Trump dan Matinya Amerika
- account_circle Muhammad Suryadi R
- calendar_month Senin, 23 Feb 2026
- visibility 203
- print Cetak

Muhammad Suryadi R/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tetapi di negeri yang dibangun di atas konstitusi, presiden bukanlah raja. Ketika kebijakan tarifnya digugat dan dibatasi oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat, dunia menyaksikan bagaimana Trump dilawan oleh konstitusinya sendiri dan tentu saja mempermalukan diri sendiri. Presiden paling keras dalam retorika kedaulatan justru ditampar oleh sistem hukumnya sendiri.
Insiden ini bukan sekadar soal prosedur legal, tetapi merupakan pesan geopolitik. Bahwa negara yang ingin mendikte perdagangan global ternyata tak sepenuhnya solid di dalam. Kebijakan yang diumumkan dengan gagah berani bisa dipatahkan melalui meja hijau. Lalu pasar global mencium aroma-aroma ketidakpastian. Bagi sekutu, ini jelas pesan ketidakjelasan. Bagi lawan, ini tentu celah lebar.
Trump sesungguhnya ingin menunjukkan bahwa Amerika Serikat bisa bertindak sepihak tanpa kompromi. Tetapi pembatasan oleh Mahkamah Agung menegaskan realitas bahwa bahkan di dalam negeri, konsensus atas arah Amerika telah roboh. Dan negara yang terbelah sulit menjadi kompas dunia.
Amerika Serikat selalu menggaungkan checks and balances. Tetapi di era Trump, hal itu terbaca sebagai konflik terbuka. Ia menjadi mekanisme yang menegaskan pesan penting bahwa sebuah negara adidaya yang sibuk berperang dengan dirinya sendiri akan sulit dipercaya sebagai penjaga stabilitas global.
Board of Peace dan Ilusi Perdamaian
Trump gemar menyebut dirinya pembuat kesepakatan. Ia bahkan mengatakan dirinya tidak pernah memulai perang. Ia juga mengklaim diri mampu menyelesaikan konflik yang tak terselesaikan. Berbagai gagasan dan forum perdamaian yang dibentuknya: Board of Peace ia bayangkan sebagai ruang negosiasi baru.
Tetapi perdamaian bukan sekadar panggung foto dan konferensi pers. Ia membutuhkan konsistensi, kesabaran, dan legitimasi. Di bawah Trump, diplomasi sering berubah menjadi alat transaksi. Sekutu lama ditekan untuk membayar lebih. Perjanjian multilateral dikonversi menjadi alat pressure. Retorika damai berdampingan dengan ancaman sanksi dan embargo.
Bagaimana mungkin dunia percaya pada arsitektur perdamaian yang dibangun di atas fondasi oleh keputusan dan tekanan sepihak? Alih-alih menciptakan stabilitas, pendekatan itu justru memperdalam ketidakpercayaan. Sekutu dekatnya: Prancis, Italia, Inggris, Jerman justru menolak bergabung. Dunia mulai membaca Amerika bukan sebagai mediator, melainkan sebagai pihak yang punya agenda domestik sempit. Board of Peace justru kehilangan bobot moralnya karena berdiri di atas kebijakan yang inkonsisten.
- Penulis: Muhammad Suryadi R

Saat ini belum ada komentar