Unggahan Tokoh Muhammadiyah Gorontalo soal Akhlak dan Gerakan Pakai Sarung Tuai Perdebatan di Media Sosial
- account_circle Faisal H
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 98
- print Cetak

Tangkapan layar unggahan Arfan Tilome di media sosial yang menyoroti pentingnya pembenahan akhlak dan moral di tengah gagasan gerakan pakai sarung. (Sumber: akun Facebook Arfan Tilome)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Komentar tersebut merupakan klaim Ichsan di media sosial yang belum terverifikasi secara independen. Belum ada keterangan mengenai status hibah tanah maupun penjelasan dari pihak-pihak terkait tentang persoalan akses tersebut.
Di sisi lain, Arfan Nusi mengajak masyarakat mendorong perbaikan akhlak dan moral tanpa mempertentangkan simbol-simbol keagamaan.
“Mari kita dorong gerakan perbaiki akhlak dan moral, tanpa mempertentangkan simbol-simbol keagamaan,” tulisnya.
Sementara itu, New Mansur Arapa menilai gagasan Kementerian Agama perlu ditanggapi secara bijak. Menurutnya, penerapan penggunaan sarung di lingkungan kerja perlu mempertimbangkan kebutuhan dan aktivitas pegawai, termasuk aparatur yang menjalankan tugas lapangan.
Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan tersebut masih berupa gagasan sehingga perlu disikapi dengan alasan-alasan yang rasional.
Komentar lain disampaikan Arianto Mopangga. Ia menyatakan keinginannya untuk bersilaturahmi sekaligus mengundang Arfan berdiskusi guna menghindari bias pendapat dan menjaga keutuhan umat.
Gagasan Kementerian Agama
Kementerian Agama menggagas gerakan mengenakan sarung dan peci satu kali dalam sepekan sebagai upaya melestarikan budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap tradisi bangsa.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan gagasan tersebut saat membuka Festival Sarung dan Peci Santri 2026 di Jakarta dalam rangkaian peringatan Hari Santri.
Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, juga mengusulkan gerakan “Selasa Bersarung” di lingkungan Direktorat Jenderal Pesantren. Menurutnya, pakaian tradisional tidak seharusnya dianggap sebagai simbol keterbelakangan. Kemajuan seseorang, kata dia, ditentukan oleh pola pikir, keluasan ilmu, dan kontribusinya bagi masyarakat.
Menteri Agama menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak bersifat wajib dan tetap mempertimbangkan kenyamanan serta kebutuhan pegawai.
Perdebatan yang berkembang di media sosial memperlihatkan beragam pandangan mengenai hubungan antara simbol keagamaan, pelestarian budaya, dan keteladanan moral. Di satu sisi, sarung dan peci dipandang sebagai bagian dari tradisi yang perlu dilestarikan. Di sisi lain, muncul pengingat bahwa nilai-nilai moral dan etika juga perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Diskusi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan, sekaligus mengingatkan pentingnya membedakan kritik, penafsiran, dan klaim yang masih memerlukan pembuktian
- Penulis: Faisal H
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar