Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ada Apa dengan (Haji) Bawakaraeng

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 205
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kalau Anda bertanya kepada seorang muslim, apakah ia punya niatan naik haji, maka dari  jutaaan mereka nyaris punya jawaban yang sama, “ingin berhaji melengkapi rukun Islam kelima. Saya pun adalah satu dari sekian banyak umat Islam yang selalu mengharu-birukan doa untuk mendapat undangan Sang Khaliq ke Rumah-Nya yang suci itu.

Naik haji ke Baitullah (Makkah al-Muqarramah) memang adalah idaman tiap umat Islam. Betapa tidak, selain pelaksanaannya merupakan pemenuhan rukun Islam yang kelima, beribadah di tanah suci ini, nilai pahalanya bisa seribu kali lipat dibanding dengan beribadah di tanah air. Demikianlah keyakinan kita, keyakinan umat Islam yang tentu saja ditunjang dengan berbagai dalil naqli. Belum lagi kisah sahabat dan handai tolan, para pendahulu kita dalam berhaji, yakinlah disana penuh dengan nuansa profetik, sakral, mengharukan, sesak dengan spiritualitas dan terkadang dibarengi cerita misterius nan ghaib. Kesemuanya itu bagai irama buluh perindu mengetuk dan mengelus-elus rasa kita yang paling dalam, pada gilirannya menghadirkan hasrat dan gelora rindu yang secara rohaniah barulah terpenuhi jika bisa menyaksikan secara langsung Ka’bah al-Mukarramah.

Maka tak mengherankan bila tiap tahunnya jemaah haji di Indonesia terus bertambah, bahkan melebihi quota yang telah ditetapkan. Tak peduli kondisi perekonomian bangsa kita yang morat-marit dan kemiskinan kasat mata dimana-mana, jumlah orang Islam yang ingin menunaikan rukun Islam yang kelima ini tidak pernah susut.

Namun, bagaimana jika ada seseorang atau sekelompok masyarakat yang tiba-tiba memilih cara lain untuk memenuhi ritual yang dianggap sepadan dengan ‘haji’ ? Dianggap cara lain karena berbeda dengan pelaksanaan haji yang mainstream. Jika lazimnya haji itu ritual yang semua prosesnya dilakukan di Makkah-Madinah-Mina , maka yang ini justru ritualnya di puncak Bawakaraeng, salah satu gunung di Sulawesi Selatan.

Ritual (Haji) Bawakaraeng oleh sebagian besar umat Islam mungkin dianggap ngawur. Yang gampang menunduh orang sesat, lelaku semacam ini adalah makanan empuknya. Mereka akan segera memberi stempel sesat, murtad, musyrik dan segudang streotipe lainnya. Bahkan sebagian dari kita yang merasa agamanya paling benar biasanya buru-buru meyerukan kepada aparat yang berwenang untuk membubarkan atau menangkapi komunitas masyarakat seperti ini dengan alasan klasik “meresahkan atau mengganggu masyarakat.” Padahal jika dipikir-pikir lagi, gimana masyarakat mau terganggu bin resah, lha wong… ritualnya jauh di atas gunung. Mereka jungkir-balik di atas sana, teriak-teriak sampai serak, sesungguhnya juga kita tidak melihat dan mendengarnya kan?

Sebelum terlanjur memberikan label sesat atau bahkan berupaya membubarkan kelompok seperti komunitas (Haji) Bawakaraeng ini, sebaiknya kita memahami dulu keberadaan dan motif kemunculannya. Siapa tau yang kita anggap sesat itu, di dalamnya ternyata penuh hikmah; tentang kesalehan, kepasrahan dan keikhlasan. Bahkan sangat mungkin di sana, pada ritual (haji) bawakaraeng itu, terdapat simbol resistensi dan pertarungan tentang pusat dan pinggir akan makna kebenaran agama.

Ritual (Haji) Bawakaraeng bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba dari kelompok masyarakat yang sekedar cari sensasi. Tak juga sesederhana dugaan beberapa kalangan bahwa tradisi semacam ini muncul karena masih kurangnya pemahaman agama (Islam) dari beberapa kelompok di masyarakat kita. Tradisi semacam ini sudah berjalan lama dalam medan negosiasi dan kontestasi yang begitu rumit antara agama (Islam) dan tradisi lokal.

