Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tahajud Sang Aktivis Reborn: Napas Baru Tasawuf Progresif dalam Sastra Indonesia

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
  • visibility 148
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dunia literasi spiritual Indonesia kembali hidup dengan hadirnya edisi re-born novel Tahajud Sang Aktivis, karya Pepi Al Bayqunie, seorang penulis sekaligus aktivis kebudayaan dan Gusdurian di Sulawesi Selatan yang dikenal dengan pendekatan Islam progresif dan humanis.

Novel ini bukan sekadar fiksi keagamaan. Ia adalah refleksi mendalam tentang perjalanan iman, kegelisahan eksistensial, dan pencarian makna hidup yang berpijak pada nilai-nilai tasawwuf. Tahajud Sang Aktivis mengajak pembaca menyelami spiritualitas yang membumi—agama yang tidak terjebak dalam dogma kaku, tapi tumbuh dari kesadaran kemanusiaan.

Ketika Tasawuf dan Aktivisme Bertemu

Tokoh utama novel ini, Zaki, adalah potret Muslim muda yang resah. Ia bertanya, meragukan, mencari, lalu menemukan bahwa iman bukan sekadar ritual, tetapi perjuangan batin yang hidup berdampingan dengan nurani kemanusiaan.

Zaki dipertemukan dengan Karaeng Anom, seorang sufi kontemporer yang membawa nuansa spiritualitas dalam diam. Dialog antara keduanya menjadi titik balik dalam perjalanan Zaki, dan sekaligus menjadi jembatan antara keberanian berpikir kritis dan kedalaman dzikir yang menenangkan.

Bukan Tasawuf yang Pasif, Tapi Progresif

Melalui novel ini, Pepi Al Bayqunie menolak dikotomi lama antara ortodoksi dan liberalisme yang sering memperhadap-hadapkan agama dan kemanusiaan. Sebaliknya, ia menawarkan jalan ketiga: tasawuf progresif—sebuah pendekatan spiritual yang tetap setia pada substansi ajaran Islam, namun terbuka terhadap realitas sosial dan keadilan.

“Agama dan kemanusiaan bukan dua kutub yang harus dipisahkan, tapi satu kesatuan yang tak terpisahkan,” tulis Pepi dalam pengantar novel ini.

Sebuah Bacaan untuk Jiwa dan Pikiran

Dengan gaya penulisan yang sederhana namun sarat makna, Tahajud Sang Aktivis menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang tengah mencari kedalaman spiritual di tengah kompleksitas zaman.

Kehadirannya bukan hanya memperkaya khasanah sastra Islam di Indonesia, tapi juga menjadi ruang refleksi bagi pembaca lintas latar belakang—aktivis, santri, pencari makna, hingga akademisi.

Dapatkan Sekarang!

Edisi re-born Tahajud Sang Aktivis kini tersedia secara terbatas di sejumlah toko buku independen, serta bisa dipesan langsung melalui kanal pribadi penulis resmi @pepi_albayqunie (Instagram) dan @saprillah.albayqunie (Facebook)

Bonus khusus untuk 100 pembeli pertama: tanda tangan langsung dari penulis

Apaka Kata mereka ?

“Tahajud Sang Aktivis bukan sekadar novel. Ia adalah jalan sunyi yang penuh cahaya, tempat kita menemukan ulang makna agama dalam denyut kemanusiaan”, kata Abdul Kadir Direktur Yayasan Pendidikan Nulondalo

Sudahkah Anda membacanya?

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LKNU Gorontalo Dorong Sinergi Ekonomi Syariah dan Kesehatan Umat

    LKNU Gorontalo Dorong Sinergi Ekonomi Syariah dan Kesehatan Umat

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Provinsi Gorontalo, dr. Sri Manovita Pateda, M.Kes., Ph.D, menegaskan bahwa pelaksanaan Pekan Ekonomi Syariah memiliki nilai strategis yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan masyarakat (Selasa, 28/10/2025). Menurut dr. Sri Manovita, ekonomi syariah tidak dapat dipisahkan dari kesehatan karena keduanya saling menguatkan. “Kesehatan adalah modal dasar produktivitas, […]

  • Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Bagi kita, penggemar sepak bola Indonesia, wajah Timnas Indonesia kini tampak berbeda. Dulu, kita mengenal pemain-pemain yang tumbuh besar di sini, dengan karakter dan ciri khas lokal yang tak bisa dilepaskan. Namun kini, hampir setiap pemain Timnas yang tampil memiliki tubuh tegap, kulit putih, dan seolah membawa cita rasa Eropa, terutama Belanda. Mereka bukanlah anak-anak […]

  • Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Dalam dunia keuangan, laporan laba rugi sering jadi primadona. Investor melihatnya, direksi memamerkannya, media mengutipnya. Tapi bagi seorang akuntan, neraca—ya, struktur aset, kewajiban, dan ekuitas—adalah panggung sesungguhnya di mana kekuatan dan kelemahan suatu entitas benar-benar bisa dinilai. Maka ketika saya membaca laporan keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (BSG) per 31 Desember 2024, […]

  • Butuhkah Peningkatan SDM di Gorontalo?

    Butuhkah Peningkatan SDM di Gorontalo?

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Peningkatan Sumber Daya Manusia menjadi isu yang sangat krusial untuk didiskusikan, apalagi peningkatan Sumber Daya Manusia menjadi program unggulan Gubernur Provinsi Gorontalo dengan dalih meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan provinsi Gorontalo, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah dengan peningkatan Sumber Daya Manusia yang akan dilakukan melalui program pemberian beasiswa terhadap putra daerah untuk melanjutkan pendidikan ke luar […]

  • Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Di antara sekian ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, hanya naik haji ke Baitullah yang mendapatkan titel. Gelarnya melekat seumur hidup. Segera setelah seseorang pulang dari berhaji di Tanah Suci, masyarakat pun menyematkan titel mulia itu di depan namanya—Haji Fulan atau Hajjah Fulanah. Gelar ini bukan sekadar sebutan, tetapi simbol dari suatu perjalanan agung, kedalaman […]

  • Jakarta Bukan Indonesia: Menimbang Federalisme dan Otoritas Kharismatik

    Jakarta Bukan Indonesia: Menimbang Federalisme dan Otoritas Kharismatik

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Perdebatan mengenai bentuk negara tidak pernah benar-benar usai. Ia muncul kembali setiap kali ketimpangan pembangunan melebar, distribusi sumber daya dipersoalkan, atau hubungan pemerintah pusat dan daerah dipenuhi rasa saling curiga. Pertanyaan yang mengemuka bukan lagi sekadar apakah Indonesia harus tetap menjadi negara kesatuan, melainkan apakah pola penyelenggaraannya yang masih menyisakan watak sentralistik masih memadai untuk […]

expand_less