Tahun Baru Hijriyah sebagai Momentum untuk Membangun Kesadaran Kolektif Bangsa
- account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 33
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pergantian tahun Hijriyah bukan sekadar penanda bertambahnya usia kalender Islam, melainkan momentum penting untuk melakukan refleksi dan pembenahan diri. Semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, serta menumbuhkan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam khutbah Jumat bertajuk “Tahun Baru Hijriyah sebagai Momentum untuk Membangun Kesadaran Kolektif Bangsa”, Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A. mengingatkan bahwa tantangan terbesar umat saat ini bukanlah kekurangan momentum untuk berubah, melainkan minimnya transformasi nyata setelah berbagai momentum keagamaan berlalu. Karena itu, Muharram hendaknya dijadikan sarana muhasabah untuk memperkuat integritas pribadi sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat demi terwujudnya bangsa yang maju, beradab, dan berkeadilan
KHUTBAH PERTAMA
الحمد لله الحمد لله الذي جعل الأيام والسنين ميدانًا للاعتبار، وجعل تعاقب الشهور والأعوام آياتٍ لأولي الأبصار، أحمده سبحانه وأشكره، وأستعينه وأستغفره، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الجبار، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله المختار، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه ومن سار على نهجه واقتفى آثاره إلى يوم القرار.
أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون، قال الله تعالى:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kita kembali berada di awal tahun Hijriyah. Yang itu artinya, kita selaku umat Islam baru saja merayakan kedatangannya. Setiap tahun obor dinyalakan, spanduk dibentangkan, ceramah tentang hijrah diperdengarkan dari mimbar ke mimbar. Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri kita sendiri: setelah semua peringatan itu berlalu, apa yang sesungguhnya berubah dalam diri kita?
Waktu terus bergerak. Kalender berganti. Angka tahun berubah. Namun sering kali manusia tetap berada di titik yang sama. Barangkali, masalah terbesar umat Islam hari ini bukan karena kekurangan momentum untuk berubah, tetapi karena kita terlalu kaya momentum dan miskin transformasi.
Kita memiliki Ramadan setiap tahun. Kita memiliki Idul Fitri setiap tahun. Kita memiliki Idul Adha setiap tahun. Kini Tahun Baru Hijriyah kembali datang. Akan tetapi, berapa banyak dari momentum-momentum itu yang benar-benar mengubah karakter kita?
Padahal Allah Swt. telah mengingatkan:
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Ayat ini bukan sekadar nasihat spiritual. Ia adalah hukum peradaban. Ia adalah sunnatullah yang berlaku sepanjang sejarah manusia. Tidak ada bangsa yang bangkit hanya karena banyak berdoa tanpa bekerja. Tidak ada masyarakat yang maju hanya karena banyak berbicara tanpa berbenah diri.
Ulama besar Tunisia, Muhammad Thahir Ibn Asyur, dalam kitab Ushul al-Nidham al-Ijtima’i fi al-Islam, menjelaskan bahwa reformasi sosial selalu dimulai dari reformasi individu. Masyarakat tidak lain hanyalah kumpulan manusia. Jika individu-individunya rusak, mustahil masyarakatnya sehat.
Jauh sebelum teori-teori sosial modern lahir, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya telah menjelaskan bahwa bangkit dan runtuhnya suatu peradaban bukan terutama ditentukan oleh kekayaan alam, luas wilayah, atau banyaknya penduduk. Peradaban ditentukan oleh kualitas moral dan kekuatan solidaritas sosial yang ia sebut dengan istilah ’ashabiyah.
Ketika masyarakat memiliki kejujuran, pengorbanan, rasa tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama, maka lahirlah kekuatan. Dari kekuatan itu tumbuh ilmu pengetahuan, ekonomi, dan peradaban.
Namun ketika kemewahan menggantikan pengorbanan, ketika jabatan berubah menjadi alat memperkaya diri, ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan umum, maka sesungguhnya proses keruntuhan telah dimulai.
Ibnu Khaldun memberikan pelajaran yang sangat penting: banyak peradaban tidak hancur karena serangan musuh dari luar, tetapi karena pembusukan dari dalam.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Bukankah pelajaran itu sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini?
Masjid semakin banyak. Pengajian semakin ramai. Simbol-simbol agama semakin mudah ditemukan. Tetapi mengapa korupsi masih menjadi berita harian? Mengapa kebohongan begitu mudah tersebar? Mengapa fitnah dan ujaran kebencian lebih cepat beredar daripada ilmu pengetahuan?
Ada paradoks yang perlu kita renungkan:
Kita semakin religius dalam ekspresi, tetapi belum tentu semakin etis dalam tindakan.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki dunia di luar diri kita, sementara dunia di dalam diri kita sendiri belum selesai dibenahi.
Karena itu, datangnya Muharram seharusnya menjadi momentum muhasabah. Momentum untuk meninjau kembali perjalanan hidup kita. Sudahkah kita menjadi suami yang adil? Sudahkah kita menjadi ayah yang bertanggung jawab? Sudahkah kita menjadi pegawai yang amanah? Sudahkah kita menjadi pemimpin yang jujur?
Sebab perubahan besar selalu berawal dari perubahan kecil yang dilakukan secara istiqamah.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله رب العالمين، حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله حق تقاته.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Muharram mengajarkan kepada kita bahwa kebangkitan tidak lahir dari slogan-slogan besar. Kebangkitan tidak dibangun hanya dengan seremoni dan perayaan. Kebangkitan lahir dari manusia-manusia yang bersedia memperbaiki dirinya.
Ibn Asyur mengajarkan bahwa reformasi individu adalah syarat utama perubahan. Sementara Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada solidaritas sosial dan persatuan masyarakatnya.
Karena itu, Indonesia hari ini membutuhkan keduanya sekaligus. Kita membutuhkan pribadi-pribadi yang jujur dan berintegritas. Kita juga membutuhkan masyarakat yang saling menguatkan, saling menjaga, dan mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun golongan.
Sebab itu, kesadaran kolektif masyarakat perlu dibangun, dimulai dari reformasi individu, lalu membangun kesadaran kolektif masyarakat. Apabila keduanya berjalan beriringan, maka kebangkitan yang kita impikan bersama akan terealisasi. Tanpa keduanya, kebangkitan hanyalah ilusi belaka.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.
اللهم أصلح أحوالنا وأحوال أمتنا، وأصلح قادتنا وولاة أمورنا، واجعلهم هداة مهتدين غير ضالين ولا مضلين.
اللهم ارزق بلادنا إندونيسيا الأمن والأمان والاستقرار والازدهار، واصرف عنها الفتن ما ظهر منها وما بطن.
اللهم اجعل هذا العام الهجري الجديد عام خير وبركة وإصلاح، وأعنا فيه على طاعتك وحسن عبادتك.
اللهم انصر قواتنا المسلحة، واحفظ جنودنا المرابطين في البر والبحر والجو، واحفظ رجال الاستخبارات والأمن الذين يسهرون على حماية الوطن من كل سوء، واجعل عملهم خالصاً لما فيه أمن البلاد وسلامة العباد.
اللهم اجمع كلمة أبناء وطننا على الحق والخير، وألّف بين قلوبهم، ووفقهم لما تحب وترضى.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
عباد الله،﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾
فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون.
- Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Saat ini belum ada komentar