Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Akadnya Rapi, Akhlaknya Bolong

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
  • visibility 324
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kalau mendengar istilah “korporasi syariah”, banyak orang langsung merasa tenang. Seolah-olah begitu ada kata “syariah”, uang otomatis aman, laporan keuangan jujur, dan direksi langsung rajin tahajud. Padahal, kata Gus Dur, “Tidak semua yang pakai sarung itu kiai”, dan tidak semua yang berlabel syariah itu amanah.

Di brosur, korporasi syariah digambarkan bak pesantren modern: bersih, rapi, penuh nilai, dan jauh dari maksiat finansial. Tapi ketika dicek praktiknya, kadang terasa seperti warung kopi yang tulisannya kopi tubruk, tapi isinya kopi sachet dicampur air galon.

Secara teori, korporasi syariah itu harus adil, amanah, anti riba, anti gharar, dan anti nipu. Intinya, tidak bikin orang lain nangis sambil mikir, “Ini duit saya ke mana?” Namun dalam praktik, syariah sering berhenti di nama. Isinya? Tergantung niat dan iman direksi.

Banyak penelitian akademik yang judulnya panjang-panjang dan jarang dibaca sampai habis menyimpulkan satu hal sederhana: label syariah belum tentu mencegah fraud. Dewan Pengawas Syariah ada, tapi kadang lebih sibuk mengawasi logo halal daripada mengawasi aliran dana. Akadnya rapi, tapi akhlaknya bolong.

Kegagalan korporasi syariah biasanya bukan karena fiqihnya salah, tapi karena manusianya kebanyakan “akal-akalan”. Akadnya mudharabah, praktiknya mudharat. Bagi hasilnya dijanjikan adil, tapi pas rugi yang diajak sabar cuma investor.

Kasus PT Dana Syariah Indonesia (DSI) jadi contoh paling nyentil. Dengan embel-embel syariah, dana masyarakat dikumpulkan, janji manis ditebar, imbal hasil dijanjikan seperti surga sebelum kiamat. Belakangan, muncul dugaan proyek fiktif dan pola mirip Ponzi. Ini seperti pengajian yang judulnya tafsir Al-Qur’an, tapi isinya jualan kapling akhirat.

Kerugiannya triliunan, dampaknya luas, dan yang paling mahal: kepercayaan publik hancur. Gus Dur mungkin akan nyeletuk, “Kalau nipu pakai agama, itu dosanya dobel. Nipu iya, ngajak orang percaya juga iya.”

Masalahnya bukan pada kata “syariah”, tapi pada perilaku. Banyak korporasi rajin mengejar sertifikat, tapi malas merawat akhlak. Padahal, dalam Islam, simbol tanpa nilai itu bukan syariah itu dekorasi.

Lucunya, praktik ekonomi yang paling mendekati nilai syariah justru ada di desa, bukan di gedung bertingkat. Di Aceh ada mawah, di Minangkabau ada mato, di Bugis ada teseng, dan di Sunda ada paroan. Tidak ada kontrak tebal, tidak ada auditor, tidak ada DPS, tapi amanah dijaga mati-matian.

Dalam teseng Bugis, orang boleh miskin, tapi jangan sampai kehilangan siri’ (harga diri). Curang itu bukan cuma salah, tapi memalukan sampai tujuh turunan. Di paroan Sunda, kalau panen gagal, ya gagal bareng. Kalau untung, dibagi adil. Tidak ada bunga, tidak ada denda, yang ada silih percaya.

Anehnya, sistem-sistem ini relatif kebal fraud. Kenapa? Karena pengawasnya bukan cuma manusia, tapi rasa malu dan takut pada Tuhan. Ini compliance system versi tradisional: gratis, tapi efektif.

Bandingkan dengan korporasi “syariah” modern. SOPnya tebal, rapatnya sering, komisarisnya banyak, tapi kebocoran tetap jalan. Seperti kata orang NU, “Sing kurang itu bukan ilmunya, tapi waras lan jujure.”

Dari sini pelajarannya jelas: trust tidak butuh label syariah, tapi nilai syariah. Kepercayaan lahir dari kejujuran, bukan dari stempel. Dari amanah, bukan dari akronim Arab.

Kalau syariah cuma jadi strategi branding, maka ia kehilangan ruhnya. Dan kalau itu terjadi, kata Gus Dur, agama bukan lagi membebaskan manusia, tapi malah dipakai buat ngibulin manusia.

