Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Membaca Indonesia dari Pinggiran: Catatan atas Buku Reset Indonesia

  • account_circle Fadhil Hadju
  • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
  • visibility 160
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hak untuk hidup dan memenuhi kebutuhan hidup perlu jadi perhatian khusus oleh pemerintah. Tentu ini tertuang dalam pilar berbangsa dan bernegara di Indonesia. Konsep UBI ini bukan sekedar utopia. Iran, seperti yang dibahas dalam buku itu, telah menerapkan konsep pemenuhan kebutuhan dasar ini. Namun, tentu jika ingin diterapkan perlu kajian yang berbasis riset dan meninjau kondisi sosial-ekonomi dan literasi di masyarakat. Terutama perihal literasi ekonomi.

Masih dalam buku Reset Indonesia. Pada bab tiga dibahas perihal ekonomi berbasis lingkungan. Maksudnya, pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan. Saya teringat dengan satu kutipan. Kutipan yang diucap oleh mantan Presiden RI, K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Perdamaian tanpa keadilan, adalah ilusi”. Termasuk dengan keadilan untuk memperoleh sumber daya alam yang layak. Salah satunya air.

Air seringkali kita anggap remeh. Padahal, Vandana Shiva, Aktivis lingkungan asal India mengungkapkan betapa pentingnya air bagi kehidupan manusia. Ia mencontohkannya pada Sungai Gangga. Sungai yang dianggap suci ini, dulunya sumber penghidupan masyarakat India. Namun, sekarang sangat tercemar. Tidak layak untuk dikonsumsi. Begitu pun di negara ini. Dhandy, dalam buku ini menanyakan tentang hal sederhana, “mengapa di negara ini, kita tidak bisa minum air langsung dari keran?”. Dari analisis dan pengalaman di lapangan mereka menjabarkan persoalan itu dalam buku mereka.

Dalam bab empat, diangkat judul “Alam Terkembang Jadi Guru”. Di sini pembaca akan disuguhkan beberapa tulisan tentang kesadaran untuk membangun literasi dari alam. Belajar dari alam adalah intinya. Alam Indonesia, sejak dulu menjadi subjek penelitian dari berbagai kalangan. Seperti yang ditulis oleh Alfred Russel Wallace, Naturalis asal Inggris. Dari karyanya, The Malay Archipelago mengilhami Charles Darwin dalam teori evolusi, sehingga lahir magnum opus The Origin of Species. Oleh karena itu, sebagai warga negara yang lahir dan tumbuh di daerah yang kaya ini, baiknya kita belajar dari alam, cara mengelolanya dengan baik, dan menjaganya agar dapat dirasakan hingga beratus, bahkan beribu tahun kedepan.

Tidak melulu membahas perihal hutan, gunung, dan lingkungan. Dalam buku ini, pada bab lima, mereka membahas tentang pentingnya tata kelola kota. Salah satunya konsep kota taman. Dalam pemahaman sederhana saya, maksud dari para penulis buku ini, terutama perihal kota taman, yaitu, kota perlu adanya taman. Tujuannya untuk memberi ruang nafas bagi alam dan kita sebagai manusia. Setidaknya untuk memperoleh udara yang sehat.

Pada bab enam, judulnya “Reset Indonesia”. Konsep-konsep yang ditawarkan radikal. Radikal yang saya maksud adalah menggali sampai ke akarnya (radiks). Seperti perihal partai nasional. Di mana, seringkali terbilang elitis, menurut penulisnya. Mereka menawarkan konsep partai lokal, seperti di Aceh yang melahirkan Muzakir Manaf (Mualem) sebagai Gubernur yang disukai dan dikehendaki masyarakatnya.

