Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pseudo-Ramadan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 186
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadan akan segera berlalu. Bagai seorang perempuan, Ramadan tampak anggun dan suci. Ramadan cermin dari sebuah cahaya yang menyinari jiwa yang membutuhkan cahaya. Hanya jiwa yang suci yang dapat diterangi cahaya itu.

Dalam Ramadan berisi deretan ritus persembahan bagi yang merasa harus menyembah. Salah satu aktifitas itu adalah puasa. Bukan saja untuk menahan haus dan lapar, tetapi lebih dari pada itu puasa untuk mengupas kerak dalam hati yang telah berkarat.

Puasa adalah aktifitas hampir seluruh agama di dunia ini. Praktik puasa dilakukan oleh beberapa tokoh dunia di luar Islam, misalnya Mahatma Gandhi. Gandhi selalu menekankan pentingnya puasa dan doa untuk meningkatkan kehidupan spiritualnya, mempraktikkan nir-kekerasan, mengendalikan diri, mencari kebenaran dan menjumpai Tuhan (Kautsar Azhari Noer, 2008).

Bagi kita di Gorontalo, puasa Ramadan adalah ritual yang begitu luhur. Sebelum memasuki Ramadhan, ada tradisi yimelu (mohimeluwa) artinya saling menyapa, atau mungkin saling memaafkan atas setiap kesalahan. Selain itu, ada pula ritual molihu lo limu, yakni aktivitas memandikan tubuh dengan limu tutu, dengan harapan “ahali jamootola limo lo wakutu” (tidak meninggalkan sholat lima waktu). Kesemuanya dimaksudkan untuk menyambut bulan yang suci, agar ritual penyucian diri semakin lancar.

Leluhur kita sengaja menciptakan ritual simbolik tersebut untuk mengingatkan setiap orang agar senantiasa menyambut Ramadan dengan suci. Ritual diatas diciptakan bukan untuk membuat “ribet” zaman, tetapi sengaja dimaksudkan sebagai prosesi penyucian untuk mencapai langit.

Walaupun akhir-akhir ini, seiring perkembangan zaman, saling memaafkan sebelum Ramadan dilakukan secara virtual, baik melalui WhatsApp, Instagram, Facebook dan ragam media sosial lainnya. 

Teknologi yang hadir telah meringkas waktu dan ruang, yang unsur perjumpaannya (tatapan, kehangatan dan kerinduan) terasa kering dan bahkan lenyap. Belum jika kita menyaksikan deretan senyuman elit yang banyak bertebaran di spanduk dan baliho, hingga teranyar adalah poster-poster digital (flyer) yang beredar pada sejumlah story dan snapachat hanya untuk sekedar mengucapkan selamat memasuki bulan suci Ramadan secara simbolik. Seperti tak lengkap Ramadan jika tak ada poster-poster tersebut. Bahkan beberapa masjid seperti papan iklan yang menyewakan halamannya untuk ditutupi baliho yang sifatnya bukan untuk mengucapkan selamat, tetapi mempromosikan komoditinya.

Ramadan pun mulai digeser konteksnya, dari arena teologis menjadi arena produksi. Sebagai arena produksi, Ramadan dapat dipahami dari dua sisi, makro dan mikro. Dari sisi makro, Ramadan telah menjadi ajang perebutan kepentingan ekonomi dari perusahaan-perusahaan besar, media massa dan negara (elit politik) dalam rangka mengejar kepentingannya masing-masing. Perusahaan besar sangat intens menawarkan produk yang bernuansa Ramadan. Bahwa citra yang seharusnya tercipta saat Ramadhan –versi perusahaan- adalah kemenangan di Ramadan dapat diraih dengan mengkonsumsi produknya. Seperti langgam Cartesian : aku mengkonsumsi, maka aku berpuasa. Puasa tak akan sempurna jika tak terjadi proses konsumsi.

Demikian pula halnya seperti media. Media massa juga sangat perhatian dengan Ramadan. Keuntungan finansial dari iklan perorangan atau pemerintah menjadi target utama media massa. 

Dari sisi mikro, Ramadan telah menjadi arena perjuangan individu, keluarga, komunitas dan masyarakat untuk peneguhan eksistensi diri. Pertunjukkan pertandingan ini bukan saja terjadi melalui wacana-wacana dan simbol-simbol hegemonik yang diekspresikan dalam setiap kegiatan. Contohnya, ketika dalam sholat tarawih atau buka puasa bersama, aksesoris kehidupan pun dipertontonkan. Kita mengakui bahwa semua manusia adalah performer. Setiap orang diminta untuk bisa memainkan dan mengontrol peranan mereka sendiri. Secara sadar masyarakat menorehkan identitas baru dalam batas waktu tertentu untuk gaya pakaian, dandanan rambut, segala macam asesoris yang menempel pada pilihan-pilihan kegiatan Ramadan yang dilalui. Belum lagi jika kita melihat ekspresi masyarakat dalam mengkonsumsi ragam kuliner yang diselenggarakan secara biner. Ramadan pun berhasil dipreteli keanggunannya.

Ramadan pada akhirnya melahirkan keterasingan. Sekedar penampilan semata. Hanya fashion. Hanya dominasi sosial yang terjadi. Karena dalam skema produksi, yang sah dan memiliki posisi sosial dalam industri adalah yang memiliki akses dan modal. Heru Nugroho mengatakan bahwa dalam skema produksi, yang menjadi sasaran empuk pasar adalah tubuh. Tubuh dalam hal ini akan dibagi dalam dua, yakni tubuh luar dan dalam. Tubuh luar akan ”dipaksa” mengkonsumsi segala hal yang berkaitan dengan kosmetik dan pakaian-pakaian trendy agar bisa mendapatkan status sosial dalam sebuah masyarakat. Tubuh bagian dalam akan ”dipaksa” mengkonsumsi obat-obatan, kuliner dan berbagai hal yang mesti dimasukkan ke dalam tubuh untuk mendapat ”legitimasi” untuk dikatakan ”sehat” dan bisa masuk dalam ruang masyarakat yang harus ”higienis”. (Heru Nugroho, 2004).

Ramadan pun menjadi ruang konstruksi identitas baru manusia. Semua diarahkan pada identitas yang semu, menuju keberagamaan palsu (pseudo-religiosity) dan akhirnya mencapai Ramadan yang semu/palsu (pseudo Ramadan).

Sebagai penutup, sudah semestinya kita memeriksa kembali semangat Ramadan yang tinggal beberapa hari ini, mumpung masih ada enam hari untuk bisa membenahi semangat berpuasa.

Pendapat Ibn ’Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyyah menjadi pas untuk kita kontekstualisasi pada keterasingan kita dalam ”Ramadan yang materiil”. 

Bagi Ibn ”Arabi, puasa adalah ritual negatif yang menjadi “beban yang wajib”, yang begitu beda dengan fitrah manusia seperti makan ketika lapar, minum ketika haus, dan marah ketika dicaci-maki. Puasa mengekang fitrah manusia. Puasa adalah “beban yang diwajibkan” untuk kehidupan asketik dalam kehidupan manusia. Tanpa unsur pengorbanan kepentingan diri dan asketisisme, tidak mungkin ada kehidupan spiritual. Karena itu, Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa puasa pada hakikatnya adalah meninggalkan, bukan melakukan. (Muhammad Al Fayaddl, 2012).

Semoga, Ramadan yang tinggal beberapa hari ini masih bisa kita manfaatkan untuk senantiasa mengoreksi arah dan tujuan kita dalam merayakan Ramadan, tujuannya agar “kesempatan” ini, yang belum tentu pada tahun-tahun berikut masih dapat kita lewati dan syukuri dengan segala keanggunannnya yang masih belum semuanya tersingkap.

Oleh : Dr. Funco Tanipu, ST., M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mulawarman Hannase: Perang AS–Israel–Iran Tak Akan Selesaikan Konflik, Diplomasi Harus Diperkuat

    Mulawarman Hannase: Perang AS–Israel–Iran Tak Akan Selesaikan Konflik, Diplomasi Harus Diperkuat

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 197
    • 0Komentar

    nulondalo.com  – Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memasuki pekan kedua setelah serangan udara besar-besaran pada akhir Februari telah memperluas ketegangan regional dan menimbulkan dampak serius bagi stabilitas kawasan hingga ekonomi dunia. Sejumlah pemimpin dunia mulai menyerukan penyelesaian politik guna mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. […]

  • Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

    Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 488
    • 0Komentar

    Nasionalisme berangkat dari pertanyaan paling mendasar tentang manusia: siapa saya dan di mana posisi saya. Jawaban atas identitas inilah yang kemudian membimbing cara hidup, pilihan moral, dan tindakan politik. Dalam kerangka ini, bangsa diposisikan sebagai komunitas utama yang membentuk kewajiban normatif individu. Pemikiran ini sejalan dengan antropolog Benedict Anderson yang menegaskan bahwa nasionalisme adalah sebuah […]

  • Dari Dosa Akuntansi ke Selera Politik

    Dari Dosa Akuntansi ke Selera Politik

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 310
    • 0Komentar

    Di negeri ini, fraud dan kriminalisasi sering kali seperti dua santri yang duduk satu bangku: kelihatannya berbeda kitab, tapi ujian akhirnya sama-sama bikin deg-degan. Fraud yang awalnya dosa akuntansi, lama-lama naik kelas menjadi dosa pidana. Sementara kriminalisasi, yang mestinya urusan hukum, kadang terasa seperti urusan selera politik. Maka jangan heran, jabatan publik kini sering dipersepsikan […]

  • Langkah Terhadang Lapak: Menata Ulang Empati di Ruang Kota

    Langkah Terhadang Lapak: Menata Ulang Empati di Ruang Kota

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Kebijakan yang Menuai Tanya  Beberapa waktu terakhir, masyarakat Gorontalo dikejutkan oleh pernyataan Walikota yang memperkenankan pedagang berjualan di trotoar di ruas Jalan eks Andalas (John Ario Katili) dan Tanggidaa (Cokroaminoto). Pernyataan tersebut, meski berniat baik untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), justru menimbulkan pertanyaan di kalangan pemerhati tata kota, arsitek, dan masyarakat umum: Apakah […]

  • Solidaritas PC PMII Baabullah Kota Ternate Untuk Sumatera dan Aceh Sekaligus Berikan Warning Wilayah Maluku Utara 

    Solidaritas PC PMII Baabullah Kota Ternate Untuk Sumatera dan Aceh Sekaligus Berikan Warning Wilayah Maluku Utara 

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Asril
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Baabullah Kota Ternate menggelar aksi kemanusiaan untuk korban bencana alam di Sumatra dan Aceh, sekaligus mengampanyekan peringatan darurat ekologi bagi Maluku Utara yang saat ini dikepung oleh aktivitas pertambangan secara masif. Ternate, 7 Desember 2025. Aksi yang berlangsung di depan Lank Mart itu diisi dengan penggalangan donasi, […]

  • UNU Gorontalo Dampingi Petani Atasi Konflik Satwa

    UNU Gorontalo Dampingi Petani Atasi Konflik Satwa

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Gorontalo yang melakukan penanaman papaya di batas ladang Masyarakat dengan kawasan hutan. Penanaman buah ini merupakan upaya untuk meredam konflik satwa liar dan petani yang hingga kini belum mampu diatasi. Mahasiswa ini menanam bibit papaya dengan jarak tertentu pada bidang lahan, sehingga saat pohon besar dan berbuah nanti kawasan ini […]

expand_less