Breaking News
light_mode
Trending Tags

Catatan Kecil Seorang Anak PNS

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 423
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, menyampaikan amanah kepeduliaan Walikota Gorontalo Bapak H. Adhan Dambea dan masyarakat dari Kota Gorontalo untuk saudara-saudara kita yang dilanda bencana banjir bandang disana.

Ia adalah Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Gorontalo, yang akrab disapa Mayor Teddy Gorontalo, atau lebih hangat dikenal sebagai Om Dandy. Profesi kami sejalur, irama hidup kami pun hampir sama. Di ruang tunggu itu, kami duduk berdampingan—lelah yang serupa, pikiran yang penuh, dan cerita hidup yang nyaris identik.

Tanpa rencana, obrolan kami mengalir ke satu tema yang sama: keluarga, anak-anak, dan waktu yang sering kali terasa tak pernah cukup. Di antara diskusi tentang logistik, medan bencana, dan koordinasi lintas daerah, terselip percakapan paling personal—tentang rumah yang ditinggalkan sementara, dan keluarga yang selalu menunggu dengan doa.

Ada jeda sunyi di antara kami. Jeda yang biasanya diisi dengan rindu. Rindu pada anak-anak. Rindu pada rumah. Dan rindu pada istri tercinta yang, dengan caranya sendiri, kadang menyampaikan protes paling lembut: “Waktu kita kok makin sedikit ya…”

Protes itu tidak pernah keras. Tidak menyalahkan. Justru karena kelembutannya, ia terasa jauh lebih dalam. Ia bukan penolakan terhadap pengabdian, melainkan pengingat bahwa di balik tugas kemanusiaan, ada keluarga yang juga membutuhkan kehadiran. Namun sebagai orang tua, sebagai aparatur negara, ada satu hal yang seolah menjadi kesepakatan tak tertulis: kata lelah tidak boleh diucapkan di depan anak-anak. Bukan karena kita tidak lelah, tetapi karena keluarga membutuhkan keteguhan, bukan keluhan.

Di sanalah ingatan saya kembali pada satu pertanyaan kecil yang kerap muncul di rumah:
“Papa nggak capek?”

Pertanyaan polos itu, jika dilihat dari kacamata antropologi pendidikan karakter, bukan sekadar empati anak. Ia adalah hasil dari pengamatan panjang. Anak-anak membaca dunia melalui perilaku orang tuanya. Mereka melihat ayah atau ibu berangkat pagi, pulang dengan sisa tenaga, kadang membawa cerita bencana, rapat, dan tanggung jawab yang tak selesai di jam kantor. Dari situlah mereka belajar—diam-diam—tentang tanggung jawab, keteguhan, dan arti berdiri tegak di tengah tekanan.

Keluarga adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah kurikulum hidupnya. Anak tidak belajar karakter dari nasihat panjang, tetapi dari sikap orang tuanya dalam menghadapi lelah. Ketika orang tua tetap berdiri, tetap bekerja, tetap mengabdi—anak belajar bahwa hidup bukan soal menghindari capek, melainkan tentang menemukan alasan untuk tetap kuat.

Sebagai orang tua, sesungguhnya kita memang diciptakan untuk anak-anak kita. Untuk putera-puteri tercinta. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi untuk menyiapkan masa depan mereka. Karena itu, bekerja keras bukan sekadar kewajiban struktural, melainkan bentuk cinta yang paling nyata. Berdiri tegak di tengah tekanan pekerjaan adalah cara sunyi seorang orang tua berkata: “Kamu boleh bermimpi besar, Papa dan Mama yang akan menahan lelahnya karena Allah.”

Dalam perspektif antropologi, empati anak lahir dari pengalaman bersama. Anak yang bertanya “Papa nggak capek?” sesungguhnya sedang belajar merawat perasaan orang lain. Ia tumbuh dalam rumah yang mungkin tak selalu penuh waktu, tetapi penuh makna. Ia memahami bahwa pengabdian kadang menuntut jarak, tetapi tidak pernah menghapus cinta.

Yang sering luput kita sadari, bukan ketidakhadiran fisik yang paling membekas, melainkan ketiadaan makna. Ketika orang tua mampu menjelaskan bahwa lelah ini adalah bagian dari tanggung jawab, bagian dari pengabdian, bagian dari doa—anak akan tumbuh dengan orientasi hidup yang kuat. Ia belajar bahwa kesuksesan bukan hadiah, melainkan buah dari keteguhan banyak orang, terutama orang tuanya.

