Deretan Bencana Awal Januari: Banjir Rendam NTB, Korban Tewas Banjir Bandang Sitaro Bertambah Jadi 17 Orang
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- visibility 117
- print Cetak

Banjir merendam sejumlah permukiman warga di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat akibat hujan lebat pada Rabu, (7/1). (BPBD Kabupaten Sumbawa Barat)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode 7 Januari 2026 hingga 8 Januari 2026 pukul 07.00 WIB. Berdasarkan pemantauan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB, bencana yang terjadi masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah, khususnya banjir.
Banjir Rendam Sumbawa Barat
Peristiwa banjir pertama terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Rabu (7/1). Banjir dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Desa Tongo dan sekitarnya sejak pukul 10.00 hingga 13.00 Wita.
Dampak banjir terfokus di Kecamatan Sekongkang, Desa Tongo. Sebanyak 15 kepala keluarga atau 60 jiwa terdampak, dengan 15 unit rumah warga terendam air. BPBD Kabupaten Sumbawa Barat telah melakukan koordinasi lintas sektor, pendataan, serta penanganan darurat. Kondisi terkini dilaporkan banjir telah surut dan warga melakukan pembersihan lingkungan secara mandiri.
Banjir Meluas di Kabupaten Dompu
Sementara itu, banjir juga melanda Kabupaten Dompu, NTB, pada Rabu (7/1) setelah hujan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 16.00 Wita selama sekitar dua jam.
Banjir berdampak pada tiga kecamatan, yakni Kecamatan Hu’u, Kilo, dan Pajo, dengan enam desa terdampak. Di Kecamatan Hu’u, banjir merendam Desa Rasabou dan Desa Cempi Jaya. Di Desa Rasabou, 31 kepala keluarga terdampak dengan ketinggian air 50–80 sentimeter serta dua rumah rusak akibat tembok roboh.
Di Desa Cempi Jaya, Dusun Konca, sebanyak 51 rumah terendam dan tiga rumah mengalami kerusakan. Selain itu, pagar kuburan roboh dan satu jenazah yang telah dimakamkan sekitar 25 hari sebelumnya terseret banjir dan diupayakan untuk dimakamkan kembali. Di Dusun Sigi, 27 unit rumah turut terendam.
Banjir juga melanda Desa Daha, Dusun Sandang Pangan, dengan lima kepala keluarga terdampak serta satu kios rusak akibat jebol. Di Kecamatan Kilo, banjir merendam Desa Lasi (100 KK), Desa Kramat (50 KK), dan Desa Mbuju (50 KK). Sementara di Kecamatan Pajo, banjir menggenangi Desa Lepadi dan merendam Pondok Pesantren Al Ihwan dengan ketinggian air 30–50 sentimeter.
Secara keseluruhan, banjir di Kabupaten Dompu berdampak pada sedikitnya 314 kepala keluarga dengan 314 unit rumah terendam. BPBD Kabupaten Dompu telah menurunkan Tim Reaksi Cepat untuk asesmen lanjutan dan berkoordinasi dengan lintas sektor terkait.
Korban Banjir Bandang Sitaro Bertambah
Di wilayah Sulawesi Utara, hingga hari keempat pascabencana banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), penanganan darurat masih terus berlangsung. Berdasarkan pembaruan Kamis (8/1), jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 17 orang, termasuk satu korban anak yang ditemukan pada Rabu (7/1).
Dari jumlah tersebut, sembilan korban masih dalam proses identifikasi. Selain itu, dua orang dilaporkan hilang dan masih dalam pencarian oleh tim gabungan TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat.
Sebanyak 12 korban dirujuk ke puskesmas, sementara empat korban lainnya dirawat di fasilitas kesehatan di Manado. Jumlah warga terdampak mencapai 691 kepala keluarga yang kini berada di lokasi pengungsian.
Dari sisi kerusakan, tercatat 30 unit rumah hilang, 52 unit rusak berat, 29 unit rusak sedang, dan 89 unit rusak ringan. Sejumlah fasilitas pendidikan, kantor pemerintahan, serta infrastruktur dan akses jalan juga mengalami kerusakan.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari, terhitung sejak 5 hingga 18 Januari 2026.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seiring masih adanya potensi hujan lebat di sejumlah wilayah. Masyarakat diminta menjauhi daerah rawan dan segera melakukan evakuasi mandiri jika kondisi darurat, sementara pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapsiagaan personel, sarana prasarana, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar