Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Senja di Panti Waluya: Luka Anak Bangsa dan Rumah bagi Mereka yang Pernah Dibuang

  • account_circle Suaib Prawono
  • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
  • visibility 224
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Siang itu, Jakarta enggan berkompromi. Matahari menyengat tanpa ampun, membakar aspal dan menyilaukan pandangan. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, rombongan peserta Temu Nasional Gusdurian 2025 melangkah pelan, menyusuri lorong-lorong sejarah yang tak tercatat dalam buku pelajaran.

Peserta TUNAS GUSDURian 2025 saat berpose bersama di depan panti Panti Jompo Waluya Sejati Abadi

Tujuan mereka bukan gedung megah atau aula ber-AC, melainkan sebuah bangunan sederhana di Jalan Kramat V Jakarta Pusat: Panti Jompo Waluya Sejati Abadi. Bangunan itu berdiri tenang, nyaris tak mencolok. Namun di balik dindingnya, tersimpan luka-luka anak bangsa yang belum sepenuhnya sembuh.

Di sana, sekitar lima 15 lansia menjalani hari-hari senja mereka. Mereka bukan sekadar penghuni panti, tetapi saksi hidup dari babak tergelap republik ini: korban politik 1965, yang pernah disingkirkan tanpa proses hukum, tanpa pembelaan, tanpa suara.

Pak Wardoyo, salah seorang penghuni, menyambut rombongan dengan senyum yang tak lagi menyimpan dendam. Pria kelahiran 1940 ini pernah ditahan selama sebelas tahun di Pulau Buru. Di hadapan para pengunjung, ia menuturkan kisah pilunya kehilangan keluarga yang membuatnya nyaris kehilangan harapan.

Namun di usia senja, ia memilih berdamai dengan masa lalunya yang kelam. “Kami dianggap sampah, tapi kami tetap ingin hidup, meski sebagai sampah. Karena suatu saat, sampah bisa jadi emas,” katanya lirih namun penuh makna.

Wardoyo bukan satu-satunya. Ada Pak Iksa Putra Tegu Budi, yang di usia sepuluh tahun dibuang ke Pulau Buru bersama delapan adiknya. Putra pendiri Semen Gresik ini dipaksa menyusul ayahnya yang lebih dulu menjadi tahanan politik.

Di pulau itu, ia hidup dengan jatah makan hanya 10 kilogram beras. Ketika meminta tambahan singkong, ia justru disiksa tentara karena ketahuan makan singkong. “Gigi saya rempong, gara-gara itu,” ujarnya sambil tersenyum getir.

Ada pula Pak Lukas Timuso, penyintas yang berjasa menyelamatkan naskah Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Kala itu, naskah masih ditulis di kertas semen. Lukas menyelundupkan lembar demi lembar agar sejarah tetap hidup.

Menurut pengakuan mereka, para penghuni panti bukanlah pejuang ideologi. Mereka adalah korban dari perang dingin dan kebiadaban politik yang tak mengenal belas kasihan. Sebagian besar dulunya adalah wartawan, guru, dan warga biasa yang menjalani hidup dengan damai yang kemudian dituduh sebagai anggota Gerwani.

Padahal mereka hanya mendukung Soekarno, bukan komunisme. Tapi sejarah tak memberi ruang untuk klarifikasi. Mungkin karena itu, bagi mereka, panti ini bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang pemulihan, tempat kenangan dirawat dan luka-luka dijahit dengan benang solidaritas.

Di balik kelahirannya, terdapat nama besar KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia meresmikan panti ini pada 8 Februari 2004. Kendati saat itu kondisi kesehatan Gus Dur sudah mulai menurun, namun semangat kemanusiaannya tetap menyala. Ia datang sendiri, tanpa protokol, tanpa sorotan kamera. Hanya membawa satu hal: cinta pada keadilan.

Pembangunan panti bermula dari keluhan Ibu Sulami Djojoprawiro, tokoh Gerwani, kepada Gus Dur. Ia ingin tempat berkumpul bagi perempuan korban 65 dan korban politik lainnya. Gus Dur menyanggupi, mengusahakan hibah tanah atas bantuan bapak Taufiq Kiemas dan lahirlah panti ini. Dan dari sinilah sejarah yang dibungkam mulai berbicara kembali, lirih, namun tegas.

