Maros dan Kemerdekaan yang Belum Selesai
- account_circle Hardiansyah
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 15
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nulondalo.com–Maros,Seiring waktu berjalan, setidaknya berdasarkan pengamatan dari sebuah kelompok kecil, ada satu fenomena yang semakin sulit untuk tidak diperhatikan: pada berbagai agenda besar, sosok-sosok yang dimunculkan cenderung itu-itu saja.
Padahal, jika kita berbicara dalam perspektif pembangunan kepemudaan, Maros memiliki cukup banyak anak muda potensial dengan kapasitas, kompetensi, gagasan, serta pengalaman yang beragam,Mereka ada,Mereka bergerak,Mereka berkarya,Hanya saja, tidak semuanya berada di dalam “gerbong” yang sama.
Pertanyaannya kemudian sederhana, apakah ruang partisipasi publik memang terbuka secara proporsional, atau justru masih bekerja berdasarkan pola reproduksi sosial yang membuat nama-nama tertentu terus mendapatkan akses, sementara yang lainnya sekadar menjadi penonton?
Mungkin memang tidak perlu mendapatkan undangan khusus untuk sekadar hadir mengisi acara, membaca teks Proklamasi, membacakan Sumpah Pemuda, atau menjadi pelengkap seremoni lainnya.
Sebab,tentu saja,kapasitas anak muda tidak seharusnya diukur dari seberapa sering namanya muncul di panggung pemerintahan.
Atau jangan-jangan, persoalannya masih berada pada paradigma lama:“Inimo dipake, inimo kak, karna adek-adekku ini.” Entah apa istilah akademis yang tepat untuk praktik semacam itu. Mungkin bisa disebut sebagai patronase, eksklusivitas jejaring, reproduksi kekuasaan atau sederhananya: kalau bukan orang dalam, ya jangan terlalu berharap masuk dalam lingkaran.
Ironisnya, di dalam gerbong kecil kami, sebenarnya terdapat banyak aspirasi yang ingin disampaikan. Bahkan lebih dari sekadar menyampaikan kritik, banyak dari kami yang ingin terlibat langsung membantu pemerintah melalui gagasan, inovasi, program, maupun kerja-kerja kolaboratif.
Namun dari berbagai diskusi yang kami lakukan, persoalan yang berulang justru berada pada akses partisipasi. Tidak semua anak muda memiliki kanal yang cukup untuk menyampaikan gagasan. Tidak semua memiliki “orang” yang dapat membuka pintu. Dan pada akhirnya, ketika representasi anak muda selalu diisi oleh wajah yang relatif sama, inovasi pun berpotensi mengalami stagnasi karena perspektif yang digunakan terus berputar pada lingkaran yang sama.
Padahal, berbicara tentang pembangunan daerah seharusnya tidak hanya berbicara tentang pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau capaian administratif. Ada pula pembangunan manusia yang mencakup kesetaraan kesempatan, akses terhadap pendidikan, pekerjaan, ruang berekspresi, serta partisipasi dalam pengambilan keputusan publik.
Di titik inilah persoalan hak menjadi penting untuk dibicarakan.
Sebab setiap anak muda, terlepas dari apakah ia berada dalam organisasi tertentu, memiliki kedekatan dengan pejabat, atau mempunyai akses terhadap ruang-ruang kekuasaan, pada dasarnya memiliki hak yang sama untuk berkembang dan berkontribusi terhadap daerahnya.
Kemerdekaan pun semestinya dimaknai lebih jauh daripada sekadar upacara dan pembacaan teks Proklamasi.
Kemerdekaan berarti terbebas dari ketakutan untuk menyampaikan gagasan. Merdeka untuk berbeda pendapat. Merdeka untuk mengkritik. Merdeka untuk menawarkan solusi. Merdeka untuk mendapatkan kesempatan berdasarkan kapasitas, bukan semata-mata berdasarkan kedekatan.
Karena jika akses terhadap kesempatan hanya berputar di antara kelompok yang sama, maka secara sosial kita sedang menciptakan bentuk eksklusivitas struktural, Tidak ada pagar yang terlihat, tetapi ada batas yang terasa.
Tidak ada yang secara terang-terangan mengatakan bahwa seseorang tidak boleh masuk. Tetapi mekanisme sosialnya membuat sebagian orang akhirnya memahami sendiri bahwa mereka bukan bagian dari lingkaran tersebut.
Dan yang lebih mengkhawatirkan, ketika praktik semacam ini berlangsung terus-menerus, ia dapat mengalami proses normalisasi sosial. Sesuatu yang pada awalnya dianggap tidak adil perlahan dianggap biasa. Sesuatu yang seharusnya dipertanyakan akhirnya diterima sebagai tradisi.
Lalu kita mulai terbiasa dengan kalimat “Memang dari dulu begitu.”
Padahal, tidak semua yang berlangsung lama layak disebut sebagai sesuatu yang benar.
Sebagian mungkin hanya kebiasaan yang belum pernah berani dievaluasi.
Anak muda kemudian hanya menjadi penting ketika diperlukan untuk memenuhi sebuah agenda. Dipanggil ketika pemerintah membutuhkan massa. Dilibatkan ketika membutuhkan peserta. Diminta tampil ketika membutuhkan representasi. Diundang ketika membutuhkan dokumentasi.
Setelah itu?Kembali ke tempat masing-masing.
Padahal anak muda tidak selalu membutuhkan undangan untuk datang ke sebuah acara, duduk, makan, berfoto, lalu pulang membawa sertifikat atau dokumentasi.
Sebagian dari mereka mungkin jauh lebih bergairah jika ditawarkan program yang berkelanjutan (sustainable), ruang kolaborasi yang konkret, kesempatan untuk mengembangkan kapasitas, atau bahkan proyek yang memungkinkan gagasan mereka benar-benar diuji dan memberikan dampak.
Sebab pembangunan kepemudaan semestinya tidak berhenti pada seremonialisme partisipasi hadir, membaca teks, berfoto, lalu selesai.
Kalau memang serius ingin membangun ekosistem anak muda, mungkin yang perlu diperbanyak bukan panggung seremoni, tetapi akses terhadap program, pendidikan, beasiswa, lapangan kerja, pengembangan kapasitas, ruang berkarya, dan kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan.
Sebab tidak semua anak muda ingin menjadi tamu undangan,Sebagian hanya ingin diberikan kesempatan,Tidak semua ingin dipanggil untuk membaca teks,Sebagian ingin diberikan ruang untuk menulis gagasannya sendiri,Dan tidak semua membutuhkan kursi di acara seremonial.
Sebagian hanya ingin haknya sebagai generasi yang juga memiliki kepentingan atas masa depan tanah kelahirannya diakui secara layak.
Bahkan mungkin ada yang tidak membutuhkan bantuan dalam bentuk materi. Mereka hanya membutuhkan akses, kepercayaan, dan ruang untuk membuktikan kapasitasnya.
Karena terkadang yang membunuh potensi bukanlah ketidakmampuan seseorang, tetapi tidak pernah diberikannya kesempatan untuk mencoba.
Maka, jika kita benar-benar ingin berbicara tentang kemerdekaan, barangkali kita perlu mulai dari hal yang paling sederhana,memberikan kesempatan secara lebih adil.
Jangan sampai setiap tahun kita merayakan kemerdekaan dengan begitu meriah, tetapi dalam kehidupan sosial kita masih memelihara praktik yang membuat sebagian orang harus berjalan lebih jauh hanya untuk mendapatkan hak yang sama.
Jangan sampai kita begitu fasih berbicara tentang “Indonesia maju”, tetapi di tingkat lokal masih sulit memberikan ruang kepada mereka yang berbeda pandangan.
Dan jangan sampai slogan tentang pemuda sebagai “generasi penerus” hanya menjadi kalimat dekoratif di spanduk-spanduk kegiatan, sementara dalam praktiknya mereka hanya diposisikan sebagai generasi yang menunggu giliran.
Karena jika setiap kesempatan selalu berputar pada orang yang sama, jangan heran jika yang tumbuh bukan ekosistem kepemudaan, melainkan “ekosistem pertemanan yang kebetulan memiliki akses ke kekuasaan”
Dan kalau itu yang disebut representasi anak muda, mungkin yang perlu direpresentasikan bukan lagi anak mudanya—melainkan **kemapanan lingkarannya.**
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling sering tampil di panggung.
Tetapi “berapa banyak anak muda potensial yang belum pernah diberikan panggung?”
Bukan siapa yang paling dekat dengan kekuasaan.
Tetapi”berapa banyak gagasan yang belum pernah sampai kepada mereka yang memiliki kewenangan?”
Dan bukan siapa yang paling sering mendapatkan kesempatan.
Tetapi “apakah kesempatan itu sudah diberikan secara adil kepada mereka yang memang memiliki kapasitas untuk mengerjakannya,Sebab tanah kelahiran ini terlalu luas untuk hanya dikelola oleh lingkaran yang itu-itu saja.Dan masa depan Maros terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada mereka yang kebetulan memiliki akses.Mungkin sudah waktunya gerbong diperbanyak,Pintunya dibuka,Dan kursinya tidak lagi hanya untuk mereka yang sudah dikenal.Karena kami tidak sedang meminta untuk selalu berada di depan.
Pemuda hanya meminta agar jangan terus-menerus ditempatkan di belakang hanya karena tidak berada di dalam lingkaran yang sama.
Penulis: Guntur Rafsanjani (@tabiat.kelana_id)Aktivis Literasi, Penulis & Pegiat Lingkungan.
- Penulis: Hardiansyah

Saat ini belum ada komentar