Masjid, Modal Kecil, dan Imajinasi Besar
- account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
- calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
- visibility 209
- print Cetak

Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Masjid, dalam konteks ini, bukan sekadar tempat sujud. Ia adalah ruang distribusi harapan umat. Namun, kita sering membatasinya.
Misalnya, seringkali kita mengurung filantropi Islam hanya berfokus pada zakat. Padahal, zakat memiliki batas: delapan asnaf. Sementara kehidupan jauh lebih luas daripada delapan kategori.
Di titik ini, gagasan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A menjadi relevan. Ia berulang kali mengingatkan bahwa filantropi Islam tidak boleh berhenti pada zakat. Ada infak, sedekah, wakaf—semuanya lebih lentur, lebih bebas bergerak, lebih dekat dengan kebutuhan riil masyarakat.
Dan Salman al-Kahfi, mungkin tanpa banyak teori, telah mempraktikkan hal itu.
Ia tidak membangun sistem besar. Ia hanya memulai dari apa yang ada: kas masjid, kepercayaan, dan keberanian untuk mencoba.
Di situlah letak pelajaran pentingnya.
Bahwa, kebangkitan umat bukan soal menunggu dana besar. Ia soal keberanian menggerakkan yang kecil. Bahwa yang kecil, jika dikelola dengan niat dan arah yang benar, bisa menjadi besar—atau setidaknya, menjadi bermakna.
Dan mungkin, pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan hanya program.Tetapi imajinasi.
Imajinasi bahwa masjid bisa menjadi pusat ekonomi. Imajinasi bahwa sedekah bisa menjadi modal usaha. Imajinasi bahwa umat bisa berdiri di atas kakinya sendiri—pelan-pelan, tetapi pasti.
Di Cinere, siang itu, saya tidak membeli mobil.
Tetapi saya pulang dengan sesuatu yang lain: sebuah keyakinan kecil—yang terasa cukup besar—bahwa kebangkitan itu sangat mungkin.
Dan ia bisa dimulai… dari masjid.
- Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Saat ini belum ada komentar