Ukasyah bin Mihshan: Sahabat Yang Menuntut Balas Kepada Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #15)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 69
- print Cetak

Kisah ini menggambarkan hubungan yang sangat dekat antara Nabi dan sahabatnya, Mihshan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ukasyah bin Mihshan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad yang dikenal karena keberanian, kesetiaan, dan kedekatannya dengan Rasulullah dalam berbagai peperangan serta kehidupan sehari-hari. Ia berasal dari suku Bani Asad.
Biografi lengkapnya tidak banyak tercatat, tetapi riwayat sejarah menunjukkan bahwa Ukasyah ikut serta dalam berbagai ekspedisi militer penting, termasuk Perang Badr, Uhud, dan Khandaq. Ia dikenal sebagai prajurit yang berani sekaligus sahabat yang selalu berada di sisi Nabi.
Selain keperwiraannya di medan perang, Ukasyah juga memiliki kedekatan khusus dengan Nabi. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad mendoakannya agar termasuk golongan yang masuk surga tanpa hisab, sebuah penghormatan yang menegaskan kedudukannya sebagai sahabat yang dikasihi dan dipercaya oleh Rasulullah. Karakter Ukasyah dikenal tegas, jujur, dan penuh rasa hormat, tetapi juga memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Peristiwa paling dikenal tentang Ukasyah terjadi menjelang akhir hayat Nabi. Saat itu Nabi memanggil para sahabat ke Masjid Nabawi dan memberikan kesempatan bagi siapa pun yang merasa pernah dirugikan olehnya untuk menyampaikan hal itu. Tujuannya adalah agar semua hubungan yang mungkin tersisa dengan perasaan berat atau ganjalan hati terselesaikan sebelum Hari Kiamat. Para sahabat mendengarkan dengan penuh perhatian, namun semua sahabat terdiam. Mereka merasa tidak ada yang pernah dirugikan oleh Nabi.
Di tengah keheningan itu, Ukasyah bin Mihshan berdiri. Ia mengingatkan kepada nabi suatu peristiwa. Saat itu, Nabi sedang mengatur untanya atau barisan sahabat dalam suatu perjalanan. Tanpa disengaja, cambuk yang dipegang Nabi mengenai tubuh Ukasyah. Dan, Ukasyah bin Mihsan meminta untuk melakukan hal yang sama sebagai pembalasan, hari ini.
Nabi tidak menolak. Beliau memberikan izin agar Ukasyah menegakkan qishash. Sahabat lain, yang hadir saat itu seperti Abu Bakar, Umar, dan Ali, bahkan menawarkan diri agar mereka yang dicambuk. Hasan dan Husain pun menawarkan tubuh mereka untuk menggantikan Nabi. Namun Ukasyah menolak dan tetap ingin menegakkan qishash kepada Nabi.
Ketika Ukasyah bersiap untuk melakukan qishash, suasana hening dan haru menyelimuti masjid. Yang hadir tegang. Mereka tidak tega melihat Nabi akan dicambuk oleh Ukasyah. Namun, Ketika nabi membuka baju dan Bersiap untuk dicambuk, Ukasayah melepaskan cemetinya dan memeluk tubuh nabi sembari menangis. Tidak mungkin dia tega mencambuk nabi, itu hanya caranya agar bisa memeluk nabi. Suasana tegang berubah menjadi suasana haru.
Kisah ini menggambarkan hubungan yang sangat dekat antara Nabi dan sahabatnya, yang tidak bersifat formal semata, tetapi penuh keterusterangan, penghormatan, dan kasih sayang.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar