Petuah yang Disangka Mantra
- account_circle Suaib Prawono
- calendar_month Senin, 30 Mar 2026
- visibility 186
- print Cetak

Ilustrasi suasana masyarakat Mandar yang sedang mendengarkan petuah leluhur di tengah lanskap alam pedesaan, menggambarkan keterhubungan manusia dengan alam, adat, dan kehidupan sosial.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Saya masih ingat betul suasana Kongres Kedua Rakyat Mandar di Assamalebuang, Majene, sekitar tahun 2002 silam. Di tengah ruangan yang hening, budayawan Mandar; Muis Mandra yang kala itu tampil sebagai pembicara menyampaikan sebuah pasang (petuah).
Dengan suara yang menggelegar, ia melafalkan petuah leluhur Mandar yang terdengar begitu sakral hingga membuat para peserta terpesona. Petuah itu berbunyi: ‘Alawe membolong di nawang, nawang membolong di alawe. Alawe membolong di akkeadang, akkeadang membolong di alawe. Alawe membolong di atauang, atauang membolong di alawe’.”
Usai melafalkan petua tersebut, tiba-tiba, salah seorang peserta berteriak lantang: “Kun payakun!”. Suasana yang semula hening seketika pecah menjadi riuh; tawa bersahutan, sementara sebagian lain memilih terdiam.
Saya sendiri merasa geli, sekaligus penasaran. Apa benar petuah itu sebuah mantra alam yang sakral?
Muis Manra kemudian menjelaskan: bukan. Itu hanyalah petuah yang lazim terdengar dalam tradisi bertutur masyarakat Mandar. Namun, sebagian orang menganggapnya sakral, karena bahasanya memang klasik, sarat nuansa mistik, dan tak jarang membuat bulu kuduk berdiri.
Pesan Filosofis di Balik Petuah
Jika diterjemahkan secara bebas, petuah itu kira-kira bermakna; “manusia adalah bagian dari alam, dan alam adalah bagian dari manusia. Manusia adalah bagian dari adat, dan adat adalah bagian dari manusia. Manusia adalah bagian dari dirinya sendiri, dan pribadi manusia adalah bagian dari dirinya”.
- Penulis: Suaib Prawono

Saat ini belum ada komentar