Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
  • visibility 231
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Refleksi atas Sambutan Menag pada Acara Peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya

Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, tampaknya menaruh perhatian yang sangat serius pada gagasan ekoteologi. Dalam berbagai forum resmi Kementerian Agama, beliau secara konsisten memperkenalkan dan mengelaborasi konsep ini. Hampir setiap sambutan selalu membicarakan relasi agama dan lingkungan sebagai tema utama atau tema sisipan.

Ketika membuka rangkaian Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu di UNHI (Universitas Hindu Indonesia) Denpasar Bali, tanggal 12 Pebruari 2026, Menteri Agama sekali lagi menjadikan tema ekoteologi sebagai menu utama pembicaraan.

Sebagaimana diakui oleh beliau, ekoteologi pada mulanya merupakan gagasan akademik yang abstrak. Ia lahir dari refleksi teologis mengenai relasi Tuhan, manusia, dan alam. Beberapa kolega pak Menteri mempertanyakan. Bagaimana wacana akademik dibawa masuk ke ranah administratif?  Pendekatan di Kementerian tentu sangat berbeda dengan pendekatan di kampus.

Dengan konsistensi yang tinggi selama setahun kepemimpinan Menteri Agama, pelan tetapi pasti gagasan ekoteologi mulai menemukan artikulasi praksisnya. Ia bisa diterjemahkan ke dalam orientasi pembinaan, narasi kebijakan, hingga desain pendidikan keagamaan yang bersifat praksis. Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama kini semakin akrab dengan perspektif ekologis. Bahasa lingkungan tidak lagi berada di pinggir sambutan seremonial, tetapi masuk ke dalam struktur kesadaran institusional. Dari sinilah tampak bahwa ekoteologi tidak berhenti sebagai diskursus, melainkan bergerak menjadi arah nilai yang menuntun kebijakan.

Gagasan fundamental gerakan Ekoteologi, sebagaimana ditegaskan Menteri Agama, berangkat dari paradigma setiap agama yang sesungguhnya memiliki konsep trias relasi Tuhan–manusia–alam. Namun dalam praktik peradaban modern, relasi ini tidak lagi beroperasi secara utuh. Spritualitas tidak menjadi inspirasi pengelolaan alam. Spritual berjalan sendiri di ranah keagamaan, sedangkan pengelolaan alam dijalankan dengan logika ekonomi dan teknologi.

Krisis ekologis hari ini diawali dari krisis cara pandang terhadap lingkungan. Modernitas yang menjadi paradigma global membentuk cara pandang yang instrumental dan pragmatis. Alam diukur berdasarkan nilai ekonominya. Manusia sebagai subjek utama dan alam sebagai objek. Manusia sebagai pengguna, lingkungan sebagai penyedia. Sebenarnya, cara pandang ini normal. Tetapi karena dilakukan secara berlebihan, cara pandang ini menjadi sumber kerusakan alam. Pemanfaatan berubah menjadi eksploitasi. Pohon dinilai dari manfaat ekonominya saja, bukan dari posisinya dalam ekosistem kehidupan. Hutan menjadi angka statistik. Sungai menjadi saluran distribusi. Tanah menjadi komoditas. Akibatnya penebangan dilakukan tanpa mempertimbangkan ekosistem. Lingkungan mengalami desakralisasi parah.

Ketegangan yang sama terlihat dalam dunia pendidikan. Rasionalitas teknokratis berkembang pesat, tetapi kepekaan ekologis melemah. Kita unggul dalam kalkulasi, tetapi kurang dalam intuisi. Padahal nenek moyang kita memiliki kecerdasan ekologis yang lahir dari persahabatan panjang dengan alam. Mereka tidak memerlukan laboratorium untuk membaca kesuburan tanah; cukup dengan mencium tanah mereka memahami kondisinya. Mereka tidak membutuhkan radar untuk merasakan perubahan arus; sentuhan kaki pada air sudah cukup untuk menangkap tanda bahaya. Itu bukan anti-ilmu, melainkan bentuk pengetahuan yang tumbuh dari relasi yang intim dan berkelanjutan dengan lingkungan.

Di sinilah kebutuhan akan perjumpaan menjadi penting. Teknologi tidak ditolak, tetapi ditempatkan berdampingan dengan kearifan lokal. Efisiensi tidak dihapus, tetapi dilengkapi oleh empati. Universitas dan lembaga pendidikan diharapkan mampu menjembatani keduanya, sehingga modernitas tidak melahirkan keterasingan ekologis.

Dalam konteks Bali dan ajaran Hindu, konsep Tri Hita Karana memperlihatkan bagaimana kesadaran ekologis menyatu dalam praktik spiritual. Relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam dipahami sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika relasi dengan alam terganggu, keseimbangan spiritual pun ikut goyah. Perspektif ini memperlihatkan bahwa menjaga alam bukan aktivitas tambahan di luar ibadah, melainkan bagian inheren dari ibadah itu sendiri.

Ekoteologi yang digagas Kementerian Agama dapat dipahami sebagai upaya resakralisasi. Menghadirkan kembali sakralitas dalam cara manusia memandang alam. Bumi bukan sekadar ruang produksi, tetapi ruang perjumpaan antara ciptaan dan Pencipta. Ketika pohon kembali dipahami sebagai akar kehidupan, hujan sebagai rahmat, tanah sebagai amanah, dan laut sebagai misteri yang patut dihormati, maka spiritualitas dan keberlanjutan ekologis bergerak dalam sirkulasi yang sama. Hingga manusia berada pada titik spiritual; menjaga bumi sebagai bagian penting dari proyek penyembahan kepada Tuhan.

Mungkin, ide ini tidak bisa terwujud dengan cepat. Tetapi, kita harus memulai. Langkah itu sudah dimulai oleh Pak Menag. Kita harus melanjutkannya!

Penulis : Jamaah Gusdurian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Membayangkan BMR dan Hal-hal yang Belum Selesai

    Membayangkan BMR dan Hal-hal yang Belum Selesai

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Muhamad Ersad Mamonto
    • visibility 1.946
    • 0Komentar

    Tulisan yang berjudul “Dekonstruksi PBMR” oleh Tyo Mokoagow, kawan saya, beberapa hari lalu, terus terang menggoda saya untuk menulis. Sebenarnya saya berupaya untuk menghindari menanggapi isu ini, karena telah benar-benar menjadi semacam debat kusir yang tak berkesudahan. Namun tulisan seperti yang Tyo buat adalah sesuatu yang tidak bisa dilewati begitu saja.  Saya sepakat dengan konsepsi […]

  • Kekeringan dan krisis air bersih.Masalah yang tidak kunjung usai Di Kecamatan Bontoa

    Kekeringan dan krisis air bersih.Masalah yang tidak kunjung usai Di Kecamatan Bontoa

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Nulondalo.com,Maros – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ribuan warga di kawasan pesisir kini harus bertahan dengan menggunakan air sumur tadah hujan yang keruh bahkan terasa asin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa. Selama lebih […]

  • Trilogi Patriotik : Spionase Saripa, Taktik Dua Belas, dan Wasiat Hijau Nani Wartabone yang Terlupakan

    Trilogi Patriotik : Spionase Saripa, Taktik Dua Belas, dan Wasiat Hijau Nani Wartabone yang Terlupakan

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Sandy Syafrudin Nina
    • visibility 544
    • 0Komentar

    Refleksi 84 Tahun Hari Patriotik Gorontalo Beberapa hari yang lalu, sebelum tanggal yang diperingati sebagai hari patriotik Gorontalo, saya berziarah ke makam pahlawan Gorontalo, pak Nani. Saya berdoa untuk beliau, dan para pejuang yang ikut serta bersama beliau dalam membebaskan Gorontalo dari penjajahan. Lalu tepat hari ini, di tanggal 23 Januari 2026, saya ingin kita […]

  • DPRD Maros Lakukan Kunker ke Bulukumba dan Jeneponto, Pastikan Efisiensi Anggaran Tidak Ganggu Kinerja Dewan

    DPRD Maros Lakukan Kunker ke Bulukumba dan Jeneponto, Pastikan Efisiensi Anggaran Tidak Ganggu Kinerja Dewan

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang mulai diberlakukan, DPRD Kabupaten Maros melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Bulukumba dan Jeneponto untuk memastikan sistem penganggaran tetap berjalan efektif dan tidak menghambat fungsi lembaga. Anggota DPRD Maros, Dedy Aryan, menjelaskan bahwa kunker ini dilakukan sebagai langkah antisipatif atas pemangkasan sejumlah kegiatan, termasuk reses dan […]

  • Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 284
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto berencana menghabiskan malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 di wilayah Sumatra yang terdampak banjir bandang dan longsor. Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi usai konferensi pers penanganan bencana di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025). “Direncanakan begitu (tahun baru ke Sumatra),” ujar Prasetyo Hadi, […]

  • Purnamasidi, Anggota DPR RI, Reses di Lumajang Bahas PIP: Saya Akan Terus Perjuangkan Hak Peserta Didik Kita di Pusat

    Purnamasidi, Anggota DPR RI, Reses di Lumajang Bahas PIP: Saya Akan Terus Perjuangkan Hak Peserta Didik Kita di Pusat

    • calendar_month Sabtu, 28 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Reses Masa Persidangan III Tahun Sidang 2024–2025, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Muhamad Nur Purnamasidi, memulai agenda kunjungannya dengan menyapa ratusan warga di Desa Klampokarum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Jum’at, 20 Juni 2025. Dalam kegiatan tersebut, politisi yang akrab disapa Bang Pur itu berdialog langsung dengan para ibu-ibu yang mayoritas […]

expand_less