Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Maros dan Kemerdekaan yang Belum Selesai

  • account_circle Hardiansyah
  • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
  • visibility 71
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Nulondalo.com–Maros,Seiring waktu berjalan, setidaknya berdasarkan pengamatan dari sebuah kelompok kecil, ada satu fenomena yang semakin sulit untuk tidak diperhatikan: pada berbagai agenda besar, sosok-sosok yang dimunculkan cenderung itu-itu saja.

Padahal, jika kita berbicara dalam perspektif pembangunan kepemudaan, Maros memiliki cukup banyak anak muda potensial dengan kapasitas, kompetensi, gagasan, serta pengalaman yang beragam,Mereka ada,Mereka bergerak,Mereka berkarya,Hanya saja, tidak semuanya berada di dalam “gerbong” yang sama.

Pertanyaannya kemudian sederhana, apakah ruang partisipasi publik memang terbuka secara proporsional, atau justru masih bekerja berdasarkan pola reproduksi sosial yang membuat nama-nama tertentu terus mendapatkan akses, sementara yang lainnya sekadar menjadi penonton?

Mungkin memang tidak perlu mendapatkan undangan khusus untuk sekadar hadir mengisi acara, membaca teks Proklamasi, membacakan Sumpah Pemuda, atau menjadi pelengkap seremoni lainnya.

Sebab,tentu saja,kapasitas anak muda tidak seharusnya diukur dari seberapa sering namanya muncul di panggung pemerintahan.

Atau jangan-jangan, persoalannya masih berada pada paradigma lama:“Inimo dipake, inimo kak, karna adek-adekku ini.” Entah apa istilah akademis yang tepat untuk praktik semacam itu. Mungkin bisa disebut sebagai patronase, eksklusivitas jejaring, reproduksi kekuasaan atau sederhananya: kalau bukan orang dalam, ya jangan terlalu berharap masuk dalam lingkaran.

Ironisnya, di dalam gerbong kecil kami, sebenarnya terdapat banyak aspirasi yang ingin disampaikan. Bahkan lebih dari sekadar menyampaikan kritik, banyak dari kami yang ingin terlibat langsung membantu pemerintah melalui gagasan, inovasi, program, maupun kerja-kerja kolaboratif.

Namun dari berbagai diskusi yang kami lakukan, persoalan yang berulang justru berada pada akses partisipasi. Tidak semua anak muda memiliki kanal yang cukup untuk menyampaikan gagasan. Tidak semua memiliki “orang” yang dapat membuka pintu. Dan pada akhirnya, ketika representasi anak muda selalu diisi oleh wajah yang relatif sama, inovasi pun berpotensi mengalami stagnasi karena perspektif yang digunakan terus berputar pada lingkaran yang sama.

Padahal, berbicara tentang pembangunan daerah seharusnya tidak hanya berbicara tentang pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau capaian administratif. Ada pula pembangunan manusia yang mencakup kesetaraan kesempatan, akses terhadap pendidikan, pekerjaan, ruang berekspresi, serta partisipasi dalam pengambilan keputusan publik.

Di titik inilah persoalan hak menjadi penting untuk dibicarakan.

Sebab setiap anak muda, terlepas dari apakah ia berada dalam organisasi tertentu, memiliki kedekatan dengan pejabat, atau mempunyai akses terhadap ruang-ruang kekuasaan, pada dasarnya memiliki hak yang sama untuk berkembang dan berkontribusi terhadap daerahnya.

Kemerdekaan pun semestinya dimaknai lebih jauh daripada sekadar upacara dan pembacaan teks Proklamasi.

Kemerdekaan berarti terbebas dari ketakutan untuk menyampaikan gagasan. Merdeka untuk berbeda pendapat. Merdeka untuk mengkritik. Merdeka untuk menawarkan solusi. Merdeka untuk mendapatkan kesempatan berdasarkan kapasitas, bukan semata-mata berdasarkan kedekatan.

Karena jika akses terhadap kesempatan hanya berputar di antara kelompok yang sama, maka secara sosial kita sedang menciptakan bentuk eksklusivitas struktural, Tidak ada pagar yang terlihat, tetapi ada batas yang terasa.

Tidak ada yang secara terang-terangan mengatakan bahwa seseorang tidak boleh masuk. Tetapi mekanisme sosialnya membuat sebagian orang akhirnya memahami sendiri bahwa mereka bukan bagian dari lingkaran tersebut.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, ketika praktik semacam ini berlangsung terus-menerus, ia dapat mengalami proses normalisasi sosial. Sesuatu yang pada awalnya dianggap tidak adil perlahan dianggap biasa. Sesuatu yang seharusnya dipertanyakan akhirnya diterima sebagai tradisi.

