Konferensi Ulama Dunia di Istanbul Bahas Persatuan Umat Islam dan Penguatan Kerja Sama
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 13
- print Cetak

Suasana Konferensi Persatuan Ulama Muslim Dunia di Istanbul, Turki, 28–30 Oktober 2026. Para ulama, pemikir, dan delegasi dari berbagai negara mengikuti forum ilmiah yang membahas penguatan persatuan umat Islam dan penyusunan Piagam Umat Wasathiyah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NULONDALO.COM, TURKI – Konferensi yang diselenggarakan di Pulau Demokrasi dan Kebebasan, Istanbul, Turki, pada 28–30 Oktober 2026, diikuti oleh sejumlah ulama, pemikir, dan tokoh Islam dari lebih dari 30 negara.
Pada hari pertama, konferensi diisi dengan diskusi ilmiah dan pemikiran yang berfokus pada upaya memperkuat persatuan umat Islam, mengatasi faktor-faktor perpecahan dan perbedaan, serta mengembangkan nilai-nilai bersama menjadi program kerja sama dan integrasi yang konkret.
Sesi ilmiah pertama dipimpin oleh Prof. Dr. Abdul Majid Al-Najjar, Wakil Ketua Persatuan Ulama Muslim Dunia (International Union of Muslim Scholars/IUMS), dengan Syekh Abu Jarrah Sultani sebagai sekretaris sesi.
Sesi tersebut membahas rancangan “Piagam Umat Wasathiyah: Prinsip-Prinsip Tetap dan Perubahan” melalui penelaahan catatan ilmiah dan usulan pengembangan, identifikasi faktor-faktor penyebab perpecahan, serta persiapan untuk menyempurnakan dokumen dan membentuk komite perumus naskah final.
Sejumlah ulama, peneliti, dan perwakilan lembaga Islam turut menyampaikan pandangan. Di antaranya Marwan Al-Faouri, Prof. Dr. Ibrahim Karouri, Syekh Abdullah Al-Lam, dan Syekh Hammam Said, yang menyampaikan catatan kritis serta gagasan pengembangan terhadap rancangan piagam tersebut.
Pembahasan juga menyoroti mekanisme kerja sama dan integrasi antargerakan Islam. Topik ini mencakup pemikiran Syekh Haji Badli Shah Sham bin Bahrain serta pandangan Dr. Muhammad Rafiq Muzakkar mengenai Islam sebagai agama yang mendorong kemajuan dan menjadi landasan persatuan.
Selain itu, Syekh Abdullah Al-Faruq mengemukakan pentingnya persatuan pemikiran sebagai fondasi persatuan umat. Syekh Abdulai Nias membahas peran ulama dan intelektual dalam mewujudkan persatuan, sementara Syekh Abdullah Aniq Nawawi turut menyampaikan pandangan dan usulan terkait rancangan piagam tersebut.
Persatuan Umat: Antara Kebutuhan dan Realitas
Sesi ilmiah kedua dipimpin oleh Prof. Dr. Essam Al-Bashir. Diskusi beralih pada persoalan persatuan umat Islam, baik dari sisi landasan pemikiran maupun tantangan dalam realitas kehidupan, termasuk upaya mengatasi perpecahan serta memperkuat kerja sama dan integrasi di antara berbagai komponen umat.
Sejumlah pokok bahasan dikaji dalam sesi ini. Prof. Dr. Abdul Majid Al-Najjar membahas persatuan pemikiran sebagai dasar persatuan umat. Sementara itu, Syekh Prof. Dr. Ali Muhyiddin Al-Qaradaghi memaparkan perspektif “Fikih Keseimbangan” (Fiqh al-Mizan) sebagai peta jalan untuk mengatasi perpecahan dan perbedaan.
Dr. Wanes Al-Mabrouk mengulas faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran umat Islam serta kaitannya dengan persoalan persatuan. Adapun Dr. Muhammad Al-Fiqi membahas mekanisme kerja sama dan integrasi antargerakan Islam.
Sesi tersebut juga membuka ruang diskusi bagi para peserta untuk bertukar pandangan mengenai rancangan Piagam Umat Wasathiyah. Berbagai catatan dan usulan disampaikan untuk memperkaya substansi dokumen sekaligus memperbesar peluang penerapannya sebagai program nyata yang mampu menyatukan langkah dan memperkuat kolaborasi di kalangan umat Islam.
Dialog Ilmiah untuk Memperkuat Persamaan
Di luar sesi-sesi ilmiah, para ulama terus menyampaikan pandangan dan pemikiran mengenai pentingnya persatuan. Mereka menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai bersama umat Islam, sekaligus mengkaji peluang kerja sama untuk mengatasi faktor-faktor perpecahan dan perbedaan.
Pertemuan dan dialog yang mempertemukan para ulama serta pemikir Muslim juga mencerminkan semangat komunikasi dan pertukaran gagasan. Interaksi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun jembatan kerja sama dan memperkuat kedekatan di antara berbagai elemen umat Islam.
Rangkaian diskusi ini merupakan bagian dari upaya konferensi untuk menyempurnakan sebuah piagam bersama yang berlandaskan prinsip-prinsip fundamental umat, sekaligus mampu merespons perubahan zaman.
Piagam tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama dan integrasi di antara ulama, lembaga, dan gerakan Islam. Dengan demikian, upaya menjaga persatuan umat tidak berhenti pada penegasan nilai-nilai bersama, tetapi berlanjut pada perumusan gagasan, kebijakan, dan program konkret untuk mewujudkannya.
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji
- Sumber: https://iumsonline.org/archives/145344

Saat ini belum ada komentar