Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Dikejar Notifikasi

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 313
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di zaman sekarang, manusia tidak lagi dikejar macan, tapi dikejar notifikasi. Dulu orang bangun subuh karena azan, sekarang karena pesan WhatsApp bertuliskan: “Segera lunasi pinjaman Anda!” Inilah zaman ketika rezeki datang lewat transfer, tapi musibah juga ikut nyempil lewat aplikasi bernama pinjaman online, atau yang lebih akrab disebut: pinjol.

Awalnya pinjol katanya solusi. Cepat, mudah, tanpa jaminan. Tapi seperti kata Gus Dur, “Yang cepat itu biasanya tidak sabar, dan yang tidak sabar sering keliru.” Pinjol pun begitu. Ia lahir dengan jargon inklusi keuangan, tapi tumbuh dengan praktik eksklusi kemanusiaan. Dari sekadar pinjam uang, berubah jadi pinjam umur, pinjam harga diri, bahkan pinjam ketenangan batin.

Di sinilah humor NU relevan: niatnya nyicil, kok malah nyesel. Pinjol mengajarkan satu ilmu baru dalam fikih kontemporer: utang berbunga lebih cepat dari taubat.

Secara ekonomi, pinjol membuat uang terasa dekat, tapi masa depan terasa jauh. Banyak orang meminjam bukan untuk produktif, tapi konsumtif: beli gawai, gaya hidup, atau sekadar menambal lubang utang sebelumnya. Ini bukan manajemen keuangan, tapi manajemen kepanikan.

Dalam bahasa pesantren, ini seperti gali sumur pakai sendok, tapi berharap keluar air zamzam. Arus kas pribadi menjadi negatif, kemampuan bayar runtuh, dan seseorang terjebak dalam lingkaran utang pinjam untuk bayar pinjam. Akuntansi pribadi pun menyerah sebelum diaudit.

Dari sisi hukum, pinjol ilegal itu ibarat tamu tak diundang yang ikut makan, tapi juga bawa golok. Banyak praktik melanggar hukum: bunga mencekik, penyalahgunaan data pribadi, hingga teror digital. Ironisnya, korban sering disalahkan, sementara pelaku bersembunyi di balik server luar negeri.

Gus Dur pernah bilang, “Hukum tanpa keadilan hanya akan melahirkan ketertiban palsu.” Maka ketika pinjol ilegal marak, yang terjadi bukan ketertiban digital, melainkan kekacauan legal yang sistematis.

Secara sosial, korban pinjol sering mengalami stigma. Malu pada keluarga, menjauh dari teman, dan merasa sendirian. Padahal dalam tradisi NU, beban hidup itu seharusnya dipikul bareng-bareng, bukan dipendam sendiri sampai meledak.

Pinjol menggerus solidaritas sosial. Orang jadi takut buka ponsel, bukan karena dosa, tapi karena debt collector. Di titik ini, pinjol bukan sekadar masalah finansial, tapi krisis kebersamaan.

Secara psikologis, tekanan pinjol melahirkan kecemasan, depresi, bahkan keputusasaan. Teror pesan, ancaman sebar data, dan rasa gagal membuat korban kehilangan kendali diri. Humor NU menyebutnya: utang belum lunas, waras duluan yang habis.

Ironisnya, sistem digital yang katanya modern justru menghasilkan penderitaan yang sangat primitif: takut, panik, dan terasing.

Penegak hukum sering hadir setelah korban jatuh. Padahal yang dibutuhkan adalah pencegahan dan ketegasan sejak awal. Menutup aplikasi ilegal saja tidak cukup jika ekosistemnya tetap subur.

Masyarakat juga jangan cuma nyinyir. Dalam etika NU, amar ma’ruf nahi munkar itu bukan sekadar komentar, tapi tindakan nyata: edukasi, pendampingan, dan solidaritas.

Solusi pinjol tidak cukup dengan khutbah moral. Yang dibutuhkan adalah audit partisipatif: pencatatan keuangan pribadi, transparansi penggunaan uang, dan kesadaran kolektif. Mahasiswa, keluarga, kampus, dan masyarakat harus ikut mengawasi, bukan menghakimi.

Akuntansi di sini bukan soal debit-kredit, tapi soal niat, disiplin, dan tanggung jawab. Mencatat keuangan adalah bentuk kejujuran pada diri sendiri.

