Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Arus Balik dari Sebuah Negeri yang Tidak Dibiarkan Berkuasa

  • account_circle Muhammad Suryadi R
  • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
  • visibility 498
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin.” Kalimat ini ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Baliknya. Ia seakan memberi tahu dengan seksama bahwa kalimat itu tak hanya sekadar nostalgia sejarah. Tetapi merupakan sebuah pernyataan geopolitik yang tajam.

Kalimat itu seolah menantang asumsi modern bahwa pusat dunia selalu berada di utara, bahwa kemajuan selalu datang dari Barat, dan bahwa bangsa-bangsa di selatan hanyalah objek sejarah. Pramoedya mengingatkan kita bahwa pernah ada masa ketika Nusantara menjadi poros pergerakan dunia, bukan pinggiran, bukan pelengkap, melainkan pusat arus.

Di masa itu, arus bergerak keluar dari kepulauan Nusantara. Kapal-kapal berangkat dari pelabuhan membawa komoditas, gagasan, dan bergerak ke India, Timur Tengah, hingga Eropa membawa pengaruh. Jalur rempah bukan hanya rute perdagangan, tetapi jaringan peradaban. Nusantara bisa adalah simpul yang menghubungkan dunia Timur dan Barat, Selatan dan Utara.

Tetapi sejarah tidak membeku. Arus itu berbalik arah. Nusantara yang semula menjadi pengendali arus, berubah menjadi wilayah yang dialiri kekuatan asing. Dari subjek sejarah, Nusantara menjelma objek perebutan. Dari pusat dunia menjadi wilayah perebutan kekuatan besar penjajah.

Arus balik inilah yang membentuk wajah Indonesia modern. Di dalamnya tersimpan apa yang kita disebut sebagai kutukan jalur rempah, yakni sebuah ironi panjang, di mana kekayaan justru mengundang penaklukan, dan posisi strategis justru menghabisi kedaulatan penuh.

Jalur Rempah dan Permulaan Takdir Geopolitik

Jalur rempah sering dibingkai sebagai cerita ekonomi masa lalu. Tentang cengkeh, pala, lada, dan kayu manis yang harganya melambung di pasar Eropa. Namun, pembacaan semacam ini terlalu sempit. Jalur rempah sejatinya adalah fondasi geopolitik dunia pra-modern.

Rempah-rempah pada masanya setara dengan teknologi strategis hari ini. Ia bukan sekadar bumbu, tetapi pengawet makanan, obat-obatan, simbol status sosial, bahkan alat kekuasaan itu sendiri atau “siapa yang menguasai rempah-rempah akan menguasai dunia” sebagaimana jargon kolonialisme kuno.

Dalam konteks inilah, Nusantara berada pada posisi yang hampir mustahil diabaikan. Letaknya yang berada di antara dua samudra besar, di persilangan jalur dagang dunia lalu menjadikannya wilayah yang secara alamiah ditakdirkan sebagai poros maritim. Selat Malaka, Laut Jawa, Laut Banda, dan jalur kepulauan Indonesia bukan hanya perairan, melainkan nadi pergerakan laut dunia.

Kerajaan-kerajaan maritim Nusantara memahami logika ini. Sriwijaya membangun kekuasaan bukan melalui ekspansi teritorial darat, melainkan melalui pengendalian simpul-simpul laut. Majapahit menegaskan hegemoni bukan hanya dengan kekuatan militer, tetapi melalui jaringan loyalitas dan perdagangan. Ternate dan Tidore menguasai dunia karena menguasai sumber rempah.

Kekuasaan pada masa itu bersifat cair dan adaptif. Tidak ada batas negara seperti hari ini, tetapi memiliki pengaruh, aliansi, dan pengakuan. Nusantara hidup dalam sistem dunia yang relatif seimbang, sebelum datangnya gangguan besar dari luar.

Gold, Glory, Gospel: Ideologi yang Mengubah Arus

Tetapi kemudian keseimbangan ini runtuh ketika Eropa membuka babak ekspedisi benua. Kekalahannya di Konstantinopel mendorong pelayaran ke benua baru menemukan sumber baru rempah-rempah. Dalih rempah-rempah berubah menjadi akumulasi kekayaan dan penaklukan wilayah. Era Portugis dan Spanyol yang memulai ekspansi ke dunia Barat dan Timur menjadi titik awal kelahiran ideologi Gold, Gold, Gospel.

Gold adalah motif utama. Kapitalisme awal membutuhkan sumber daya baru untuk menopang pertumbuhan. Rempah-rempah Nusantara menawarkan keuntungan luar biasa. Namun keuntungan itu hanya bisa dimaksimalkan melalui monopoli dan kekerasan. Penguasaan atas rempah-rempah ini menjadi titik balik bagi Eropa menjadi kekuatan yang berpengaruh di abad 21 sebagimana catatan Henry Kissinger.

