Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Budak Ambisi

  • account_circle Suaib Pr
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
  • visibility 382
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada begitu banyak manusia meniti karier, namun tanpa sadar, mereka bukan lagi tuan atas dirinya, melainkan budak dari ambisi yang mereka pelihara. Khalid Bin Salih Al-Munif pernah mengingatkan, manusia bisa tenggelam dalam pekerjaan, entah mengumpulkan ilmu atau harta, tetapi tetap saja terjerat sebagai tawanan dari ambisi mereka sendiri.

Ambisi yang tak terkendali ibarat api. Ia bisa menghangatkan, tetapi juga bisa membakar habis jiwa dan raga. Lantas mengapa manusia begitu mudah diperbudak oleh ambisi?

Abraham Maslow lewat piramida kebutuhannya menjelaskan kebutuhan manusia dalam lima tingkatan, sebuah tangga yang berproses dari sejak lahir hingga akhir hayat. Langkah pertama dimulai dari makan, minum, dan tempat tinggal. Tanpa itu, tubuh tak akan bertahan, jiwa pun tak bisa tumbuh.

Begitu perut terisi dan tubuh terlindungi, manusia mencari rasa aman. Ia ingin perlindungan dari ancaman, kestabilan dalam hidup, dan kepastian bahwa hari esok tidak akan merenggut segalanya.

Namun, rasa aman saja tidak cukup. Hati manusia merindukan kehangatan. Maka ia mencari cinta, rasa memiliki, dan hubungan. Di sinilah manusia belajar bahwa hidup bukan sekadar bertahan, melainkan berbagi.

Setelah itu, muncul dorongan untuk diakui. Manusia ingin status, prestasi, dan pengakuan. Ia bekerja keras, berjuang, dan berharap dunia menoleh padanya. Di tahap ini, ambisi sering tumbuh subur, kadang menjadi sayap, kadang pula menjadi rantai.

Dan akhirnya, manusia mendaki ke puncak aktualisasi diri. Di sini, ia tak lagi sekadar ingin dipuji, melainkan ingin menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Ia mencipta, berkarya, dan mencari makna hidup yang lebih dalam.

Sumur Tanpa Dasar

Ambisi sering bersemayam di dua puncak terakhir, yaitu penghargaan dan aktualisasi diri. Di sana manusia terdorong untuk membuktikan diri, meraih prestasi, dan mencari makna hidup. Namun, dorongan itu bisa berubah menjadi rantai yang menjerat ketika keseimbangan hilang karena status dan pencapaian lebih diprioritaskan, sementara kebutuhan sosial dan rasa aman terabaikan.

Ambisi yang berlebihan adalah sumur tanpa dasar. Meski sudah tercapai, ia bisa melahirkan dahaga baru yang tak pernah selesai. Identitas pun melekat pada ambisi. Manusia merasa dirinya hanya bernilai jika ambisinya terwujud. Maka, hidup pun berubah menjadi lingkaran tak berujung, di mana kepuasan selalu berlari lebih cepat dari langkah manusia.

Maslow menekankan bahwa puncak piramida bukan sekadar materi atau status, melainkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Ambisi yang diarahkan ke sana adalah cahaya yang membebaskan. Tetapi bila berhenti pada pujian dan pengakuan, ia bisa menjelma menjadi bayangan yang memperbudak.

Pujian, kata orang, tak ubahnya parfum; harum di hidung, tetapi menjadi racun bila diminum. Ambisi yang berlebihan tidak mendatangkan kebahagiaan, melainkan kesengsaraan batin. Kehidupan yang sehat hanya mungkin terjadi bila pikiran, hati, dan tangan berjalan seimbang.

Khalid Bin Salih menegaskan, bila tangan produktif dan pikiran kuat tetapi hati lemah, maka kesengsaraanlah yang lahir. Karena itu, Islam mengajarkan sifat kanaah dan syukur sebagai rem yang menenangkan.

Keduanya menjaga agar ambisi tidak menjelma menjadi bara yang membakar, sebab manusia lebih suka berselisih daripada berkompromi. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Namun kompromi hanya mungkin lahir bila seseorang mampu mengenali dan mengendalikan ambisinya, bukan semata untuk dirinya sendiri, melainkan juga demi orang lain.

Hikmah Ramadan

Dalam Ramadan, manusia diajak untuk kembali ke akar kebutuhan paling mendasar; menahan lapar dan dahaga. Dari sana, ia belajar bahwa fisiologis hanyalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.

