Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jemaat Ahmadiyah dan Ilusi Negeri Moderasi Beragama

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
  • visibility 130
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Aneh bin ajaib. Kira-kira itu paling tepat untuk ditegaskan bagi bangsa yang katanya negeri penuh toleransi. Semua agama (6 agama), aliran kepercayaan dan pandangan keyakinan ada di negeri ini, beragam suku bangsa merupakan aneka kekayaan bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain di seantero dunia.

Tapi sayangnya toleransi yang terbangun dalam diri sebagian masyarakat Muslim Indonesia adalah toleransi semu (pseudo tolerance). Hal itu bisa dibuktikan dimana-mana. Namun, tulisan ini akan lebih menyentil soal kasus diskriminasi atas jemaat Ahmadiyah di negeri ini.

Konsep moderasi beragama (MB) yang digagas oleh kementrian agama hanya sekedar proyek tahunan yang bisa berubah arah dan gerakan di masa-masa mendatang tergantung siapa pemimpin negeri ini. Sebuah konsep yang tidak menunjukan totalitas pendampingan dan pembelaan terhadap kelompok minoritas (internal).

Moderasi Beragama tidak memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang paradigmatik dan orientatif. Jika bisa disimpulkan, moderasi beragama adalah produk yang gagal jika mencermati beragam bentuk aksi diskriminasi dan penolakan terhadap keberadaan Jemaat Ahmadiyah di Indonesia.

Dalam siaran pers SETARA institute yang dirilis pada tanggal 4 Februari 2023 yang menyatakan “Diskriminasi atas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) kembali mengalami eskalasi di beberapa tempat; di Kabupaten Sintang (Kalimantan Barat), Parakansalak Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat), dan Kabupaten Gowa (Sulawesi Selatan).

Pada tanggal 26 Januari 2023, Forkopimda Sintang menerbitkan kesepakatan yang meminta Pemerintah Kabupaten Sintang agar menerbitkan Surat Edaran Bupati yang melarang kegiatan-kegiatan Ahmadiyah. Sementara, pada tanggal 2 Februari 2023, Forkopimda Sukabumi menyatakan akan menghentikan pembangunan dan menyegel tempat ibadah Ahmadiyah di Parakansalak.

Di tanggal yang sama, terpantau spanduk-spanduk penolakan kegiatan Ahmadiyah di beberapa titik di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.”

Jelas ini sungguh mengusik ketidakadilan yang dilakukan oleh oknum Forkopimda yang juga bagian dari pemerintah yang seharusnya memberikan perlindungan bagi rakyatnya, sebagaimana yang diperintahkan oleh Undang-Undang Dasar 1945, terutama Pasal 28E ayat (1) dan (2) serta Pasal 29 ayat (2).

Amanat presiden RI dalam sidang raya ke-9 GPDI di stadion Klabat Manado yang menegaskan tentang kebebasan beralih agama dan keyakinan serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha esa. Belum lagi  penegasan Presiden R.I di depan sidang DPR, 15 Agustus 1974 yang menegaskan tentang pentingnya tenggang rasa dan tidak saling mengancam dan menakuti. (Baca: Kami Orang Islam, 2007, yang dikeluarkan oleh PB JAI).

Jama’at Ahmadiyah sudah berdiri sejak tahun 1925 di negeri ini yang diakui sebagai Badan Hukum oleh pemerintah sejak tahun 1953, cq menteri kehakiman RI tahun 1953. Oleh karena itu, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (termasuk Forkopimda) termasuk masyarakat harus proaktif melindungi dan menjamin hak konstitusional bagi warga jemaat Ahmadiyah, alih-alih merestriksi dan mendiskriminasi mereka.

Perlu ditegaskan bahwa, negeri ini sudah sangat dewasa dalam melihat keberagaman atau perbedaan, namun yang sangat disesalkan adalah ketidakdewasaan sebagian warga masyarakatnya yang masih melakukan aksi kekerasan dan diskriminasi bagi jemaat Ahmadiyah. Apa kesalahan mereka, kalau mereka sesat tunjukan kesesatan itu dalam bidang aqidah?  Atau jangan-jangan karena negeri ini masih sangat sedikit kesadaran literasinya sehingga seringkali narasi yang dituduhkan kepada Ahmadiyah  dalam bentuk stigma negatif yang tidak jelas argumentasinya.

Alih-alih mengaku Muslim mayoritas, tapi keluhuran pekertinya (akhlaknya) masih jauh dari apa yang diinginkan oleh al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Nabi saja tidak pernah menyakiti siapapun termasuk mereka yang kafir, kita justru yang bukan apa-apa (bukan Nabi dan Malaikat) yang belum tentu masuk surga, tapi sombongnya melebihi kesombongan sang Pencipta (Allah swt).

Bukankah warga Ahmadiyah adalah manusia ciptaan Tuhan, lantas mengapa kita sewenang-wenang dan tiada henti-hentinya melakukan diskriminasi, aksi sweeping, penolakan, pemurtadan, persekusi bahkan kriminalisasi kepada sesama saudara Muslim? Inilah mungkin yang patut direnungkan oleh kita bersama. Bangsa ini bukan Negara agama walaupun mayoritas penganutnya adalah Muslim.

Negara ini adalah Negara yang berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dimana semua penduduknya diakui dihadapan hukum dan bebas berekspresi dalam hal keyakinan, kepercayaan dan pandangan.

Pertanyaan mendasar yang perlu dilontarkan mengenai jama’at Ahmadiyah adalah apakah jama’at Ahmadiyah pernah melakukan aksi kekerasan sejak kehadirannya di bumi Indonesia? apakah Ahmadiyah tidak mengakui Pancasila dan UUD 1945? Apakah Ahmadiyah menolak Pancasila sebagai asas Tunggal? apakah Ahmadiyah pernah menyuarakan pendirian Negara Islam di negeri ini? Apakah Ahmadiyah mengajarkan ajaran sesat yang dilarang oleh Kitab suci (al-Qur’an) dan Hadits Nabi? jika ada kesesatan, dimana bentuk kesesatan itu, dan apa saja ajaran Ahmadiyah yang sesat itu?, jika hanya karena fatwa atau pendapat mereka yang dianggap berbeda dengan yang lain, maka itu suatu hal yang wajar, karena perbedaan dalam Islam adalah sesuatu yang lumrah. Bukankah dalam Islam banyak Tafsir yang Multi Tafsir?

Di negeri ini, perbedaan pandangan dan ideologi merupakan suatu hal yang lumrah, sebagaimana Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang selalu berbeda dalam hal ibadah mahdhoh dan ghairu mahdhah. Bahkan pandangan politik dari kedua organisasi terbesar di negeri ini hampir seusia dengan sejarah Indonesia.

Belum lagi kehadiran Serikat Islam, Nahdlatul Wathon, Al-Irsyad, termasuk yang meresahkan banyak umat Islam adalah kehadiran kelompok Salafi-Wahabi yang perlu mendapatkan pengawasan dari pemerintah. Karena sering bikin gaduh dan masalah dalam masyarakat karena soal fatwa bid’ah dan kafir.

Keberadaan Salafi-Wahabi yang telah dilarang di negeri asalnya Arab Saudi, termasuk juga yang menjadi bagian terpenting dalam pelarangan Ahmadiyah di jazirah Arab. Jangan-jangan mereka (yang di negeri ini) yang melarang keberadaan Ahmadiyah adalah bagian dari kelompok ini yang sudah terkonfirmasi dihinggapi virus Wahabi.

Jelas ini tidak bisa diterima, keberadaan Ahmadiyah di Indonesia harus dilihat dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika. Kehadirannya sebagai sesuatu yang niscaya dan patut dihormati. Dalam suatu Mahzar Namah (memorandum) sebagai sebuah dokumen penting yang disampaikan oleh Jemaat Ahmadiyah pada komisi khusus dari parlemen Nasional Pakistan pada tahun 1974, dimana dalam memorandum tersebut dinyatakan bahwa para anggota jemaat  Ahmadiyah adalah Muslim dan tidak ada satu pengadilan di dunia ini yang memiliki otoritas untuk menentukan atau menetapkan agama setiap individu atau komunitas.

Eksposisi posisi jemaat Ahmadiyah yang disampaikan dalam Mahzar Namah-Memorandum yang diajukan oleh Pemimpin tertinggi Jemaat Ahmadiyah Hazrat Khalifatul Masih III r.a secara pribadi menjawab segala tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada ajaran-ajaran Ahmadiyah.

Semua pihak (pemerintah dan masyarakat) termasuk para pembenci jemaat Ahmadiyah harus dewasa dan sepenuh hati membaca dokumen-dokumen penting yang dimiliki oleh jemaat Ahmadiyah. Bukan justru merasa paling benar dengan pandangannya padahal tidak pernah membaca buku-buku yang ditulis langsung oleh Hadhrat MIrza Ghulam Ahmad.

