Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kenakalan Remaja, Pembusuran, Dan Kegagalan Sosial Mendidik Manusia

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
  • visibility 350
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Andi Afsar (Ketua Bidang Kaderisasi dan Pendidikan HPPMI Komisariat Pelajar)

Maraknya aksi kenakalan remaja seperti tawuran, pembusuran, dan kekerasan jalanan kembali menyita perhatian publik. Fenomena ini kerap dipahami secara dangkal sebagai kemerosotan moral generasi muda. Remaja dijadikan kambing hitam tunggal, sementara masyarakat dan negara tampil sebagai hakim yang merasa paling benar.

Padahal, dalam perspektif sosiologi dan pendidikan kritis, kenakalan remaja bukanlah sebab utama, melainkan akibat dari kegagalan sosial yang sistemik. Busur yang dilepaskan di jalanan bukan sekadar senjata, melainkan simbol kegagalan ruang-ruang sosial keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara dalam merawat proses tumbuh remaja sebagai manusia yang utuh.

Kekosongan Norma dan Sekolah yang Gagal Memanusiakan

Sosiolog Émile Durkheim menyebut kondisi kehilangan pedoman nilai sebagai anomie. Banyak remaja hari ini hidup dalam situasi tersebut: dituntut patuh, berprestasi, dan sukses, tetapi tak disediakan ruang aman untuk gagal, bertanya, atau berbeda.

Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang integrasi sosial, kerap berubah menjadi mesin seleksi. Nilai akademik dijadikan ukuran tunggal keberhargaan manusia. Remaja yang tak sesuai standar dianggap “masalah”, bukan subjek yang perlu didampingi. Akibatnya, sebagian remaja tercerabut dari sistem nilai resmi dan mencari makna di luar institusi bahkan melalui kekerasan.

Pembusuran dan tawuran pun menjelma sebagai ruang identitas alternatif di tengah kekosongan norma.

Stigma, Label “Nakal”, dan Kekerasan Simbolik

Teori labeling Howard Becker menjelaskan, penyimpangan sosial sering lahir dari reaksi masyarakat itu sendiri. Remaja yang terus dicap “nakal”, “bermasalah”, atau “gagal” perlahan menjadikan label itu sebagai identitas diri.

Di sinilah kekerasan simbolik, sebagaimana dikemukakan Pierre Bourdieu, bekerja secara halus namun mematikan martabat. Bahasa merendahkan, sistem penilaian yang timpang, hingga praktik pengucilan membuat sebagian remaja terutama dari latar belakang rentan kehilangan rasa berharga.

Ketika institusi resmi gagal memberi pengakuan, geng dan kekerasan justru menyediakan status, solidaritas, dan rasa memiliki.

Ketimpangan Struktur, Jalan Buntu Pengakuan

Robert K. Merton melalui teori strain menegaskan bahwa penyimpangan muncul ketika terdapat jurang antara tujuan sosial yang diagungkan dan sarana legal untuk mencapainya. Masyarakat memuja prestasi dan kehormatan, namun akses terhadap pendidikan yang adil, inklusif, dan manusiawi masih timpang.

Dalam kondisi seperti ini, kenakalan remaja bukan tindakan acak, melainkan bentuk adaptasi menyimpang terhadap struktur sosial yang menutup jalur pengakuan yang sah. Pembusuran menjadi bahasa frustrasi dari generasi yang merasa pintu-pintu masa depan ditutup rapat.

Budaya Kekerasan yang Diam-diam Diajarkan

Masyarakat kerap mengutuk kekerasan remaja, namun tanpa sadar ikut menormalisasikannya: bentakan orang dewasa, hukuman fisik, perundungan yang dianggap wajar, hingga pemberitaan sensasional. Semua itu menjadi “kurikulum sosial” yang mengajarkan bahwa kekerasan adalah cara memperoleh kuasa.

Albert Bandura menegaskan perilaku dipelajari dari apa yang dilihat. Jika konflik di ruang publik diselesaikan dengan dominasi dan ketakutan, maka tuntutan agar remaja memilih dialog menjadi kehilangan pijakan moralnya.

Negara, Represi, dan Solusi Instan

Tekanan publik yang cenderung menghukum kerap memberi legitimasi politis bagi negara untuk memilih jalan pintas: razia, penahanan, pengusiran dari sekolah. Kebijakan represif memang terlihat cepat, tetapi hanya mengelola gejala, bukan akar masalah.

Negara masih abai membenahi pendidikan yang eksklusif, minim layanan kesehatan mental remaja, dan miskin ruang partisipasi anak muda. Kenakalan remaja direduksi menjadi soal keamanan semata, padahal ia adalah krisis sosial dan pendidikan.