Diperkirakan jauh sebelum abad ke-15, Pada masa kerajaan Gowa dan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi-selatan, masyarakat Sul-sel sudah sering melaksanakan ritual di puncak Bawakaraeng. A.A.Cence (1931) dan De Jong (1996) dua diantara peneliti tentang keyakinan Orang Sul-sel menyatakan, bahwa kebiasaan melaksanakan ritual di Puncak Bawakaraeng ini berkaitan dengan sebagian kepercayaan masyarakat Sul-sel yang disebut dengan Patuntung. Dalam kepercayaan ini diyakini adanya Sang Pencipta yang disebut dengan To Kammayya Kananna (Yang pasti terjadi ucapannya) yang bersemayam di tempat yang tinggi. Karena itu dalam berhubungan dengan Sang Pencipta ini, masyarakat Sulawesi-Selatan senantiasa mencari tempat yang dirasa dekat dengan sang Pencipta dan tempat itu adalah gunung. Namun pada saat itu ritual di Bawakaraeng masih merupakan khas ritual masyarakat lokal dan belum diistilahkan dengan haji Bawakaraeng.

Kedatangan Islam yang diperkirakan sudah dipeluk oleh kalangan masyarakat Sul-sel sekitar abad ke-13-15, cukup mempengaruhi keberadaan dari keyakinan-keyakinan lokal seperti tradisi Bawakaraeng ini.  Saat itu meskipun Islam tidak datang dengan missi menghabisi kebudayaan setempat namun tetap saja mencoba untuk meng-“agama”-kan masyarakat Sul-sel, termasuk ritual Bawakaraeng ini.

Untuk mempertahankan tradisi yang mereka yakini, masyarakat lokal ini berupaya untuk beradaptasi dengan ajaran Islam yang datang dengan menegosiasikan beberapa dari tradisi mereka dengan ajaran Islam. Proses peniruan-peniruan atau meminjam bahasa Homi Bhaba, “mimikri”, mulai berlangsung. Ajaran Islam seperti haji ditiru dan diadaptasi ke dalam tradisi naik ke Bawakaraeng masyarakat Sul-sel. Tentu saja keliru bila mengasumsikan proses adaptasi  dilakukan serampangan dan seenaknya oleh komunitas masyarakat lokal ini. Justru proses ini mereka lakukan, karena disatu sisi harus mengikuti ajaran baru yang bernama Islam namun di sisi lain mereka tetap berupaya mempertahankan tradisi leluhur. Untuk mempertahankan tradisi itu, komunitas Bawakaraeng berupaya memasuki ruang-ruang agama yang bisa dinegosiasi, misalnya pada bentuk-bentuk formal (esoteris) dari agama yang masih menyisakan ruang tafsir.

Proses inilah kemudian yang memunculkan tradisi ritual (haji) Bawakaraeng. Yaitu proses negosiasi antara kebiasaan naik ke bawakaraeng dengan ritual haji dalam Islam. Dalam proses ini tampak peniruan-peniruan  simbolik, misalnya penyebutan nama-nama tempat yang sama antara tempat haji di Makkah dan di Bawakaraeng. Jika di Makkah ada Ka’bah dan kuburan Rasulullah maka mereka juga menyebut ada Ka’bah, Madinah atau Kuburan Rasulullah di Bawakaraeng. Namun dalam tataran nilai kehajian, mereka hampir sepakat untuk tidak mengatakan mereka sudah berhaji atau tidak. Dalam pandangan mereka soal apakah mereka sudah haji atau tidak itu merupakan urusan Tuhan. Itulah kenapa sedari awal saya memberi tanda “kurung” terhadap kata ‘haji’ ini pada istilah ‘haji’ Bawakaraeng, sebab penganut tradisi ini tidak pernah mendaku diri sebagai haji.

Gelaran itu sendiri, sebenarnya disematkan orang luar, tentu dengan maksud untuk menunjukkan kengawuran tradisi ini. Namun dengan lihai, komunitas pengusung tradisi ini mengambilnya sebagai identitas untuk menunjukkan pada khalayak bahwa tradisi mereka bukanlah kemusyrikan atau penyembahan berhala. Justru ini adalah ritual yang bisa sangat Islami; seirama dengan ritual berhaji di Tanah Suci Makkah.

Namun apakah betul ritual mereka tidak sejajar dengan pahala haji ? Tunggu dulu, itu soal lain. Kalau ini yang bermain bukan soal-soal eksoteris dan formalis. Tempat bisa tidak menjadi ukuran, cara tidaklah jadi patokan, apakah Allah akan membalas susah payah mereka untuk berdekatan dan berasyik masyuk dengan-Nya, setara pahala haji atau tidak. Bukankah Ali al-Muwaffaq si tukang sol sepatu, mendapatkan pahala haji, justru bukan karena naik ke Makkah. Ia malah menyerahkan ongkos naik hajinya yang dikumpulkan bertahun-tahun untuk menolong tetangganya yang lebih membutuhkan. Tapi justru di titik itulah Ia mendapatkan balasan pahala haji.

Kisah tak kalah mencengangkannya adalah kisah seorang sufi yang ke Makkah ingin berhaji dan mengunjungi ka’bah, tapi ka’bah tidak ada di tempat. Ternyata setelah dilacak, ka’bah malah mengunjungi Rabiatul Adawiyah, seorang sufi perempuan yang terkenal. Dan ketika ditelusuri ternyata bagi Rabiatul Adawiyah tempat dan segala ciptaan Allah tak ada lagi di hatinya. Yang ada hanya Sang pencipta dari Ka’bah tersebut. Karena itu Ka’bah sebagai makhluk tunduk terhadap sang pencipta Khaliq itu dan berkenan datang mengunjungi Rabiatul Adawiyah.

Mungkin cerita itu kental dengan fiksinya. Tapi pesannya jelas. Allahlah yang punya wewenang menentukan pahala seseorang. Haji secara syariat pelaksanaannya memang di Mekkah, tapi jika niat tidak ikhlas dan tujuan hanya sekedar terpandang secara social, boleh jadi pahala kita akan di sematkan pada hamba lainnya. Mungkin saja pada Hamba Allah yang berpayah-payah mendaki Bawakaraeng misalnya, khususnya mereka yang tanpa niat lain, kecuali karena ingin berdekatan dengan Sang Khaliq.

Pada akhirnya, ritual (haji) Bawakaraeng ini meski pada awalnya adalah bagian dari negosiasi bahkan mungkin juga resistensi komunitas lokal terhadap satu ajaran baru, namun juga bisa menjadi kritik yang sangat bermakna bagi kita semua umat Islam. Pertanyaan reflektifnya adalah : “Kenapa ya….ada di antara umat Islam lebih memilih ke Bawakaraeng untuk berdekatan dengan Sang Khaliq di banding ke Mekkah ?”. Apakah karena sebagian dari yang sudah melaksanakan haji di antara kita, setelah kembali ke Tanah air, bukannya menjadi teladan tapi malah menempatkan dirinya pada posisi sosial yang tinggi? Membuat kesenjangan sosial yang ada di masyarakat semakin menganga. Ataukah karena penyelenggaraan haji baik yang dilakukan di Tanah Air maupun oleh pemerintah Arab Saudi selain mahal juga tak pernah sepi dari masalah?

Ataukah para pencari Tuhan di Bawakaraeng itu juga tau kabar terakhir yang membuat beberapa orang yang berhaji ke Mekkah nelangsa spiritual?  Katanya pemerintah Arab Saudi dari hari ke hari menghancurkan berbagai situs-situs bersejarah. Sami Angawi, pakar arsitektur Timur Tengah menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah dimusnahkan dalam 50 tahun terakhir. Diantara itu adalah rumah Rasulullah dan beberapa maqam sahabat. Penghancuran itu dibarengi dengan pembangunan kota Mekkah menjadi lebih modern. Gedung pencakar langit dibangun, perumahan elite di tata. Starbucks, Cartier and Tiffany, H&M dan Topshop bermekaran di mana-mana. Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas, ” itulah pernyataan Ali al-Ahmad, direktur Institute for Gulf Affairs-lembaga riset oposisi Saudi untuk menggambarkan Mekkah saat ini. Terasa menyesakkan tapi itulah yang terjadi. Situs bersejarah dari Rasulullah yang sesungguhnya mendatangkan keharuan jika memandangnya, melahirkan kedalaman rasa spiritualitas jika berada di dekatnya kini diratakan dengan tanah dengan alasan bisa mendatangkan kemusyrikan. Namun di saat yang sama berhala-berhala baru dibangun. Gedung pencakar langit dan menara jam yang menjulang gagah kini menjadi kebanggaan.

