Breaking News
light_mode
Trending Tags

Epstein, Uang dan Impunitas

  • account_circle -
  • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
  • visibility 159
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Epstein memulai kariernya sebagai guru matematika di Dalton School. Meski pria keLahiran Brooklyn 1953 tidak lulus kuliah, namun berkat kegigihannya, ia bisa merambah dunia keuangan di Bear Stearns sebelum mendirikan J. Epstein & Co., perusahaan manajemen kekayaan yang diklaim hanya melayani klien dengan aset di atas US$1 miliar. Jaringan dan Gaya Hidupnya dikenal sebagai sosialita yang memiliki akses ke lingkaran elit global.

Kasus Jeffrey Epstein bukan sekadar skandal kriminal, ia adalah manifestasi paling nyata dari jahatnya relasi elit, fenomena Epstein berdiri sebagai monumen paradoks yang mengguncang euforia francis Fukuyama tentang the end of history. Fukuyama Dalam tesisnya menuliskan optimisme pasca–Perang Dingin, Fukuyama membayangkan liberalisme demokratis dan kapitalisme pasar sebagai horizon final evolusi politik manusia—sebuah titik kulminasi di mana konflik ideologis besar dianggap telah usai.

Namun, figur Epstein justru hadir sebagai anomali nyata yang meruntuhkan keyakinan tersebut. Ia memperlihatkan bahwa sejarah tidak berhenti hanya karena kemenangan liberalisme atau kejayaan kapitalisme semata, namun sejarah selalu berdaptasi dan rutin berganti topeng.

Di permukaan, seakan Epstein tampil sebagai sains modern dengan kedermawanan dia membiayai riset sains mutakhir, teknologi masa depan, dan proyek-proyek intelektual yang menjanjikan kemajuan umat manusia. Universitas-universitas elite dan ilmuwan ternama menyambut dana itu sebagai bahan bakar rasionalitas dan inovasi.

Akan tetapi, di balik topeng filantropi tersebut, Epstein adalah predator sistemik yang memangsa tubuh dan masa depan anak-anak di bawah umur. Kenyataan ini bukan sekadar kontradiksi personal, melainkan fakta dari tatanan liberal-kapitalis itu sendiri—sebuah sistem yang mampu mentransformasikan dana hasil eksploitasi, menjadi narasi kemajuan yang tampak sah, bermoral, bahkan mulia.

Dalam kerangka ini, Epstein bukan penyimpangan dari sistem, melainkan produk ekstremnya. Kapitalisme global tidak hanya menciptakan akumulasi kekayaan, tetapi juga mekanisme pencucian moral (moral laundering) yang memungkinkan kekerasan disublimasikan menjadi prestise intelektual. Dana riset yang mengalir deras ke lembaga-lembaga akademik bukan semata bukti kejayaan rasionalitas modern, melainkan juga tanda kegagalan sistem dalam menyelesaikan janji etisnya sendiri, yaitu melindungi martabat manusia.

Saya mencoba membaca ini Melalui lensa dekonstruksi Derridean, dalam hal ini Epstein dapat dibaca sebagai “hantu” (specter) yang menolak untuk dikuburkan dalam narasi kemenangan liberalisme, Fukuyama mungkin mengira bahwa buku sejarah telah ditutup dengan ditandai oleh satu fakta kemenagan, tetapi Derrida mengingatkan bahwa yang “mati” dalam sejarah tak pernah benar-benar mati.

Ia kembali sebagai residu, sebagai jejak, sebagai gangguan yang menghantui struktur yang mengklaim dirinya mapan. Dalam logika hauntology, Epstein adalah kehadiran yang mengoyak ilusi stabilitas, bukti bahwa kemapanan liberal berdiri di atas fondasi rapuh yang dipenuhi kekerasan laten.

Eksploitasi, ketimpangan, dan impunitas tidak lenyap, mereka hanya disamarkan oleh bahasa filantropi, meritokrasi, dan kemajuan ilmiah. Epstein menjadi simbol bagaimana kekuasaan ekonomi dapat membeli keberpihakan hukum, memanipulasi institusi, dan menghindari pertanggungjawaban selama puluhan tahun.

Fakta bahwa ia nyaris “tak tersentuh” selama beberapa dekade bukan kegagalan individu aparat semata, melainkan cerminan dari ketidakmampuan struktural kapitalisme global untuk menghadirkan keadilan yang substantif. Ketika ideologi tertentu dianggap usang atau berbahaya, justru di situlah ia beroperasi secara diam-diam dalam tubuh sistem dominan.

Dalam konteks ini, kecemasan mayoritas masyarakat terhadap “kebangkitan ideologi kiri” sering kali merupakan proyeksi ketakutan yang keliru. Yang sebenarnya ditakuti bukanlah hantu sosialisme atau egalitarianisme, melainkan pengakuan bahwa sistem dominan telah gagal memenuhi janji moralnya.

Hantu masa lalu—dalam bentuk tuntutan keadilan sosial, kesetaraan struktural, dan pembelaan terhadap yang tertindas—kembali mengetuk kesadaran kolektif bukan sebagai ancaman totalitarian, tetapi sebagai pengingat bahwa hutang sejarah terhadap korban eksploitasi belum pernah dilunasi.

Dekonstruksi, pada titik ini, tidak bisa bersikap netral. Ia menuntut keberpihakan etis. Membongkar status quo Epstein berarti menyingkap relasi kuasa yang selama ini disembunyikan oleh legitimasi akademik dan kekuatan modal.

