Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tahun Baru Hijriyah sebagai Momentum untuk Membangun Kesadaran Kolektif Bangsa

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
  • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
  • visibility 154
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pergantian tahun Hijriyah bukan sekadar penanda bertambahnya usia kalender Islam, melainkan momentum penting untuk melakukan refleksi dan pembenahan diri. Semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, serta menumbuhkan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam khutbah Jumat bertajuk “Tahun Baru Hijriyah sebagai Momentum untuk Membangun Kesadaran Kolektif Bangsa”, Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A. mengingatkan bahwa tantangan terbesar umat saat ini bukanlah kekurangan momentum untuk berubah, melainkan minimnya transformasi nyata setelah berbagai momentum keagamaan berlalu. Karena itu, Muharram hendaknya dijadikan sarana muhasabah untuk memperkuat integritas pribadi sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat demi terwujudnya bangsa yang maju, beradab, dan berkeadilan

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله الحمد لله الذي جعل الأيام والسنين ميدانًا للاعتبار، وجعل تعاقب الشهور والأعوام آياتٍ لأولي الأبصار، أحمده سبحانه وأشكره، وأستعينه وأستغفره، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الجبار، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله المختار، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه ومن سار على نهجه واقتفى آثاره إلى يوم القرار.

أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون، قال الله تعالى:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kita kembali berada di awal tahun Hijriyah. Yang itu artinya, kita selaku umat Islam baru saja merayakan kedatangannya. Setiap tahun obor dinyalakan, spanduk dibentangkan, ceramah tentang hijrah diperdengarkan dari mimbar ke mimbar. Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri kita sendiri: setelah semua peringatan itu berlalu, apa yang sesungguhnya berubah dalam diri kita?

Waktu terus bergerak. Kalender berganti. Angka tahun berubah. Namun sering kali manusia tetap berada di titik yang sama. Barangkali, masalah terbesar umat Islam hari ini bukan karena kekurangan momentum untuk berubah, tetapi karena kita terlalu kaya momentum dan miskin transformasi.

Kita memiliki Ramadan setiap tahun. Kita memiliki Idul Fitri setiap tahun. Kita memiliki Idul Adha setiap tahun. Kini Tahun Baru Hijriyah kembali datang. Akan tetapi, berapa banyak dari momentum-momentum itu yang benar-benar mengubah karakter kita?

Padahal Allah Swt. telah mengingatkan:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Ayat ini bukan sekadar nasihat spiritual. Ia adalah hukum peradaban. Ia adalah sunnatullah yang berlaku sepanjang sejarah manusia. Tidak ada bangsa yang bangkit hanya karena banyak berdoa tanpa bekerja. Tidak ada masyarakat yang maju hanya karena banyak berbicara tanpa berbenah diri.

Ulama besar Tunisia, Muhammad Thahir Ibn Asyur, dalam kitab Ushul al-Nidham al-Ijtima’i fi al-Islam, menjelaskan bahwa reformasi sosial selalu dimulai dari reformasi individu. Masyarakat tidak lain hanyalah kumpulan manusia. Jika individu-individunya rusak, mustahil masyarakatnya sehat.

Jauh sebelum teori-teori sosial modern lahir, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya telah menjelaskan bahwa bangkit dan runtuhnya suatu peradaban bukan terutama ditentukan oleh kekayaan alam, luas wilayah, atau banyaknya penduduk. Peradaban ditentukan oleh kualitas moral dan kekuatan solidaritas sosial yang ia sebut dengan istilah ’ashabiyah.

Ketika masyarakat memiliki kejujuran, pengorbanan, rasa tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama, maka lahirlah kekuatan. Dari kekuatan itu tumbuh ilmu pengetahuan, ekonomi, dan peradaban.

Namun ketika kemewahan menggantikan pengorbanan, ketika jabatan berubah menjadi alat memperkaya diri, ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan umum, maka sesungguhnya proses keruntuhan telah dimulai.

Ibnu Khaldun memberikan pelajaran yang sangat penting: banyak peradaban tidak hancur karena serangan musuh dari luar, tetapi karena pembusukan dari dalam.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Bukankah pelajaran itu sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini?

Masjid semakin banyak. Pengajian semakin ramai. Simbol-simbol agama semakin mudah ditemukan. Tetapi mengapa korupsi masih menjadi berita harian? Mengapa kebohongan begitu mudah tersebar? Mengapa fitnah dan ujaran kebencian lebih cepat beredar daripada ilmu pengetahuan?

Ada paradoks yang perlu kita renungkan:

Kita semakin religius dalam ekspresi, tetapi belum tentu semakin etis dalam tindakan.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki dunia di luar diri kita, sementara dunia di dalam diri kita sendiri belum selesai dibenahi.

Karena itu, datangnya Muharram seharusnya menjadi momentum muhasabah. Momentum untuk meninjau kembali perjalanan hidup kita. Sudahkah kita menjadi suami yang adil? Sudahkah kita menjadi ayah yang bertanggung jawab? Sudahkah kita menjadi pegawai yang amanah? Sudahkah kita menjadi pemimpin yang jujur?

Sebab perubahan besar selalu berawal dari perubahan kecil yang dilakukan secara istiqamah.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله رب العالمين، حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله حق تقاته.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Muharram mengajarkan kepada kita bahwa kebangkitan tidak lahir dari slogan-slogan besar. Kebangkitan tidak dibangun hanya dengan seremoni dan perayaan. Kebangkitan lahir dari manusia-manusia yang bersedia memperbaiki dirinya.

Ibn Asyur mengajarkan bahwa reformasi individu adalah syarat utama perubahan. Sementara Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada solidaritas sosial dan persatuan masyarakatnya.

