Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mengenang Kwik Kian Gie

  • account_circle Eka Putra B Santoso
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 89
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Penulis Akademisi Politik IAIN Sultan Amai Gorontalo)

Kemarin Kwik Kian Gie berpulang. Ekonom dan mantan Menteri era Gusdur dan Megawati itu  meninggalkan banyak sekali pemikiran tentang dinamika ekonomi politik di Indonesia.

Saya ingat dalam buku Kwik yang berjudul ” Gonjang ganjing ekonomi Indonesia ” Ia mengkritik doktrin Marxisme Ortodoks berupa penguasaan ekonomi oleh negara secara menyeluruh telah  menciptakan State capitalism yang justru berujung pada penghinaan pada Hak Asasi Manusia. Sebaliknya, ia juga menegaskan bahwa kebijakan ekonomi yang terlalu menuhankan mekanisme pasar (liberalisme) akan membuat stuktur keadilan  sumber daya alam berat sebelah.

Tentunya masa Kwik menimba ilmu sejalan dengan pencarian bentuk ideal sistem ekonomi  oleh negara-negara dunia ke-3. Di Indonesia,  pertentangan ideologi antar sosialisme dan kapitalisme termanifestasi dalam  diskusi tahun 70-an. Turunan dari ideologi besar tersebut melahirkan  dua kutub pemikiran. Yang pertama developmentalisme dan yang kedua adalah pemerataan.

Kedua kutub pemikiran itu pada akhirnya memberikan semacam kemenangan yang dominan atas mekanisme pasar yang terus terpakterkkan dalam struktur kebijakan negara. resensi atas hal itu, mendapatkan kritik yang tajam dari Kwik Kian Gie yang secara geneologi mengilhami sisi ekonomi kerakyatan Bung Hatta. Dalam salah satu wawancara 7 tahun yang lalu bersama Jaya Suprana, Kwik menyampaikan pesan Bung Hatta padanya yang pada saat itu sudah tidak menjabat sebagai Wakil Presiden. Dialog itu direkam sangat baik oleh Kwik yang mana Bung Hatta menyatakan bahwa hari ini negara kita sedang “dipreteli” atau dijual satu per-satu.

Hipotesis bung Hatta kini menjadi kenyataan. Dominasi asing dalam hal pengelolaan sumber daya alam menjadi ladang besar pembentukan sistem ekonomi di Indonesia. Pasal 33 UUD yang secara eksplisit berisi keberpihakan pada masyarakat kini terdegradasi dengan berbagai kebijakan negara. Dalam tulisannya di Kompas pada tahun 2010, Kwik  memetakan persoalan mendasar ini secara lebih spesifik dengan mengutip data dari berbagai ilmuwan dunia seperti Jeffrey Winters, yang merupakan guru besar pada Northwestern University, Chicago. Pada bukunya  yang berjudul “ Power In Motion” Capital Mobility and the Indonesian State” dituliskan mekanisme pengambilalihan sumber daya alam  Indonesia dilakukan melalui konferensi Jenewa oleh The time life corporation. Beberapa perusahaan besar yang bergerak dibidang perminyakan dan perbankan seperti, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, dan US Steel bertemu dengan para ekonomi Indonesia yang terkenal dengan sebutan “ The Berkeley Mafia

Manajemen pengaturan untuk berbagi sumber daya alam di Indonesia juga didukung oleh infrastruktur hukum yang memudahkan investasi dalam jangka waktu yang panjang. Kita mungkin pernah mendengar ungkapan Mahfud MD yang menyampaikan bahwa sebenarnya kita tersandera oleh produk hukum yang dibuat oleh elit politik kita sendiri. Ia memberikan contoh tentang dokumen undang-undang yang dipegang oleh PT Freeport Indonesia. salah satu klausul dalam regulasi tersebut menyatakan bahwa ‘’ ketika aturan atau regulasi itu dicabut dikemudian hari tidak berlaku bagi Freeport”

Beberapa fakta ini yang Kwik tentang, kebijakan negara yang sangat liberal menjadikan kedaulatan dan nasionalisme kita tidak ada artinya sama sekali. bagi saya yang cukup terlambat mengikuti jejak Kwik, melihat ada praktik nasionalisme yang berbeda dari cara pandang beliau. Doktrin nasionalisme yang Kwik pegang tidak berkutat pada identitas yang chauvinistik, namun lebih pada keadilan ekonomi yang wajib dipertahankan dan diperjuangkan. Hal itu dipraktekkan ketika beliau menduduki kursi Menteri Bappenas di era Presiden Megawati. Kwik saat itu menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Menurutnya, menyesuaikan harga minyak dengan aturan New York mercantile exchange (Nymex) bertentangan dengan UUD.

Tak hanya asumsi, Mahkamah Konsitusi ketika diketuai oleh Jimly Ashidiqi melalui putusannya mengatakan bahwa Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi bertentangan dengan UUD 1945 khususnya pada pasal 28 ayat 2 yang berbunyi ;

“ harga bahan bakar minyak dan gas bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar (artinya mekanisme pasar)”

Namun putusan MK tersebut, malah dijawab oleh pemerintah dengan mengeluarkan Perpres 36 tahun 2004, yang berbunyi ; “Harga BMM dan Gas Bumi diserahkan pada persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan. “

Bagi Kwik, penyesuaian harga dengan doktrin pasar internasional merugikan bangsa karena Pertamina harus membeli kelebihan konsumsi masyarakat dari perusahaan asing yang melakukan eksploitasi migas di Indonesia. Mereka jelas mengenyampingkan perjanjian bagi hasil yang harusnya menjadi hak warga negara tanpa harus menaikkan harga BBM.

