Breaking News
dark_mode
Trending Tags

1 Muharram, Amor Fati, dan Keberanian untuk Berhijrah

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 334
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sayangnya, hijrah kerap dipahami secara dangkal sebagai perpindahan fisik semata. Padahal, dalam perspektif sejarah dan sosiologi, hijrah adalah bentuk keberanian eksistensial manusia ketika berhadapan dengan realitas yang tidak lagi memungkinkan nilai-nilai yang diyakininya tumbuh secara sehat. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak meninggalkan Makkah karena takut menghadapi tekanan. Sebaliknya, mereka berhijrah justru karena memiliki keberanian untuk membayangkan masa depan yang berbeda. Hijrah bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan upaya sadar untuk menciptakan ruang baru bagi terwujudnya cita-cita kemanusiaan yang lebih adil dan bermartabat.

Ada konsep amor fati yang diperkenalkan Friedrich Nietzsche menjadi menarik untuk dibaca ulang. Secara harfiah, amor fati berarti “mencintai takdir”. Namun, sebagaimana banyak gagasan filsafat besar lainnya, konsep ini sering disalahpahami. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai ajakan untuk pasrah terhadap keadaan, menerima nasib apa adanya, dan berhenti melawan kenyataan. Padahal Nietzsche justru menawarkan sesuatu yang jauh lebih radikal. Baginya, manusia yang unggul bukanlah manusia yang hidup tanpa penderitaan, melainkan manusia yang mampu menerima seluruh pengalaman hidupnya—baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan—sebagai bagian dari proses pembentukan dirinya.

Dalam kerangka tersebut, mencintai takdir tidak berarti menyerah kepada keadaan. Sebaliknya, ia adalah kemampuan untuk berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan hasrat untuk bertindak. Takdir diterima sebagai titik berangkat, bukan sebagai titik akhir. Manusia tidak diberi kuasa untuk memilih semua keadaan yang menimpanya, tetapi ia selalu memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana ia merespons keadaan tersebut.

Perspektif ini memiliki resonansi yang kuat dengan spirit hijrah. Ketika tekanan sosial, ekonomi, dan politik di Makkah mencapai titik yang mengancam keberlangsungan dakwah, Nabi Muhammad SAW tidak memilih sikap fatalistik. Beliau tidak berkata bahwa semuanya adalah kehendak Tuhan sehingga manusia cukup menunggu perubahan datang dengan sendirinya. Yang terjadi justru sebaliknya. Hijrah dipersiapkan dengan matang. Strategi dirancang, jaringan sosial dibangun, risiko diperhitungkan, dan setiap langkah ditempuh dengan penuh kesadaran.

Dengan kata lain, hijrah adalah perpaduan antara penerimaan dan perjuangan. Ada pengakuan terhadap realitas yang ada, tetapi juga ada keberanian untuk mengubah apa yang masih mungkin diubah. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara iman yang aktif dan fatalisme yang pasif. Iman melahirkan ikhtiar, sedangkan fatalisme melahirkan kelumpuhan.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dalam Bayang-bayang Raden Ayu: Kartini Sebagai Kesedaran Kolektif Emansipasi Perempuan

    Dalam Bayang-bayang Raden Ayu: Kartini Sebagai Kesedaran Kolektif Emansipasi Perempuan

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat yang sering dikenal dengan nama RA Kartini sebagai salah satu perempuan Indonesia asal jepara-jawa tengah, pejuang emansipasi perempuan itu selalu diperingati setiap tahun, tepatnya pada tanggal 21 April, tahun kelahirannya 1879. Dalam catatan sejarah, kartini menggores tinta perlawanan atas penjajahan yang dialami bangsa Indonesia. Doktrin Perjuangannya mengangkat martabat perempuan sebagai […]

  • Saro-Saro Ternate Diakui KIK, Tradisi Gotong Royong Pecahkan Rekor di Busua

    Saro-Saro Ternate Diakui KIK, Tradisi Gotong Royong Pecahkan Rekor di Busua

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 463
    • 0Komentar

    Dalam praktiknya, Saro-Saro dilaksanakan oleh para perempuan keluarga yang disebut yaya se goa. Mereka menyuguhkan berbagai makanan simbolik seperti srikaya, nanas, dan kobo, yang masing-masing mengandung makna budi pekerti, kesetiaan, dan tanggung jawab dalam rumah tangga. Selain itu, terdapat aturan adat yang ketat, seperti hanya satu imam yang membagi makanan, sementara lainnya mengambil secukupnya sebagai […]

  • Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Di antara sekian ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, hanya naik haji ke Baitullah yang mendapatkan titel. Gelarnya melekat seumur hidup. Segera setelah seseorang pulang dari berhaji di Tanah Suci, masyarakat pun menyematkan titel mulia itu di depan namanya—Haji Fulan atau Hajjah Fulanah. Gelar ini bukan sekadar sebutan, tetapi simbol dari suatu perjalanan agung, kedalaman […]

  • Harga Sembako di Gorontalo Terpantau Fluktuatif, Cabai dan Minyak Goreng Catat Pergerakan Signifikan

    Harga Sembako di Gorontalo Terpantau Fluktuatif, Cabai dan Minyak Goreng Catat Pergerakan Signifikan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 202
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Harga sejumlah bahan pokok di Provinsi Gorontalo terus mengalami fluktuasi yang memengaruhi daya beli masyarakat. Pemantauan terbaru menunjukkan beberapa komoditas kebutuhan pokok naik, sementara yang lain cenderung stabil atau turun. Pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat harga beberapa kebutuhan pokok di pasar tradisional Gorontalo antara lain: Cabai rawit sekitar Rp61,7 […]

  • Akademisi Unusia: Olahraga Harus Jadi Investasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

    Akademisi Unusia: Olahraga Harus Jadi Investasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak, menegaskan bahwa olahraga harus diposisikan sebagai investasi strategis dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Penyusunan Kurikulum dan Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora), 27 Februari 2026, di Jakarta. Forum tersebut […]

  • Bahas Sejumlah Isu, PWNU Gorontalo Gagas Bahtsul Masail Se-Suluttenggo

    Bahas Sejumlah Isu, PWNU Gorontalo Gagas Bahtsul Masail Se-Suluttenggo

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo akan menggelar Bahtsul Masail yang melibatkan tiga wilayah, yakni Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo) pada Ahad, 23 Februari 2025 besok. Acara yang digagas oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Gorontalo ini menjadi tonggak sejarah baru dalam mengintegrasikan diskusi ilmiah antar wilayah di kawasan Sulawesi. Ketua LBM PWNU […]

expand_less