Glory menyusul sebagai supremasi politik. Legitimasi yang diawali dengan penaklukkan menjadi simbol kejayaan negara dan panglima. Koloni bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga alat supremasi geopolitik.

Gospel selanjutnya menjadi klaim pembenaran moral. Kristenisasi di wilayah jajahan dibingkai sebagai misi peradaban dan pengadaban. Kekerasan dihaluskan dengan narasi keimanan.

Dalam kerangka ini, Nusantara tidak dilihat sebagai peradaban setara, melainkan sebagai ruang kosong yang sah untuk dikuasai. Struktur politik lokal dilemahkan. Elite tradisional dipecah dan dimanfaatkan. Jalur rempah yang semula menjadi sarana interaksi setara, berubah menjadi jalur penaklukan.

Kolonialisme tidak berhenti pada penguasaan fisik, tetapi sekaligus membangun sistem. Ekonomi dikonfigurasi agar berorientasi keluar, pendidikan didesain untuk mencetak tenaga administratif, bukan pemikir kritis, dan hukum disusun untuk melindungi kepentingan kolonial. Inilah awal dari struktur ketergantungan yang panjang.

Dari sinilah kutukan jalur rempah bermula. Kekayaan melimpah ruah Nusantara menjadi alasan utama penjajahan yang menghancurkan kemampuan Nusantara mengelola kekayaannya sendiri.

Dari sisi perekonimian, industri ekstraktif meninggalkan jejak ketimpangan. Infrastruktur dibangun bukan untuk kesejahteraan rakyat, tetapi untuk memperlancar arus komoditas ke luar meninggalkan negeri. Negara kolonial tidak membutuhkan masyarakat yang sejahtera dan mandiri, tetapi masyarakat yang stabil dan patuh.

Lebih jauh lagi, kolonialisme meninggalkan warisan mentalitas. Ketergantungan pada kekuatan luar menjadi hal yang dinormalisasi. Keputusan strategis dipandang sebagai sesuatu yang datang dari luar. Elite lokal lebih sering menjadi perantara daripada pemimpin.

Ketika bangsa ini merdeka, Indonesia tidak dibangun dari nol, tetapi dari struktur yang sudah timpang. Negara baru ini harus bernegosiasi dengan sistem dunia yang sudah mapan, di mana posisi Indonesia telah lama ditetapkan sebagai pemasok bahan mentah dan pasar.

Perubahan zaman terjadi, komoditas berubah, tetapi pola tetap sama. Hari ini, rempah telah digantikan oleh minyak, gas, batu bara, nikel, sawit, dan mineral strategis lainnya. Bahkan data dan lokasi geografis Indonesia kini menjadi komoditas geopolitik.

Transisi energi global menjadikan nikel Indonesia sangat penting. Ketegangan geopolitik menjadikan jalur laut Indonesia semakin strategis. Indonesia kembali menjadi pusat perhatian dunia.

Namun perhatian tidak selalu berarti kedaulatan. Tanpa penguasaan teknologi, modal, dan pasar, Indonesia berisiko kembali menjadi objek. Hilirisasi tanpa inovasi bisa menjadi bentuk baru ekstraksi. Pabrik berdiri, tetapi kendali tetap berada di luar. Sejarah seolah berulang, dengan aktor berbeda dan bahasa yang lebih soft.

Membalik Arus sebagai Agenda Masa Depan

Secara geopolitik, Indonesia sebetulnya adalah negara kunci. Ia berada di persilangan kepentingan global. Tetapi kunci tidak selalu membuka pintu. Kadang ia hanya menjadi alat bagi orang lain.

Politik luar negeri bebas aktif memberi ruang manuver, tetapi juga menuntut kejelasan visi. Tanpa strategi jangka panjang, kebebasan bisa berubah menjadi reaksi semata.
Indonesia sering kali sibuk menjaga keseimbangan, tetapi kurang berani dan tegas dalam langkah.

Di dalam negeri, tantangan struktural masih besar. Ketimpangannya adalah lemahnya riset, dan ketergantungan ekonomi mengurangi daya tawar. Indonesia penting, tetapi belum sepenuhnya berkuasa atas posisinya sendiri. Membalik kutukan jalur rempah bukan tugas generasi yang jadi semalaman, tetapi menuntut perubahan rancang-bangun.

Pertama, Indonesia harus menggeser orientasi dari ekstraksi ke penciptaan nilai. Kekayaan alam harus menjadi basis industrialisasi dan inovasi, bukan tujuan akhir.

Kedua, Indonesia harus membangun kedaulatan pengetahuan. Tanpa penguasaan sains dan teknologi, posisi strategis hanya akan diambil alih oleh kekuatan lain.

Ketiga, Indonesia perlu merumuskan ulang perannya di panggung dunia. Bukan sebatas penyeimbang, tetapi pengarah. Jalur rempah dapat dire-imajinasikan sebagai jalur kerja sama Selatan-Selatan, bukan nostalgia kosong.

