Audit Amal Tahunan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 31
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu datang seperti auditor independen yang tak bisa diajak kompromi. Ia mengetuk pintu hati tanpa surat tugas, tanpa SP2D, dan tanpa fee audit. Tahu-tahu kita sudah duduk di kursi pemeriksaan batin, sambil membuka “laporan keuangan amal” selama setahun terakhir. Bedanya dengan audit biasa, kali ini yang diperiksa bukan neraca perusahaan, melainkan neraca dosa dan pahala.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang diwariskan oleh Nahdlatul Ulama, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi momentum muhasabah, evaluasi diri. Kalau dalam akuntansi ada istilah closing entry, maka Ramadhan adalah waktu kita melakukan jurnal penutup atas segala transaksi hidup: dari sedekah diam-diam sampai komentar pedas di grup WhatsApp keluarga.
Humor ala pesantren mengajarkan bahwa hidup ini mirip laporan keuangan: yang penting bukan tampilannya, tapi isinya. Sebagaimana pernah dicontohkan oleh almarhum Gus Dur bahwa kebenaran sering kali disampaikan lewat kelakar. Gus Dur pernah menyindir, “Kalau masuk surga karena ijazah, profesor sudah antre duluan.” Artinya, dalam audit amal, gelar akademik tidak otomatis menjadi intangible asset yang bisa menaikkan nilai spiritual.
Sebagai orang akuntansi, saya sering membayangkan malaikat Raqib dan Atid seperti auditor dari Kantor Akuntan Publik langit. Mereka mencatat tanpa salah ketik, tanpa window dressing, dan tanpa negosiasi opini. Tidak ada istilah qualified opinion karena kurang bukti. Semua bukti sudah real time recording. Bahkan niat pun tercatat sebagai accrual basis. Kita belum melakukan, tapi sudah berniat baik, nilainya masuk. Ini sistem pencatatan yang bahkan lebih canggih dari PSAK terbaru.
Namun, persoalan kita sering kali bukan pada sistem pencatatan, melainkan pada moral hazard. Dalam praktik akuntansi modern, kita mengenal istilah manipulasi laporan keuangan. Dalam praktik ibadah, kita mengenal riya’. Sama-sama ingin terlihat lebih baik dari kenyataan. Tarawih paling depan, tapi parkir motor paling serong. Sedekah paling keras suaranya, tapi lupa transfer zakat profesi.
Ramadhan sesungguhnya adalah audit interim sebelum audit final di akhirat. Ia memberi kesempatan melakukan koreksi. Kalau dalam perusahaan ada restatement, maka dalam kehidupan ada taubat. Bedanya, restatement sering bikin harga saham turun, sementara taubat justru menaikkan “nilai saham akhirat”.
Dalam konteks sosial ke-NU-an, audit amal juga berarti audit keberpihakan. NU yang lahir dari rahim pesantren selalu menekankan tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang). Maka Ramadhan bukan hanya soal memperbanyak rakaat, tapi memperbaiki niat dan memperluas manfaat. Jangan sampai kita rajin i’tikaf, tapi abai pada tetangga yang kesulitan sembako. Dalam bahasa akuntansi, itu namanya overstated piety, understated empathy.
Saya sering bercanda kepada mahasiswa: “Kalau kalian takut diperiksa BPK, seharusnya lebih takut lagi diperiksa malaikat.” Mereka tertawa. Tapi di balik tawa itu ada kesadaran bahwa akuntabilitas bukan hanya vertikal kepada negara, melainkan juga transendental kepada Allah SWT. Integritas tidak boleh musiman seperti diskon Ramadhan.
Audit amal tahunan juga mengajarkan prinsip materialitas. Dalam audit, tidak semua kesalahan kecil langsung mengubah opini. Ada batas materialitas. Namun dalam hidup, kesalahan kecil yang terus diulang bisa menjadi material secara moral. Bohong kecil setiap hari, lama-lama jadi budaya. Maka Ramadhan hadir untuk menurunkan threshold itu, agar kita lebih sensitif terhadap dosa-dosa kecil yang sering dianggap remeh.
Humor ala Gus Dur mengajarkan bahwa agama tidak perlu tegang. Bahkan dalam audit amal pun, kita boleh tersenyum. Sebab Allah Maha Pengampun, bukan sekadar Maha Menghitung. Jika akuntansi mengenal prinsip going concern, maka hidup adalah proses berkelanjutan untuk menjadi lebih baik. Ramadhan bukan akhir perjalanan, melainkan adjusting entry untuk sebelas bulan berikutnya.
Sebagai akademisi akuntansi, saya melihat Ramadhan sebagai laboratorium etika. Di bulan ini, orang jujur bukan karena diawasi CCTV, tetapi karena merasa diawasi Tuhan. Inilah puncak sistem pengendalian internal: kesadaran spiritual. Tidak perlu segregation of duties jika hati sudah bersih. Tidak perlu audit committee jika nurani masih aktif.
Maka mari kita jalani Ramadhan dengan semangat audit riang gembira. Buka buku besar amal, cek saldo sabar, hitung depresiasi kesombongan, dan lakukan amortisasi dendam. Jika ada selisih, jangan panik. Segera lakukan rekonsiliasi dengan sesama manusia dan dengan Allah SWT.
Pada akhirnya, opini terbaik dalam audit amal bukanlah Wajar Tanpa Pengecualian, melainkan “Hamba yang Diampuni.” Dan itu tidak ditentukan oleh seberapa rapi laporan kita, tetapi seberapa tulus niat kita.
Selamat menjalani Audit Amal Tahunan. Semoga setelah Ramadhan, laporan hidup kita tidak hanya rapi secara administrasi, tetapi juga indah secara nurani. Karena di hadapan Allah, yang diperiksa bukan hanya angka, melainkan makna.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar