentang stabilitas dan tata kelola dunia?
Wibawa lagi-lagi adalah soal persepsi. Dan persepsi global terhadap Amerika di era Trump tidak lagi identik dengan stabilitas dan kepastian.
Matinya Amerika dan Matinya Kedigdayaan
Kematian Amerika sesungguhnya bukan pada ekonominya. Bukan militernya. Bukan pula institusi hukumnya karena terbukti Mahkamah Agung masih bisa membatasi presidennya. Yang mati adalah mitos tentang kedigdayaannya yang tanpa batas. Mitos bahwa Amerika selalu benar. Mitos bahwa setiap tekanan dari Washington pasti efektif. Mitos bahwa dunia tak punya pilihan selain mengikuti Amerika Serikat.
Trump sebenarnya ingin membangkitkan kebesaran Amerika dengan pendekatan prokteksionis dan agresif. Tetapi berkat pendekatan itu justru mempercepat kesadaran global bahwa dunia telah berubah. Amerika bukan lagi satu-satunya poros besar. Ia hanyalah salah satu dari banyak kekuatan yang juga harus mengedepankan negosiasi, bukan agresi dan mendikte.
Matinya Amerika adalah kematian asumsi. Kematian aura tak tersentuh. Matinya keyakinan bahwa sejarah selalu berpihak pada Washington. Semua itu terjadi ketika seorang presiden berteriak paling keras tentang kebesaran.
Trump mungkin saja masih percaya bahwa apa yang ia lakukan adalah menyelamatkan Amerika. Tetapi di mata dunia, ia membuka tabir yang selama ini menutupi kenyataan bahwa hegemoni tunggal telah lenyap. Amerika tetap berdiri, tetapi tidak lagi sendirian di puncak, dan tidak lagi tak tergoyahkan.
(Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi, Sekertaris PC GP Ansor Barru)
- Penulis: Muhammad Suryadi R

Saat ini belum ada komentar