Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pseudo-Ramadan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 211
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadan akan segera berlalu. Bagai seorang perempuan, Ramadan tampak anggun dan suci. Ramadan cermin dari sebuah cahaya yang menyinari jiwa yang membutuhkan cahaya. Hanya jiwa yang suci yang dapat diterangi cahaya itu.

Dalam Ramadan berisi deretan ritus persembahan bagi yang merasa harus menyembah. Salah satu aktifitas itu adalah puasa. Bukan saja untuk menahan haus dan lapar, tetapi lebih dari pada itu puasa untuk mengupas kerak dalam hati yang telah berkarat.

Puasa adalah aktifitas hampir seluruh agama di dunia ini. Praktik puasa dilakukan oleh beberapa tokoh dunia di luar Islam, misalnya Mahatma Gandhi. Gandhi selalu menekankan pentingnya puasa dan doa untuk meningkatkan kehidupan spiritualnya, mempraktikkan nir-kekerasan, mengendalikan diri, mencari kebenaran dan menjumpai Tuhan (Kautsar Azhari Noer, 2008).

Bagi kita di Gorontalo, puasa Ramadan adalah ritual yang begitu luhur. Sebelum memasuki Ramadhan, ada tradisi yimelu (mohimeluwa) artinya saling menyapa, atau mungkin saling memaafkan atas setiap kesalahan. Selain itu, ada pula ritual molihu lo limu, yakni aktivitas memandikan tubuh dengan limu tutu, dengan harapan “ahali jamootola limo lo wakutu” (tidak meninggalkan sholat lima waktu). Kesemuanya dimaksudkan untuk menyambut bulan yang suci, agar ritual penyucian diri semakin lancar.

Leluhur kita sengaja menciptakan ritual simbolik tersebut untuk mengingatkan setiap orang agar senantiasa menyambut Ramadan dengan suci. Ritual diatas diciptakan bukan untuk membuat “ribet” zaman, tetapi sengaja dimaksudkan sebagai prosesi penyucian untuk mencapai langit.

Walaupun akhir-akhir ini, seiring perkembangan zaman, saling memaafkan sebelum Ramadan dilakukan secara virtual, baik melalui WhatsApp, Instagram, Facebook dan ragam media sosial lainnya. 

Teknologi yang hadir telah meringkas waktu dan ruang, yang unsur perjumpaannya (tatapan, kehangatan dan kerinduan) terasa kering dan bahkan lenyap. Belum jika kita menyaksikan deretan senyuman elit yang banyak bertebaran di spanduk dan baliho, hingga teranyar adalah poster-poster digital (flyer) yang beredar pada sejumlah story dan snapachat hanya untuk sekedar mengucapkan selamat memasuki bulan suci Ramadan secara simbolik. Seperti tak lengkap Ramadan jika tak ada poster-poster tersebut. Bahkan beberapa masjid seperti papan iklan yang menyewakan halamannya untuk ditutupi baliho yang sifatnya bukan untuk mengucapkan selamat, tetapi mempromosikan komoditinya.

Ramadan pun mulai digeser konteksnya, dari arena teologis menjadi arena produksi. Sebagai arena produksi, Ramadan dapat dipahami dari dua sisi, makro dan mikro. Dari sisi makro, Ramadan telah menjadi ajang perebutan kepentingan ekonomi dari perusahaan-perusahaan besar, media massa dan negara (elit politik) dalam rangka mengejar kepentingannya masing-masing. Perusahaan besar sangat intens menawarkan produk yang bernuansa Ramadan. Bahwa citra yang seharusnya tercipta saat Ramadhan –versi perusahaan- adalah kemenangan di Ramadan dapat diraih dengan mengkonsumsi produknya. Seperti langgam Cartesian : aku mengkonsumsi, maka aku berpuasa. Puasa tak akan sempurna jika tak terjadi proses konsumsi.

Demikian pula halnya seperti media. Media massa juga sangat perhatian dengan Ramadan. Keuntungan finansial dari iklan perorangan atau pemerintah menjadi target utama media massa. 

Dari sisi mikro, Ramadan telah menjadi arena perjuangan individu, keluarga, komunitas dan masyarakat untuk peneguhan eksistensi diri. Pertunjukkan pertandingan ini bukan saja terjadi melalui wacana-wacana dan simbol-simbol hegemonik yang diekspresikan dalam setiap kegiatan. Contohnya, ketika dalam sholat tarawih atau buka puasa bersama, aksesoris kehidupan pun dipertontonkan. Kita mengakui bahwa semua manusia adalah performer. Setiap orang diminta untuk bisa memainkan dan mengontrol peranan mereka sendiri. Secara sadar masyarakat menorehkan identitas baru dalam batas waktu tertentu untuk gaya pakaian, dandanan rambut, segala macam asesoris yang menempel pada pilihan-pilihan kegiatan Ramadan yang dilalui. Belum lagi jika kita melihat ekspresi masyarakat dalam mengkonsumsi ragam kuliner yang diselenggarakan secara biner. Ramadan pun berhasil dipreteli keanggunannya.

Ramadan pada akhirnya melahirkan keterasingan. Sekedar penampilan semata. Hanya fashion. Hanya dominasi sosial yang terjadi. Karena dalam skema produksi, yang sah dan memiliki posisi sosial dalam industri adalah yang memiliki akses dan modal. Heru Nugroho mengatakan bahwa dalam skema produksi, yang menjadi sasaran empuk pasar adalah tubuh. Tubuh dalam hal ini akan dibagi dalam dua, yakni tubuh luar dan dalam. Tubuh luar akan ”dipaksa” mengkonsumsi segala hal yang berkaitan dengan kosmetik dan pakaian-pakaian trendy agar bisa mendapatkan status sosial dalam sebuah masyarakat. Tubuh bagian dalam akan ”dipaksa” mengkonsumsi obat-obatan, kuliner dan berbagai hal yang mesti dimasukkan ke dalam tubuh untuk mendapat ”legitimasi” untuk dikatakan ”sehat” dan bisa masuk dalam ruang masyarakat yang harus ”higienis”. (Heru Nugroho, 2004).

Ramadan pun menjadi ruang konstruksi identitas baru manusia. Semua diarahkan pada identitas yang semu, menuju keberagamaan palsu (pseudo-religiosity) dan akhirnya mencapai Ramadan yang semu/palsu (pseudo Ramadan).

Sebagai penutup, sudah semestinya kita memeriksa kembali semangat Ramadan yang tinggal beberapa hari ini, mumpung masih ada enam hari untuk bisa membenahi semangat berpuasa.

Pendapat Ibn ’Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyyah menjadi pas untuk kita kontekstualisasi pada keterasingan kita dalam ”Ramadan yang materiil”. 

Bagi Ibn ”Arabi, puasa adalah ritual negatif yang menjadi “beban yang wajib”, yang begitu beda dengan fitrah manusia seperti makan ketika lapar, minum ketika haus, dan marah ketika dicaci-maki. Puasa mengekang fitrah manusia. Puasa adalah “beban yang diwajibkan” untuk kehidupan asketik dalam kehidupan manusia. Tanpa unsur pengorbanan kepentingan diri dan asketisisme, tidak mungkin ada kehidupan spiritual. Karena itu, Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa puasa pada hakikatnya adalah meninggalkan, bukan melakukan. (Muhammad Al Fayaddl, 2012).

Semoga, Ramadan yang tinggal beberapa hari ini masih bisa kita manfaatkan untuk senantiasa mengoreksi arah dan tujuan kita dalam merayakan Ramadan, tujuannya agar “kesempatan” ini, yang belum tentu pada tahun-tahun berikut masih dapat kita lewati dan syukuri dengan segala keanggunannnya yang masih belum semuanya tersingkap.

Oleh : Dr. Funco Tanipu, ST., M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panja AMDK Mulai Bekerja, Industri Air Minum Diminta Siap-Siap Diawasi Ketat

    Panja AMDK Mulai Bekerja, Industri Air Minum Diminta Siap-Siap Diawasi Ketat

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 426
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi VII DPR RI resmi membentuk Panitia Kerja (Panja) Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) untuk menindaklanjuti berbagai laporan dan temuan terkait pelanggaran perizinan serta praktik usaha yang tidak sesuai aturan di sektor AMDK. Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, menegaskan pembentukan Panja bertujuan memberikan rekomendasi dan solusi atas persoalan industri […]

  • Sah! Ini dia Badan Usaha yang Bisa Memiliki Izin Pertambangan

    Sah! Ini dia Badan Usaha yang Bisa Memiliki Izin Pertambangan

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 175
    • 0Komentar

    DPR RI resmi mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) perubahan keempat Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) menjadi UU. Hal tersebut dilakukan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-13 Masa Persidangan II Tahun Sidang 2024-2025 hari ini, Selasa (18/2). Dalam Rapat Paripuurna tersebut, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Achmad Doli Kurnia Tanjung […]

  • Perjalanan Spiritual Nabi

    Perjalanan Spiritual Nabi

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Kita kini berada di penghujung bulan Rajab, bulan ketujuh dalam kalender Hijriah, sebuah bulan yang dimuliakan dan sarat dengan pesan persiapan ruhani. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram dan memelihara, sementara Ramadhan adalah bulan memetik hasil. Maka, akhir Rajab seharusnya menjadi ruang muhasabah: sejauh mana benih-benih kebaikan telah kita […]

  • Yahudi, Sanksi Sosial dan Migrasi

    Yahudi, Sanksi Sosial dan Migrasi

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Saat ini, sedang ramai soal fenomena kekinian yang sedang menjadi perdebatan publik terkait dengan Goyang THR. Ada yang berpendapat “ini kan cuma hiburan”, “bolo samua ngoni mo protes”, “kalo suka beken”, dan “ngga beda ini torang pe niat dengan goyang lo Yahudi yang ngoni tuduhkan”. Ada juga sebagian kalangan berpendapat berbeda dan terkesan tidak menyetujui […]

  • Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

    Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Benarkah Gerindra lagi panen tokoh intelektual serupa ciutan Juru Bicara Gerindra Gorontalo, Wahidin Ishak, di beberapa kanal media online 9 Maret 2025, baru-baru ini? Apa model dan bentuk intelektual yang dimaksud Wahidin itu juga tidak dijelaskan. Yang pasti, Jubir itu bilang: “Biasa-biasa jo. Mungkin karena Ketua GERINDRA cukup pintar maka para intelektual banyak yang ke […]

  • Warga Dufa-Dufa Boikot Jalan, Desak KM Queen Mary Kembali Berlabuh di Pelabuhan Sultan Mudjafar Syah II

    Warga Dufa-Dufa Boikot Jalan, Desak KM Queen Mary Kembali Berlabuh di Pelabuhan Sultan Mudjafar Syah II

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Asril R Mahmud
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Ternate – Menjelang bulan suci Ramadan, warga Kelurahan Dufa-Dufa menggelar aksi pemboikotan akses jalan utama, Kamis 26 Februari 2026. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap polemik perubahan rute dan lokasi sandar kapal di Pelabuhan Sultan Mudjafar Syah II. Aksi berlangsung dengan pemblokiran sejumlah ruas jalan utama di wilayah Dufa-Dufa. Massa aksi menuntut agar KM […]

expand_less