Breaking News
light_mode
Trending Tags

Catatan Kecil Seorang Anak PNS

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 448
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, menyampaikan amanah kepeduliaan Walikota Gorontalo Bapak H. Adhan Dambea dan masyarakat dari Kota Gorontalo untuk saudara-saudara kita yang dilanda bencana banjir bandang disana.

Ia adalah Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Gorontalo, yang akrab disapa Mayor Teddy Gorontalo, atau lebih hangat dikenal sebagai Om Dandy. Profesi kami sejalur, irama hidup kami pun hampir sama. Di ruang tunggu itu, kami duduk berdampingan—lelah yang serupa, pikiran yang penuh, dan cerita hidup yang nyaris identik.

Tanpa rencana, obrolan kami mengalir ke satu tema yang sama: keluarga, anak-anak, dan waktu yang sering kali terasa tak pernah cukup. Di antara diskusi tentang logistik, medan bencana, dan koordinasi lintas daerah, terselip percakapan paling personal—tentang rumah yang ditinggalkan sementara, dan keluarga yang selalu menunggu dengan doa.

Ada jeda sunyi di antara kami. Jeda yang biasanya diisi dengan rindu. Rindu pada anak-anak. Rindu pada rumah. Dan rindu pada istri tercinta yang, dengan caranya sendiri, kadang menyampaikan protes paling lembut: “Waktu kita kok makin sedikit ya…”

Protes itu tidak pernah keras. Tidak menyalahkan. Justru karena kelembutannya, ia terasa jauh lebih dalam. Ia bukan penolakan terhadap pengabdian, melainkan pengingat bahwa di balik tugas kemanusiaan, ada keluarga yang juga membutuhkan kehadiran. Namun sebagai orang tua, sebagai aparatur negara, ada satu hal yang seolah menjadi kesepakatan tak tertulis: kata lelah tidak boleh diucapkan di depan anak-anak. Bukan karena kita tidak lelah, tetapi karena keluarga membutuhkan keteguhan, bukan keluhan.

Di sanalah ingatan saya kembali pada satu pertanyaan kecil yang kerap muncul di rumah:
“Papa nggak capek?”

Pertanyaan polos itu, jika dilihat dari kacamata antropologi pendidikan karakter, bukan sekadar empati anak. Ia adalah hasil dari pengamatan panjang. Anak-anak membaca dunia melalui perilaku orang tuanya. Mereka melihat ayah atau ibu berangkat pagi, pulang dengan sisa tenaga, kadang membawa cerita bencana, rapat, dan tanggung jawab yang tak selesai di jam kantor. Dari situlah mereka belajar—diam-diam—tentang tanggung jawab, keteguhan, dan arti berdiri tegak di tengah tekanan.

Keluarga adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah kurikulum hidupnya. Anak tidak belajar karakter dari nasihat panjang, tetapi dari sikap orang tuanya dalam menghadapi lelah. Ketika orang tua tetap berdiri, tetap bekerja, tetap mengabdi—anak belajar bahwa hidup bukan soal menghindari capek, melainkan tentang menemukan alasan untuk tetap kuat.

Sebagai orang tua, sesungguhnya kita memang diciptakan untuk anak-anak kita. Untuk putera-puteri tercinta. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi untuk menyiapkan masa depan mereka. Karena itu, bekerja keras bukan sekadar kewajiban struktural, melainkan bentuk cinta yang paling nyata. Berdiri tegak di tengah tekanan pekerjaan adalah cara sunyi seorang orang tua berkata: “Kamu boleh bermimpi besar, Papa dan Mama yang akan menahan lelahnya karena Allah.”

Dalam perspektif antropologi, empati anak lahir dari pengalaman bersama. Anak yang bertanya “Papa nggak capek?” sesungguhnya sedang belajar merawat perasaan orang lain. Ia tumbuh dalam rumah yang mungkin tak selalu penuh waktu, tetapi penuh makna. Ia memahami bahwa pengabdian kadang menuntut jarak, tetapi tidak pernah menghapus cinta.

Yang sering luput kita sadari, bukan ketidakhadiran fisik yang paling membekas, melainkan ketiadaan makna. Ketika orang tua mampu menjelaskan bahwa lelah ini adalah bagian dari tanggung jawab, bagian dari pengabdian, bagian dari doa—anak akan tumbuh dengan orientasi hidup yang kuat. Ia belajar bahwa kesuksesan bukan hadiah, melainkan buah dari keteguhan banyak orang, terutama orang tuanya.