Akhirnya, pinjol membuat semua resah: yang pinjam, yang ditagih, bahkan yang tidak ikut pinjam pun ikut stres karena grup keluarga jadi sepi. Seperti kata Gus Dur, “Masalah bangsa ini bukan kekurangan orang pintar, tapi kelebihan orang yang merasa paling benar.”

Pinjol bukan sekadar soal uang, tapi soal cara kita memanusiakan manusia di era digital. Kalau teknologi membuat kita kehilangan empati, mungkin yang perlu diupdate bukan aplikasinya, tapi nurani kita.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ratusan Siswa SMK HKBP Sidikalang Diduga Keracunan MBG, Jalani Perawatan di Sejumlah Faskes

    Ratusan Siswa SMK HKBP Sidikalang Diduga Keracunan MBG, Jalani Perawatan di Sejumlah Faskes

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 267
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ratusan siswa SMK HKBP Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa terpaksa dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis, Selasa (10/2/2026). Berdasarkan pantauan di lapangan, para siswa dirawat di RSUD Sidikalang, UPT Puskesmas Hutarakyat, serta Klinik Katolik. Informasi yang dihimpun […]

  • Refleksi HUT RI 81, Membaca Kepemimpinan Nasional

    Refleksi HUT RI 81, Membaca Kepemimpinan Nasional

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Penulis Ahmad Takbir Abadi Setiap momentum Hari Ulang Tahun Republik Indonesia semestinya bukan sekadar ritual tahunan dengan upacara, bendera, dan pidato tentang keberhasilan. Ia adalah jeda untuk bercermin, sudah sejauh mana republik ini menunaikan janji kemerdekaannya? Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia telah melewati pergantian rezim, pergantian presiden, pergolakan politik, krisis ekonomi, hingga Reformasi. Pemimpin […]

  • Lawan Perampasan Lahan, Warga Maba Sangaji Hadang Alat Berat Industri Tambang PT Position

    Lawan Perampasan Lahan, Warga Maba Sangaji Hadang Alat Berat Industri Tambang PT Position

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Sejumlah warga Desa Maba Sangaji, Halmahera Timur, Maluku Utara, yang juga merupakan pemilik sah lahan adat, melakukan aksi boikot terhadap aktivitas penambangan oleh PT Position pada 18 April 2025. Aksi ini dilakukan warga dengan mendatangi langsung lokasi penambangan di hutan adat Maba Sangaji sebagai bentuk perlawanan atas penyerobotan dan penggusuran lahan yang dinilai dilakukan secara […]

  • Benarkah Surat Garapan Tanah di Boribellayya Maros Dipatok Rp10 Juta?

    Benarkah Surat Garapan Tanah di Boribellayya Maros Dipatok Rp10 Juta?

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Dugaan adanya biaya hingga Rp10 juta dalam pengurusan surat garapan tanah di Kelurahan Boribellayya, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, menjadi perhatian dan memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Informasi tersebut mencuat setelah seorang warga berinisial HZ mengaku mengetahui adanya biaya pembuatan surat garapan yang disebut mencapai Rp10 juta. “10 juta, mau lokasi luas, mau […]

  • Ditresnarkoba Polda Papua Musnahkan 6,3 Kg Ganja Hasil Pengungkapan Kasus Februari 2026

    Ditresnarkoba Polda Papua Musnahkan 6,3 Kg Ganja Hasil Pengungkapan Kasus Februari 2026

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 304
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Direktorat Reserse Narkoba Polda Papua memusnahkan 6,3 kilogram narkotika jenis ganja yang merupakan hasil pengungkapan kasus sepanjang Februari 2026, Selasa (3/3), di Kantor Lama Ditresnarkoba Polda Papua, Dok V, Kota Jayapura. Pemusnahan tersebut dipimpin jajaran Subdit II dan turut disaksikan oleh jaksa dari Kejaksaan Tinggi Papua sebagai bagian dari prosedur hukum dan transparansi […]

  • Pemkab Maros Segarkan Birokrasi, A. Abbas Maskur Resmi Nahkodai Dinas Perhubungan

    Pemkab Maros Segarkan Birokrasi, A. Abbas Maskur Resmi Nahkodai Dinas Perhubungan

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros– Pemerintah Kabupaten Maros kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun birokrasi yang bersih, profesional, dan berorientasi pada pelayanan publik. Melalui perombakan jabatan struktural, Pemkab Maros melakukan penyegaran organisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat kinerja pemerintahan daerah. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan berlangsung khidmat di Lapangan Pallantikang, Kabupaten Maros, Senin (5/1/2025), dan dihadiri oleh jajaran pejabat […]

expand_less