Breaking News
light_mode
Trending Tags

Dikejar Notifikasi

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 269
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di zaman sekarang, manusia tidak lagi dikejar macan, tapi dikejar notifikasi. Dulu orang bangun subuh karena azan, sekarang karena pesan WhatsApp bertuliskan: “Segera lunasi pinjaman Anda!” Inilah zaman ketika rezeki datang lewat transfer, tapi musibah juga ikut nyempil lewat aplikasi bernama pinjaman online, atau yang lebih akrab disebut: pinjol.

Awalnya pinjol katanya solusi. Cepat, mudah, tanpa jaminan. Tapi seperti kata Gus Dur, “Yang cepat itu biasanya tidak sabar, dan yang tidak sabar sering keliru.” Pinjol pun begitu. Ia lahir dengan jargon inklusi keuangan, tapi tumbuh dengan praktik eksklusi kemanusiaan. Dari sekadar pinjam uang, berubah jadi pinjam umur, pinjam harga diri, bahkan pinjam ketenangan batin.

Di sinilah humor NU relevan: niatnya nyicil, kok malah nyesel. Pinjol mengajarkan satu ilmu baru dalam fikih kontemporer: utang berbunga lebih cepat dari taubat.

Secara ekonomi, pinjol membuat uang terasa dekat, tapi masa depan terasa jauh. Banyak orang meminjam bukan untuk produktif, tapi konsumtif: beli gawai, gaya hidup, atau sekadar menambal lubang utang sebelumnya. Ini bukan manajemen keuangan, tapi manajemen kepanikan.

Dalam bahasa pesantren, ini seperti gali sumur pakai sendok, tapi berharap keluar air zamzam. Arus kas pribadi menjadi negatif, kemampuan bayar runtuh, dan seseorang terjebak dalam lingkaran utang pinjam untuk bayar pinjam. Akuntansi pribadi pun menyerah sebelum diaudit.

Dari sisi hukum, pinjol ilegal itu ibarat tamu tak diundang yang ikut makan, tapi juga bawa golok. Banyak praktik melanggar hukum: bunga mencekik, penyalahgunaan data pribadi, hingga teror digital. Ironisnya, korban sering disalahkan, sementara pelaku bersembunyi di balik server luar negeri.

Gus Dur pernah bilang, “Hukum tanpa keadilan hanya akan melahirkan ketertiban palsu.” Maka ketika pinjol ilegal marak, yang terjadi bukan ketertiban digital, melainkan kekacauan legal yang sistematis.

Secara sosial, korban pinjol sering mengalami stigma. Malu pada keluarga, menjauh dari teman, dan merasa sendirian. Padahal dalam tradisi NU, beban hidup itu seharusnya dipikul bareng-bareng, bukan dipendam sendiri sampai meledak.

Pinjol menggerus solidaritas sosial. Orang jadi takut buka ponsel, bukan karena dosa, tapi karena debt collector. Di titik ini, pinjol bukan sekadar masalah finansial, tapi krisis kebersamaan.

Secara psikologis, tekanan pinjol melahirkan kecemasan, depresi, bahkan keputusasaan. Teror pesan, ancaman sebar data, dan rasa gagal membuat korban kehilangan kendali diri. Humor NU menyebutnya: utang belum lunas, waras duluan yang habis.

Ironisnya, sistem digital yang katanya modern justru menghasilkan penderitaan yang sangat primitif: takut, panik, dan terasing.

Penegak hukum sering hadir setelah korban jatuh. Padahal yang dibutuhkan adalah pencegahan dan ketegasan sejak awal. Menutup aplikasi ilegal saja tidak cukup jika ekosistemnya tetap subur.

Masyarakat juga jangan cuma nyinyir. Dalam etika NU, amar ma’ruf nahi munkar itu bukan sekadar komentar, tapi tindakan nyata: edukasi, pendampingan, dan solidaritas.

Solusi pinjol tidak cukup dengan khutbah moral. Yang dibutuhkan adalah audit partisipatif: pencatatan keuangan pribadi, transparansi penggunaan uang, dan kesadaran kolektif. Mahasiswa, keluarga, kampus, dan masyarakat harus ikut mengawasi, bukan menghakimi.

