Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika Amanah Mangkrak Seperti Proyek Negara

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 94
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Amanah sering kita dengar di khutbah Jumat atau ceramah Ramadan. Ia terdengar khidmat, tapi juga kadang terasa jauh dari kehidupan politik sehari-hari. Amanah seolah dipindahkan ke ruang ibadah, sementara di ruang kekuasaan ia diperlakukan seperti barang opsional—dipakai kalau perlu, ditinggalkan kalau mengganggu kepentingan.

Padahal republik tidak berdiri hanya dengan undang-undang dan birokrasi. Ada kontrak tak tertulis yang membuat negara ini tetap dipercaya oleh warganya. Rakyat membayar pajak, memilih pemimpin, mematuhi hukum—semua itu karena ada keyakinan sederhana: kekuasaan akan dijalankan dengan tanggung jawab. Keyakinan itulah yang disebut amanah.

Masalahnya, keyakinan ini semakin sering diuji. Kita hidup di masa ketika proyek pembangunan bisa bernilai triliunan rupiah, tetapi akuntabilitasnya sering terasa jauh lebih kecil dari angka itu. Infrastruktur memang tumbuh pesat, tetapi pertanyaan publik juga ikut tumbuh: untuk siapa sebenarnya pembangunan ini dilakukan? Pertanyaan yang kerap dibalas oleh persekusi dan diskirminasi..

Ambil contoh proyek ambisius seperti Ibu Kota Nusantara. Di atas kertas, gagasannya sangat futuristik: kota hijau, kota pintar, kota masa depan. Sebuah simbol bahwa Indonesia siap melompat ke abad berikutnya. Tetapi di ruang diskusi publik, proyek ini juga memunculkan kegelisahan: apakah negara sedang membangun masa depan yang inklusif, atau sekadar meninggalkan masalah lama di tempat baru?
Atau soal ambisi berlabel Gizi ataopu ekonomi kerakyatan berlabel merah Putih?

Perdebatan semacam ini sebenarnya sehat. Ia menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli pada arah republik. Namun ia juga memperlihatkan satu kenyataan, bahwa kepercayaan publik tidak lagi otomatis lahir dari proses demokratisasi, sebab didalamnya kita kehilangan amanah.

Padahal Republik ini berkali-kali diingatkan bahwa amanah bisa runtuh oleh hal-hal yang sangat banal: keserakahan. Kita masih ingat bagaimana bantuan sosial yang seharusnya menyelamatkan rakyat saat pandemi justru disunat melalui praktik korupsi yang menyeret nama aktor. Bantuan untuk warga miskin berubah menjadi komoditas politik. Jika tragedi semacam ini tidak cukup untuk membuat kita merenung tentang arti amanah, mungkin kita memang sudah terlalu kebal terhadap disparitas macam ini..

Memang persoalan ini sebenarnya sudah lama dibahas dan terdengar klise. Betapapun itu saya tetap percaya harmoni itu tidak mungkin lahir jika mereka yang memegang kekuasaan kehilangan integritas. Dalam bahasa yang lebih sederhana—dan mungkin lebih dekat dengan keseharian kita, bahwa negara yang adil hanya mungkin lahir jika orang-orang yang memegang kekuasaan masih ingat bahwa jabatan adalah titipan, bukan hadiah undian.

Tantangan republik Indonesia hari ini sebenarnya bukan sekadar soal ekonomi atau teknologi. Kita punya sumber daya, kita punya generasi muda, kita punya energi sosial yang besar. Tantangan yang lebih sulit justru sesuatu yang tak kasat mata: kepercayaan.
Di era media sosial, rakyat bisa melihat semuanya dengan lebih cepat. Kontradiksi antara pidato dan realitas tidak lagi bisa disembunyikan lama-lama. Ketika pejabat berbicara tentang penghematan tetapi hidup dalam kemewahan, publik melihatnya. Ketika pemerintah berbicara tentang kesejahteraan rakyat tetapi kebijakan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, publik juga merasakannya. Lama-lama, yang hilang bukan hanya kepercayaan pada individu, tetapi kepercayaan pada sistem.

Dan republik tanpa kepercayaan adalah republik yang rapuh. Ia mungkin tampak kuat dari luar—gedung-gedung berdiri, statistik ekonomi tumbuh, proyek-proyek diresmikan dengan pita merah—tetapi di dalamnya ada rongga yang perlahan membesar dan menjangkiti jantung kita bernegara..

Jika di lacak lebih jeli, bangsa ini sebenarnya punya tradisi moral yang kuat. Dari budaya lokal sampai ajaran agama, konsep amanah selalu diajarkan sejak kecil. Orang tua mengingatkan anaknya untuk jujur, guru menekankan tanggung jawab, tokoh agama berbicara tentang integritas. Nilai itu ada di mana-mana—kecuali, sering kali, di tempat yang paling membutuhkan: ruang kekuasaan.

