Kekeringan dan krisis air bersih.Masalah yang tidak kunjung usai Di Kecamatan Bontoa
- account_circle Hardiansyah
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 74
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Air sumur hanya dipakai untuk mandi dan mencuci. Kalau untuk minum dan memasak kami harus beli air. Harganya Rp2.500 per jeriken. Sebulan bisa habis sekitar Rp500 ribu. Kami jalan lebih dari satu kilometer pakai gerobak sampai tiga kali sehari. Airnya agak asin, tapi mau bagaimana lagi,” ungkapnya.
Data Pemerintah Kabupaten Maros mencatat sedikitnya enam kecamatan terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Wilayah pesisir, terutama Kecamatan Bontoa, menjadi daerah dengan kondisi paling memprihatinkan karena terbatasnya sumber air tawar.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan distribusi bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
“Kami sudah menyalurkan bantuan air bersih di enam kecamatan yang terdampak, mulai dari Bontoa, Marusu hingga Maros Baru yang menjadi wilayah paling terdampak,” ujar Chaidir.
Meski bantuan air bersih terus disalurkan, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya menghadirkan solusi darurat. Warga mendesak adanya langkah jangka panjang melalui pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih yang mampu menjangkau kawasan pesisir.
Bagi masyarakat pesisir Maros, krisis air bersih bukanlah persoalan baru,Hampir setiap musim kemarau mereka kembali menghadapi kondisi serupa,Karena itu, warga berharap pemerintah segera merealisasikan solusi permanen agar mereka tidak lagi bergantung pada air sumur yang keruh maupun bantuan air bersih yang hanya bersifat sementara.
- Penulis: Hardiansyah

Saat ini belum ada komentar