Tulisan kecil ini lahir dari ruang tunggu bandara, dari obrolan dua orang PNS, dari rindu pada keluarga, dan dari lembutnya protes seorang istri tercinta. Ia ingin menyapa siapa saja yang membacanya: para orang tua, para aparatur, para pengabdi senyap. Bahwa di balik setiap tugas negara, ada anak-anak yang sedang belajar tentang hidup dari cara kita menjalani lelah.

Maka, jika suatu hari seorang anak bertanya, “Papa nggak capek?”

Jawablah dengan senyum dan keyakinan. Katakan bahwa capek itu ada, tetapi cinta dan tanggung jawab jauh lebih besar. Karena pada akhirnya, orang tua memang diciptakan untuk anak-anaknya—untuk memastikan mereka tumbuh kuat, berkarakter, dan suatu hari memahami bahwa di balik langkah sukses mereka, ada orang tua yang memilih tetap berdiri tegak, tanpa mengeluh, demi masa depan putera-puterinya.

Penulis : Antropolog Gorontalo dan Wakil Sekretaris Tandfidziyah PWNU Gorontalo

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sawit Gorontalo Kacau Balau, Ginada: Ini Soal Masa Depan, Bukan Cuma Ekonomi!

    Sawit Gorontalo Kacau Balau, Ginada: Ini Soal Masa Depan, Bukan Cuma Ekonomi!

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Sorotan tajam datang dari Ketua Departemen Organisasi PP Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), I Dewa Gede Ginada Darma Putra, terkait kisruh pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Gorontalo. Dalam pernyataan kerasnya, Ginada menyebut kondisi tata kelola sawit saat ini bukan hanya bermasalah, tapi masuk dalam level krisis akut dan berlapis. Berangkat dari berbagai dokumen, […]

  • Program Bergizi? Coba Tanyakan ke 20 Ribu Siswa Keracunan

    Program Bergizi? Coba Tanyakan ke 20 Ribu Siswa Keracunan

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijanjikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ternyata menimbulkan persoalan serius. Sejak diluncurkan pada Januari 2025, ribuan siswa di berbagai daerah mengalami keracunan akibat menu MBG yang banyak menggunakan makanan olahan (Ultra Processed Food/UPF). Hingga 23 Desember 2025, korban keracunan tercatat mencapai lebih dari […]

  • Mengharapkan Masjid Ramah Disabilitas di Serambi Madinah

    Mengharapkan Masjid Ramah Disabilitas di Serambi Madinah

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Fadhil Hadju
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Rasulullah pernah bersabda, “dijadikannya kesenanganku dari dunia berupa wanita dan minyak wangi. Dan dijadikan lah penyejuk hatiku dalam ibadah shalat”. Hadis riwayat An-Nasa’i dan Ahmad. Hadis di atas seolah menyadarkan kepada kita, bahwa ibadah shalat menjadi penenang dan penyejuk, bagi hati Nabi Muhammad SAW. Tentu saja, hadis ini berlaku bagi umatnya juga. Shalat menjadi media […]

  • Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Angca Aldafa
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah sering kali diukur dari intensitas pertempuran atau kerugian infrastruktur yang terpampang di permukaan media. Namun, dalam perspektif akuntansi pemerintahan, dampak sesungguhnya terletak pada kemampuan negara dalam mencatat, mengklasifikasikan, dan mempertanggungjawabkan beban fiskal yang ditimbulkan. Angka pengeluaran langsung mulai dari pengadaan alutsista, logistik tempur, hingga rehabilitasi wilayah terdampak hanyalah representasi […]

  • Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Ridwan Kamil kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pantun lama yang menyebut nama penyanyi Aura Kasih viral di media sosial. Pantun-pantun tersebut kemudian memicu spekulasi warganet terkait hubungan personal antara keduanya. Isu ini mencuat setelah akun-akun gosip mengunggah jejak digital Ridwan Kamil yang beberapa kali menyelipkan nama Aura Kasih dalam pantun, baik […]

  • Ida Fauziyah : Konsolidasi PKB Gorontalo Momentum untuk berkolaborasi bersama Nahdlatul Ulama

    Ida Fauziyah : Konsolidasi PKB Gorontalo Momentum untuk berkolaborasi bersama Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dr. Hj. Ida Fauziyah menyampaikan, bahwa PKB terus berkomitmen menjadi partai yang solid demi memperjuangkan kepentingan rakyat. Hal tersebut disampaikan pada agenda konsolidasi kader PKB se-Gorontalo bertempat di Grand Q Hotel, Kota Gorontalo, Sabtu (15/2/2025), kemarin. “Dalam pertemuan yang penting ini, saya ingin menyampaikan bahwa Gus Ketum […]

expand_less