Breaking News
light_mode
Trending Tags

Budak Ambisi

  • account_circle Suaib Pr
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
  • visibility 266
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada begitu banyak manusia meniti karier, namun tanpa sadar, mereka bukan lagi tuan atas dirinya, melainkan budak dari ambisi yang mereka pelihara. Khalid Bin Salih Al-Munif pernah mengingatkan, manusia bisa tenggelam dalam pekerjaan, entah mengumpulkan ilmu atau harta, tetapi tetap saja terjerat sebagai tawanan dari ambisi mereka sendiri.

Ambisi yang tak terkendali ibarat api. Ia bisa menghangatkan, tetapi juga bisa membakar habis jiwa dan raga. Lantas mengapa manusia begitu mudah diperbudak oleh ambisi?

Abraham Maslow lewat piramida kebutuhannya menjelaskan kebutuhan manusia dalam lima tingkatan, sebuah tangga yang berproses dari sejak lahir hingga akhir hayat. Langkah pertama dimulai dari makan, minum, dan tempat tinggal. Tanpa itu, tubuh tak akan bertahan, jiwa pun tak bisa tumbuh.

Begitu perut terisi dan tubuh terlindungi, manusia mencari rasa aman. Ia ingin perlindungan dari ancaman, kestabilan dalam hidup, dan kepastian bahwa hari esok tidak akan merenggut segalanya.

Namun, rasa aman saja tidak cukup. Hati manusia merindukan kehangatan. Maka ia mencari cinta, rasa memiliki, dan hubungan. Di sinilah manusia belajar bahwa hidup bukan sekadar bertahan, melainkan berbagi.

Setelah itu, muncul dorongan untuk diakui. Manusia ingin status, prestasi, dan pengakuan. Ia bekerja keras, berjuang, dan berharap dunia menoleh padanya. Di tahap ini, ambisi sering tumbuh subur, kadang menjadi sayap, kadang pula menjadi rantai.

Dan akhirnya, manusia mendaki ke puncak aktualisasi diri. Di sini, ia tak lagi sekadar ingin dipuji, melainkan ingin menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Ia mencipta, berkarya, dan mencari makna hidup yang lebih dalam.

Sumur Tanpa Dasar

Ambisi sering bersemayam di dua puncak terakhir, yaitu penghargaan dan aktualisasi diri. Di sana manusia terdorong untuk membuktikan diri, meraih prestasi, dan mencari makna hidup. Namun, dorongan itu bisa berubah menjadi rantai yang menjerat ketika keseimbangan hilang karena status dan pencapaian lebih diprioritaskan, sementara kebutuhan sosial dan rasa aman terabaikan.

Ambisi yang berlebihan adalah sumur tanpa dasar. Meski sudah tercapai, ia bisa melahirkan dahaga baru yang tak pernah selesai. Identitas pun melekat pada ambisi. Manusia merasa dirinya hanya bernilai jika ambisinya terwujud. Maka, hidup pun berubah menjadi lingkaran tak berujung, di mana kepuasan selalu berlari lebih cepat dari langkah manusia.

Maslow menekankan bahwa puncak piramida bukan sekadar materi atau status, melainkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Ambisi yang diarahkan ke sana adalah cahaya yang membebaskan. Tetapi bila berhenti pada pujian dan pengakuan, ia bisa menjelma menjadi bayangan yang memperbudak.

Pujian, kata orang, tak ubahnya parfum; harum di hidung, tetapi menjadi racun bila diminum. Ambisi yang berlebihan tidak mendatangkan kebahagiaan, melainkan kesengsaraan batin. Kehidupan yang sehat hanya mungkin terjadi bila pikiran, hati, dan tangan berjalan seimbang.

Khalid Bin Salih menegaskan, bila tangan produktif dan pikiran kuat tetapi hati lemah, maka kesengsaraanlah yang lahir. Karena itu, Islam mengajarkan sifat kanaah dan syukur sebagai rem yang menenangkan.

Keduanya menjaga agar ambisi tidak menjelma menjadi bara yang membakar, sebab manusia lebih suka berselisih daripada berkompromi. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Namun kompromi hanya mungkin lahir bila seseorang mampu mengenali dan mengendalikan ambisinya, bukan semata untuk dirinya sendiri, melainkan juga demi orang lain.

Hikmah Ramadan

Dalam Ramadan, manusia diajak untuk kembali ke akar kebutuhan paling mendasar; menahan lapar dan dahaga. Dari sana, ia belajar bahwa fisiologis hanyalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.

