Breaking News
dark_mode
Trending Tags

1 Muharram, Amor Fati, dan Keberanian untuk Berhijrah

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 430
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sayangnya, hijrah kerap dipahami secara dangkal sebagai perpindahan fisik semata. Padahal, dalam perspektif sejarah dan sosiologi, hijrah adalah bentuk keberanian eksistensial manusia ketika berhadapan dengan realitas yang tidak lagi memungkinkan nilai-nilai yang diyakininya tumbuh secara sehat. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak meninggalkan Makkah karena takut menghadapi tekanan. Sebaliknya, mereka berhijrah justru karena memiliki keberanian untuk membayangkan masa depan yang berbeda. Hijrah bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan upaya sadar untuk menciptakan ruang baru bagi terwujudnya cita-cita kemanusiaan yang lebih adil dan bermartabat.

Ada konsep amor fati yang diperkenalkan Friedrich Nietzsche menjadi menarik untuk dibaca ulang. Secara harfiah, amor fati berarti “mencintai takdir”. Namun, sebagaimana banyak gagasan filsafat besar lainnya, konsep ini sering disalahpahami. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai ajakan untuk pasrah terhadap keadaan, menerima nasib apa adanya, dan berhenti melawan kenyataan. Padahal Nietzsche justru menawarkan sesuatu yang jauh lebih radikal. Baginya, manusia yang unggul bukanlah manusia yang hidup tanpa penderitaan, melainkan manusia yang mampu menerima seluruh pengalaman hidupnya—baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan—sebagai bagian dari proses pembentukan dirinya.

Dalam kerangka tersebut, mencintai takdir tidak berarti menyerah kepada keadaan. Sebaliknya, ia adalah kemampuan untuk berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan hasrat untuk bertindak. Takdir diterima sebagai titik berangkat, bukan sebagai titik akhir. Manusia tidak diberi kuasa untuk memilih semua keadaan yang menimpanya, tetapi ia selalu memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana ia merespons keadaan tersebut.

Perspektif ini memiliki resonansi yang kuat dengan spirit hijrah. Ketika tekanan sosial, ekonomi, dan politik di Makkah mencapai titik yang mengancam keberlangsungan dakwah, Nabi Muhammad SAW tidak memilih sikap fatalistik. Beliau tidak berkata bahwa semuanya adalah kehendak Tuhan sehingga manusia cukup menunggu perubahan datang dengan sendirinya. Yang terjadi justru sebaliknya. Hijrah dipersiapkan dengan matang. Strategi dirancang, jaringan sosial dibangun, risiko diperhitungkan, dan setiap langkah ditempuh dengan penuh kesadaran.

Dengan kata lain, hijrah adalah perpaduan antara penerimaan dan perjuangan. Ada pengakuan terhadap realitas yang ada, tetapi juga ada keberanian untuk mengubah apa yang masih mungkin diubah. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara iman yang aktif dan fatalisme yang pasif. Iman melahirkan ikhtiar, sedangkan fatalisme melahirkan kelumpuhan.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Program Bergizi? Coba Tanyakan ke 20 Ribu Siswa Keracunan

    Program Bergizi? Coba Tanyakan ke 20 Ribu Siswa Keracunan

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 258
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijanjikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ternyata menimbulkan persoalan serius. Sejak diluncurkan pada Januari 2025, ribuan siswa di berbagai daerah mengalami keracunan akibat menu MBG yang banyak menggunakan makanan olahan (Ultra Processed Food/UPF). Hingga 23 Desember 2025, korban keracunan tercatat mencapai lebih dari […]

  • Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

    Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 290
    • 0Komentar

    Ia menjelaskan bahwa laporan reformasi itu memuat ribuan halaman hasil diskusi dengan berbagai pihak, mulai dari masyarakat sipil, akademisi, hingga internal kepolisian sendiri. Semua persoalan dibedah secara terbuka, termasuk problem struktural, instrumental, dan kultural yang selama ini dianggap menjadi akar persoalan institusi kepolisian. Menurut Mahfud, persoalan paling berat justru berada pada aspek budaya kekuasaan atau […]

  • Fleksibilitas

    Fleksibilitas

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Fleksibilitas semakin sering digunakan dalam sistem kerja terkini, baik di korporasi maupun lembaga pemerintah. Flexibility work arragment (FWA) mulai diterapkan perlahan sebagai sistem kerja. Ia diposisikan sebagai respons atas perubahan digital yang menuntut kecepatan, keterbukaan, dan efisiensi. Pola kerja tidak lagi terikat secara ketat pada ruang dan waktu. Kantor bukan lagi satu-satunya locus kerja, dan jam kerja […]

  • Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Di antara sekian ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, hanya naik haji ke Baitullah yang mendapatkan titel. Gelarnya melekat seumur hidup. Segera setelah seseorang pulang dari berhaji di Tanah Suci, masyarakat pun menyematkan titel mulia itu di depan namanya—Haji Fulan atau Hajjah Fulanah. Gelar ini bukan sekadar sebutan, tetapi simbol dari suatu perjalanan agung, kedalaman […]

  • Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

    Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle M. Fadhil Hadju
    • visibility 276
    • 0Komentar

    Di tanah Gorontalo, Islam tidak hanya dipeluk dalam syariat, tetapi juga dirawat dalam budaya. Dalam ritus seperti modikili, tahlilan, maulidan, dan doa arwah, agama dan adat saling menyatu. Di antara masyarakat yang memegang teguh warisan ini, terdapat satu nama yang tetap harum hingga hari ini: KH Yahya Podungge, atau yang lebih dikenal dengan Bapu Paci […]

  • Sebuah Prestasi! Satresnarkoba Polres Maros Tangani 48 Perkara Sepanjang 2026

    Sebuah Prestasi! Satresnarkoba Polres Maros Tangani 48 Perkara Sepanjang 2026

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Ia menegaskan, seluruh barang bukti yang diamankan dalam pengungkapan kasus tersebut merupakan narkotika jenis sabu. Sementara itu, seluruh tersangka yang telah diamankan dari 48 perkara merupakan pelaku dewasa. “Yang kami jaring semuanya merupakan pelaku dewasa,” tegasnya. Tidak hanya fokus pada penegakan hukum, Satresnarkoba Polres Maros juga mengedepankan langkah preventif melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. […]

expand_less