Karena itu, Indonesia hari ini membutuhkan keduanya sekaligus. Kita membutuhkan pribadi-pribadi yang jujur dan berintegritas. Kita juga membutuhkan masyarakat yang saling menguatkan, saling menjaga, dan mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun golongan.

Sebab itu, kesadaran kolektif masyarakat perlu dibangun, dimulai dari reformasi individu, lalu membangun kesadaran kolektif masyarakat. Apabila keduanya berjalan beriringan, maka kebangkitan yang kita impikan bersama akan terealisasi. Tanpa keduanya, kebangkitan hanyalah ilusi belaka.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.

اللهم أصلح أحوالنا وأحوال أمتنا، وأصلح قادتنا وولاة أمورنا، واجعلهم هداة مهتدين غير ضالين ولا مضلين.

اللهم ارزق بلادنا إندونيسيا الأمن والأمان والاستقرار والازدهار، واصرف عنها الفتن ما ظهر منها وما بطن.

اللهم اجعل هذا العام الهجري الجديد عام خير وبركة وإصلاح، وأعنا فيه على طاعتك وحسن عبادتك.

اللهم انصر قواتنا المسلحة، واحفظ جنودنا المرابطين في البر والبحر والجو، واحفظ رجال الاستخبارات والأمن الذين يسهرون على حماية الوطن من كل سوء، واجعل عملهم خالصاً لما فيه أمن البلاد وسلامة العباد.

اللهم اجمع كلمة أبناء وطننا على الحق والخير، وألّف بين قلوبهم، ووفقهم لما تحب وترضى.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

عباد الله،﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون.

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Banjir Bandang di Aceh & Sumatra: Kerusakan Hutan, Cuaca Ekstrem dan Tuduhan ke Zulhas

    Banjir Bandang di Aceh & Sumatra: Kerusakan Hutan, Cuaca Ekstrem dan Tuduhan ke Zulhas

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 285
    • 0Komentar

    nulondalo.com- Bencana banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir. Hujan lebat, cuaca ekstrem, dan faktor alam disebut sebagai penyebab utama namun di media sosial muncul tudingan bahwa penyebabnya juga berkaitan dengan kebijakan pembukaan lahan saat mantan menteri kehutanan, Zulkifli Hasan menjabat. Penyebab Banjir: Cuaca […]

  • Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Julman Hente
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Oleh: Julman Hente, SH., MH (Penulis) Demokrasi kita hari ini seperti pohon yang tumbuh tanpa akar. Tampak hijau di permukaan, penuh daun dan ranting yang menjulang, tetapi mudah roboh ketika angin kencang datang. Ia berdiri di atas tanah yang semakin rapuh, tanah yang terus terkikis oleh keputusan-keputusan yang mengatasnamakan rakyat tetapi mengkhianati bumi tempat rakyat […]

  • Sawit Gorontalo Kacau Balau, Ginada: Ini Soal Masa Depan, Bukan Cuma Ekonomi!

    Sawit Gorontalo Kacau Balau, Ginada: Ini Soal Masa Depan, Bukan Cuma Ekonomi!

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Sorotan tajam datang dari Ketua Departemen Organisasi PP Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), I Dewa Gede Ginada Darma Putra, terkait kisruh pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Gorontalo. Dalam pernyataan kerasnya, Ginada menyebut kondisi tata kelola sawit saat ini bukan hanya bermasalah, tapi masuk dalam level krisis akut dan berlapis. Berangkat dari berbagai dokumen, […]

  • Rusia Evakuasi 84 Warganya dari Mesir ke Moskow di Tengah Ketegangan Timur Tengah

    Rusia Evakuasi 84 Warganya dari Mesir ke Moskow di Tengah Ketegangan Timur Tengah

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 285
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Rusia mengevakuasi 84 warganya dari Mesir ke Moskow menggunakan pesawat angkut militer Il-76 milik Kementerian Situasi Darurat Rusia (EMERCOM), menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Di antara 84 orang yang dievakuasi, terdapat 38 anak-anak. Proses evakuasi dilakukan pada malam hari dan terekam dalam video […]

  • Benarkah Orang Gorontalo sebegitu Bencinya terhadap Yahudi? Tanggapan untuk tulisan Funco Tanipu

    Benarkah Orang Gorontalo sebegitu Bencinya terhadap Yahudi? Tanggapan untuk tulisan Funco Tanipu

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 428
    • 0Komentar

    Tulisan Funco Tanipu yang berjudul Yahudi, Sanksi Sosial dan Migrasi yang terbit di kanal bakukabar.id pada 4 April 2025 adalah tulisan yang bagi saya tidak menggambarkan apa-apa, selain menguatkan stigma negatif serta menembakkan tuduhan serius terhadap Yahudi (baik agama maupun komunitas) dengan dalih adat istiadat serta agama, khususnya Islam, di Gorontalo. Tulisan tersebut berangkat dari […]

  • Panggung, Disabilitas, dan Kurikulum Berbasis Cinta (Catatan Review and Design in Islamic Education Ditjen Pendis Kemenag RI)

    Panggung, Disabilitas, dan Kurikulum Berbasis Cinta (Catatan Review and Design in Islamic Education Ditjen Pendis Kemenag RI)

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 326
    • 0Komentar

    Saya cenderung skeptis terhadap doa dan pembacaan kitab suci dalam acara seremonial. Bukan karena keduanya kehilangan legitimasi religius, melainkan karena terlalu sering diposisikan sebagai ritual pembuka yang netral, steril dari relasi kuasa, dan seolah berada di luar politik representasi. Padahal, justru di awal acara itulah etika sebuah panggung bekerja. Acara ini dibuka dengan tilawah Al-Qur’an, […]

expand_less