Selain itu, para mahasantri juga diminta menjelaskan efektivitas program pemberdayaan masyarakat serta transparansi pelaksanaan kegiatan di lokasi dakwah masing-masing.
“Rangkaian tabligh di delapan kota ini mengajarkan kami bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang mampu menjelma menjadi pelita di tengah realitas umat. Sidang ini adalah bentuk kristalisasi dari peluh dan perjuangan tersebut,” tutur Rizal Muttaqin.
Melalui sidang ini, para penguji tidak hanya menelaah data dan capaian program, tetapi juga menguji kejujuran, refleksi, dan kedalaman pemahaman mahasantri terhadap problematika umat.
Berbagai pertanyaan kritis diajukan guna memastikan bahwa kehadiran para santri benar-benar memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Sidang LPJ Tabligh ini menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian sekaligus gerbang akhir sebelum para mahasantri resmi dikukuhkan sebagai alumni.
Pengalaman dakwah di delapan wilayah tersebut diharapkan menjadi bekal untuk terus menebarkan nilai kepedulian, memperkuat pengabdian sosial, dan menjaga nyala dakwah di tengah masyarakat.
Saat ini belum ada komentar