Tulisan kecil ini lahir dari ruang tunggu bandara, dari obrolan dua orang PNS, dari rindu pada keluarga, dan dari lembutnya protes seorang istri tercinta. Ia ingin menyapa siapa saja yang membacanya: para orang tua, para aparatur, para pengabdi senyap. Bahwa di balik setiap tugas negara, ada anak-anak yang sedang belajar tentang hidup dari cara kita menjalani lelah.

Maka, jika suatu hari seorang anak bertanya, “Papa nggak capek?”

Jawablah dengan senyum dan keyakinan. Katakan bahwa capek itu ada, tetapi cinta dan tanggung jawab jauh lebih besar. Karena pada akhirnya, orang tua memang diciptakan untuk anak-anaknya—untuk memastikan mereka tumbuh kuat, berkarakter, dan suatu hari memahami bahwa di balik langkah sukses mereka, ada orang tua yang memilih tetap berdiri tegak, tanpa mengeluh, demi masa depan putera-puterinya.

Penulis : Antropolog Gorontalo dan Wakil Sekretaris Tandfidziyah PWNU Gorontalo

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bendera dan Gugatan Nasionalisme

    Bendera dan Gugatan Nasionalisme

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Ada pemandangan tak biasa menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Bendera bergambar tengkorak tersenyum, bertopi jerami berkibar di berbagai penjuru. Rumah-rumah memasangnya. Di tembok ada gambarnya. Truk, mobil dan motor memansangnya, sementara anak muda dengan bangga memajang di media sosialnya. Bendera yang dikenal sebagai Jolly Roger itupun berkibar di angkasa dan medsos. Gambar tengkorak tersenyum itu […]

  • Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 137
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki babak baru setelah tercapainya islah antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Rekonsiliasi tersebut dicapai dalam pertemuan yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025). Pertemuan yang diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar PBNU itu […]

  • Nuzulul Qur’an: Masjid Istiqlal Jadi Jembatan Peradaban

    Nuzulul Qur’an: Masjid Istiqlal Jadi Jembatan Peradaban

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 125
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Jakarta-Masjid Istiqlal kembali menjadi panggung kebersamaan dan refleksi kebangsaan dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang dipadati puluhan ribu jamaah. Di tengah gemuruh kota, momentum suci ini diposisikan sebagai ruang di mana nilai-nilai Al-Qur’an dipahami bukan hanya sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai ruh yang merekatkan keberagaman dan memperkuat peradaban bangsa. H. Mas’ud Halimin, Ketua Panitia […]

  • Paradigma yang Berkembang: Menempatkan “Mahkota Ilmu” sebagai Proses Dialektis-Epistemologis

    Paradigma yang Berkembang: Menempatkan “Mahkota Ilmu” sebagai Proses Dialektis-Epistemologis

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Pengantar Tulisan ini merupakan respon atas kritik Tarmizi Abbas terhadap sanggahan saya sebelumnya. Ia menulis sangat baik, “Tak Ada Yang Integratif Dari ‘Epistemologi Integratif’ dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya” (10 Januari 2026) di nulondalo.com. Saya tetap mengapresiasi, serta belajar banyak hal dari kritik tersebut. Sebelumnya, diskursus melalui beberapa tulisan dengan Tarmizi Abbas, dipantik dari […]

  • Gubernur Gorontalo Sambut Hangat Kedatangan Jemaah Haji Kloter 28

    Gubernur Gorontalo Sambut Hangat Kedatangan Jemaah Haji Kloter 28

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyambut kepulangan Jemaah Haji Kloter 28 UPG asal Kota Gorontalo yang tiba Selasa, (2/7/2025). Jemaah kembali dengan jumlah utuh 393 orang dan disambut di Asrama Haji. “Alhamdulillah, berangkat 393 dan kembali juga 393. Artinya, dua kemungkinan yang biasa terjadi namun tidak terjadi di kloter ini, tidak ada yang wafat di Tanah […]

  • Gegana Polda Jatim Temukan Black Powder dalam Kasus Ledakan Mercon di Ponorogo

    Gegana Polda Jatim Temukan Black Powder dalam Kasus Ledakan Mercon di Ponorogo

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 142
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim Gegana Satuan Brimob Polda Jawa Timur mengungkap temuan bahan peledak jenis low explosive atau black powder dalam penyelidikan kasus ledakan mercon di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (1/3/2026) tersebut menyebabkan seorang pelajar meninggal dunia, sementara dua korban lainnya mengalami luka bakar berat. Sejak Senin (2/3/2026) pagi, […]

expand_less