Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Panggung, Disabilitas, dan Kurikulum Berbasis Cinta (Catatan Review and Design in Islamic Education Ditjen Pendis Kemenag RI)

  • account_circle Pepy al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
  • visibility 358
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya cenderung skeptis terhadap doa dan pembacaan kitab suci dalam acara seremonial. Bukan karena keduanya kehilangan legitimasi religius, melainkan karena terlalu sering diposisikan sebagai ritual pembuka yang netral, steril dari relasi kuasa, dan seolah berada di luar politik representasi. Padahal, justru di awal acara itulah etika sebuah panggung bekerja.

Acara ini dibuka dengan tilawah Al-Qur’an, lalu doa. Keduanya dibacakan oleh anak-anak madrasah tunanetra. Saya ingin menegaskan sejak awal: yang membuat peristiwa ini penting bukan karena mereka tunanetra, dan bukan pula karena hadirin “terharu”. Yang penting adalah cara panggung itu disusun.

Dalam banyak praktik, disabilitas kerap dihadirkan sebagai narasi moral: untuk membangkitkan empati, menegaskan kebajikan penyelenggara, atau sekadar menjadi bukti simbolik inklusivitas. Pola semacam ini justru problematik, karena menjadikan disabilitas sebagai objek afeksi, bukan sebagai subjek sosial.

Yang terjadi di sini berbeda.

Tilawah dan doa di awal acara itu tidak diletakkan sebagai momen emosional, tidak diberi bingkai narasi “keterbatasan”, dan tidak diposisikan sebagai kejutan dramatik. Anak-anak tunanetra tersebut tidak “dipamerkan”. Mereka dipercaya. Dan kepercayaan adalah kategori politik, bukan psikologis.

Di titik ini, panggung bekerja secara etis. Ia tidak menurunkan standar, tidak pula mengistimewakan secara simbolik. Ia menempatkan subjek disabilitas dalam posisi yang paling mendasar dalam sebuah seremoni keagamaan: pembuka ruang sakral. Ini bukan gestur belas kasih, melainkan praktik pengakuan.

Di sinilah saya melihat relevansi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). KBC tidak berbicara tentang cinta sebagai perasaan, melainkan sebagai kerangka relasional yang menolak hierarki martabat. Cinta, dalam pengertian ini, adalah keberanian institusional untuk memperlakukan subjek secara setara—tanpa romantisasi, tanpa reduksi.

Tilawah dan doa itu bekerja sebagai pedagogi publik. Ia mengajarkan sesuatu yang tidak pernah efektif diajarkan lewat modul: bahwa kesetaraan tidak perlu diumumkan, cukup dijalankan. Bahwa inklusi tidak selalu memerlukan bahasa moral, tetapi desain ruang yang adil.

Penting dicatat: keberhasilan momen ini justru terletak pada ketiadaan narasi berlebihan. Tidak ada penjelasan panjang tentang disabilitas. Tidak ada aplaus yang dipandu. Tidak ada jeda dramatis. Semua dibiarkan berlangsung sebagaimana mestinya. Inilah bentuk paling dewasa dari pengakuan: ketika perbedaan tidak perlu ditandai.

Dalam konteks institusi negara—khususnya Kementerian Agama—ini adalah praktik keberagamaan yang signifikan. Keberagamaan tidak hadir sebagai simbol dominasi normalitas, tetapi sebagai pengalaman bersama yang tidak menyingkirkan siapa pun dari pusat. Negara tidak sedang “memberi ruang”, melainkan berhenti memonopoli ruang.

Setelah rangkaian perayaan lintas iman, termasuk Natal bersama, pembuka acara ini bukan sekadar kelanjutan simbolik, tetapi penegasan arah. Dari toleransi yang retoris menuju keadilan yang operasional. Dari empati yang ditonton menuju pengakuan yang dijalankan.

Jika Kurikulum Berbasis Cinta ingin dipahami secara serius, maka peristiwa semacam ini adalah contohnya. Bukan karena ia mengharukan, tetapi karena ia tepat secara etis. Panggung tidak digunakan untuk memproduksi rasa, melainkan untuk mendistribusikan martabat.

