Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mengapa Harus Panahan?

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
  • visibility 279
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan Antropolog tentang Disiplin, Rasa, dan Jalan Pulang pada Diri

Ada olahraga yang membuat kita berkeringat. Ada yang memacu adrenalin. Dan ada satu yang membuat kita diam namun justru di sanalah kita menemukan diri sendiri. Panahan adalah yang terakhir.

Saya menulis ini sebagai antropolog—dan pengalaman itu diperkaya oleh perjumpaan panjang dengan Bang Ade Permana, seorang Polisi aktif berpangkat Kombes Pol, mantan Kapolresta Gorontalo Kota, yang juga antropolog. Kami saling mengenal sejak studi doktoral di Universitas Hasanuddin (2019). Di lapangan, beliau membina Dumbo Archery Gorontalo—sebuah ruang belajar yang tenang, egaliter, dan penuh makna.

Bahwa seorang perwira polisi sekaligus antropolog memilih panahan bukan kebetulan. Antropologi mengajarkan satu hal: manusia dibentuk oleh praktik yang ia ulangi. Panahan adalah praktik itu—sunyi, disiplin, dan jujur.

Panahan Mengajari Kita Menunggu

Panahan memaksa kita melambat. Tidak ada hasil instan. Tarikan busur menuntut kekuatan yang terukur; jeda sebelum melepas anak panah menuntut kesabaran yang sadar. Terburu-buru hampir selalu meleset. Di sini, kita belajar sabar yang aktif—bukan pasrah, melainkan siap sepenuhnya.

Rasa Saat Anak Panah Dilepas

Ada momen yang sulit dijelaskan: ketika jemari membuka, anak panah melesat, dan dunia sejenak mengecil pada satu titik tujuan. Entah tepat di tengah sasaran atau sedikit melenceng, selalu ada pelajaran. Panahan tidak pernah berbohong—ia mengembalikan kita pada kualitas niat dan ketenangan kita sendiri.

Disiplin Sunyi yang Membentuk Karakter

Di Dumbo Archery, banyak anggota adalah polisi aktif lintas generasi. Pangkat ditinggalkan. Yang diuji bukan otoritas, melainkan ketenangan. Latihan—sering kali malam hari, termasuk di rumah dinas—menjadi ritual pemulihan setelah hari yang panjang. Tidak ada teriakan. Tidak ada pamer. Hanya pengulangan, koreksi, dan saling menguatkan.

Di titik ini, perspektif antropologis menjadi terang: panahan bekerja sebagai pendidikan karakter tanpa kurikulum. Nilai ditanamkan lewat praktik—fokus, disiplin, tanggung jawab—bukan lewat ceramah.

Mengapa Panahan Relevan Hari Ini

Karena kita hidup di zaman yang bising. Karena pikiran jarang benar-benar istirahat. Karena emosi mudah tersulut, sementara jeda kian langka.

Panahan memberi jeda itu. Ia melatih kekuatan yang tertib, bukan agresi. Ia mengajarkan kepemimpinan atas diri sendiri sebelum mengelola keadaan. Itulah mengapa seorang antropolog—bahkan yang juga perwira Polri—memilihnya sebagai jalan latihan.

Sebuah Undangan Rasa

Jika Anda lelah oleh hiruk-pikuk, cobalah panahan. Pegang busur. Tarik perlahan. Atur napas. Lepaskan anak panah dengan niat baik. Rasakan ketenangan yang asing namun akrab. Jika itu datang, panahan sedang bekerja pada Anda.

Tulisan ini saya persembahkan sebagai catatan antropolog dan undangan sunyi. Bukan untuk menjadi juara, tetapi untuk menjadi lebih hadir, lebih tenang, dan lebih utuh. Karena terkadang, yang kita perlukan bukan berlari lebih cepat, melainkan berhenti sejenak—lalu melangkah dengan arah yang benar.

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengapa Suara Perdamaian Lebih Nyaring dari Arah Komunitas, Bukan Pemerintah?

    Mengapa Suara Perdamaian Lebih Nyaring dari Arah Komunitas, Bukan Pemerintah?

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Dalam dinamika sosial Indonesia, satu hal yang menarik untuk diamati adalah bahwa suara-suara yang paling lantang menyuarakan kerukunan dan perdamaian justru lebih sering datang dari organisasi masyarakat sipil—terutama ormas keagamaan, sosial, dan komunitas-komunitas akar rumput—bukan dari pemerintah. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ia berakar pada perbedaan mendasar dalam cara berpikir, atau yang sering disebut sebagai […]

  • Pemkab Maros Segarkan Birokrasi, A. Abbas Maskur Resmi Nahkodai Dinas Perhubungan

    Pemkab Maros Segarkan Birokrasi, A. Abbas Maskur Resmi Nahkodai Dinas Perhubungan

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros– Pemerintah Kabupaten Maros kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun birokrasi yang bersih, profesional, dan berorientasi pada pelayanan publik. Melalui perombakan jabatan struktural, Pemkab Maros melakukan penyegaran organisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat kinerja pemerintahan daerah. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan berlangsung khidmat di Lapangan Pallantikang, Kabupaten Maros, Senin (5/1/2025), dan dihadiri oleh jajaran pejabat […]

  • Said Aqil Siradj dan Kritik tentang Tambang: Ketika NU Diuji antara Khidmah dan Kekuasaan Play Button

    Said Aqil Siradj dan Kritik tentang Tambang: Ketika NU Diuji antara Khidmah dan Kekuasaan

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 120
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama KH Said Aqil Siradj bukan sosok asing dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Selama dua periode memimpin PBNU, ia dikenal sebagai kiai yang vokal dan tak segan mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk di era Presiden Joko Widodo, terutama ketika kebijakan dinilai merugikan rakyat kecil dan kaum lemah. Dalam sejumlah pernyataan yang kembali ramai dibicarakan, Said […]

  • Sa’ad bin Abi Waqqas: Sang Perintis Islam di Negeri China (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #20)

    Sa’ad bin Abi Waqqas: Sang Perintis Islam di Negeri China (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #20)

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Sa’ad bin Abi Waqqas adalah salah satu sahabat besar Nabi Muhammad yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam. Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Malik bin Uhaib az-Zuhri dari kabilah Quraisy. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat yang masuk Islam pada masa-masa awal dakwah di Makkah. Menurut banyak riwayat, Sa’ad memeluk Islam ketika usianya masih sangat […]

  • Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 494
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Muhammad Aras Prabowo, mengkritik keras pernyataan Sekretaris Kabinet, Teddy, yang menyebut sumber anggaran program pasar murah di Monas dengan ungkapan “pokoknya ada”. Pernyataan tersebut dinilai problematik secara etik, administratif, dan epistemik dalam tata kelola keuangan negara. Menurut Aras, ungkapan tersebut mencerminkan lemahnya kesadaran terhadap prinsip dasar akuntabilitas publik dalam […]

  • Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Dalam sejarah Islam, banyak perempuan tampil sebagai figur yang memberi kontribusi penting dalam membentuk kehidupan spiritual umat. Khadijah dikenal karena keteguhan dan dukungannya pada masa awal dakwah, baik secara moral maupun material. Aisyah menjadi rujukan utama dalam periwayatan hadis dan persoalan-persoalan hukum, menunjukkan kedalaman pengetahuan dan ketajaman intelektualnya. Fatimah dihormati karena kesederhanaan, keteguhan sikap, dan […]

expand_less