Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Trump dan Matinya Amerika

  • account_circle Muhammad Suryadi R
  • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
  • visibility 396
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasilnya tentu saja membuat Amerika Serikat tak lagi otomatis duduk di kursi kepala meja. Dalam banyak konflik, negara-negara lain justru mencari alternatif: jalur regional, koalisi baru, bahkan mencari kekuatan lain sebagai penyeimbang.

Di saat dunia tak lagi menunggu Washington untuk memulai atau mengakhiri konflik, di situlah sinyal ketidakpercayaan menjadi nyata.

Iran: Ambisi yang Tersandung

Konfrontasi dengan Iran menjadi salah satu panggung utama Trump untuk tampil unjuk kekuatan. Ia menarik Amerika Serikat keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action, dengan menyebutnya sebagai kesepakatan buruk, lalu menerapkan kebijakan tekanan maksimum.

Sanksi ekonomi diperketat. Isolasi finansial diperluas. Ancaman militer menggantung di udara. Logikanya sederhana, yakni tekan sampai musuh menyerah. Tetapi, Iran tak sesederhana slogan perang. Iran tidak runtuh. Rezimnya tidak tumbang. Pengaruh regionalnya tidak lenyap. Bahkan dalam beberapa aspek, tekanan eksternal justru memperkuat solidaritas internal dan memperdalam jejaring aliansinya.

Trump mungkin lupa bahwa pendahulu Iran adalah Persia, yang punya sejarah peperangan panjang. Mustahil meruntuhkannya hanya dengan ancaman bahkan embargo. Pada titik ini, Amerika Serikat menunjukkan kegagalan taktis. Trump sesungguhnya telah gagal secara simbolik.

Selama puluhan tahun, wibawa Amerika dibangun di atas asumsi bahwa ketika Washington serius menekan, hasilnya tinggal menunggu waktu. Tetapi di bawah Trump, asumsi itu hancur. Dunia menyaksikan bahwa tekanan maksimum tidak selalu melahirkan kemenangan maksimum. Dan ketika negara regional mampu menahan gempuran ekonomi dari adidaya terbesar, mitos ketaklukkan itu retak. Amerika mungkin saja masih kuat, tetapi tidak lagi tak terbantahkan. Dan Iran bertahan. Dunia melihatnya.

Washington Kehilangan Wibawa

Pasca Perang Dingin, Amerika menikmati momen unipolarnya. Ia menjadi pemimpin tunggal. Standar demokrasi, perdagangan, dan keamanan global banyak ditentukan di Washington. Tetapi, zaman berubah. Konstalasi berubah. Di era Trump, perubahan itu terasa lebih tajam.

Retorika America First terdengar seperti penarikan diri dari tanggung jawab global. Dunia menangkap pesan bahwa kepentingan kolektif bisa dikorbankan demi keuntungan jangka pendek domestik. Persepsi terhadap Washington memudar bahkan kian hancur. Sementara, China melangkah tenang memperluas pengaruh ekonominya. Eropa berbicara tentang aliansi strategis baru. Negara-negara berkembang makin percaya diri memainkan manuver politik bebas dan tidak terlalu takut pada tekanan Amerika.

Kini, yang berubah bukan hanya peta kekuatan, tetapi psikologi global. Amerika tak lagi dipandang sebagai kekuatan netral. Ia terlihat sebagai pemain yang emosional, labil, dan over proteksionis. Di dalam negeri, polarisasi politik yang tajam menjadi konsumsi media dunia. Demonstrasi, sengketa pemilu, perpecahan sosial dan semuanya memperlihatkan bahwa demokrasi Amerika pun kian rapuh.

  • Penulis: Muhammad Suryadi R

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Neraca Langit

    Neraca Langit

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 326
    • 0Komentar

    Di sinilah Ramadhan menjadi sangat menarik. Bulan ini seperti periode penyesuaian akuntansi. Dalam akuntansi ada istilah adjusting entries—penyesuaian agar laporan keuangan mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Puasa, tarawih, zakat, dan sedekah adalah semacam jurnal penyesuaian dalam Neraca Langit. Kalau selama sebelas bulan kita terlalu sibuk mengejar laba dunia, Ramadhan mengingatkan bahwa laporan kehidupan kita juga harus […]

  • Refleksi HUT RI 81, Membaca Kepemimpinan Nasional

    Refleksi HUT RI 81, Membaca Kepemimpinan Nasional

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Penulis Ahmad Takbir Abadi Setiap momentum Hari Ulang Tahun Republik Indonesia semestinya bukan sekadar ritual tahunan dengan upacara, bendera, dan pidato tentang keberhasilan. Ia adalah jeda untuk bercermin, sudah sejauh mana republik ini menunaikan janji kemerdekaannya? Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia telah melewati pergantian rezim, pergantian presiden, pergolakan politik, krisis ekonomi, hingga Reformasi. Pemimpin […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Pekan Ekonomi Syariah, Dorong Kemandirian Umat Lewat Ekonomi Syariah

    PWNU Gorontalo Gelar Pekan Ekonomi Syariah, Dorong Kemandirian Umat Lewat Ekonomi Syariah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo resmi menggelar Pekan Ekonomi Syariah, Selasa (28/10/2025). Kegiatan ini berlangsung di pelataran Kantor PWNU Gorontalo, Jalan Samratulangi, Kelurahan Limba U1, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Acara tersebut turut dihadiri oleh perwakilan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Pintraco, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) SulutGo, KNEX, Bank Indonesia, serta Pemerintah Provinsi Gorontalo […]

  • Halalbihalal PP As’adiyah NU: Perkuat Ukhuwah Islamiyah, Wathoniyyah, dan Basyariyah

    Halalbihalal PP As’adiyah NU: Perkuat Ukhuwah Islamiyah, Wathoniyyah, dan Basyariyah

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 289
    • 0Komentar

    Selain santri dan pengurus pesantren, acara ini turut dihadiri jajaran pengurus Nahdlatul Ulama Soppeng serta para alumni IKAKAS. Momen ini menjadi ajang silaturahmi, reuni, sekaligus konsolidasi dalam memperkuat dakwah dan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Melalui kegiatan ini, semangat Idulfitri diharapkan dapat terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta memperkuat tiga pilar ukhuwah, yakni ukhuwah Islamiyah, […]

  • 80 Tahun Indonesia Merdeka: Gerakan Nurani Bangsa Serukan Pembaruan Demokrasi Dan Keadilan Sosial

    80 Tahun Indonesia Merdeka: Gerakan Nurani Bangsa Serukan Pembaruan Demokrasi Dan Keadilan Sosial

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Dalam momentum peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan refleksi kritis atas perjalanan panjang bangsa sekaligus seruan untuk memperbaiki arah demokrasi, penegakan hukum, kesejahteraan rakyat, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya. Indonesia sebagai negara kepulauan yang dibangun di atas keberagaman budaya, adat istiadat, agama, dan kekayaan alam, terus berupaya mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan: […]

  • Menag Nasaruddin Umar: Santri Harus Sukses Dunia, Tapi Jangan Tinggalkan Ibadah Sunnah

    Menag Nasaruddin Umar: Santri Harus Sukses Dunia, Tapi Jangan Tinggalkan Ibadah Sunnah

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 215
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa keberhasilan santri menembus berbagai profesi strategis tidak boleh menghilangkan identitas utamanya sebagai insan yang dekat dengan Tuhan. Pondasi ibadah dan spiritualitas, menurutnya, harus tetap menjadi ciri khas santri di mana pun berada. Penegasan tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada perayaan Milad ke-20 Pondok Pesantren Madinatunnajah […]

expand_less