Akuntansi di sini bukan soal debit-kredit, tapi soal niat, disiplin, dan tanggung jawab. Mencatat keuangan adalah bentuk kejujuran pada diri sendiri.

Akhirnya, pinjol membuat semua resah: yang pinjam, yang ditagih, bahkan yang tidak ikut pinjam pun ikut stres karena grup keluarga jadi sepi. Seperti kata Gus Dur, “Masalah bangsa ini bukan kekurangan orang pintar, tapi kelebihan orang yang merasa paling benar.”

Pinjol bukan sekadar soal uang, tapi soal cara kita memanusiakan manusia di era digital. Kalau teknologi membuat kita kehilangan empati, mungkin yang perlu diupdate bukan aplikasinya, tapi nurani kita.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keluarga Berisiko Stunting Dapat Bantuan Internasional

    Keluarga Berisiko Stunting Dapat Bantuan Internasional

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo menyampaikan apresiasi atas dukungan internasional dalam upaya percepatan penurunan stunting. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, yang mewakili Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, dalam acara penyerahan bantuan oleh Branch Singapore Aid kepada 150 keluarga berisiko stunting di Kota Gorontalo. Kegiatan ini merupakan bagian dari […]

  • Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Pameran seni bertajuk “Sangkut Paut” resmi dibuka, Selasa (25/11/2025) di Hartdisk Studio, Bone Bolango. Pameran ini merupakan hasil proses kreativitas dari program MTN Lab Residence Gorontalo, yang menghadirkan 29 seniman dan 8 kurator dalam kerja kolaboratif selama dua minggu terakhir. Residensi ini memperlihatkan bagaimana gagasan tumbuh ketika praktik seni dirawat melalui kedekatan—antara seniman, kurator, ruang […]

  • GERAK Laporkan Dugaan Monopoli dan Korupsi Alkes Rp50,9 M di Dinkes Boalemo ke Kejaksaan Agung

    GERAK Laporkan Dugaan Monopoli dan Korupsi Alkes Rp50,9 M di Dinkes Boalemo ke Kejaksaan Agung

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Gerakan Rakyat Anti Korupsi (GERAK) Provinsi Gorontalo, yang dikomandoi oleh Abdul Wahidin Tutuna, resmi melaporkan dugaan tindak pidana korupsi dan monopoli dalam proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) dan bahan medis habis pakai (BMHP) senilai Rp50,9 miliar di Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo ke Kejaksaan Agung RI, Selasa (15 /7/2025). Laporan tersebut disampaikan langsung di Jakarta, dengan […]

  • Di Bawah Bayang-Bayang AI: Percepatan Perubahan dan Tantangan Memahami Dunia yang Kian Tak Terduga

    Di Bawah Bayang-Bayang AI: Percepatan Perubahan dan Tantangan Memahami Dunia yang Kian Tak Terduga

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Jika pada awal tahun 2000-an Yasraf Amir Piliang berbicara tentang pelipatan ruang, waktu, dan tanda oleh media serta teknologi informasi, maka kecerdasan buatan hari ini membawa proses itu ke tingkat yang jauh lebih radikal. Bukan lagi sekadar pelipatan dunia, melainkan pelipatan pengetahuan, kreativitas, imajinasi, bahkan realitas itu sendiri. Kita sedang menyaksikan sebuah fase yang bisa […]

  • IKPM-HT Yogyakarta Bedah Riset Transmigrasi Maba Utara Jelang Dialog Publik di UGM

    IKPM-HT Yogyakarta Bedah Riset Transmigrasi Maba Utara Jelang Dialog Publik di UGM

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Yogyakarta – Ikatan Komunikasi Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IKPM-HT) Yogyakarta menggelar diskusi internal untuk membedah riset mendalam mengenai kondisi Transmigrasi di Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, Jum’at (2/1/2026). Agenda pembacaan riset ini merupakan langkah strategis organisasi dalam mematangkan data dan substansi sebelum dibawa ke forum Dialog Publik bersama Pusat Studi Pedesaan […]

  • MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Gorontalo kembali mempererat sinergi untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini terlihat dalam rapat koordinasi yang digelar di Ruang Dulohupa, Kantor Gubernur Gorontalo, Rabu (2/7/2025). Program MBG merupakan salah satu program prioritas nasional yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, dalam rangka membangun generasi sehat dan unggul menuju […]

expand_less