Puasa mengajarkan rasa aman dalam perlindungan Allah, menumbuhkan cinta dan kebersamaan lewat berbagi dan silaturahmi, serta menundukkan ambisi akan penghargaan duniawi dengan mengingat bahwa pengakuan sejati datang dari Sang Pencipta.

Sebagai bulan pendidikan  (syahru tarbiyah), Ramadan mengarahkan manusia pada aktualisasi diri yang sejati, bukan sekadar pencapaian materi atau status, melainkan menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih dekat dengan makna hidup.

Ramadan adalah pengingat bahwa ambisi hanya akan membebaskan bila ia ditundukkan oleh iman. Bulan ini mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan diri sendiri.

  • Penulis: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Respon Cepat Gempa Sulut, Rumah Zakat Kirim Relawan ke Wilayah Terdampak

    Respon Cepat Gempa Sulut, Rumah Zakat Kirim Relawan ke Wilayah Terdampak

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 296
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Merespons gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara, Rumah Zakat bergerak cepat dengan menerjunkan tim relawan ke lokasi terdampak, Jumat (3/4/2026). Tim respon kemanusiaan dipimpin oleh Koordinator Relawan Rumah Zakat Gorontalo, Sandy Syafrudin Nina, yang telah berangkat sejak pukul 07.00 WITA dari Gorontalo. Dengan estimasi perjalanan darat sekitar delapan jam, […]

  • Post Stoicism: Antara Dikotomi Kendali dan Empati

    Post Stoicism: Antara Dikotomi Kendali dan Empati

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Ada satu hal yang terus bergaung dalam kepala saya belakangan ini: bahwa hidup ini, pada akhirnya, hanyalah sebuah permainan antara apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak. Saya menemukannya pertama kali dalam ajaran Stoikisme—tepatnya dalam gagasan dichotomy of control. Tapi kemudian, saya merasa ada sesuatu yang kurang. Ada lubang kecil dalam kebijaksanaan besar ini, […]

  • Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

    Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Ketika kita berbicara tentang negara demokrasi modern, pemisahan peran antar institusi keamanan sebenarnya bukan sekadar soal administrasi negara atau pembagian tugas birokratis. Ia adalah fondasi dasar dari negara hukum. Dalam prinsip demokrasi modern, urusan kriminalitas, ketertiban publik, dan keamanan domestik berada di tangan kepolisian serta otoritas sipil. Sementara militer dibentuk untuk menghadapi ancaman eksternal dan […]

  • Karang Taruna Majannang Bantah Keras Isu Warga Jatuh di Jembatan

    Karang Taruna Majannang Bantah Keras Isu Warga Jatuh di Jembatan

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Pemberitaan yang dimuat oleh Viraltimes.id terkait kondisi jembatan penghubung antara Desa Mattirotasi dan Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, menuai tanggapan tegas dari pihak Karang Taruna Desa Majannang. SAKTI, selaku Formatur Ketua Karang Taruna Desa Majannang, secara resmi membantah keras isi pemberitaan tersebut, khususnya klaim yang menyebutkan bahwa telah terjadi beberapa insiden warga […]

  • MTQ Imam Masjid II Provinsi Banten Sukses Digelar, Perkuat Peran Imam sebagai Diplomat Perdamaian Menuju IGIC 2026

    MTQ Imam Masjid II Provinsi Banten Sukses Digelar, Perkuat Peran Imam sebagai Diplomat Perdamaian Menuju IGIC 2026

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    nulondalo.com- Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) sukses menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Imam Masjid II Tingkat Provinsi Banten Tahun 2026 di Masjid Raya Baitul Mukhtar, BSD City, Kabupaten Tangerang. Perlombaan berlangsung pada 4 Juli 2026, sementara pengumuman juara dan penyerahan hadiah dilaksanakan pada 5 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Bridging to International […]

  • Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 530
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo kembali menunjukkan komitmennya dalam menghargai dedikasi para pahlawan tanpa tanda jasa. Sebagai bentuk apresiasi terhadap pengabdian guru, Wali Kota Adhan Dambea resmi menetapkan kebijakan perubahan jam kerja khusus bagi guru dan tenaga kependidikan. Kebijakan strategis ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 April 2026 dan menyasar seluruh tenaga pendidik berstatus […]

expand_less