Breaking News
light_mode
Trending Tags

Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
  • visibility 746
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan Etnografis tentang Kepemimpinan, Dunia Usaha, dan Etika Merawat Kota

Tulisan ini saya rampungkan di tengah malam—ketika jarum jam bergerak ke angka kecil di penghujung Januari, dan Februari 2026 mengintip dari balik kalender. Kota sedang senyap. Jalan-jalan lengang. Namun di kepala saya justru berdenyut percakapan, gestur, dan resonansi sosial yang belum ingin reda: bahwa saya baru saja menyaksikan sesuatu yang penting bagi masa depan Gorontalo.

Saya menulis sebagai seorang antropolog—dan sebagai warga yang mencintai kota ini. Dorongan ini tidak lahir dari kewajiban profesi atau agenda seremonial, melainkan dari intuisi lapangan: perasaan bahwa sebuah perubahan sedang dirintis bukan lewat slogan besar, melainkan melalui cara orang-orang duduk, berdiri, berbagi pandang, dan mengucapkan komitmen. Ada ide besar yang sedang tumbuh—tentang kolaborasi, tentang keikhlasan, tentang bagaimana sebuah kota pesisir berani memikirkan keselamatan warganya secara sistemik, jauh sebelum air meluap atau tanah bergerak.

Di forum pengukuhan itu, satu hal terasa berbeda. Sambutan Wali Kota Gorontalo, H. Adhan Dambea—yang disampaikan oleh Wakil Wali Kota Indra Gobel — mengalir bukan sebagai teks administratif, melainkan sebagai bahasa kepemimpinan yang hidup: langsung, jernih, tanpa retorika berlebih, tetapi sarat arah. Ia berbicara tentang dunia usaha bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penjaga kota. Tentang CSR bukan sebagai simbol, melainkan sebagai sistem yang dirancang. Tentang bencana bukan sebagai peristiwa yang hanya ditangisi, melainkan risiko yang mesti dihadapi bersama.

Bahasa semacam itu, dalam pengamatan antropologis, bekerja lebih kuat daripada perintah formal. Ia membentuk iklim moral. Ia menggeser suasana ruangan dari “acara seremonial” menjadi “ruang tanggung jawab kolektif.” Di sanalah etnografi bermula: bukan dari catatan notulen, melainkan dari reaksi spontan hadirin.

Seorang ketua terpilih H. Zainal Mappe berdiri dan menyebut angka partisipasi rupiahnya, disusul pengurus lain yang ikut menyatakan kesanggupan. Tidak ada dorongan mikrofon. Tidak ada tekanan simbolik. Yang ada hanyalah ruang kepercayaan yang dibuka oleh kepemimpinan yang konsisten.

Di situlah mata saya berkaca-kaca.

Bukan karena jumlahnya semata, melainkan karena maknanya. Di ruangan itu, uang tidak lagi tampil sebagai transaksi, melainkan pernyataan etis. Sebuah pengakuan bahwa kota ini tidak hanya dijaga oleh APBD, tetapi oleh kesadaran warganya sendiri, oleh pelaku usaha yang memutuskan berdiri karena merasa sedang menjaga rumah bersama.

Sebagai seorang Antropolog yang selama ini menulis tentang Gorontalo dan budaya pendidikan karakter, saya terbiasa menjaga jarak analitis. Namun malam itu, jarak tersebut runtuh. Saya merasakan aura keberkahan yang sulit diterjemahkan ke dalam grafik atau teori: sebuah resonansi kolektif ketika orang-orang sadar bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang benar. Dalam antropologi, momen seperti ini jarang terekam lewat angka. Ia hidup dalam nada suara, jeda kalimat, cara orang saling memandang, dan keyakinan yang muncul perlahan, bahwa sesuatu sedang dimulai.

Ada pula alasan lain mengapa saya menulisnya saat itu juga. Kedekatan personal saya dengan sang Mayor teddy Gorontalo, Dandy Datau—yang dipilih Wali Kota sebagai Pelaksana Tugas Kepala BPBD—membuat momentum ini terasa terlalu penting untuk dibiarkan menguap. Saya mengenal kehati-hatiannya membaca risiko, disiplin operasionalnya, serta caranya berbicara tentang keselamatan warga tanpa dramatika. Penunjukan itu, bagi saya, bukan sekadar administrasi; ia adalah pesan kebijakan: bahwa kota ini sedang menempatkan urusan paling genting di tangan figur yang dipercaya bekerja dalam diam.

Dalam konfigurasi inilah saya membaca seni mengelola kota. Seorang wali kota yang tidak gemar beretorika, tetapi konsisten menjaga wilayahnya. Seorang wakil yang memahami alur pikir pimpinan dan denyut sosial warga. Dan seorang kepala teknis kebencanaan yang dipilih karena kapasitas, bukan sensasi. Bagi seorang antropolog, pertemuan antara struktur birokrasi, figur kepemimpinan, dan kehendak kolektif semacam ini adalah bahan etnografi yang langka.

Pengukuhan Perhimpunan Dunia Usaha Peduli Bencana (PERDANA) Kota Gorontalo sendiri merupakan peristiwa sosial yang kaya lapisan makna. Di sana, Pelaku usaha, aparat kebencanaan, akademisi, dan warga duduk sejajar. Para pengusaha tidak lagi dipanggil hanya ketika bencana datang, melainkan diajak sejak tahap pencegahan. Gudang, armada distribusi, hotel, jaringan ritel, hingga UMKM mulai dibicarakan sebagai bagian dari sistem keselamatan kota.

Dalam bahasa antropologi, inilah proses institusionalisasi solidaritas. Gotong royong—nilai yang selama ini hidup dalam keseharian warga pesisir—diberi struktur agar tahan lama. Ia tidak dibiarkan cair lalu menguap setelah krisis berlalu, tetapi diikat dalam organisasi, pembagian peran, latihan bersama, dan mekanisme pertanggungjawaban. Budaya lokal tidak dihapus; ia dimodernkan tanpa kehilangan ruhnya.

Tulisan ini saya tujukan, secara khusus, kepada para pengusaha Gorontalo. Selama ini Bapak dan Ibu dikenal sebagai penggerak ekonomi, penyedia lapangan kerja, roda distribusi, denyut pasar. Pada fase ini, sejarah memberi Anda peran tambahan: penjaga kota. Ketika gudang disiapkan sebagai titik distribusi darurat, ketika armada dialokasikan untuk evakuasi, ketika modal digerakkan untuk memulihkan UMKM pascabencana, di situlah bisnis bertemu dengan etika kewargaan.

Semua gagasan yang saya uraikan di sini berangkat dari satu rasa: salut kepada kepemimpinan Wali Kota Adhan Dambea. Tanpa basa-basi, tanpa tekanan simbolik, keteladanan itulah yang menjadi pemantik. Dunia usaha bergerak bukan karena dipaksa, melainkan karena percaya. Para pengusaha berdiri bukan karena instruksi, melainkan karena rasa hormat. Inilah bentuk kepemimpinan yang paling sunyi sekaligus paling efektif: memantik tanpa memerintah, menggerakkan tanpa menggurui.

Dalam antropologi, kepemimpinan semacam ini sering disebut sebagai otoritas moral—kekuatan yang tidak bertumpu pada jabatan semata, melainkan pada konsistensi tindakan. Ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang berulang, dari keberanian memulai, dari ketekunan menjaga arah. Di Gorontalo, otoritas moral itu tampak sedang bekerja.

Indonesia membutuhkan kota-kota seperti ini, daerah yang berani bereksperimen, yang melibatkan sektor privat tanpa melepas kendali publik, yang menjadikan kesiapsiagaan sebagai proyek kebudayaan, bukan sekadar proyek anggaran. Gorontalo punya peluang besar untuk dikenal bukan hanya karena geografi atau sejarahnya, tetapi karena keberaniannya merancang masa depan: penanggulangan bencana sebagai kerja bersama.

Dari perspektif antropologi, inilah yang saya sebut sebagai imajinasi sosial baru. Sebuah cara kolektif membayangkan masa depan: bahwa keselamatan bukan urusan satu lembaga, bahwa kesiapsiagaan bukan aktivitas musiman, bahwa kota dapat dirawat lewat relasi yang diperkuat sebelum krisis datang. Imajinasi inilah yang, jika dipelihara, dapat menular ke daerah lain, menjadi inspirasi nasional tentang bagaimana ketangguhan dibangun dari bawah, dari kepercayaan, dari teladan.

Di jam-jam sunyi seperti inilah tulisan-tulisan menemukan energinya. Ketika ambisi pribadi ditanggalkan, ketika kebijakan dibaca sebagai etika, ketika angka-angka berubah menjadi wajah-wajah warga yang ingin tetap hidup tenteram di rumah mereka. Saya menulis karena saya percaya: kota bukan sekadar kumpulan bangunan, melainkan persekutuan moral, ruang di mana orang-orang saling menjaga tanpa menunggu perintah.

Dan pada pergantian bulan ini, Gorontalo sedang menunjukkan bagaimana persekutuan itu dirawat dengan keteladanan, keikhlasan, dan keberanian untuk melangkah lebih dulu.

Tulisan ini adalah cara kecil saya memberi hormat pada momentum itu: sebuah catatan lapangan tentang kota yang sedang belajar bersiap, tentang pemimpin yang memilih bekerja dalam diam, tentang pengusaha yang bangkit tanpa dipaksa, dan tentang sebuah imajinasi baru, bahwa ketangguhan bukan sekadar respons terhadap bencana, melainkan kebudayaan yang ditumbuhkan hari demi hari.

Jika Gorontalo konsisten merawat imajinasi ini, kepemimpinan yang memantik, dunia usaha yang bergerak sukarela, dan negara lokal yang mengorkestrasi tanpa memonopoli, maka kota ini tidak hanya sedang membangun kesiapsiagaan, melainkan sedang menulis model baru penanggulangan bencana dari daerah untuk Indonesia. Di tengah negeri yang kerap bergerak setelah terluka, Gorontalo sedang mencoba bersiap sebelum terlambat. Dan barangkali, justru dari kota-kota seperti inilah masa depan ketangguhan nasional akan dilahirkan.

Penulis : Antropolog dan Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU Gorontalo

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Bone Bolango Tegaskan Pengawalan Ketat Amdal Tambang Emas PT Gorontalo Minerals

    Pemkab Bone Bolango Tegaskan Pengawalan Ketat Amdal Tambang Emas PT Gorontalo Minerals

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 118
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Bone Bolango menegaskan komitmennya untuk mengawal secara ketat rencana kegiatan pertambangan emas PT Gorontalo Minerals agar berjalan seimbang antara kepentingan investasi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Bone Bolango, Iwan Mustapa, saat menghadiri Rapat Komisi Pembahasan Amdal RKL-RPL rencana kegiatan pertambangan emas DMP PT Gorontalo Minerals yang […]

  • UU Pemilu Digugat Lagi, Ambang Batas Parlemen Dinilai Inkonsitusional

    UU Pemilu Digugat Lagi, Ambang Batas Parlemen Dinilai Inkonsitusional

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) kembali digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Kali ini, gugatan diarahkan pada ketentuan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) yang dinilai berpotensi inkonstitusional dan mencederai prinsip kedaulatan rakyat. Permohonan pengujian materiil diajukan oleh Koalisi Kawal Pemilu dan Demokrasi Indonesia yang diwakili Miftahol Arifin selaku Ketua […]

  • Zakat Salah Catat

    Zakat Salah Catat

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu datang dengan dua agenda besar: membersihkan hati dan membersihkan pembukuan. Yang pertama urusan langit, yang kedua sering kali urusan auditor. Di sinilah zakat menemukan relevansinya, bukan hanya sebagai rukun Islam, tetapi juga sebagai “rukun akuntansi sosial”. Sebab, zakat itu jangan sampai salah niat, apalagi salah catat. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, humor bukan untuk […]

  • Wali Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi Bagi Minoritas, Ini Respon Gusdurian

    Wali Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi Bagi Minoritas, Ini Respon Gusdurian

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota Gorontalo mengadakan kegiatan Doa Lintas Agama di Aula Rudis Wali Kota, yang dihadiri oleh berbagai pemuka agama. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kebersamaan dan kerja sama antarumat beragama. Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menyampaikan bahwa pembangunan daerah harus melibatkan semua elemen masyarakat tanpa diskriminasi. Ia menegaskan bahwa Pemkot tidak akan pilih kasih dalam memberikan […]

  • Ketum PSI Nusa Tenggara Barat, Resmi Diangkat Sebagai Dewan Pembina DPW GENINUSA NTB

    Ketum PSI Nusa Tenggara Barat, Resmi Diangkat Sebagai Dewan Pembina DPW GENINUSA NTB

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Ahamd Ziadi dinilai layak menjadi dewan pembina Gerakan SantriPreuner Nusantara (GENINUSA) Nusa Tenggara Barat, Ahamd Ziadi adalah tokoh berpengaruh yang saat ini menjabat sebagai ketua umum PSI Nusa tenggara Barat. Keputusan ini diambil dalam Momentum silaturahmi pengurus yang digelar pada Selasa, 20 Mei 2025. Pengangkatan Ahamd Ziadi sebagai langkah strategis untuk memperkuat peran GENINUSA NTB […]

  • Sebanyak 2.490 Orang Berangkat Melalui Pelabuhan Feri Gorontalo

    Sebanyak 2.490 Orang Berangkat Melalui Pelabuhan Feri Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo merilis jumlah penumpang yang berangkat dengan angkutan penyeberangan/feri pada Mei 2025 sebanyak 2.490 orang. “Angka ini menurun 31,63 persen dibandingkan April 2025 yang tercatat sebanyak 3.642 orang,” kata Dwi Alwi Astuti Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo Dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Selasa (1/7/2025). Sedangkan orang […]

expand_less