Beberapa buku yang bisa dibaca agar tidak gagal paham soal Ahmadiyah misalnya Filsafat Ajaran Islam (1937), Syahadatul Quran (2019), Tiryaqul Qulub (2019), Haqiqatul Wahyu (2018), Inti Ajaran Islam (2017), Muhammad Menurut Mirza Ghulam Ahmad (2012), Memorandum (Mahzarnamah) Penjelasan Aqidah Jemaat Ahmadiyah di Hadapan Parlemen Nasional Pakistan (2013),  dan buku yang tipis sekitar 22 halaman yang berjudul Menghapus Satu Kesalahan (1978), dan yang terpenting adalah buku yang berjudul Kami Orang Islam (2007) yang disampaikan kepada Bangsa Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia.

Beberapa buku ini saya kira penting untuk dibaca dalam konteks memahami ruang gerak, pemikiran/pandangan, aqidah dan kecintaan mereka terhadap Nabi Besar Muhammad SAW.

Oleh: Dr. Samsi Pomalingo ,MA – (Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Suko Wahyudi
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan jeda dalam hiruk pikuk kehidupan publik. Ia bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga ruang refleksi kebangsaan. Dalam suasana menahan lapar dan dahaga, manusia diajak menata ulang relasinya dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Dalam konteks Indonesia hari ini, Ramadhan memberi kita cermin untuk membaca kondisi hukum dan politik yang tampak stabil, tetapi […]

  • Dari Masjid ke Lereng Bulusaraung: Doa Mengiringi Perjuangan Tim SAR Cari Korban ATR 42-500

    Dari Masjid ke Lereng Bulusaraung: Doa Mengiringi Perjuangan Tim SAR Cari Korban ATR 42-500

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, PANGKEP — Di tengah medan yang kejam dan cuaca yang sulit ditebak, perjuangan mencari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), tak hanya mengandalkan peralatan, strategi, dan ketangguhan fisik. Ada ikhtiar lain yang tak kalah penting: mengetuk langit lewat doa. Selasa (20/1/2026) usai Shalat Zuhur, tim SAR gabungan […]

  • Salat Id Lebih Awal di Depok, Warga Ikuti Rukyatul Hilal Global

    Salat Id Lebih Awal di Depok, Warga Ikuti Rukyatul Hilal Global

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 390
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sejumlah warga Muslim di Depok melaksanakan salat Idulfitri lebih awal pada Kamis (19/3/2026) pagi. Pelaksanaan ini dilakukan berdasarkan rujukan rukyatul hilal global yang dilaporkan terlihat di Afghanistan. Kegiatan salat Id tersebut berlangsung di lapangan terbuka di depan sebuah restoran dan diikuti oleh jamaah dalam jumlah terbatas. Momen ini juga sempat dibagikan melalui video […]

  • Korporasi Langit

    Korporasi Langit

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Ramadhan sering dianggap sebagai bulan spiritual, bulan ibadah, bulan diskon pahala. Namun jika kita meminjam kacamata akuntansi—yang biasanya sibuk menghitung debit, kredit, dan laporan keuangan—Ramadhan sebenarnya menyerupai sebuah perusahaan besar. Bukan perusahaan biasa, melainkan semacam holding company raksasa yang dalam bahasa jenaka bisa kita sebut sebagai “Korporasi Langit.” Dalam korporasi ini, manusia adalah para pemegang […]

  • McDonalisasi PMII…..!!!

    McDonalisasi PMII…..!!!

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Sahabat Senior: ente tahu tanggal 17 April torang akan merayakan HARLAH PMII? Sahabat Yunior: Jelas taulah (sambil tersenyum)…! PMII itu kan singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, ya? Ada apa senior? Sahabat Senior: Iya, butul! Harlah ini bukan hanya sekadar perayaan, tapi juga momen untuk refleksi atas perjuangan dan kontribusi PMII dalam pengembangan kader dan […]

  • Dadan Hindayana: Dari Akademisi dan Ahli Entomologi hingga Terseret Kasus Dugaan Korupsi Program MBG

    Dadan Hindayana: Dari Akademisi dan Ahli Entomologi hingga Terseret Kasus Dugaan Korupsi Program MBG

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 201
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Dadan Hindayana kembali menjadi sorotan publik setelah ditetapkan sebagai tersangka dpada perkara dugaan tindak pidana korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun jauh sebelum itu, Dadan dikenal sebagai akademisi dan pakar entomologi yang memiliki rekam jejak panjang di dunia pendidikan dan penelitian. Dadan Hindayana lahir di Garut, Jawa Barat, pada […]

expand_less