Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
  • visibility 281
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Refleksi Antropologis tentang Perbedaan, Kesepakatan, dan Kedewasaan Beragama

Setiap Ramadhan selalu diawali oleh satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang dalam: kapan kita mulai berpuasa? Pertanyaan ini bukan semata soal tanggal, melainkan tentang ketenangan batin, rasa aman dalam beribadah, dan kerinduan untuk menjalani waktu suci secara bersama. Dari tahun ke tahun, saya menyaksikan pertanyaan ini muncul di ruang-ruang yang berbeda, di masjid, di rumah, di ruang publik, bahkan di percakapan santai, dengan satu harapan yang sama: beribadah dengan keyakinan dan tanpa kegaduhan. Di Gorontalo, kegelisahan itu tidak dijawab dengan perdebatan panjang, melainkan dengan sebuah tradisi yang tenang dan bermartabat: Tonggeyamo.

Puasa, dalam pemahaman saya, adalah ibadah yang sangat personal. Niatnya berada di relung hati, pelaksanaannya menjadi urusan individu dengan Allah. Tidak ada ruang bagi manusia untuk mengukur atau menilai kualitas puasa orang lain. Namun, awal dan akhir puasa bukan hanya urusan pribadi. Ia menyentuh kehidupan bersama: kapan masjid memulai tarawih, kapan keluarga bersiap sahur, kapan masyarakat menata ritme sosial selama Ramadhan. Di titik inilah puasa menjadi peristiwa sosial, bukan semata praktik individual.

Al-Qur’an menempatkan puasa dalam bingkai yang sangat manusiawi. Allah berfirman:

“Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumus-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.” (“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”) – (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini selalu mengingatkan saya bahwa puasa bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan jalan pembentukan ketakwaan. Dan ketakwaan, dalam kehidupan sosial, tercermin dari sikap rendah hati, kesabaran, dan kemampuan menahan diri, termasuk menahan ego ketika berhadapan dengan perbedaan.

Perbedaan penetapan awal Ramadhan dan Syawal bukanlah sesuatu yang lahir dari niat saling berseberangan. Ia tumbuh dari tradisi keilmuan Islam yang panjang dan beragam. Setiap metode memiliki dasar dan argumentasi yang berangkat dari semangat yang sama: memastikan ibadah dilakukan pada waktu yang diyakini benar. Dalam pengalaman saya mendampingi masyarakat, perbedaan ini sering kali bukan sumber masalah utama. Yang kerap menjadi persoalan justru cara kita menyikapinya.

Sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di dalam tradisi dan struktur sosial, saya meyakini bahwa perbedaan tidak harus dihapus, tetapi perlu dikelola dengan bijak. Indonesia memberi mandat kepada negara melalui Kementerian Agama untuk menetapkan awal Ramadhan dan Syawal melalui sidang isbat yang melibatkan ulama, pakar, dan organisasi keagamaan. Bagi banyak orang, keputusan ini memberi rasa tertib dan kepastian. Bagi sebagian yang lain, rujukan organisasi atau keyakinan personal memberi ketenangan tersendiri. Kedua sikap ini, sepanjang saya pahami, lahir dari niat baik yang sama dan patut dihormati.

Namun kehidupan bersama membutuhkan satu kesepakatan minimal agar ritme sosial tetap terjaga. Di sinilah Tonggeyamo menemukan tempatnya. Tradisi ini tidak mempersoalkan metode, apalagi mengadili keyakinan. Tonggeyamo adalah cara orang Gorontalo menerima keputusan publik dengan bahasa budaya yang mereka pahami dan hormati. Keputusan yang datang dari pusat tidak berhenti sebagai teks administratif, tetapi dihadirkan kembali melalui musyawarah adat, disampaikan oleh pemangku adat, dihadiri ulama dan pemerintah daerah, dalam ruang yang dimuliakan oleh tradisi.

Saya melihat Tonggeyamo sebagai proses pematangan sosial. Keputusan yang sama bisa terasa berbeda ketika disampaikan dengan cara yang berjarak atau dengan cara yang mengajak. Tonggeyamo memilih jalan kedua. Ia tidak memaksa keseragaman hati, tetapi merawat keselarasan langkah. Ia tidak meniadakan perbedaan, tetapi memastikan perbedaan itu tidak berubah menjadi jarak emosional di tengah masyarakat.

Di balik kesakralannya, Tonggeyamo menyimpan rasionalitas sosial yang kuat. Tanpa kesepakatan waktu, Ramadhan mudah kehilangan dimensi kebersamaannya. Masjid memulai tarawih pada hari yang berbeda, aktivitas sosial berjalan sendiri-sendiri, dan suasana kolektif Ramadhan menjadi terpecah. Tonggeyamo hadir untuk menjaga agar ruang sosial tetap tenang, tertib, dan penuh saling pengertian.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama yang saya hidupi, perbedaan pandangan adalah bagian dari kekayaan keilmuan Islam. Namun menjaga jamaah dan kemaslahatan bersama adalah amanah yang tidak boleh diabaikan. Prinsip inilah yang membuat kesepakatan sosial dipandang sebagai etika bersama, bukan sebagai penyangkalan terhadap keyakinan pribadi. Tonggeyamo, bagi saya, adalah ekspresi kultural dari etika tersebut.

Tradisi ini juga mengajarkan sikap saling menghormati pilihan individu. Setiap orang berhak berpegang pada keyakinan yang diyakininya benar. Pada saat yang sama, kita diajak untuk menjaga adab sosial agar perbedaan tidak melukai persaudaraan. Inilah kedewasaan beragama yang sesungguhnya: keyakinan yang teguh, tetapi hati yang lapang.

Dari Gorontalo, kita belajar bahwa tradisi lokal mampu memberi pelajaran penting bagi kehidupan berbangsa. Tonggeyamo menunjukkan bahwa harmoni tidak selalu lahir dari keseragaman pandangan, melainkan dari kesediaan untuk menyepakati waktu bersama demi kebaikan yang lebih luas. Ia bekerja dengan cara yang sunyi, tanpa gaduh, tanpa saling menyalahkan, tetapi justru efektif merawat ketenteraman.

Pada akhirnya, puasa bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menahan ego, termasuk ego untuk merasa paling benar. Ramadhan mengajarkan bahwa ketakwaan tumbuh seiring kemampuan kita menjaga hubungan dengan sesama. Tonggeyamo, dalam kesederhanaannya, mengingatkan saya dan barangkali kita semua bahwa menyambut puasa bukan hanya soal tanggal, melainkan tentang cara kita merawat kebersamaan, menghormati perbedaan, dan menumbuhkan kedewasaan beragama di ruang publik.

Penulis : Antropolog, Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU  Gorontalo

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nilai Ekspor Mei Provinsi Gorontalo Capai US.433.761

    Nilai Ekspor Mei Provinsi Gorontalo Capai US$11.433.761

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Nilai ekspor Mei 2025 Provinsi Gorontalo sebesar US$11.433.761. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 123,25 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$5.121.461. “Ekspor melalui pelabuhan atau bandara di Provinsi Gorontalo pada Mei 2025 adalah sebesar US$2.901.823 dengan komoditas Gula/Kembang Gula (HS 17) dan komoditas Pelet Kayu (HS 44),” kata Dwi Alwi Astuti […]

  • Bappeda Dorong Rekomendasi Tegas Dalam Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam

    Bappeda Dorong Rekomendasi Tegas Dalam Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Seminar Akhir Kajian Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi, Selasa (25/11/2025)  bertempat di Naffil Cafe dan Resto. Kegiatan ini menghadirkan tim peneliti yang terdiri atas Dr. Raghel Yunginger, M.Si, Dr. Ir. Sri Sutarni Arifin, S.Hut., M.Si, Ivana Butolo, SE., MP, Ayub […]

  • Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Nulondalo.com –  Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyatakan pembangunan Gorontalo Islamic Centre bertujuan mendorong pertumbuhan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial budaya, hingga kemasyarakatan. Gusnar mengatakan, pembangunan berskala besar tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan ruang wilayah Kota Gorontalo agar tidak semakin padat. “Yang terpenting dalam pembangunan ini adalah pengembangan wilayah agar bisa tumbuh lebih […]

  • Audit Amal Tahunan

    Audit Amal Tahunan

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 418
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu datang seperti auditor independen yang tak bisa diajak kompromi. Ia mengetuk pintu hati tanpa surat tugas, tanpa SP2D, dan tanpa fee audit. Tahu-tahu kita sudah duduk di kursi pemeriksaan batin, sambil membuka “laporan keuangan amal” selama setahun terakhir. Bedanya dengan audit biasa, kali ini yang diperiksa bukan neraca perusahaan, melainkan neraca dosa dan […]

  • Danau Limboto: Luka Ekologis yang Terabaikan

    Danau Limboto: Luka Ekologis yang Terabaikan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Dadang Sudardja
    • visibility 1.178
    • 0Komentar

    Setelah lima kali berkunjung ke Gorontalo, barulah pada kunjungan kali ini saya memiliki kesempatan dan waktu untuk menginjakkan kaki di Danau Limboto—sebuah nama yang sejak lama sangat akrab di ingatan saya. Danau ini pertama kali saya kenal ketika masih duduk di bangku SMP, sekitar tahun 1973, melalui pelajaran Ilmu Bumi. Saat itu, Danau Limboto diperkenalkan […]

  • Pemprov Sulsel Genjot Preservasi Jalan Paket 3 Senilai Rp478,1 Miliar, Ruas Strategis di Pinrang Dikebut

    Pemprov Sulsel Genjot Preservasi Jalan Paket 3 Senilai Rp478,1 Miliar, Ruas Strategis di Pinrang Dikebut

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 263
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) terus menggenjot penanganan preservasi jalan melalui Paket 3 dengan total anggaran mencapai Rp478,1 miliar. Program ini mencakup penanganan jalan sepanjang 254,85 kilometer yang tersebar di 15 ruas jalan pada sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan. Salah satu ruas yang saat ini tengah dikerjakan berada di Kabupaten Pinrang, yakni […]

expand_less