Cermin Retak Bernama Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja termasuk pembusuran bukan sekadar penyimpangan individu, melainkan cermin retak yang memantulkan kegagalan kolektif. Ia menyingkap bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang pemanusiaan, masyarakat lebih gemar menghakimi daripada mendengar, dan negara memilih ketertiban instan ketimbang keadilan jangka panjang.

Remaja tidak dilahirkan sebagai pelaku kekerasan. Mereka dibentuk oleh struktur sosial yang gagal merawat harapan. Selama pendidikan lebih peduli pada angka daripada manusia, dan masyarakat lebih sibuk memberi label ketimbang membuka ruang, busur akan terus menemukan tangannya.

Dan setiap busur yang dilepaskan adalah alarm keras: yang bermasalah bukan hanya remaja,tetapi kita semua.

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Universiti Malaysia Kelantan (UMK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat kerja sama pendidikan lintas negara dengan kampus-kampus Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di Indonesia. Pernyataan ini diungkapkan pada acara Eid Al-Fitr Gathering yang diselenggarakan di Kalbis University, Jakarta, Sabtu (19/4/2025). Acara tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan akademik antara UMK dengan institusi pendidikan Islam di Indonesia. […]

  • DPRD Maros Lakukan Kunker ke Bulukumba dan Jeneponto, Pastikan Efisiensi Anggaran Tidak Ganggu Kinerja Dewan

    DPRD Maros Lakukan Kunker ke Bulukumba dan Jeneponto, Pastikan Efisiensi Anggaran Tidak Ganggu Kinerja Dewan

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang mulai diberlakukan, DPRD Kabupaten Maros melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Bulukumba dan Jeneponto untuk memastikan sistem penganggaran tetap berjalan efektif dan tidak menghambat fungsi lembaga. Anggota DPRD Maros, Dedy Aryan, menjelaskan bahwa kunker ini dilakukan sebagai langkah antisipatif atas pemangkasan sejumlah kegiatan, termasuk reses dan […]

  • Chelsea Pecat Enzo Maresca Meski Bertengger di Lima Besar Liga Inggris

    Chelsea Pecat Enzo Maresca Meski Bertengger di Lima Besar Liga Inggris

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 246
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Chelsea secara resmi memecat pelatih Enzo Maresca di tengah berlangsungnya Liga Primer Inggris musim 2025/2026. Keputusan tersebut diambil manajemen The Blues meski performa tim dinilai belum sepenuhnya terpuruk. Saat ini, Chelsea masih menempati peringkat kelima klasemen sementara Liga Inggris. Namun, jarak 15 poin dari pemuncak klasemen Arsenal dianggap sebagai sinyal peringatan serius bagi […]

  • Mengapresiasi Transparansi, Sulawesi Tengah Anugerahkan Keterbukaan Informasi Publik 2025

    Mengapresiasi Transparansi, Sulawesi Tengah Anugerahkan Keterbukaan Informasi Publik 2025

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 159
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komitmen menghadirkan pemerintahan yang terbuka dan melayani kembali ditegaskan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Penganugerahan Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2025. Kegiatan yang digelar oleh Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Provinsi Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Tengah ini berlangsung di Ruang Polibu, Senin (15/12/2025). Acara tersebut menjadi ruang […]

  • Berita Duka: Dunia Hiburan Indonesia Kehilangan Mat Solar

    Berita Duka: Dunia Hiburan Indonesia Kehilangan Mat Solar

    • calendar_month Sabtu, 29 Mar 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Mat Solar, yang memiliki nama asli Nasrullah, dikabarkan telah meninggal dunia pada pukul 22.30 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pada Senin, 17 Maret 2025. Berita ini dikonfirmasi oleh Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka melalui unggahannya di akun X. Ia […]

  • Pengurus Ormawa Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate Resmi Dilantik, ini Pesan Dekan Kepada Mahasiswa 

    Pengurus Ormawa Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate Resmi Dilantik, ini Pesan Dekan Kepada Mahasiswa 

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa) Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate resmi dilantik pada Senin, 10 Maret 2025. Pelantikan tersebut merupakan tindak lanjut dari pemilihan pengurus yang telah dilaksanakan bulan Desember 2024. Acara ini dihadiri langsung oleh Dekan Fakultas Tarbiyah, Sahjad M. Aksan, yang sekaligus melantik para pengurus baru. termasuk Dewan Mahasiswa (Dema), Senat Mahasiswa (Sema), serta Himpunan […]

expand_less