Sikap kritisnya pada kapitalisme tidak berhenti sampai disitu, pada rezim pemerintahan Jokowi Kwik sempat mengkritik banyaknya pengusaha yang wara-wiri di media terkait dengan susunan kabinet Presiden saat itu, di salah satu diskusi bahkan beliau mempertanyakan isu 9 naga yang diduga mendukung Jokowi dalam perhelatan Pilpres. Tentang jargon revolusi mental, Kwik tidak absen, ia mempertanyakan konsep yang tidak jelas praktiknya dalam kehidupan berbangsa.

Disalah satu Tv Nasional Kwik membandingkan konsep revolusi mental dan revolusi yang terjadi China. Baginya justru China yang mampu mengikuti doktrin Trisakti Bung Karno secara konsisten sehingga menjadi negara besar seperti sekarang ini. Sementara Indonesia hanya berhenti pada Lipservice dan dalam praktiknya menjadi antek asing dalam hal pengelolaan sumber daya alam.

“Untuk mengakhiri”, banyak hal mengenai Kwik yang tidak tertuliskan, terlalu sedikit memori kita untuk mengingat semua hal yang beliau sumbangkan untuk Indonesia. Sedari kuliah di Roterdam, menjadi mata-mata Indonesia dalam kasus kontrontasi Irian barat di Belanda, hingga kegigihannya dalam memperjuangkan kedaulatan sumber daya alam bangsa ini.

Kini Kwik telah berpulang. Bangsa ini kembali kehilangan sosok intelektual, akademisi dan nasionalis sejati. Mengingatnya seperti mengembalikan Bung Hatta dengan segala konsep ekonomi kerakyatan.

“Kita betul-betul kehilangan”, Kwik kini mengikuti rekan sejawatnya seperti Rizal Ramli, Faisal Basri, Dawam Rahadjo, Sri Edi Sasono , dan Mubyarto. Mereka tokoh bangsa yang penerusnya kini makin jarang kita temui dalam dinamika politik Indonesia.

Selamat Jalan Pak Kwik.

God bless you

  • Penulis: Eka Putra B Santoso
  • Editor: Eka Putra B Santoso

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Hafiz Aqmal Djibran, S.Ikom
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Jika Aceh dikenal dengan “Serambi Mekkah”, maka Gorontalo dikenal dengan “Serambi Madinah”. Julukan tersebut sudah lama dikenal khususnya bagi masyarakat Gorontalo, termasuk penulis. Barangkali telah menjadi identitas daerah Gorontalo yang bisa diketahui oleh banyak orang. Tentunya julukan ini tidak serta merta turun dari langit dan dipersembahkan untuk daerah Gorontalo. Jika digali dari sejarah lokal dan […]

  • Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Pasca Eid al-Fitr, saya mendapati satu pemandangan yang hampir selalu berulang setiap tahun, orang-orang bergerak menuju tempat-tempat ziarah. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berombongan dengan tetangga, ada pula yang menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk singgah sebentar, membaca doa, lalu pulang. Salah satu titik yang paling ramai adalah kawasan Masjid Nuruttaubah Imam Lapeo. […]

  • UII Keluarkan Pernyataan Sikap, Soroti Politik Luar Negeri hingga Kebijakan Dalam Negeri

    UII Keluarkan Pernyataan Sikap, Soroti Politik Luar Negeri hingga Kebijakan Dalam Negeri

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 161
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Universitas Islam Indonesia (UII) menyampaikan pernyataan sikap resmi merespons perkembangan mutakhir praktik berbangsa dananiro, Selasa (3/3/2026). Pernyataan tersebut ditandatangani Rektor UII, Fathul Wahid, atas nama warga kampus. Dalam dokumen yang dirilis di Yogyakarta bertepatan dengan 一级ramadan 1447 H, UII menyesalkan sikap Pemerintah Republik Indonesia yang dinilai belum menunjukkan ketegasan memadai dalam menyikapi serangan […]

  • Goodwill Langit

    Goodwill Langit

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Di dunia akuntansi, ada satu istilah yang sering membuat mahasiswa mengernyitkan dahi: goodwill. Ia tidak bisa disentuh, tidak bisa difoto, tetapi nilainya bisa sangat mahal. Goodwill muncul ketika sebuah perusahaan dibeli lebih mahal daripada nilai aset bersihnya. Artinya ada sesuatu yang tak terlihat—reputasi, kepercayaan, atau nama baik—yang dihargai lebih tinggi daripada bangunan, mesin, bahkan kas. […]

  • Kabar Gembira: Tunjangan Guru PAI Dicairkan Sebelum Lebaran

    Kabar Gembira: Tunjangan Guru PAI Dicairkan Sebelum Lebaran

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Kementerian Agama menegaskan tunjangan profesi bagi 120.067 guru dan pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah akan dicairkan sebelum Idulfitri 1446 H. Pemerintah telah menyiapkan anggaran lebih dari Rp828,1 miliar untuk mendukung pencairan tunjangan selama dua bulan ini, Januari dan Februari 2025. Dirjen Pendidikan Islam Suyitno mengatakan, peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu Asta Cita […]

  • Barira: Muktabah, Wala, dan Hak Pilih dalam Pernikahan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 14)

    Barira: Muktabah, Wala, dan Hak Pilih dalam Pernikahan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 14)

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Barira adalah seorang perempuan yang hidup di Madinah pada masa Nabi. Ia bukan berasal dari keluarga terpandang. Ia adalah seorang budak milik salah satu keluarga Anshar. Hidupnya pada awalnya berada dalam keterbatasan. Ia tidak bebas menentukan arah hidupnya sendiri. Namun kisahnya kemudian menjadi penting dalam sejarah Islam karena beberapa peristiwa yang melibatkan dirinya melahirkan penegasan […]

expand_less