Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Alam adalah Ayat Makro Kosmos, Kitab Suci adalah Ayat Mikro Kosmos

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Minggu, 5 Okt 2025
  • visibility 152
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Penulis Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

Tulisan ini terinsiprasi dari sambutan Menteri Agama, Prof AGH Nazarudin Umar dalam acara peluncuran buku tafsir ayat-ayat ekologi: membangun kesadaran ekoteologis berbasis Alquran yang dilaksanakan di Gedung Bayt Alquran, TMII oleh LPMQ (Lajnah Pentashih Mushaf Quran).

Dalam epistemologi Islam, ayat bukan sekadar rangkaian kalimat dalam kitab suci. Ia berarti “tanda” kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu. Karena itu, Tuhan tidak hanya menulis satu jenis kitab, tetapi dua: kitab tertulis (kitāb masṭūr) dan kitab terbentang (kitāb manṣūr). Yang pertama hadir sebagai teks wahyu yang dapat dibaca dengan bahasa; yang kedua hadir sebagai semesta yang dapat dibaca dengan kesadaran. Keduanya bersumber dari Kalam Ilahi yang sama, hanya berbeda dalam medium penyingkapan.

Dalam pandangan para sufi seperti Ibn ‘Arabi, al-Ghazali, dan Jalaluddin Rumi, alam adalah tajalli—penyingkapan diri Tuhan yang terus berlangsung. Alam tidak diam; ia berbicara dengan bahasa sunyi, berzikir dalam ritme waktu, dan menampakkan keindahan Tuhan melalui harmoni ciptaannya. Kitab suci hadir untuk menuntun manusia membaca bahasa alam dengan makna yang benar, sementara alam menegaskan kebenaran kitab suci melalui realitas yang hidup. Inilah dua teks Ilahi yang saling menjelaskan, yang satu bersifat makro kosmos, yang lain mikro kosmos.

Namun modernitas sering memisahkan keduanya. Alam direduksi menjadi objek eksploitasi, kitab suci direduksi menjadi teks hukum. Pandangan ini melahirkan krisis spiritual dan krisis ekologis sekaligus—manusia kehilangan kesadaran akan kesucian ciptaan. Alam dipandang sebagai benda mati, bukan ayat yang bernyawa. Padahal, Al-Qur’an sendiri berulang kali menyeru: “Apakah kamu tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, langit bagaimana ditinggikan, dan bumi bagaimana dihamparkan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17–20). Seruan ini adalah ajakan untuk membaca alam sebagai teks teologis, bukan sekadar objek empiris.

Kesadaran seperti itu sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi lokal Nusantara. Dalam kosmologi Bugis-Makassar misalnya, percaya bahwa seluruh unsur alam memiliki ruh dan fungsi kosmik. Ritual sebelum menanam, melaut, atau menebang pohon bukan bentuk tahayul, melainkan ekspresi dari kesadaran teologis bahwa alam adalah bagian dari kehidupan spiritual manusia. Petani membaca tanda musim seperti menafsirkan ayat, nelayan menatap langit seperti membaca firman. Di sana, pengalaman religius melebur dalam etika ekologis.

Pandangan progressif yang melekat pada kebudayaan lokal ini menemukan relevansinya kembali dalam gerakan ekoteologi Kementerian Agama, melalui peluncuran buku tafsir ekoteolog—sebuah upaya spiritual dan kebijakan sosial untuk menghidupkan kembali kesadaran teologis terhadap alam. Melalui pendekatan program-program berbasis ekoteologi, Kementerian Agama menegaskan bahwa krisis lingkungan bukan hanya masalah ilmiah, melainkan masalah iman.

Kementerian Agama berupaya memulihkan kesadaran spiritual masyarakat terhadap bumi. Alam tidak lagi dipandang sebagai sumber daya yang habis pakai, melainkan sebagai mitra spiritual dalam perjalanan manusia mengenal Tuhan.

Pendekatan ini sejatinya adalah kebangkitan dimensi sufistik Islam di ruang kebijakan publik. Ia menegaskan kembali pandangan bahwa pengetahuan sejati bukan hanya hasil dari observasi empiris, melainkan juga musyahadah—penyaksian batin terhadap kehadiran Ilahi di setiap makhluk. Alam, dalam hal ini, adalah madrasah ruhaniyah tempat manusia belajar rendah hati, bersyukur, dan sadar akan keterhubungannya dengan seluruh ciptaan.

Gerakan ekoteologi Kementerian Agama juga berfungsi sebagai kritik epistemologis terhadap cara berpikir modern yang antroposentris. Gerakan ini menegaskan perlunya reorientasi spiritual dari paradigma “penguasaan alam” menuju “peleburan bersama alam.” Dalam konteks ini, teologi Islam ditafsir ulang secara praksis—dari dogma menuju ekosistem kesadaran; dari ritual menuju tanggung jawab ekologis.