Diakhir buku Reset Indonesia ini, ditutup dengan tulisan dari dua jurnalis muda : generasi milenial dan generasi Z. Cita-cita dan harapan akan bangkitnya bangsa ini menjadi lebih baik digantungkan di situ. Saya juga punya keinginan seperti mereka. Bangsa yang terlalu besar ini harus kita cintai dengan cinta yang besar pula. Seperti para Bapak Pendiri Bangsa ini. Sebagaimana dalam buku ini, para penulis sering mengutip pokok-pokok pikiran pendiri bangsa kita, Mohammad Hatta (Bung Hatta). Maka saya ingin menaruh satu kutipannya di sini.

Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.

  • Penulis: Fadhil Hadju

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PPATK, Rekening Dormant dan Gagal Nalar Instabilitas Ekonomi

    PPATK, Rekening Dormant dan Gagal Nalar Instabilitas Ekonomi

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Muh. Gifari Bachmid
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Penulis adalah Praktisi Perbankan/ Pengurus Lakpesdam NU Kota Gorontalo Sebelum dihebohkan oleh pemblokiran rekening berstatus dormant oleh PPATK, praktik tersebut ternyata lazim diterapkan didunia perbankan. Rekening yang tidak aktif atau tidak memiliki transaksi dalam kurun waktu 3 sampai 12 bulan maka status rekeningnya akan berubah menjadi status dormant. Jika rekening nasabah berstatus dormant, maka rekening […]

  • Tokoh Lintas Agama Rumuskan 9 Poin ‘Risalah Jagat’ Serukan Taubat Ekologis

    Tokoh Lintas Agama Rumuskan 9 Poin ‘Risalah Jagat’ Serukan Taubat Ekologis

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 43
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – JOMBANG – Sejumlah tokoh keagamaan, akademisi, hingga aktivis lingkungan hadir sebagai pemantik diskusi dalam rangkaian sesi forum Festival Jagat, yang berlangsung 29 – 30 Agustus, merumuskan 9 point ‘Risalah Jagat’ serukan taubat ekologis. Forum yang dilaksanakan di Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak tersebut, di hadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Uskup Keuskupan Surabaya Mgr. […]

  • Bareskrim Polri Ungkap Puluhan Ribu Kasus Narkoba, Sita 590 Ton Sepanjang 2025

    Bareskrim Polri Ungkap Puluhan Ribu Kasus Narkoba, Sita 590 Ton Sepanjang 2025

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 278
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mencatat capaian luar biasa sepanjang tahun 2025 dengan 48.592 kasus narkoba berhasil diungkap hingga 11 Desember 2025. Hal ini diungkapkan oleh Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Syahardiantono, dalam rilis akhir tahun di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/12/2025). “Sepanjang tahun ini, total 64.055 orang diamankan terkait kasus narkoba,” […]

  • Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang (Bagian 2)

    Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang (Bagian 2)

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Momy Hunowu
    • visibility 393
    • 0Komentar

    Tak percaya pada berbagai cerita dan pantangan yang berkembang di tengah masyarakat, kaum penjajah Belanda tidak ambil pusing. Mereka justru semakin tergiur untuk memiliki bongkahan emas raksasa itu. Maklum, kedatangan penjajah ke negeri ini tak lain adalah untuk mengeruk kekayaan alam yang tersimpan di perut bumi pertiwi dan membawanya pulang demi kemakmuran negeri Kincir Angin. […]

  • Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 320
    • 0Komentar

    Perubahan paling mencolok terjadi di era digital. Ruang publik tidak lagi dimediasi oleh forum-forum fisik seperti kampus, diskusi terbuka, atau organisasi massa, melainkan oleh platform media sosial yang serba cepat dan cenderung dangkal. Kritik tetap hadir, bahkan mungkin lebih ramai dari sebelumnya, tetapi dalam bentuk yang berbeda: buzzing. Kritik menjadi viral, namun tidak selalu substansial. […]

  • Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 219
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menguat di kalangan elite politik nasional. Usulan ini memantik perdebatan luas karena dinilai berpotensi menyempitkan hak politik rakyat dan menandai kemunduran demokrasi pasca-Reformasi. Lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998 dan hampir 20 tahun sejak pilkada langsung pertama kali digelar […]

expand_less