Jika metafora “malaikat sayap-kiri” dipahami sebagai simbol keberpihakan pada mereka yang dibisukan, para penyintas yang suaranya ditenggelamkan oleh reputasi, jaringan elite, dan kekayaan—maka dekonstruksi menjadi tindakan intelektual yang mendesak dan politis.

Sejarah, dengan demikian, belum dan tidak akan pernah berakhir selama masih ada jeritan ketidakadilan yang bergema di balik dinding-dinding laboratorium megah dan aula universitas prestisius.

Alih-alih meratapi trauma sejarah dengan ketakutan akan perubahan, kita justru diajak untuk berdamai dengan kenyataan bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang progresif sering lahir dari upaya meruntuhkan kemapanan yang korup.

Keberpihakan pada kemanusiaan yang transformatif adalah satu-satunya jalan keluar dari siklus ini. Ia menuntut bukan sekadar reformasi simbolik, melainkan pembongkaran struktur yang memungkinkan kekerasan disucikan atas nama kemajuan, padahal contoh yang kini makin jelas, klaim tentang “akhir sejarah” hanyalah fatamorgana; sebuah tirai ideologis yang berusaha menutupi kegelisahan peradaban yang belum selesai berurusan dengan keadilan.

Sejarah akan terus berjalan, selama ada keberanian untuk menuntut pertanggungjawaban dari mereka yang selama ini bersembunyi di balik cahaya intelektulitas dan uang. Kita mesti terus mengevaluasi apa yang berada dibalik teks itu seperti spirit dekonstruksi, agar kita tidak sekedar dicekoki penghakiman oleh para pemangsa, layaknya Drama kelompok serigala menyelidiki kejahatan serigala, seperti pada drama kasus Epstein ini.

Penulis: Muhammad Kamal

(Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA)

  • Penulis: -
  • Editor: Suaib PR

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kebakaran Hebat Hanguskan Empat Pabrik di Kawasan Industri Olak Lempit, Tiga Korban Ditemukan Tewas

    Kebakaran Hebat Hanguskan Empat Pabrik di Kawasan Industri Olak Lempit, Tiga Korban Ditemukan Tewas

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 34
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Kebakaran hebat melanda empat pabrik di kawasan industri Olak Lempit, Banting, pada Sabtu malam, 14 Maret 2026. Peristiwa tersebut menimbulkan kobaran api besar disertai asap tebal yang terlihat dari jarak jauh dan mengundang kerumunan warga di sekitar lokasi. Kebakaran terjadi di kawasan industri Olak Lempit yang berada di wilayah Banting, negara bagian Selangor, […]

  • Gegana Polda Jatim Temukan Black Powder dalam Kasus Ledakan Mercon di Ponorogo

    Gegana Polda Jatim Temukan Black Powder dalam Kasus Ledakan Mercon di Ponorogo

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 123
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim Gegana Satuan Brimob Polda Jawa Timur mengungkap temuan bahan peledak jenis low explosive atau black powder dalam penyelidikan kasus ledakan mercon di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (1/3/2026) tersebut menyebabkan seorang pelajar meninggal dunia, sementara dua korban lainnya mengalami luka bakar berat. Sejak Senin (2/3/2026) pagi, […]

  • Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 162
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pemerintah Kota Gorontalo secara resmi melarang penggunaan petasan saat perayaan malam pergantian tahun 2025 ke 2026. Larangan tersebut ditegaskan langsung oleh Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea. Pernyataan itu disampaikan Wali Kota Adhan saat diwawancarai pewarta usai apel malam pada kegiatan wisata akhir tahun yang digelar Pemkot Gorontalo di Pantai Bolihutuo, Kecamatan Botumoito, Kabupaten […]

  • Idul Fitri 1447 Hijriah & Pensucian Hati: Jalan Spiritual Kemanusiaan

    Idul Fitri 1447 Hijriah & Pensucian Hati: Jalan Spiritual Kemanusiaan

    • calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
    • account_circle Amsar A. Dulmanan
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Perayaan Idul Fitri merupakan  bagian dari siklus spiritual umat Islam. Salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan adalah firman Allah; “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al- Baqarah [2]:185)   Ayat ini menegaskan bahwa berakhirnya Ramadan bukan sekadar penutupan ibadah puasa, melainkan momentum untuk […]

  • Koordinator Bidang Pendidikan dan Ekonomi DPP GENINUSA: Efisiensi Anggaran Tidak Harus Mengorbankan Lembaga Strategis

    Koordinator Bidang Pendidikan dan Ekonomi DPP GENINUSA: Efisiensi Anggaran Tidak Harus Mengorbankan Lembaga Strategis

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Presiden Republik Indonesia, pada 22 Januari 2025 yang lalu telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025, yang berfokus pada efisiensi belanja dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2025. Inpres tersebut menyasar sejumlah kementerian di Kabinet Merah Putih, termasuk Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan […]

  • Sang Imam Favorit di Musim Ramadhan

    Sang Imam Favorit di Musim Ramadhan

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Paci Haru tak muda lagi. Penglihatannya sudah mulai kabur (ma pula-pulawuwolo). Volume suaranya tak sekencang dulu (malo poyo’o). Meski usianya sudah sepuh, perannya di Masjid kampung itu setara dengan profesor emeritus di kampus terkenal. Paci Haru selalu berada di depan, memimpin jamaah masjid lintas generasi. Meski hanya alumni TPA Mokadamu, Dia dikukuhkan menjadi imam sejak […]

expand_less