Trump dan Matinya Amerika
- account_circle Muhammad Suryadi R
- calendar_month Senin, 23 Feb 2026
- visibility 202
- print Cetak

Muhammad Suryadi R/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bagaimana mungkin negara yang terjebak dalam konflik internal akut masih ingin mengajari dunia tentang stabilitas dan tata kelola dunia?
Wibawa lagi-lagi adalah soal persepsi. Dan persepsi global terhadap Amerika di era Trump tidak lagi identik dengan stabilitas dan kepastian.
Matinya Amerika dan Matinya Kedigdayaan
Kematian Amerika sesungguhnya bukan pada ekonominya. Bukan militernya. Bukan pula institusi hukumnya karena terbukti Mahkamah Agung masih bisa membatasi presidennya. Yang mati adalah mitos tentang kedigdayaannya yang tanpa batas. Mitos bahwa Amerika selalu benar. Mitos bahwa setiap tekanan dari Washington pasti efektif. Mitos bahwa dunia tak punya pilihan selain mengikuti Amerika Serikat.
Trump sebenarnya ingin membangkitkan kebesaran Amerika dengan pendekatan prokteksionis dan agresif. Tetapi berkat pendekatan itu justru mempercepat kesadaran global bahwa dunia telah berubah. Amerika bukan lagi satu-satunya poros besar. Ia hanyalah salah satu dari banyak kekuatan yang juga harus mengedepankan negosiasi, bukan agresi dan mendikte.
Matinya Amerika adalah kematian asumsi. Kematian aura tak tersentuh. Matinya keyakinan bahwa sejarah selalu berpihak pada Washington. Semua itu terjadi ketika seorang presiden berteriak paling keras tentang kebesaran.
Trump mungkin saja masih percaya bahwa apa yang ia lakukan adalah menyelamatkan Amerika. Tetapi di mata dunia, ia membuka tabir yang selama ini menutupi kenyataan bahwa hegemoni tunggal telah lenyap. Amerika tetap berdiri, tetapi tidak lagi sendirian di puncak, dan tidak lagi tak tergoyahkan.
(Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi, Sekertaris PC GP Ansor Barru)
- Penulis: Muhammad Suryadi R

Saat ini belum ada komentar