Lalu kita mulai terbiasa dengan kalimat “Memang dari dulu begitu.”

Padahal, tidak semua yang berlangsung lama layak disebut sebagai sesuatu yang benar.

Sebagian mungkin hanya kebiasaan yang belum pernah berani dievaluasi.

Anak muda kemudian hanya menjadi penting ketika diperlukan untuk memenuhi sebuah agenda. Dipanggil ketika pemerintah membutuhkan massa. Dilibatkan ketika membutuhkan peserta. Diminta tampil ketika membutuhkan representasi. Diundang ketika membutuhkan dokumentasi.

Setelah itu?Kembali ke tempat masing-masing.

Padahal anak muda tidak selalu membutuhkan undangan untuk datang ke sebuah acara, duduk, makan, berfoto, lalu pulang membawa sertifikat atau dokumentasi.

Sebagian dari mereka mungkin jauh lebih bergairah jika ditawarkan program yang berkelanjutan (sustainable), ruang kolaborasi yang konkret, kesempatan untuk mengembangkan kapasitas, atau bahkan proyek yang memungkinkan gagasan mereka benar-benar diuji dan memberikan dampak.

Sebab pembangunan kepemudaan semestinya tidak berhenti pada seremonialisme partisipasi hadir, membaca teks, berfoto, lalu selesai.

Kalau memang serius ingin membangun ekosistem anak muda, mungkin yang perlu diperbanyak bukan panggung seremoni, tetapi akses terhadap program, pendidikan, beasiswa, lapangan kerja, pengembangan kapasitas, ruang berkarya, dan kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan.

Sebab tidak semua anak muda ingin menjadi tamu undangan,Sebagian hanya ingin diberikan kesempatan,Tidak semua ingin dipanggil untuk membaca teks,Sebagian ingin diberikan ruang untuk menulis gagasannya sendiri,Dan tidak semua membutuhkan kursi di acara seremonial.

Sebagian hanya ingin haknya sebagai generasi yang juga memiliki kepentingan atas masa depan tanah kelahirannya diakui secara layak.

Bahkan mungkin ada yang tidak membutuhkan bantuan dalam bentuk materi. Mereka hanya membutuhkan akses, kepercayaan, dan ruang untuk membuktikan kapasitasnya.

Karena terkadang yang membunuh potensi bukanlah ketidakmampuan seseorang, tetapi tidak pernah diberikannya kesempatan untuk mencoba.

Maka, jika kita benar-benar ingin berbicara tentang kemerdekaan, barangkali kita perlu mulai dari hal yang paling sederhana,memberikan kesempatan secara lebih adil.

Jangan sampai setiap tahun kita merayakan kemerdekaan dengan begitu meriah, tetapi dalam kehidupan sosial kita masih memelihara praktik yang membuat sebagian orang harus berjalan lebih jauh hanya untuk mendapatkan hak yang sama.

Jangan sampai kita begitu fasih berbicara tentang “Indonesia maju”, tetapi di tingkat lokal masih sulit memberikan ruang kepada mereka yang berbeda pandangan.

Dan jangan sampai slogan tentang pemuda sebagai “generasi penerus” hanya menjadi kalimat dekoratif di spanduk-spanduk kegiatan, sementara dalam praktiknya mereka hanya diposisikan sebagai generasi yang menunggu giliran.

Karena jika setiap kesempatan selalu berputar pada orang yang sama, jangan heran jika yang tumbuh bukan ekosistem kepemudaan, melainkan “ekosistem pertemanan yang kebetulan memiliki akses ke kekuasaan”

Dan kalau itu yang disebut representasi anak muda, mungkin yang perlu direpresentasikan bukan lagi anak mudanya—melainkan **kemapanan lingkarannya.**

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling sering tampil di panggung.

Tetapi “berapa banyak anak muda potensial yang belum pernah diberikan panggung?”

Bukan siapa yang paling dekat dengan kekuasaan.

Tetapi”berapa banyak gagasan yang belum pernah sampai kepada mereka yang memiliki kewenangan?”

Dan bukan siapa yang paling sering mendapatkan kesempatan.