Maka, sebelum sibuk menempelkan kata “syariah” di papan nama, mungkin yang perlu ditempel dulu adalah rasa malu di hati dan takut pada Tuhan di kepala. Karena tanpa itu, korporasi syariah cuma akan jadi satu hal: konvensional, tapi pakai sorban.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seruan Moral Warga NU: Kembalikan Nahdlatul Ulama kepada Jamaah demi Kemaslahatan Bangsa dan Kelestarian Alam photo_camera 10

    Seruan Moral Warga NU: Kembalikan Nahdlatul Ulama kepada Jamaah demi Kemaslahatan Bangsa dan Kelestarian Alam

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 215
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Musyawarah Besar Warga Nahdaltul Ulama  bertajuk “Mengembalikan NU kepada Jamaah demi Kemaslahatan Bangsa dan Kelestarian Alam” lahir Suruan Moral Nahdlatul Ulama yang digelar di kediaman KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (21/12/2025). Musyawarah tersebut dihadiri oleh warga, jamaah, serta para muhibbin Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah sebagai ikhtiar kolektif untuk […]

  • Antrean Solar Subsidi Dan Atrian penggunaan jalan,Menjadi tanda tanya Besar Ada apa dengan BBM?

    Antrean Solar Subsidi Dan Atrian penggunaan jalan,Menjadi tanda tanya Besar Ada apa dengan BBM?

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Nulondalo.com,Maros – Sudah berbulan bulan masyarakat menyaksikan antrean panjang truk di hampir setiap SPBU Pertamina,  contonhnya di SPBU Pettuadae Kabupaten maros  Pemandangan ini seolah menjadi hal yang biasa, padahal dampaknya sangat nyata. Truk-truk yang mengantri hingga memakan badan jalan menyebabkan kemacetan panjang, mengganggu aktivitas masyarakat, dan menghambat kelancaran transportasi. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah stok […]

  • Darah Nabi Mengalir di Iran: Layakkah Kita Membelanya?

    Darah Nabi Mengalir di Iran: Layakkah Kita Membelanya?

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah. Lc
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Ketika kita membaca kitab hadits Bukhari dan Muslim di pesantren, pernahkah kita sadar bahwa kedua imam agung itu adalah orang Persia? Bahwa sebagian besar ulama yang mewariskan ilmu Nabi lahir dari tanah yang dulu disebut Persia, kini bernama Iran? Ironisnya, masih ada umat Islam yang meragukan Iran hanya karena perbedaan mazhab atau pengaruh propaganda Barat. […]

  • ASPETI Resmi Ajukan Keberatan Administratif ke Menteri ESDM Terkait Tarif Denda Pertambangan

    ASPETI Resmi Ajukan Keberatan Administratif ke Menteri ESDM Terkait Tarif Denda Pertambangan

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 249
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Jakarta – Perkumpulan Asosiasi Penambang Tanah Pertiwi (ASPETI) secara resmi melayangkan surat keberatan administratif kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia pada 5 Januari 2026. Langkah hukum ini diambil sebagai respon terhadap terbitnya Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 391.K/MB.01/MEM.B/2025 yang mengatur tarif denda administratif pelanggaran kegiatan usaha pertambangan di kawasan hutan. […]

  • Generasi Terampil Lahir di Maros: Sertifikat Pelatihan Vokasi Resmi Diserahkan

    Generasi Terampil Lahir di Maros: Sertifikat Pelatihan Vokasi Resmi Diserahkan

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 275
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros– Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Maros kembali membuahkan hasil nyata. Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Makassar bekerja sama dengan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertras) Maros secara resmi menyerahkan sertifikat kelulusan kepada 48 peserta yang telah berhasil menuntaskan program pelatihan vokasi yang berlangsung pada 23–31 Oktober 2025 lalu. Acara […]

  • Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Dalam sejarah Islam, banyak perempuan tampil sebagai figur yang memberi kontribusi penting dalam membentuk kehidupan spiritual umat. Khadijah dikenal karena keteguhan dan dukungannya pada masa awal dakwah, baik secara moral maupun material. Aisyah menjadi rujukan utama dalam periwayatan hadis dan persoalan-persoalan hukum, menunjukkan kedalaman pengetahuan dan ketajaman intelektualnya. Fatimah dihormati karena kesederhanaan, keteguhan sikap, dan […]

expand_less