Puasa mengajarkan rasa aman dalam perlindungan Allah, menumbuhkan cinta dan kebersamaan lewat berbagi dan silaturahmi, serta menundukkan ambisi akan penghargaan duniawi dengan mengingat bahwa pengakuan sejati datang dari Sang Pencipta.

Sebagai bulan pendidikan  (syahru tarbiyah), Ramadan mengarahkan manusia pada aktualisasi diri yang sejati, bukan sekadar pencapaian materi atau status, melainkan menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih dekat dengan makna hidup.

Ramadan adalah pengingat bahwa ambisi hanya akan membebaskan bila ia ditundukkan oleh iman. Bulan ini mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan diri sendiri.

  • Penulis: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Danau Limboto: Luka Ekologis yang Terabaikan

    Danau Limboto: Luka Ekologis yang Terabaikan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Dadang Sudardja
    • visibility 675
    • 0Komentar

    Setelah lima kali berkunjung ke Gorontalo, barulah pada kunjungan kali ini saya memiliki kesempatan dan waktu untuk menginjakkan kaki di Danau Limboto—sebuah nama yang sejak lama sangat akrab di ingatan saya. Danau ini pertama kali saya kenal ketika masih duduk di bangku SMP, sekitar tahun 1973, melalui pelajaran Ilmu Bumi. Saat itu, Danau Limboto diperkenalkan […]

  • Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 130
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Ridwan Kamil kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pantun lama yang menyebut nama penyanyi Aura Kasih viral di media sosial. Pantun-pantun tersebut kemudian memicu spekulasi warganet terkait hubungan personal antara keduanya. Isu ini mencuat setelah akun-akun gosip mengunggah jejak digital Ridwan Kamil yang beberapa kali menyelipkan nama Aura Kasih dalam pantun, baik […]

  • Musdes Penetapan APBDes 2026 Desa Majannang Digelar di Hari Libur, Dorong Percepatan dan Transparansi

    Musdes Penetapan APBDes 2026 Desa Majannang Digelar di Hari Libur, Dorong Percepatan dan Transparansi

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Pemerintah Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, menggelar Musyawarah Desa (Musdes) Penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun Anggaran 2026 pada Sabtu (27/12/2025). Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Desa Majannang dan menjadi perhatian karena dilaksanakan di hari libur. Musdes dihadiri oleh PJ Kepala Desa Majannang, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pendamping […]

  • Pegadaian Kantor Wilayah IX Perkuat Sinergi Bank Sampah Lewat Konsolidasi FORSEPSI 2025

    Pegadaian Kantor Wilayah IX Perkuat Sinergi Bank Sampah Lewat Konsolidasi FORSEPSI 2025

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 86
    • 0Komentar

    PT Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta 2 bersama Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (FORSEPSI) menggelar kegiatan Konsolidasi Offline Bank Sampah pada Kamis (7/8), sebagai langkah penguatan sinergi dan evaluasi program lingkungan berbasis komunitas. Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi dan koordinasi antar Bank Sampah binaan Pegadaian. Dihadiri oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Drs. Arifin, […]

  • Prabowo Bukanlah Gerindra di Gorontalo: Catatan Kritis Pada HUT Gerindra Ke-17

    Prabowo Bukanlah Gerindra di Gorontalo: Catatan Kritis Pada HUT Gerindra Ke-17

    • calendar_month Selasa, 26 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo. Founder The Gorontalo Institute) Memperbincangkan Gerindra adalah juga memperbincangkan Jendral Prabowo Subianto, yang kini menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke – 8. Perjalanan Prabowo, termasuk Gerindra memang berlika-liku, jatuh bangun, dan “berdarah-darah”. Hingga karena konsistensi serta sikap yang […]

  • Menuju Bank Gorontalo: Mungkinkah Pisah dari Bank SulutGo?

    Menuju Bank Gorontalo: Mungkinkah Pisah dari Bank SulutGo?

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Rencana pembentukan Bank Gorontalo kembali mencuat ke permukaan. Gagasan ini sebenarnya bukan hal baru, namun perdebatan soal peluang dan tantangannya kini semakin menarik untuk dikaji secara lebih serius. Bank SulutGo sendiri memiliki sejarah panjang. Didirikan pertama kali pada 1961 dengan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara, bank ini lahir sebagai instrumen perbankan daerah untuk […]

expand_less