Ketika kesadaran makro dan mikro kosmos ini dihidupkan, agama tidak lagi berdiri berhadapan dengan sains, melainkan berdialog secara mendalam. Sains membaca hukum-hukum Tuhan dalam wujud fenomena, agama membaca makna Tuhan dalam wujud makna. Dan di antara keduanya, manusia berdiri sebagai penafsir—sebagai khalifah yang menjaga keseimbangan.

Maka, membaca kitab suci tanpa membaca alam berarti kehilangan separuh wahyu. Dan membaca alam tanpa kesadaran kitab suci berarti kehilangan arah ruhani. Keduanya harus bersatu dalam kesadaran ekologis yang baru—kesadaran yang menuntun manusia untuk hidup dalam zikir ekologis: menjaga bumi sambil menyadari bahwa setiap langkah di atas tanah adalah langkah di atas ayat.

Gerakan ekoteologi Kementerian Agama, dengan demikian, bukan hanya kebijakan administratif, melainkan panggilan spiritual untuk meneguhkan kembali posisi manusia dalam jaringan kosmik. Dalam bahasa sufi, ia adalah usaha untuk mengembalikan manusia ke maqamnya sebagai pembaca semesta—yang memahami bahwa setiap pohon adalah tasbih, setiap sungai adalah dzikir, dan setiap napas adalah kesaksian akan wahdatul wujud—kesatuan segala yang ada di bawah nama-Nya.

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Belanja Non-Prioritas dalam APBN: Siapa yang Menentukan Skala Kepentingan?

    Belanja Non-Prioritas dalam APBN: Siapa yang Menentukan Skala Kepentingan?

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rahma Diva Febryana
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Pada 22 Januari 2025, Presiden Prabowo Subianto menetapkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi belanja APBN dan APBD. Kebijakan ini menargetkan penghematan sebesar Rp306,69 triliun, dengan fokus pada pemangkasan belanja yang dianggap “non-prioritas” seperti perjalanan dinas, seminar, alat tulis kantor, hingga kegiatan seremonial. Secara normatif, langkah ini patut diapresiasi karena berupaya mengurangi pemborosan […]

  • KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat Play Button

    KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 397
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tradisi mendoakan orang tua dan keluarga yang telah meninggal dunia kembali ditegaskan memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Hal tersebut disampaikan oleh KH Muhyiddin Zeny dalam pengajian rutin yang disiarkan melalui Nutizen TV. Dalam kajiannya, KH Muhyiddin Zeny menjelaskan bahwa amal kebaikan orang yang masih hidup dapat disampaikan pahalanya kepada orang yang telah wafat, […]

  • Wahsyi ibn Harb: Plot Twist yang Unik (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #13)

    Wahsyi ibn Harb: Plot Twist yang Unik (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #13)

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Sejarah Islam mengenal banyak kisah tentang keberanian dan kesetiaan. Namun kisah Wahsyi bin Harb agak unik dan rumit. Ia bukan tokoh yang sejak awal berdiri di barisan kaum Muslimin. Ia datang dari Habasyah menjadi budak Jubair ibn Mut‘im. Keahliannya adalah melempar tombak—sebuah keterampilan yang kelak mengubah arah hidupnya dan tercatat dalam sejarah. Dalam Perang Uhud, […]

  • Hak Interpelasi DPRD : Jalan Terang dalam Polemik BSG

    Hak Interpelasi DPRD : Jalan Terang dalam Polemik BSG

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Bayangkan anda adalah masyarakat Gorontalo. Hari ini anda membaca berita hangat yang informasinya ‘begini’, keesokan harinya ‘begitu’. Hari ini anda memahami informasi resmi dari pemangku kebijakan, tiba – tiba besoknya informasi tersebut diklarifikasi oleh mereka sendiri pula. Inilah realita masyarakat Gorontalo, terkekang dalam polemik Bank SulutGo (BSG) yang kebijakannya berpusar disitu saja yang membuat masyarakatnya […]

  • Idul Fitri 1447 Hijriah & Pensucian Hati: Jalan Spiritual Kemanusiaan

    Idul Fitri 1447 Hijriah & Pensucian Hati: Jalan Spiritual Kemanusiaan

    • calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
    • account_circle Amsar A. Dulmanan
    • visibility 454
    • 0Komentar

    Perayaan Idul Fitri merupakan  bagian dari siklus spiritual umat Islam. Salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan adalah firman Allah; “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al- Baqarah [2]:185)   Ayat ini menegaskan bahwa berakhirnya Ramadan bukan sekadar penutupan ibadah puasa, melainkan momentum untuk […]

  • Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI

    Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Dunia penulisan sedang mengalami turbulensi seiring dengan munculnya Artificial Intelligence (AI). Penulis-penulis baru berbasis AI bermunculan. Para penulis konvensional mulai merasakan ruang yang dulu mereka kuasai tak lagi eksklusif. Dunia yang sebelumnya otentik dan terbentuk melalui proses panjang kini  ditantang dengan hadirnya tulisan-tulisan yang lahir dari mesin. Lebih cepat secara proses, lebih rapi secara struktur, dan lebih massif […]

expand_less