Tetapi “apakah kesempatan itu sudah diberikan secara adil kepada mereka yang memang memiliki kapasitas untuk mengerjakannya,Sebab tanah kelahiran ini terlalu luas untuk hanya dikelola oleh lingkaran yang itu-itu saja.Dan masa depan Maros terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada mereka yang kebetulan memiliki akses.Mungkin sudah waktunya gerbong diperbanyak,Pintunya dibuka,Dan kursinya tidak lagi hanya untuk mereka yang sudah dikenal.Karena kami tidak sedang meminta untuk selalu berada di depan.

Pemuda hanya meminta agar jangan terus-menerus ditempatkan di belakang hanya karena tidak berada di dalam lingkaran yang sama.

Penulis: Guntur Rafsanjani (@tabiat.kelana_id)Aktivis Literasi, Penulis & Pegiat Lingkungan.

  • Penulis: Hardiansyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ikhlas Boleh, Lapar Jangan

    Ikhlas Boleh, Lapar Jangan

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Di republik ini, guru dan dosen punya gelar kehormatan yang sangat sakral: “pahlawan tanpa tanda jasa.” Setiap kali kalimat itu diucapkan, hadirin biasanya mengangguk khidmat. Tapi kalau direnungi ala santri pesantren, ada pertanyaan kecil yang suka muncul di sela-sela ngopi: “Tanpa tanda jasa itu maksudnya tanpa piagam atau tanpa angka di slip gaji?” Humor Nahdlatul […]

  • Polda Kalsel Bongkar Jaringan Pemalsu STNK dan BPKB, Enam Tersangka Ditangkap

    Polda Kalsel Bongkar Jaringan Pemalsu STNK dan BPKB, Enam Tersangka Ditangkap

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 264
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kalimantan Selatan menggelar konferensi pers terkait pengungkapan kasus jaringan pemalsuan dokumen kendaraan bermotor, Kamis (19/2/2026) pagi. Kegiatan berlangsung di Lobby Mapolda Kalsel, Banjarbaru, dipimpin langsung Kapolda Kalsel didampingi Irwasda, Dir Reskrimum, Dir Lantas, dan Kabid Humas. Kabid Humas Polda Kalsel, Adam Erwindi, menyampaikan bahwa Kapolda Kalsel, Rosyanto […]

  • Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Di antara para sahabat, nama-nama seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib sering dipersepsikan sebagai simbol keberanian, ketegasan, dan kekuatan fisik. Mereka menjadi rujukan bagi banyak generasi sebagai contoh keberanian yang luar biasa. Namun, di balik nama-nama besar itu, terdapat seorang sahabat yang jarang disebut, tetapi memiliki kekuatan fisik dan pengabdian yang tidak […]

  • Jejak Gus Dur di Pambusuang

    Jejak Gus Dur di Pambusuang

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 303
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Polewali Mandar — Ketua Lesbumi NU Sulbar, Ahmad Zaki, mengatakan bahwa jejak Gus Dur di Pambusuang dapat ditelusuri melalui program Bina Desa. Gus Dur tidak hanya menjalin persahabatan dengan tokoh agama, pemuda, dan masyarakat di Pambusuang, tetapi juga aktif mendorong pendampingan bagi warga setempat. Sejumlah nama yang dikenal akrab dengan Gus Dur antara lain […]

  • Dugaan Kelalaian Medis RS Multazam Disorot, DPRD dan Dinkes Minta Perbaikan Layanan

    Dugaan Kelalaian Medis RS Multazam Disorot, DPRD dan Dinkes Minta Perbaikan Layanan

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 162
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Dugaan kelalaian medis di Rumah Sakit (RS) Multazam Gorontalo menjadi perhatian publik setelah terungkap adanya perubahan metode persalinan dari yang semula direncanakan menggunakan Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) menjadi operasi caesar konvensional tanpa persetujuan pasien. Pihak RS Multazam mengakui adanya perubahan metode tindakan medis tersebut. Namun hingga kini, belum terdapat sanksi hukum […]

  • Sinergi Penguatan SDM Pertanian, Kemnaker RI Isi Talkshow Launching Agrinext Center KOPRI PB PMII

    Sinergi Penguatan SDM Pertanian, Kemnaker RI Isi Talkshow Launching Agrinext Center KOPRI PB PMII

    • calendar_month Sabtu, 28 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Dalam upaya mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian dan pangan, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) turut hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Launching & Talkshow Agrinext Center yang diselenggarakan oleh Bidang Pertanian dan Pangan KOPRI PB PMII. Agenda kolaborasi diselenggarakan di perpustakaan Nasional RI, 20 Juni 2025. Kegiatan bertema “Akselerasi Peran Petani […]

expand_less