Dan di situlah cinta bekerja—bukan sebagai kata, tetapi sebagai struktur.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepy al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

    Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Khoirul Umam Mubarok
    • visibility 316
    • 0Komentar

    Delapan tahun berturut-turut sejak 2016, Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Tahun 2024, pemerintah bahkan menyerahkan LKPP tepat waktu — dirayakan sebagai pencapaian akuntabilitas fiskal yang membanggakan. Di saat bersamaan, kebijakan efisiensi anggaran senilai Rp306 triliun justru memantik kritik luas karena menyasar program pembangunan strategis. […]

  • Kebakaran Hebat Hanguskan Empat Pabrik di Kawasan Industri Olak Lempit, Tiga Korban Ditemukan Tewas

    Kebakaran Hebat Hanguskan Empat Pabrik di Kawasan Industri Olak Lempit, Tiga Korban Ditemukan Tewas

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 196
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Kebakaran hebat melanda empat pabrik di kawasan industri Olak Lempit, Banting, pada Sabtu malam, 14 Maret 2026. Peristiwa tersebut menimbulkan kobaran api besar disertai asap tebal yang terlihat dari jarak jauh dan mengundang kerumunan warga di sekitar lokasi. Kebakaran terjadi di kawasan industri Olak Lempit yang berada di wilayah Banting, negara bagian Selangor, […]

  • Khutbah Jumat : Ampunan Allah Tak Terbatas

    Khutbah Jumat : Ampunan Allah Tak Terbatas

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 316
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan yang sering membuat manusia terjatuh dalam kesalahan, ada satu hal yang tak pernah berubah: luasnya ampunan Allah. Betapapun jauh langkah kita menyimpang, betapapun sering kita mengulang dosa yang sama, pintu rahmat itu tetap terbuka—tidak pernah dikunci, tidak pernah habis. Manusia adalah tempatnya lupa dan salah. Ia berjalan dengan keterbatasan, tersandung oleh hawa […]

  • DPP Geninusa Gelar Buka Puasa Bersama, Pembina Febrina Tekankan Pentingnya Nalar Kritis Generasi Muda

    DPP Geninusa Gelar Buka Puasa Bersama, Pembina Febrina Tekankan Pentingnya Nalar Kritis Generasi Muda

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Nulondalo – Dewan Pengurus Pusat Gerakan Santripreneur Nusantara (DPP GENINUSA), menggelar buka puasa bersama dan berbagi takjil dengan ibu Febrina sebagai salah satu dewan pembina Geninusa di kediamannya, Jakarta Selatan, Jum’at 07 Maret 2025. Sebagai salah satu dewan pembina Geninusa, ibu Febrina juga memberikan pesan sebagai dorongan kepada pengurus DPP Geninusa. Harapannya geninusa harus tetap […]

  • Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Turmuji Jafar
    • visibility 463
    • 0Komentar

    Oleh: Turmuji Jafar (Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto)   Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Terhitung sejak tanggal 25-30 November 2025, terus mendapatkan bantuan dari berbagai pihak untuk kemanusiaan dan juga pemulihan. Banjir yang terjadi di Aceh dan Sumatera bukan semata-mata karena faktor musim hujan dengan […]

  • Ketika Guru PAI SD Tak Fasih Baca Al-Qur’an, Ke Mana Arah Pendidikan Agama?

    Ketika Guru PAI SD Tak Fasih Baca Al-Qur’an, Ke Mana Arah Pendidikan Agama?

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Turmuji Jafar
    • visibility 607
    • 0Komentar

    Oleh: Turmuji Jafar, Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto Mengawali tahun baru kita di suguhi dengan catatan merah oleh Kementerian Agama (Kemenang) dari hasil asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) akhir tahun 2025, menunjukkan data sebanyak 58,26 persen guru agama Islam tingkatan sekolah dasar (SD) di Indonesia belum fasih dalam membaca Al-Qur’an. Temuan ini berdasarkan asesmen terhadap 160.143 […]

expand_less