1 Muharram, Amor Fati, dan Keberanian untuk Berhijrah
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 39
- print Cetak

Muhammad Kamal/istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sialnya dalam kehidupan modern kita justru sering menyaksikan kecenderungan yang berlawanan. Takdir kerap dijadikan alasan untuk membenarkan kemiskinan, ketertinggalan, atau ketidakadilan sosial. Banyak orang menerima keadaan bukan karena telah berdamai dengannya, melainkan karena kehilangan keberanian untuk mengubahnya. Padahal sejarah manusia tidak pernah bergerak maju melalui kepasrahan semacam itu. Tidak ada ilmu pengetahuan yang lahir dari kemalasan berpikir. Tidak ada kemerdekaan yang lahir dari ketakutan. Dan tidak ada peradaban besar yang dibangun oleh manusia yang hanya menunggu nasib bekerja untuknya.
Muharram karena itu hadir sebagai pengingat bahwa waktu terus bergerak, sementara manusia sering kali terjebak dalam stagnasi. Kalender berganti, usia bertambah, tetapi belum tentu kesadaran berkembang. Kita sering merayakan pergantian tahun tanpa benar-benar melakukan perpindahan apa pun dalam cara berpikir, cara memandang kehidupan, maupun cara memperlakukan sesama manusia.
Sejatinya hijrah pada zaman ini justru terletak pada perpindahan kesadaran tersebut. Hijrah berarti bergerak dari pola pikir yang sempit menuju wawasan yang lebih luas. Dari fanatisme menuju kebijaksanaan. Dari kebiasaan menyalahkan keadaan menuju keberanian mengambil tanggung jawab. Dari ketakutan terhadap kegagalan menuju keberanian untuk mencoba. Dari sekadar menjadi konsumen gagasan menuju pencipta gagasan.
Dalam konteks ini, metafora api dan abu menjadi sangat relevan. Sebelum menjadi abu, segala sesuatu harus terlebih dahulu menjadi api. Abu adalah akhir dari proses, sementara api adalah energi yang memungkinkan proses itu terjadi. Api melambangkan keberanian, gairah, kreativitas, dan daya hidup yang terus bergerak. Ia membakar keraguan, menghanguskan kemalasan, dan menerangi jalan yang sebelumnya tampak gelap.
Maka memperingati 1 Muharram sesungguhnya bukanlah soal menyusun daftar resolusi yang indah di atas kertas. Yang lebih penting adalah menyalakan kembali api yang mungkin selama ini redup di dalam diri kita. Api untuk belajar lebih sungguh-sungguh. Api untuk bekerja lebih tekun. Api untuk berpikir lebih jernih. Api untuk memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini benar meskipun tidak selalu populer.
Anjuran hijrah maupun adagium amor fati sama-sama mengajarkan bahwa kehidupan tidak ditentukan semata-mata oleh apa yang terjadi kepada kita, melainkan oleh bagaimana kita memaknai dan meresponsnya. Takdir mungkin menentukan medan tempat kita berpijak, tetapi manusialah yang menentukan apakah ia akan berjalan, berlari, atau hanya duduk diam di atasnya.
Karena itu, memasuki 1 Muharram hari ini, mungkin pertanyaan yang paling relevan bukanlah apa yang akan diberikan tahun baru kepada kita. Pertanyaan yang lebih penting adalah: manusia seperti apa yang akan kita bawa memasuki tahun yang baru itu?
Sebab sejarah hijrah mengajarkan satu pelajaran yang tak pernah usang: perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk melangkah. Dan sebelum waktu menjadikan kita abu, kita harus terlebih dahulu menjadi api yang menyala.
Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar