Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Catatan Kecil Seorang Anak PNS

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 513
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, menyampaikan amanah kepeduliaan Walikota Gorontalo Bapak H. Adhan Dambea dan masyarakat dari Kota Gorontalo untuk saudara-saudara kita yang dilanda bencana banjir bandang disana.

Ia adalah Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Gorontalo, yang akrab disapa Mayor Teddy Gorontalo, atau lebih hangat dikenal sebagai Om Dandy. Profesi kami sejalur, irama hidup kami pun hampir sama. Di ruang tunggu itu, kami duduk berdampingan—lelah yang serupa, pikiran yang penuh, dan cerita hidup yang nyaris identik.

Tanpa rencana, obrolan kami mengalir ke satu tema yang sama: keluarga, anak-anak, dan waktu yang sering kali terasa tak pernah cukup. Di antara diskusi tentang logistik, medan bencana, dan koordinasi lintas daerah, terselip percakapan paling personal—tentang rumah yang ditinggalkan sementara, dan keluarga yang selalu menunggu dengan doa.

Ada jeda sunyi di antara kami. Jeda yang biasanya diisi dengan rindu. Rindu pada anak-anak. Rindu pada rumah. Dan rindu pada istri tercinta yang, dengan caranya sendiri, kadang menyampaikan protes paling lembut: “Waktu kita kok makin sedikit ya…”

Protes itu tidak pernah keras. Tidak menyalahkan. Justru karena kelembutannya, ia terasa jauh lebih dalam. Ia bukan penolakan terhadap pengabdian, melainkan pengingat bahwa di balik tugas kemanusiaan, ada keluarga yang juga membutuhkan kehadiran. Namun sebagai orang tua, sebagai aparatur negara, ada satu hal yang seolah menjadi kesepakatan tak tertulis: kata lelah tidak boleh diucapkan di depan anak-anak. Bukan karena kita tidak lelah, tetapi karena keluarga membutuhkan keteguhan, bukan keluhan.

Di sanalah ingatan saya kembali pada satu pertanyaan kecil yang kerap muncul di rumah:
“Papa nggak capek?”

Pertanyaan polos itu, jika dilihat dari kacamata antropologi pendidikan karakter, bukan sekadar empati anak. Ia adalah hasil dari pengamatan panjang. Anak-anak membaca dunia melalui perilaku orang tuanya. Mereka melihat ayah atau ibu berangkat pagi, pulang dengan sisa tenaga, kadang membawa cerita bencana, rapat, dan tanggung jawab yang tak selesai di jam kantor. Dari situlah mereka belajar—diam-diam—tentang tanggung jawab, keteguhan, dan arti berdiri tegak di tengah tekanan.

Keluarga adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah kurikulum hidupnya. Anak tidak belajar karakter dari nasihat panjang, tetapi dari sikap orang tuanya dalam menghadapi lelah. Ketika orang tua tetap berdiri, tetap bekerja, tetap mengabdi—anak belajar bahwa hidup bukan soal menghindari capek, melainkan tentang menemukan alasan untuk tetap kuat.

Sebagai orang tua, sesungguhnya kita memang diciptakan untuk anak-anak kita. Untuk putera-puteri tercinta. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi untuk menyiapkan masa depan mereka. Karena itu, bekerja keras bukan sekadar kewajiban struktural, melainkan bentuk cinta yang paling nyata. Berdiri tegak di tengah tekanan pekerjaan adalah cara sunyi seorang orang tua berkata: “Kamu boleh bermimpi besar, Papa dan Mama yang akan menahan lelahnya karena Allah.”

Dalam perspektif antropologi, empati anak lahir dari pengalaman bersama. Anak yang bertanya “Papa nggak capek?” sesungguhnya sedang belajar merawat perasaan orang lain. Ia tumbuh dalam rumah yang mungkin tak selalu penuh waktu, tetapi penuh makna. Ia memahami bahwa pengabdian kadang menuntut jarak, tetapi tidak pernah menghapus cinta.

Yang sering luput kita sadari, bukan ketidakhadiran fisik yang paling membekas, melainkan ketiadaan makna. Ketika orang tua mampu menjelaskan bahwa lelah ini adalah bagian dari tanggung jawab, bagian dari pengabdian, bagian dari doa—anak akan tumbuh dengan orientasi hidup yang kuat. Ia belajar bahwa kesuksesan bukan hadiah, melainkan buah dari keteguhan banyak orang, terutama orang tuanya.

Tulisan kecil ini lahir dari ruang tunggu bandara, dari obrolan dua orang PNS, dari rindu pada keluarga, dan dari lembutnya protes seorang istri tercinta. Ia ingin menyapa siapa saja yang membacanya: para orang tua, para aparatur, para pengabdi senyap. Bahwa di balik setiap tugas negara, ada anak-anak yang sedang belajar tentang hidup dari cara kita menjalani lelah.

Maka, jika suatu hari seorang anak bertanya, “Papa nggak capek?”

Jawablah dengan senyum dan keyakinan. Katakan bahwa capek itu ada, tetapi cinta dan tanggung jawab jauh lebih besar. Karena pada akhirnya, orang tua memang diciptakan untuk anak-anaknya—untuk memastikan mereka tumbuh kuat, berkarakter, dan suatu hari memahami bahwa di balik langkah sukses mereka, ada orang tua yang memilih tetap berdiri tegak, tanpa mengeluh, demi masa depan putera-puterinya.

Penulis : Antropolog Gorontalo dan Wakil Sekretaris Tandfidziyah PWNU Gorontalo

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Bone Resmikan Jalan Beton Akses Bandara Arung Palakka

    Bupati Bone Resmikan Jalan Beton Akses Bandara Arung Palakka

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 200
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., meresmikan pembangunan Jalan Beton Ruas Akses Bandara Arung Palakka yang berlokasi di Desa Mappalo Ulaweng, Kecamatan Awangpone, Selasa (13/1/2026). Peresmian jalan beton sepanjang 1,5 kilometer tersebut ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bupati Bone sebagai simbol rampungnya pembangunan infrastruktur strategis yang menunjang konektivitas daerah. Pekerjaan jalan […]

  • Hari Ketiga Operasi Roaring Lion, Israel-AS Klaim Kuasai Udara Iran

    Hari Ketiga Operasi Roaring Lion, Israel-AS Klaim Kuasai Udara Iran

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 281
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Operasi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat yang diberi nama Operasi Roaring Lion memasuki hari ketiga pada Senin (3/3/2026). Pemerintah Israel menyatakan operasi tersebut bertujuan menangkal ancaman nuklir dan balistik Iran, sekaligus melumpuhkan struktur kepemimpinan militer Teheran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tampil dalam sebuah video pidato yang direkam di lokasi yang disebut […]

  • Tiga Rumah Terbakar, Warga Desa Buti Gotong Royong Galang Dana untuk Bantu Korban

    Tiga Rumah Terbakar, Warga Desa Buti Gotong Royong Galang Dana untuk Bantu Korban

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 134
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – Kepala Desa Buti, Jodi Thalib mengungkapkan bahwa, Pemerintah Desa (Pemdes) Buti, BPD, Babinsa, Karang Taruna, dan warga setempat gotong royong melakukan penggalangan dana untuk membantu para korban kebakaran, yang melanda tiga rumah, Minggu (16/8/26) sore. “Hari ini, Pemdes Buti, BPD, Babinsa, Karang Taruna Desa Buti, melakukan penggalangan dana, untuk membantu warga Desa Buti […]

  • Gus Yaqut Bantah Nikmati Dana Korupsi Kuota Haji

    Gus Yaqut Bantah Nikmati Dana Korupsi Kuota Haji

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 252
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membantah tudingan bahwa dirinya menikmati dana dalam kasus dugaan korupsi kuota haji yang tengah ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pernyataan tersebut disampaikan Yaqut kepada awak media setelah keluar dari ruang pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (12/3/2025). Saat itu, ia terlihat telah mengenakan rompi oranye khas […]

  • Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menjelaskan bahwa kuota penerima Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) pada tahun 2025 mengalami penyesuaian signifikan. Kebijakan ini diambil sebagai imbas dari efisiensi anggaran yang harus diterapkan oleh seluruh pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Gorontalo. Hal ini disampaikan Wagub Idah saat menyerahkan bantuan BLP3G di dua kecamatan […]

  • Sawit Gorontalo Kacau Balau, Ginada: Ini Soal Masa Depan, Bukan Cuma Ekonomi!

    Sawit Gorontalo Kacau Balau, Ginada: Ini Soal Masa Depan, Bukan Cuma Ekonomi!

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Sorotan tajam datang dari Ketua Departemen Organisasi PP Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), I Dewa Gede Ginada Darma Putra, terkait kisruh pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Gorontalo. Dalam pernyataan kerasnya, Ginada menyebut kondisi tata kelola sawit saat ini bukan hanya bermasalah, tapi masuk dalam level krisis akut dan berlapis. Berangkat dari berbagai dokumen, […]

expand_less