Pramoedya mengingatkan kita bahwa arus pernah mengalir dari selatan ke utara. Artinya, dunia pernah mendatangi Nusantara dengan hormat, bukan dengan meriam. Kendati arus sejarah tidak pernah netral, ia kadang dibentuk oleh kekuasaan. Jika Indonesia ingin mengakhiri kutukan jalur rempah, Indonesia harus berani menjadi subjek sejarahnya sendiri.

Negeri ini tidak miskin. Negara hanya terlalu lama tidak dibiarkan berkuasa. Dan masa depan Indonesia akan ditentukan oleh keberaniannya untuk membalik arus, bukan dengan retorika dan memukul-mukul podium, tetapi dengan strategi, kesadaran, dan kedaulatan.

(Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi, Sekertaris PC GP Ansor Barru)

  • Penulis: Muhammad Suryadi R
  • Editor: Muhammad Suryadi R

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ustadz “Tuhan Kecil”?

    Ustadz “Tuhan Kecil”?

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 223
    • 0Komentar

    Jika ada pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini, maka jawabanya bukan. Ustadz bukan “Tuhan Kecil”. Tuhan yang sesungguhnya adalah dzat Yang Maha Besar dan tidak ada yang melebihi kebesaran-Nya. Kemahabesaran Tuhan ini dibarengi dengan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas termasuk kekuasaan untuk “menghukumi” segala sesuatu. Namun harus dipahami bahwa penghukuman Tuhan kepada segala sesuatu yang termaktub dalam […]

  • Dari Roti hingga Rambutan, Beginilah Wajah MBG di Lapangan

    Dari Roti hingga Rambutan, Beginilah Wajah MBG di Lapangan

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Nulondalo.com- Di tengah semangat Ramadan, suasana sekolah seharusnya dipenuhi keceriaan anak-anak yang menanti paket Makanan Bergizi Gratis (MBG). Namun, yang terjadi justru membuat dahi orangtua berkerut. Alih-alih menerima makanan bergizi sesuai harapan, siswa mendapati isi paket yang sederhana: roti, rambutan, kacang goreng, telur rebus, kurma, dan kentang rebus. Meski variasi menu berbeda di tiap sekolah, […]

  • Menulis Ulang Sejarah; Pentingkah?

    Menulis Ulang Sejarah; Pentingkah?

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 159
    • 0Komentar

    (catatan reflektif untuk gagasan penulisan ulang sejarah Indonesia) Sejarah, pada hakikatnya, tidak pernah beku. Ia adalah aliran waktu yang terus bergerak, terus diinterpretasi ulang. Gagasan untuk menulis ulang sejarah, dalam kondisi tertentu, bukanlah hal yang tabu—bahkan sebaliknya, bisa menjadi langkah penting untuk menyembuhkan luka kolektif, membetulkan narasi yang timpang, dan membuka ruang bagi suara-suara yang […]

  • Politik Citra, Bahasa Rakyat, dan Jalan Panjang Politik Kang Dedi Mulyadi

    Politik Citra, Bahasa Rakyat, dan Jalan Panjang Politik Kang Dedi Mulyadi

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Dedi Mulyadi, nama gubernur baru Jawa Barat. Orang-orang sudah lama memanggilnya Kang Dedi Mulyadi (KDM). Namanya mencuat karena gaya kepemimpinan yang berbeda. Ia kerap turun langsung dan memulai harinya dengan sapaan khas yang begitu membumi, “Kumaha damang?”—bagaimana kabar kalian? Sapaan itu meluncur begitu saja, tanpa protokol, tanpa sekat, hanya dengan senyum lebar dan mata yang […]

  • Tiga Kecamatan di Boalemo Terima Paket Bantuan Pangan Pemprov Gorontalo

    Tiga Kecamatan di Boalemo Terima Paket Bantuan Pangan Pemprov Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jangkauan bantuan sosial. Kali ini, giliran tiga kecamatan di Kabupaten Boalemo yang menjadi titik penyaluran bantuan pada Selasa (1/7/2025), yakni Kecamatan Tilamuta, Botumoito, dan Mananggu. Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, turun langsung menyalurkan berbagai jenis bantuan, mulai dari Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G), […]

  • Gus Yahya dan Ikhtiar Menguatkan Khidmah Keagamaan NU

    Gus Yahya dan Ikhtiar Menguatkan Khidmah Keagamaan NU

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 77
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – Satu periode membersamai KH Yahya Cholil Staquf dalam kepengurusan PBNU 2022–2026 memberikan banyak pengalaman dan pelajaran bagi saya. Tentu setiap masa kepemimpinan memiliki dinamika, tantangan, kekurangan, sekaligus capaian yang kelak akan dinilai secara lebih jernih oleh sejarah. Namun, ada satu hal yang sejak awal saya tangkap dari Gus Yahya: kesadarannya bahwa Nahdlatul Ulama […]

expand_less