Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kenakalan Remaja, Pembusuran, Dan Kegagalan Sosial Mendidik Manusia

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
  • visibility 375
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Andi Afsar (Ketua Bidang Kaderisasi dan Pendidikan HPPMI Komisariat Pelajar)

Maraknya aksi kenakalan remaja seperti tawuran, pembusuran, dan kekerasan jalanan kembali menyita perhatian publik. Fenomena ini kerap dipahami secara dangkal sebagai kemerosotan moral generasi muda. Remaja dijadikan kambing hitam tunggal, sementara masyarakat dan negara tampil sebagai hakim yang merasa paling benar.

Padahal, dalam perspektif sosiologi dan pendidikan kritis, kenakalan remaja bukanlah sebab utama, melainkan akibat dari kegagalan sosial yang sistemik. Busur yang dilepaskan di jalanan bukan sekadar senjata, melainkan simbol kegagalan ruang-ruang sosial keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara dalam merawat proses tumbuh remaja sebagai manusia yang utuh.

Kekosongan Norma dan Sekolah yang Gagal Memanusiakan

Sosiolog Émile Durkheim menyebut kondisi kehilangan pedoman nilai sebagai anomie. Banyak remaja hari ini hidup dalam situasi tersebut: dituntut patuh, berprestasi, dan sukses, tetapi tak disediakan ruang aman untuk gagal, bertanya, atau berbeda.

Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang integrasi sosial, kerap berubah menjadi mesin seleksi. Nilai akademik dijadikan ukuran tunggal keberhargaan manusia. Remaja yang tak sesuai standar dianggap “masalah”, bukan subjek yang perlu didampingi. Akibatnya, sebagian remaja tercerabut dari sistem nilai resmi dan mencari makna di luar institusi bahkan melalui kekerasan.

Pembusuran dan tawuran pun menjelma sebagai ruang identitas alternatif di tengah kekosongan norma.

Stigma, Label “Nakal”, dan Kekerasan Simbolik

Teori labeling Howard Becker menjelaskan, penyimpangan sosial sering lahir dari reaksi masyarakat itu sendiri. Remaja yang terus dicap “nakal”, “bermasalah”, atau “gagal” perlahan menjadikan label itu sebagai identitas diri.

Di sinilah kekerasan simbolik, sebagaimana dikemukakan Pierre Bourdieu, bekerja secara halus namun mematikan martabat. Bahasa merendahkan, sistem penilaian yang timpang, hingga praktik pengucilan membuat sebagian remaja terutama dari latar belakang rentan kehilangan rasa berharga.

Ketika institusi resmi gagal memberi pengakuan, geng dan kekerasan justru menyediakan status, solidaritas, dan rasa memiliki.

Ketimpangan Struktur, Jalan Buntu Pengakuan

Robert K. Merton melalui teori strain menegaskan bahwa penyimpangan muncul ketika terdapat jurang antara tujuan sosial yang diagungkan dan sarana legal untuk mencapainya. Masyarakat memuja prestasi dan kehormatan, namun akses terhadap pendidikan yang adil, inklusif, dan manusiawi masih timpang.

Dalam kondisi seperti ini, kenakalan remaja bukan tindakan acak, melainkan bentuk adaptasi menyimpang terhadap struktur sosial yang menutup jalur pengakuan yang sah. Pembusuran menjadi bahasa frustrasi dari generasi yang merasa pintu-pintu masa depan ditutup rapat.

Budaya Kekerasan yang Diam-diam Diajarkan

Masyarakat kerap mengutuk kekerasan remaja, namun tanpa sadar ikut menormalisasikannya: bentakan orang dewasa, hukuman fisik, perundungan yang dianggap wajar, hingga pemberitaan sensasional. Semua itu menjadi “kurikulum sosial” yang mengajarkan bahwa kekerasan adalah cara memperoleh kuasa.

Albert Bandura menegaskan perilaku dipelajari dari apa yang dilihat. Jika konflik di ruang publik diselesaikan dengan dominasi dan ketakutan, maka tuntutan agar remaja memilih dialog menjadi kehilangan pijakan moralnya.

Negara, Represi, dan Solusi Instan

Tekanan publik yang cenderung menghukum kerap memberi legitimasi politis bagi negara untuk memilih jalan pintas: razia, penahanan, pengusiran dari sekolah. Kebijakan represif memang terlihat cepat, tetapi hanya mengelola gejala, bukan akar masalah.

Negara masih abai membenahi pendidikan yang eksklusif, minim layanan kesehatan mental remaja, dan miskin ruang partisipasi anak muda. Kenakalan remaja direduksi menjadi soal keamanan semata, padahal ia adalah krisis sosial dan pendidikan.

Cermin Retak Bernama Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja termasuk pembusuran bukan sekadar penyimpangan individu, melainkan cermin retak yang memantulkan kegagalan kolektif. Ia menyingkap bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang pemanusiaan, masyarakat lebih gemar menghakimi daripada mendengar, dan negara memilih ketertiban instan ketimbang keadilan jangka panjang.

Remaja tidak dilahirkan sebagai pelaku kekerasan. Mereka dibentuk oleh struktur sosial yang gagal merawat harapan. Selama pendidikan lebih peduli pada angka daripada manusia, dan masyarakat lebih sibuk memberi label ketimbang membuka ruang, busur akan terus menemukan tangannya.

Dan setiap busur yang dilepaskan adalah alarm keras: yang bermasalah bukan hanya remaja,tetapi kita semua.

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Intangible Langit

    Intangible Langit

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Dalam dunia akuntansi, ada istilah yang terdengar agak mistis bagi orang awam: aset tidak berwujud atau intangible assets. Ia tidak bisa disentuh, tidak bisa difoto, dan tidak bisa dimasukkan ke dalam karung beras. Tapi nilainya bisa sangat besar. Contohnya merek dagang, reputasi perusahaan, hingga hak paten. Lucunya, dalam kehidupan Ramadhan, umat Islam sebenarnya juga sedang […]

  • Sawah dan Masa Depan Sebuah Bangsa

    Sawah dan Masa Depan Sebuah Bangsa

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Membaca Kepemimpinan Dr. Yasir Machmud dalam Perspektif Ibnu Khaldun, Muhammad al-Tahir bin Asyur, dan Nabi Yusuf a.s. “Peradaban tidak lahir dari istana. Ia tumbuh dari tanah yang diolah dengan amanah.” Suatu pagi, ribuan tahun yang lalu, seorang raja Mesir terbangun dengan wajah yang tidak biasa. Malam sebelumnya ia bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan […]

  • Cegah Perkawinan Anak, Wagub Gorontalo Dorong Generasi Sehat dan Bebas Stunting

    Cegah Perkawinan Anak, Wagub Gorontalo Dorong Generasi Sehat dan Bebas Stunting

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 150
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Upaya menekan angka stunting di Provinsi Gorontalo tidak bisa dilepaskan dari persoalan perkawinan anak. Hal itu ditegaskan Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Pencegahan Perkawinan Anak dan Penurunan Stunting yang digelar di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Gorontalo, Kamis (18/12/2025). Dalam sambutannya, […]

  • Nasi Kuning

    Nasi Kuning

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Fadhil Hadju
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Wanita cantik itu mondar mandir bak setrika. Kakinya terus menjinjit, menghasilkan suara decitan lembut saat bersentuhan lantai, dan dengan indah melewati tetamu. Tak lupa satu lengannya menjulur ke bawah, terdengar suara tabik lembut menyembul dari kedua bibirnya. Wanita itu pacarku, Nia. Disusunnya sepuluh piring putih di hadapanku. Piring itu motifnya bunga-bunga. Duduk manis mereka di […]

  • Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Di berbagai lini masa dan ruang diskusi publik, kita menyaksikan pemandangan yang tak biasa: dukungan terhadap Iran meluas. Respons terhadap penyerangan Iran ke Israel datang dari berbagai arah yang memiliki simpati dan empati yang sama atas penderitaan masyarakat Palestina di Gaza. Dukungan ini melintasi batas identitas, keyakinan, dan geopolitik. Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa rudal-rudal […]

  • Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

    Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Terus terang, saya tidak pernah menaruh ekspektasi apa pun pada BTS selain sebagai band pop yang rapi dan menyenangkan. Dalam bayangan saya, K-Pop—termasuk BTS—adalah industri yang sangat efisien menjual visual, koreografi, dan kemasan. Musiknya menghibur, energik, dan selesai di situ. Pure entertainment. Tidak lebih. Pandangan saya mulai terkoreksi ketika, dalam satu diskusi tentang masa depan NU […]

expand_less