Entahlah…di antara sekian pertanyaan itu saya juga tidak tahu yang mana membuat mereka memilih Bawakaraeng dibanding Makkah. Bisa salah satunya, namun sangat mungkin juga semuanya. Tapi yang pasti menangguk hikmah dari tradisi ritual (haji) Bawakaraeng lebih bermakna bagi kita semua dari sekadar mengadili dan menyalahkan mereka.

Oleh : Ijhal Thamaona memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Senja di Panti Waluya: Luka Anak Bangsa dan Rumah bagi Mereka yang Pernah Dibuang

    Senja di Panti Waluya: Luka Anak Bangsa dan Rumah bagi Mereka yang Pernah Dibuang

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 217
    • 0Komentar

    Siang itu, Jakarta enggan berkompromi. Matahari menyengat tanpa ampun, membakar aspal dan menyilaukan pandangan. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, rombongan peserta Temu Nasional Gusdurian 2025 melangkah pelan, menyusuri lorong-lorong sejarah yang tak tercatat dalam buku pelajaran. Tujuan mereka bukan gedung megah atau aula ber-AC, melainkan sebuah bangunan sederhana di Jalan Kramat V Jakarta Pusat: Panti […]

  • Khutbah Jumat : Kemenangan Hanya Dapat Diraih dengan Persatuan

    Khutbah Jumat : Kemenangan Hanya Dapat Diraih dengan Persatuan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 393
    • 0Komentar

    Ada satu ironi besar dalam tubuh umat Islam hari ini: kita sering berbicara tentang kemenangan, tetapi berjalan di jalan yang menjauhkannya. Kita berdoa agar umat ini kuat, namun pada saat yang sama kita sibuk memperlemah satu sama lain. Kita berharap Islam kembali berjaya, tetapi energi kita habis untuk memperdebatkan hal-hal yang sejak dahulu telah diperselisihkan […]

  • Politik Identitas di Ruang Publik; Sebuah Gugatan Atas Praktik Penamaan Fasilitas Umum di Era Rum Pagau Jilid II

    Politik Identitas di Ruang Publik; Sebuah Gugatan Atas Praktik Penamaan Fasilitas Umum di Era Rum Pagau Jilid II

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Pernakah kita berpikir kenapa fasilitas publik seperti rumah sakit atau taman kota bisa dinamai sesuai dengan nama seseorang? Memang sih, terkadang kita menganggap bagian dari menamai ruang publik itu adalah salah satu bentuk penghormatan kepada seseorang. Tapi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah; apakah semua fasilitas publik harus terhubung dengan nama seseorang? Lebih-lebih di balik penamaan […]

  • Aktivis HAM Andrie Yunus Diserang Air Keras di Jakarta, Ketua PBNU dan Wamen HAM Kutuk Keras

    Aktivis HAM Andrie Yunus Diserang Air Keras di Jakarta, Ketua PBNU dan Wamen HAM Kutuk Keras

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 500
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Serangan penyiraman air keras menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, pada Kamis (12/3/2026) pukul 23.00 WIB di kawasan Jalan Salemba I Talang, Jakarta Pusat. Insiden ini memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mohamad Syafi’ Alielha atau Savic Ali, serta […]

  • LBH PB PMII Kecam Dugaan Illegal Logging CV AEM di Sula, Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan dan Copot Kepala UPTD KPH Kepulauan Sula

    LBH PB PMII Kecam Dugaan Illegal Logging CV AEM di Sula, Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan dan Copot Kepala UPTD KPH Kepulauan Sula

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Lembaga Bantuan Hukum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (LBH PB PMII) mengecam keras dugaan skandal illegal logging yang melibatkan CV Anugerah Empat Mandiri (AEM) di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Perusahaan tersebut diduga kuat melakukan penebangan kayu di luar koordinat izin yang telah ditentukan, yang merupakan pelanggaran berat terhadap hukum kehutanan di […]

  • Akuntansi Tidak Menjual Angka, Melainkan Kepercayaan

    Akuntansi Tidak Menjual Angka, Melainkan Kepercayaan

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Sutanti Idris
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Di tengah gelombang transformasi digital, ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, dan otomatisasi mulai mengambil alih berbagai pekerjaan administratif, profesi akuntan kerap dipertanyakan relevansinya. Jika mesin mampu menyusun laporan keuangan dalam hitungan detik dengan tingkat akurasi yang tinggi, apakah akuntan masih dibutuhkan? Pertanyaan tersebut sesungguhnya berangkat dari pemahaman yang keliru bahwa akuntansi hanyalah aktivitas […]

expand_less