Juga setiap kali kita mendekati hari raya seperti Idul Fitri, suasana refleksi terasa berbeda. Idul Fitri selalu datang dengan pesan sederhana: kembali. Kembali bersih, kembali jujur, kembali pada nilai-nilai yang membuat manusia tetap manusia.

Bagi republik ini, pesan itu sebenarnya sangat relevan. Setelah setahun penuh kita sibuk dengan proyek pembangunan, debat politik, dan drama kekuasaan, Idul Fitri seperti mengingatkan satu hal yang sering terlupakan: bangsa ini tidak hanya membutuhkan jalan tol dan gedung tinggi pun kerja kerja birokratis semata namun Ia juga membutuhkan sesuatu yang jauh lebih substansial yaitu Amanah, baik personal apalagi kolektif.

Karena tanpa amanah, pembangunan apapun baik moral apalagi fisik hanya akan menjadi dekorasi. menjelang akhir puasa inilah saat yang cukup tepat untuk bertanya, dimulai bertanya pada diri sendiri bahwa di tengah semua kemegahan itu, apakah kita masih benar-benar menjaga amanah?

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Setiap 1 Mei, jalan-jalan ibu kota terasa berbeda. Bukan karena kemacetan, tapi karena gema suara buruh yang menggema dari segala penjuru. Mereka datang bukan hanya membawa spanduk dan bendera serikat pekerja sebagai simbol solidaritas, tapi juga harapan yang terus menyala meski kadang redup oleh kenyataan. Hari Buruh Internasional selalu menjadi cermin tentang siapa kita sebagai […]

  • Presiden Prabowo Konsolidasikan Tokoh Bangsa di Istana, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Dinamika Global

    Presiden Prabowo Konsolidasikan Tokoh Bangsa di Istana, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Dinamika Global

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 110
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah terus memperkuat konsolidasi nasional dalam merespons dinamika global yang kian kompleks. Melalui pertemuan lintas generasi pemimpin dan pimpinan partai politik di Istana Jakarta, Presiden indonesia president 2024 menegaskan pentingnya kesatuan sikap serta kesiapsiagaan nasional demi menjaga stabilitas dan keamanan negara, Selasa (3/3/2026). Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa […]

  • Salat Jenazah Ternyata Rumit, KH. Abdul Muin Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi Play Button

    Salat Jenazah Ternyata Rumit, KH. Abdul Muin Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 349
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Salat jenazah yang selama ini dianggap sederhana ternyata menyimpan banyak rincian hukum yang kerap luput dari perhatian jamaah. Hal ini diungkapkan oleh KH. Abdul Muin Mooduto, Ketua MUI Kota Gorontalo sekaligus Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, dalam pengajian menjelang Salat Jumat yang digelar di salah satu masjid di Kota Gorontalo pada 2021. Dalam […]

  • NU di Persimpangan Jalan: Analisis Geopolitik dan Sosio-Keagamaan

    NU di Persimpangan Jalan: Analisis Geopolitik dan Sosio-Keagamaan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di dunia tengah menghadapi ujian eksistensial yang menempatkannya pada persimpangan jalan sejarah yang krusial. Memasuki akhir tahun 2025, organisasi ini terjebak dalam pusaran konflik internal yang melibatkan dua pilar utamanya, jajaran Syuriyah yang merepresentasikan otoritas ulama dan jajaran Tanfidziyah sebagai pelaksana organisatoris. Ketegangan ini bukan sekadar perselisihan […]

  • Pandji Dilaporkan soal “Mens Rea”, DPR: Negara Demokrasi Tak Boleh Antikritik

    Pandji Dilaporkan soal “Mens Rea”, DPR: Negara Demokrasi Tak Boleh Antikritik

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 97
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota Komisi III DPR RI Abdullah merespons pelaporan komika Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya terkait materi stand-up comedy bertajuk Mens Rea. Menurutnya, kritik yang disampaikan melalui medium seni dan komedi merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi dan tidak semestinya langsung dibawa ke ranah hukum. “Kritik yang disampaikan melalui Mens Rea adalah […]

  • Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

    Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 660
    • 0Komentar

    Tulisan Donald Tungkagi berjudul Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas (9/1) di nulondalo.com., sebagai tanggapan atas tulisan saya (8/1) setidaknya memuat tiga poin utama, yakni: (1) penjelasan historiografis makuta problematik karena tidak cukup valid dalam simbol makuta dalam paradigma epistemologi Makuta Keilmuan; (2) ketegangan antarpilar itu produktif, alih-alih saling menegasikan satu […]

expand_less