Kini, para penghuni panti tak lagi memperjuangkan ideologi. Mereka memperjuangkan hidup. Mereka menolak dendam, memilih rekonsiliasi. “Rekonsiliasi hanya bisa terjadi jika ada keterbukaan dan dendam ditiadakan,” ujar salah satu penghuni.

Panti Jompo Waluya Sejati Abadi adalah monumen hidup. Ia tidak hanya berdiri dari batu dan semen, tetapi juga dari keberanian, ketabahan, dan harapan. Di sana, luka anak bangsa tak lagi disembunyikan. Ia dituturkan, dirawat, dan dijadikan pelajaran agar generasi mendatang tak mengulang kekeliruan yang sama.

  • Penulis: Suaib Prawono
  • Editor: Suaib Prawono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Islam Nusantara dan Sisik Melik Halal bi Halal

    Islam Nusantara dan Sisik Melik Halal bi Halal

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Suatu ketika, kala isu Islam Nusantara sedang hangat-hangatnya, salah seorang perundungnya menyerang dengan sengit wacana ini. Kalimatnya menyengat dan pertanyaan-pertanyaannya nyelekit.  Salah satu kalimat dari perundung itu bunyinya begini: “seharusnya para pendukung Islam Nusantara, memboikot Arab, kan Islamnya bukan Islam dari Arab, tetapi Islam Nusantara.” Tentu saja ini pernyataan serampangan, sebab Islam Nusantara sebagai sebuah diskursus […]

  • Khutbah Jumat : Pasca-Ramadhan, Antara Kesalehan Musiman dan Kesadaran Spiritual

    Khutbah Jumat : Pasca-Ramadhan, Antara Kesalehan Musiman dan Kesadaran Spiritual

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 315
    • 0Komentar

    Ramadhan seringkali kita rayakan sebagai puncak kesalehan. Masjid penuh, doa mengalir, dan air mata menjadi mudah menetes. Namun, pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri kita adalah: apakah semua itu bertahan? Ataukah ia sekedar kesalehan musiman? Tulisan khutbah ini tidak hendak meromantisasi Ramadhan, tetapi justru menggugat secara halus: jangan-jangan yang kita alami hanyalah kesalehan yang […]

  • Udara Sulsel Memburuk, WALHI Desak Prabowo Hentikan Karhutla

    Udara Sulsel Memburuk, WALHI Desak Prabowo Hentikan Karhutla

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Makassar – Kualitas udara di Sulawesi Selatan memburuk dalam beberapa hari terakhir seiring meluasnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Asap yang terbawa angin hingga ke Sulawesi Selatan tidak hanya menurunkan kualitas lingkungan, tetapi juga  mengancam kesehatan masyarakat. “Sebagai kepala negara, kami mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk segera menghentikan karhutla […]

  • Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 567
    • 0Komentar

    Pasca Eid al-Fitr, saya mendapati satu pemandangan yang hampir selalu berulang setiap tahun, orang-orang bergerak menuju tempat-tempat ziarah. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berombongan dengan tetangga, ada pula yang menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk singgah sebentar, membaca doa, lalu pulang. Salah satu titik yang paling ramai adalah kawasan Masjid Nuruttaubah Imam Lapeo. […]

  • Gus Ipul Tegas! 2.708 Pegawai Kemensos Bolos Disanksi, 1 ASN Dipecat

    Gus Ipul Tegas! 2.708 Pegawai Kemensos Bolos Disanksi, 1 ASN Dipecat

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 360
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Langkah tegas diambil Menteri Sosial Saifullah Yusuf saat memimpin apel pembinaan pegawai pada Kamis (26/3/2026). Apel ini menjadi tindak lanjut dari inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan pada hari pertama masuk kerja. Dari hasil evaluasi, terungkap angka ketidakhadiran yang cukup mencolok. Dari total 46.090 pegawai Kemensos, sebanyak 2.708 orang tidak masuk kerja tanpa keterangan […]

  • Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 305
    • 0Komentar

    Pagi 31 Januari 2026, saat saya sedang mengikuti sertifikasi dai yang diselenggarakan PB DDI di Hotel UIN Alauddin Makassar, kabar duka itu datang tiba-tiba: Bapak Salim S. Mengga mengembuskan napas terakhir setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit di Makassar. Informasi itu saya baca lewat grup WhatsApp. Kaget, saya terdiam sejenak, menundukkan kepala, lalu membacakan […]

expand_less